
"Eh yiwen kamu mau pergi kemana?" tanya Mei, yang melihat Yiwen berlari masuk ke dalam ruangan di depannya sendirian. Entah apa yang dia laihat membuat ia harus pergi sendiri. Yiwen hanya diam tidak menjawab pertanyaan Mei, ia tetap masuk ke dalam ruangan itu.
Sedangkan Mei, dan yang lainnya masih tersungkur di lantai.
"Udah berdiri, kenapa kamu masih berbaring di sini, apa mau tidur di sini?" tanya Mei mendorong tubuh Changmin menjauh darinya.
"Iya, syang ini aku bangun. Kenapa kamu jadi galak gini sih dengan aku? Emangnya aku salah apa?" tanya Changmin, membersihkan bajunya dan beranjak berdiri. Lay hanya diam duduk di lantai memutar matanya menatap setiap sudut ruangan itu.
"Ruangan ini bagus juga." ucap Lay.
"Kenapa kamu masih duduk di bawah, ayo berdiri. Yiwen sudah masuk ke dalam. Kamu apa gak mau mengejar dia, bantu istri teman kamu itu di dalam sendirian" ucap Changmin menarik tangan Lay untuk segera berdiri.
"Kenapa kalian seperti kucing dan tikus sih, apa kalian gak bisa akur. Sekarang ayo ikuti Yiwen. Jangan terus berantem gak ada gunanya" ucap Mei, yang berjalan lebih dulu mengikuti Yiwen yang sudah jauh di depannya. Bahkan punggungnya saja sudah tidak terlihat oleh matanya.
"Dia kemana?" tanya Changmin pada Mei di sampingnya.
"Dia masuk ke dalam" ucap Mei, yang mulai membuka pintu ruangan itu. Di sana terlihat ada sosok Yiwen yang berdiri di samping Lian yin yang memang dari tadi berdiam diri memegang beberapa foto.
~
"Ini foto apa?" tanya Yiwen, menatap ke arah Lian yin.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Lian yin, yang terkejut ada Yiwen di sampingnya.
"Aku dari tadi mencari kamu, tapi kenapa kamu pergi gak bilang padaku. Kenapa kamu memasukan obat tidur di dalam minuman aku kemarin malam, sampai aku tidur pulas. Dan kamu pergi diam-fiam dari rumah tanpa sepengetahuan aku" ucap Yiwen yang merasa kesal telah di bohongi oleh Lian yin.
"Bukan maksud aku seperti itu, aku tidak mau kamu dan Mei ikut rencana kita. Karena tempat ini sangat bahaya" ucap Lian yin.
Mei yang berdiri di samping Changmin menatap tajam ke arah kekasihnya itu. Membuat nyali Changmin menciut dan langsung menundukkan kepalanya takut. "Kenapa kamu melihat aku seperti itu?" tanya Changmin lirih.
"Aku baru ingat apa yang di katakan Yiwen pada Lian Yin. Kenapa kamu biarkan aku di rumah sendiri dengan Yiwen, Kenapa?" bentak Mei, menarik kerah Changmin, ia meluapkan semua amarahnya sekarang.
__ADS_1
"Maafkan aku" ucao Changmin, yang amsih menunduk, ia tidak berani menatap mata Mei di depannya. Dan Mei mendorong kerah Changmin hingga menyisakan jarak antara dirinya.
"Kenapa kalian para pasangan berantem di sini, sekarang gak penting bahas itu. Yang paling penting kita segera keluar dari sini. Atau kita lanjut ke dalam, mencari sesuatu yang belum tentu ada di sini" ucap Lay, mencoba melerai mereka yang dari tadi terus berantem, membuat Lay merasa sangat kesal. Dan kuak menxengar perdebatan para pasangan itu.
Lay berjalan menghampiri Lian yin, yang sepertinya membawa sesuatu bukti yang sangat penting. "Apa ini?" tanya Lay pada Lian yin, yang dari tadi memegang beberpaa photo.
"Sepertinya photo ini memang sengaja di pajang di sini, kamu lihat foto ini adalah keluarga aku, ini kakek, ini orang tua aku." ucap Lian yin memperlihatkan poto itu pada Lay.
"Apa tempat ini milik keluarga kamu?" tanya Lay.
"Gak mungkin, jika memang ini milik keluarga aku, harusnya tempat ini sudah banyak debu karena tidak terawat. Dan kakek aku juga tidak pernah bilang tentang tempat ini. Ini pasti ada orang yang tinggal di sini. Dari seisi ruangan ini kalian lihat setiap detail barang-barang yang terpajang di sini, semua nampak sangat bersih. Dari lantai dan barang unik lainnya. " ucap Lian yin. "Tidak ada sama sekali sarang laba-laba yang menjalar, bahkan debu sedikitpun juga tidak ada" lanjutnya.
Yiwen mencoba memegang meja di depannya, ternyata benar apa yang di katakan Lian yin, meja itu terlihat sangat bersih. Tidak ada debu yang menempel di sana. "Pasti ada orang yang tinggal di sini? Tapi tempat ini hanya untuk tinggal satu orang" ucap Yiwen.
Lay dan Lian yin menatap ke arah Yiwen kompak.
"Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?" tanya Lian yin.
"Masuk akal juga yang di katakan Yiwen. Rumah ini sangat sepi, bahkan seperti kuburan pohon yang tak berpenghuni" gumam Changmin.
"Maksud kamu kuburan pohon apa?" tanya Lian yin.
"Apa ini adalah kuburan?" sambung Yiwen yang merasa curiga.
"Apa yang kamu katakan, ini tidak.mungkin jika kuburan" gumam Lay. "Terus siapa yang membersihkan tempat ini?" lanjutnya.
Lian yin terdiam, tapi apa petunjuk dari poto keluarganya. Apa ini adalah kuburan keluarganya. Tapi tidak mungkin, kelurganya di makamkan di sebuah pemakaman umum seperti orang biasanya. Tapi apa maksud sebuah poto ini, pikiran itu selalu mengganggu otak Lian yin. Membuat kepalanya terasa sangat pusing.
Changmin beranjak menuju sebuah kulkas mini yang berada di depannya. Tenggorokkannya yang terasa sangat kering, ia ingin mencari minuman di sana. "Wah ada minuman dingin sini, banyak banget sampai kulkas ini penuh" ucap Changmin.
"Minumlah para tamuku" sambung seseorang yang membuat Semuanya menoleh ke belakang menatap seorang paruh baya yang berada di depan padangannya.
__ADS_1
Yiwen mengerutkan keningnya, ia melihat sosok yang sangat familiar dengan pikiran dan kehidupannya dulu. "Kakek?" ucap Yiwen lirih, membuat Lian yin, dan yang lainnya menatap ke arah Yiwen kompak.
"Apa kamu bilang? Dia kakek kamu?" tanya Changmin yang terkejud dan sangat penasaran.
Tanpa menjawab ucapan Changmin, Yiwen berlari memeluk kekeknya yang dari dulu ia sudah menganggapnya sudah meninggal. Dan Sudah hampir 15 tahun ia tidak pernah melihat kakeknya lagi. Dulu ayah bilang jika kakek sudah meninggal tapi sekarang ada di depan matanya. "Kakek, kenapa kakek tidak pulang. Kenapa kakek di sini?" ucap Yiwen meneteskan air matanya.
"Yiwen kamu sudah tumbuh besar sekarang, kakek kangen sama kamu" ucap Kekek Yiwen. Emngusap pipi cucunya itu.
"Kakek sekarang duduk dulu" ucap Yiwen.
Lian yin menarik tangan Yiwen, agar menjauh dari orang yang tidak begitu ia kenal. "Jangan dekat dengan dia?" ucap Lian yin yang .erasa sangat curiga dengan orang di depannya.
"Dia kakek aku, kenapa kamu melarangku dekat dengannya. Emangnya aku salah merasa rindu dengan kekek aku sendiri. Jangan pernah melarangku bersama kakek aku" bentak Yiwen, dengan tatapan tajamnya ke arah Lian yin.
Lian yin hanya diam, ia tidak bisa banyak bicara lagi. Saat Yiwen membentaknya, "Kamu yakin jika itu kakek kamu?" tanya Lian yin memastikan.
"Aku sangat yakin, aku tahu betul itu kakek aku" ucap Yiwen tegas.
"Kalian minumalah dulu, jangan bertengkar. Setelah itu pergilah dari sini. Di sini tidak aman." ucap lelaki paruh baya itu, ia berjalan menggunakan tongkat kayi yang menjadi temannya selama ini.
"Kakek ikut Yiwen ya" ucap Yiwen memegang tangan kakeknya.
"Gak bisa, kakek masih banyak urusan di sini."
"Bentar, apa ayah sering ke sini jenguk kakek?" tanya Yiwen yang kini mulai curiga dengan ayahnya. Jika dia menyembunyikan kakeknya di tempat ini. Lagian hanya ayah Yiwen yang bisa menyulap tempat kecil menjadi sebuah istana. "Iya, dia setiap hati selalu bawa makanan, dan minuman untuk kakek"
"Kamu jangan marah sama ayah kamu, dia menyembunyikan kakek di sini agar tidak ada yang menculik kakek. Dari dulu banyak orang yang mengincar kakek karena suatu hal yang kakek sembunyikan. Taoi tenang saja kakek sekarang aman dan bisa pergi kemana saja sama seperti ayah kamu. Dan kakek jiga sudah nyaman tinggal di sini" ucap kakek Yiwen.
Changmin membagikan minuman pada para temannya itu. Ia tahu jima meraka pasti haus. Sambil mendengarkan cerita kakek Yiwen Changmin dan yang lainnya meneguk minuman untuk melegakkan tenggorokannya yang terasa sangat kering.
"Kakek kenapa betah tinggal di sini?" sambung Changmin.
__ADS_1