
"Aku juga gak tahu. Kuta tunggu saja kabar dari Grace dan Luhan. Lagian Boby juga pasti tahu di mana keberadaan mantan tuannya itu!!" Kay mulai menjalankan mobilnya, mengemudi dengan kecepatan standart, melewati beberapa mobil di depannya.
"Ini bukan jalan ke rumah Jack? Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Tao, yang dari tadi duduk diam di belakang merasa aneh pada pemandangan sekitar jalan itu.
"Siapa bilang kita mau ke rumah Jack, aku tidak akan membawa kalian ke sana. Soal Yiwen biarkan Luhan, Boby, dan Grace yang mencarinya. Kita akan mencari Lian Yin."
"Iya, lebih baik kita berpencar seperti ini. Agar mereka cepat ketemu. Lagian yang paling penting keselamatan mereka. Dan jika Yiwen tidak di yemukan, Lian yin pasti akan marah pada kita!!" sambung Changmin. Tao yang duduk si samping Changmin hanya diam, menundukkan kepalanya.
Yiwen!! Maafkan aku, dari awal aku sudah curiga pada kamu. Tapi aku tidak mengenali kamu lebih jauh. Semua salah aku! Jika aku dulu ajak kamu keluar dari rumah Jack saat pertama bertemu, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini. Kamu menghilang begitu saja!!
"Sudahlah!! Aku tahu kamu mabtanya, kamu pasti sangat kehilangan Yiwen. Aku tahu perasaan kamu. Meski berat jika orang yang kuta cintai sudah menikah dengan orang lain. Tapi hati kita belum bisa move on sepenuhnya." Changmin menepuk pundak Tao, mencoba memberi semangat padanya.
"Iya, jangan patah semangat. Di balik sakit hati, akan ada kebahagiaan tersendiri yang terselip dalam kehidupan kamu yang akan dagang!!" kata Lay sok bijak.
"Kalian kenapa tidak marah dnegan aku?" tanya Tao, menatap ke arah Lay dan Changmin bergantian.
"Kenapa aku harus marah pada kamu. Aku tidak patut marah, lagian itu masalah kita dulu, sekarang yang paling penting kita selamatkan teman yang paling kita sayangi. Dan berharga bagi kita!!" sambung Changmin tak kalah bijak.
"Iya, maaf!!" Tao menundukkan kepalanya, penuh dnegan penyesalan yang ada.
Mereka saling berbincang akrab satu sama lain. Tanpa ada rasa canggung di antara mereka. Saling menikmati perjalanan menuju ke sebuah rumah tua dekat dengan perbatasan. Yang mungkin akan memakan waktu sekitar dua jam perjalanan dari pantai.
Dengan iringan musik pop yang sangat asyik te4dengar di telinganya, mereka menikmati sejenak, dengan mata terpejam, melupakan rasa khawatir dalam dirinya. Dan lay dengan Changmin yakin sangat yakin jika Lian yin masih hidup. Tapi entah di mana dia, jika publik mengatakan Lian yin udah meninggal maka biarkan, agar semua tahu jika Lian yin sudah meninggal dan tidak ada yang tabu jika dia masih hidup nanti.
------
Sedangkan sosok yang mereka cari sekarang,
masih berbaring di sebuah ranjang yang sangat asing. Dia nebgernyitkan matanya, mencoba untuk membuka matanya, memutar matanya melihat sekelilingnya. Seketika keningnya mengerut, menatap sekelilingnya, kamar yang sangat luas, dengan nuansa warna emas, dengan korden warna yang sama, sofa klasik dan meja kecil dengan ukiran klasik yang sangat unik.
"Ibi bukan rumah aku!!!" ucap Lian yin, memegang kepalanya.
"Tapk nika bukan di kamar aku, sekarang aku di mana? Dan ini kamar siapa? Kenapa aku bisa ada di sini? Siapa yang menolong aku." tanya Lian yin pada dirinya sendiri, ia memegang kepalanya, beranjak duduk, menarik tubuhnya sangat hati-hati, ia terus mengamati, dan menatap ruangan yang sangat asing baginya, kamar itu terlihat sangat mewah dengan desain klasik. Ia memegang kepalanya sedikit mencengkeram rambutnya, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi, namun ingatannya hanya sampai di mana ia diceburkan ke dasar laut, dan tidak tahu lagi siapa yang menolongnya dan membawanya ke sini.
"Kamu sudah bangun?" suara seorang wanita berjalan menghampirinya membawakan satu mangkok soup dan jus untuknya.
"Siapa kamu?" tanya Lian yin, mengernyitkan matanya, melihat wanita denganpenampilan yang sangat aneh, seakan dia pasukan khusus negara. Lengkap dengan berbagai senjata di celana dan bajunya.
__ADS_1
"Aku Keysa!!" ucap wanita itu, meletakkan makanan tepat di depan Lian yin.
"Lebih baik kamu sekarang makan, saudara ipar!!" ucap Keysa, membuat Lian yin semakin bingung.
"Maksud kamu apa?" tanya Lian yin.
"Iya, dia sekarang saudara kamu. Dia tinggal di sini, bersama kakaknya." suara berat seorang laki-laki, terdengar asing di telinganya. Lian yin emnatap ke depan, meliaht sosok laki-laki yang benar-benar tidak pernah ia lihat, dia terlihat sangat muda dan tampan.
"Kamu siapa?" tanya Lian yin menatap aneh.
"Lian yin!! Kamu sudah sadar?" tanya serang laki-laki yang betlari mengjampirinya.
"Bukanya kamu? Orang yang nenjaga aku saat aku di tangkap Jack, dan kamu juga yang menrmbak aku!!" ucap Lian yin, mengernyitkan salah satu matanya.
"Iya, maaf aku sudah menembak kamu. dan membiarkan mereka membuang kamu. Tapi wanita itu yang menolong kamu, dia perenang sangat handal." ucap seorang laki-laki yang tidak asik baginya.
"Sebenarnya aku di mana. Jangan membaut aku bingung. Aku di mana sekarang?" ventak Lian yin.
"Dia kakak kamu, dan sekarang kamu di rumahnya." sambung Keysa, membaut Lian yi tetdiam, mencoba berdiri, namun perutnya tiba-tiba terasa sakit, ia memegang tangan Keysa.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini. Di mana istri aku, di mana dia sekarang. Aku hak mau dia di sakiti oleh Jack," ucap Lian yin, yang terus mencoba untuk berdiri.
"Perkenalkan aku Brayen!! Nama aku dulu adalah nama samaran. Dan ini nama aku, aku adalah anak buah kakak kamu. Dan aku sudah bekerja dengannya puluhan tahun. Semenjak dia masih kecil, kita bersama." ucap Brayen yang memang suka banyak bicara.
"Aku gak tahu, ini mimpi atau kenyataan. Apa kamu benar kakak aku? Atau aku hanya menghayal." ucap Lian yin, mencoba berdiri di bantu Keysa yang memopang tubuhnya, berjalan mendekati kakanya.
"Siapa nama kamu? Kenapa aku tidak pernah melihat kamu sebelumnya. Dan kenapa kamu pergi?" tanya Lian yin, menatap wajah kakamya sangat dekat.
"Aku Fhang Yin Chan. Kamu bisa panggil aku kak Chan." jawab Fhang Yin Chan.
"Dan soal kenapa aku di sini, itu ceritanya sangat panjang!! Yang penting ini demi keselamatan aku dulu dan kamu. Dan aku tidak akan dengan mudah melupakan hal itu. Sebelum kamu lahir, aku masih berumur 3 tahun. Dna aku sudah di bawa pergi dan tinggal di sini di rawat dengan orang-orang yang tulus menjaga aku." ucap kakak Lian yin.
"Tapi kenapa kamu tidak pulang, saat orang tua kita meninggal?"
"Aku gak bisa menunjukkan wajahku. Banyak orang pasti akan mencari aku. Dulu aku masih kecil dan tidak boleh keluar kemana-mana. dan aku hanya hidup di sini dnegan merek semuanya. Kita di sini tinggal bersama sudah puluhan tahun," jawab Chen, melangkahkan kakinya, mendekati Lian yin.
"Apa kalian juga tahu soal harta karun itu juga?" tanya Lian yin, dengan dahi mengeryit, ia takut jika kakaknya tidak tahu apa-apa tentang itu dan terbawa masalah lagi.
__ADS_1
Soal harta karun yang kamu cari, kakak kamu sudah punya peta penyalinnya. Dan kamu jangan khawatir, kita bisa membukanya kapan saja" ucap Chen, membuat Lian yin bisa bernapas lega, ia mengusap dadanya, menghela napasnya.
"Tapi kenapa mereka hanya mengajar aku sekarang. Padahal ada yang tahu siapa pemilik asli sebenarnya." ucap Lian yin tak terima.
Chen menepuk ke dua pundak Lian yin. "Maafkan aku!! Mungkin dulu orang tua kita tidak pernah cerita tentang ini. Demi melindungiku, mereka juga harus mengorbankan kamu. Tapi yakinlah, mereka tahu jika kamu bisa melewati semuanya. Dan kamu punya orang-orang hebat di samping kamu. Dan punya istri yang benar-benar bisa mengerti kamu. Semua teman kamu juga orang-orang yang sangat luar biasa,"
"Tapi aku tidak seperti kakak, sekarang sudah jadi orang yang hebat di balik layar, tanpa ada orang yang tahu permainan kakak. Dan semua berjalan dengan sangat baik, kak Chen juga bisa memiliki rumah semegah ini." ucap Lian yin, yang merasa minder dengan apa yang di miliki tidak sebanding dengan kekayaan di milikinya. Lian yin tak hentinya memutar matanya melihat sekeliling ruangan itu.
"Kamu pasti bingung dengan semua ini. aku dapat semua ini juga perjuangan sendiri dari nol. Semenjak orang tua meninggalkan aku aku sendiri di sini, tanpa di beri harta sama sekali. Dan semua kekayaan orang tua kita kamu yang miliki. Dan aku juga dari awal terjerumus di dunia mafia, dan sampai sekarang meski aku sudah keluar dari dunia tersebut, banyak orang yang mengira jika aku ketua mafia di di balik layar."
"Aku ingin tahu semua yang kakak alami, tapia ap aku sekarang bisa tinggal di sini lebih lama?" tanya Lian yin.
"Bisa!! kamu akan tinggal di sini. Sampai semuanya bisa dikondisikan. Dan kamu akan bersama dengan aku. Kita akan membuat rencana di balik layar, kamu sebagai pemeran, kamu akan dapat tugas dariku," Chen melepaskan tangannya di pundak Lian yin, dan beranjak duduk di kursi
"Maksud kak Chen apa?"
"Kalian semua keluar dulu. Aku akan bicara berdua dengannya. Dan kamu Brayen. Kamu tetap di sini, dengan Reysa." ucap Chen, menatap ke arah Brayen, lalu menatap ke arah Reysa.
"Baik!!" Semua beranjak pergi, kecuali Brayen dan Reysa yang masih tetap berada di dalam kamar Lian yin.
"Karena semua sudah di sini. Aku akan rencanakan sesuatu padamu. Tapi tunggu sampai kamu sembuah. Aku akan membuat scenario besar,"
"Maksud kak Chen?" tanya Reysa yang dari tadi hanya diam, menjadi pendengar yang setia, dia mulai membuka mulutnya, mengeluarkan suara lembut khas miliknya.
"Iya, aku masih belum paham apa yang kak Chen rencanakan!!" saut Lian yin.
"Kamu akan keluar dari sini, sebagai diri kamu yang berbeda. Karena semua orang sudah tahu jika kamu meninggal. Agar tidak ada lagu yang mencari kamu, membuat masalah lagi dengan kamu. Maka kamu harus mengganti wajah kamu, tapi tenang aku tidak akan melakukan operasi, hanya memakai topeng yang biasa kamu pakai, tapi ini akan aku berikan khusus buat kamu. Di mana aku sering memakai topeng itu kemanapun aku pergi!!" jelas Chen.
"Nanti Brayen akan jelaskan semuanya. Kamu keluar bersama mereka berdua, dan jangan sampai terpisah." lanjut Chen, membuat Lian yin terdiam sejenak, merasa sudah paham, ia menganggukkan kepalanya kecil.
"Sekarang kamu keluarlah. Lihat-lihat rumahku. Beserta paviliun-paviliun kecil yang jadi tempat tinggal orang-orang di sini." ucap Chen, beranjak berdiri, menatap ke arah Reysa dan Brayen, memberi kode pada mereka agar dengan ke depan maya, dan bola mata hitamnya melirik kearah Lian yin.
"Akun pergi dulu!!" ucap Chen, menepuk pundak Lian yin. Berjalan mendekati Brayen
Puk! Puk!
"Ia menepuk pundak Brayen, "Bawa dia pergi jalan-jalan di sekitar rumah aku," bisik Chen. "Dan ingat sekarang tugas kamu lindungi adik aku. Di manapun dia berada kamu ikut denganya!!"
__ADS_1
"Baik!! Aku akan laksanakan semuanya!!" ucap Brayen tegas.
Chen tersenyum, dan beranjak pergi meninggalkan mereka bertiga di dalam.