Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Sifat Konyol Yiwen


__ADS_3

Yiwen keluar dari restauran itu dengan langkah terburu-buru. Ia tak sadar ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. 


Mobil itu seakan sengaja memang ingin menabrak Yiwen. Lian yin melebarkan matanya melihat mobil itu menuju pada Yiwen. 


"Yiwen awas!" Teriak Lian yin, yang berdiri tak jauh dari Yiwen. Dengan segera menarik tangan Yiwen, mendekap tubuhnya, dan Buukkkkk... hingga terjatuh berguling di bawah. Kepala Yiwen berada dalam dekapan tangan Lian yin, 


Mobil itu berhenti, ia tidak mengenai sasarannya dengan tepat. Yiwen bangkit dari duduknya mencoba mengejar mobil itu. Namun, mibil sport hitam itu segera pergi dari tempat itu, melaju secepat kilat. 


"Syang!!" Panggil Lian yin, yang masih duduk di bawah, memegang tangannya. 


"Kamu mau kemana?" Tanya Lian yin, memegang tangan Yiwen. 


"Dia pergi! Mobil itu hampir membunuhku dan kamu. Dan mengakibatkan kamu terluka, ku gak bisa tinggal dia Yin " ucap Yiwen, yang masih tidak terima karena ulah mobil itu yang hampir merenggut nyawanya. 


"Sudah biarkan saja, akau bisa suruh orang cari dia. Lagian aku sudah hapal plat nomor orang itu. Dan tenang saja aku tidak akan membiarkan dia pergi dengan mudah, yang hampir saja membunuhmu. Sekarang kita cepat pulang, sudah larut malam kamu harus istirahat" ucap Lian yin, beranjak berdiri dengan tangan kanan memegang tangan kirinya yang terasa sangat sakit. 


Yiwen, mengerutkan keninya menatap Lian yin meringis kesakitan.


"Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Yiwen. 


"Gak apa-apa, hanya sedikit nyeri" ucap Lian yin. 


"Nyeri kamu bilang? Apa seperti ini kamu bialng nyeri" ucap Yiwen, memegang tangan Lian Yin yangbterluka.


"Sini kunci mobil kamu" 


"Buat apa, syang!" Tanya Lian yin, yang langsung memberikan kunci mobilnya tanpa tahu kemana dia akan pergi. 


"Aku yang bawa mobilnya, tangan kamu lagi sakit. Jadi aku yang gantikan kamu. Nanti aku akan obati kamu dulu. Sebelum tambah sakit nanti. Jangan anggap remeh luka kecil seperti ini" ucap Yiwen, memegang tangan lian yin menuju ke mobilnya. 


"Gak apa-apa syang, hanya lecet dikit saja. Kenapa kamu jadi bawel gitu" ucap Lian yin, memegang kepala Yiwen, mengusapnya lembut.


Yiwen mengerutkan keningnya. "Bawel maksud kamu, ku itu bawel juga karena kamu. Kamu luka seperti ini di bilang gak apa-apa" Yiwen semakin khawatir, dan segera mengambil kotak obat yang tersimpan di mobilnya. 


"Syang hanya lecet, aku gak apa-apa kok" ucap Lian yin, yang merasa dirinya masih kuat meskipun hanya luka lecet yang melebar di punggung tangannya. 


"Sudah diam jangan banyak bicara lagi, luka kamu harus di obati. Jangan banyak bicara, sebelum aku selesai mengobatinya" ucap Yiwen tegas, ia tidak mau di batah dan selalu ingin Lian yin menuruti apa maunya. 


"Luka ini gak seberapa dari pada luka tembak dulu. Yang aku bisa obati sendiri dan beberapa hari bisa sembuh. Tapi meski masih sedikit nyeri bekasnya" ucap Lian yin yang tudak mau terus di sudutkan.


"Kamu di bilangin bawel banget, udah aku bilang diam dulu" ucap Yiwen, segera membalut tangan Lian yin, yang tergores dengan perban. Dan menalinya berbentuk kupu-kupu seperti yang ia lakukan dulu. 


"Selesia!" Ucap yiwen, mengibaskan ke dua tangannya. 


Dengan senyum menyungging di bibirnya, melihat hasil karya perban darinya. 


Lian yin mengerutkan keningnya. "Ini apa Yiwen syang!" ucap Lian yin, menepuk keninganya. Ia merasa istrinya itu terlalu konyol. Selalu ada saja yang ia lakukan. "Aku malu syang kamu membalutku seperti ini" lanjutnya. Kelakuan Yiwen Membuatnya hanya bisa geleng-gelengkan kepalanya. 


"Itu bagus syang, kalau kamu malu tutup muka kamu. Dam ingat jangan di lepas. Dan diam di tempat, biar aku yang ambil alih mobil kamu. Aku yang akan mengemudi mobil kamu. Meski agak bisa pakai mobil ini. Sebelumnya aku belum pernah coba" Ucap yiwen, seketika membuat Lian yin tersendak ludahnya sendiri. Matanya membuka lebar, menatap ke arah Yiwen.


Lian yin kali ini menggunakan mobil sport limited edition yang baru saja ia beli. Dan Ia membawanya saat kembali dari rumah bertemu dengan Lay dan Changmin. Dan sengaja mengajak Yiwen untuk menikmati mobilnya dengan santai. 


"Apa katamu? Bisa mati konyol kita Yiwen" ucap lian yin, dengan raut wajah merengek. 


"Sudah tenang saja, serahkan semuanya padaku." Ucap yiwen, yang mulai menyalakan mobilnya. 


"JANGAN!!" Lian yin memegang tangan yiwen mencegahnya untuk tancap gas. 

__ADS_1


"Apalagi syang?" Yiwen menoleh ke arah Lian yin, dengan ekpresi bingungnya.


"Aku saja yang mengemudi mobilnya" ucap Lian yin, memegang dadanya yang terasa ngos-ngosan. 


"Gak usah syang, kamu lagi skait. Hak boleh mengemudi mobil" ucap Yiwen, memegang tangan lian yinn dan meletakkan di dasboard mobil. 


Yiwen segera tancap gas, dan tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi, dengan jalan melenggak lenggok, membuat Lian yin, mencoba mengendalikan tangan Yiwen. 


"Syang, aku belum.punya anak dari kamu. Sudah berhentilah, biar aku yang nyetir mobilnya. Aku gak mau mati cuma-cuma syang" ucap Lian yin memohon, memegang tangan Yiwen. 


"Apa syang. Sudah sekarang kamu diam saja. Aku bisa mengendalikannya. Kasih tahu caranya dan tombol apa saja yang di gunakan. Aku gak tahu tobol di sini buat apa saja." 


"Sekarang kamu tarik napas dulu, dan pelankan laju mobilnya perlahan. Dan kenadilan sertir mobilnya baik-baik. Setelah itu kamu mulai lagi mengemudi dengan santai" ucap Lian Yin. 


"Baiklah" ucap Yiwen dan.


WUUUSSSSSS.... 


Yiwen yang merasa sudah mulai paham, melesat secepat kilat, dengan laju mobil, lenggak lenggok seperti zig zag salib kanan salib kiri. Membuat Lian yin, terdiam kaku, dengan mata tertutup, nyawanya bagai di ujung tanduk di buatnya. Ia hanya diam dan berdoa agar semua baik-baik saja. 


Aku masih ingin hidup Tuhan, aku belum punya anak, aku masih ingin hidup samapi tua dengan Yiwen, dan bahagia dengan anak-anak aku nantinya


Hingga mereka sampai di rumah Yiwen, dalam hitungan menit. Mobil itu terparkir di depan rumahnya.


"Sudah samapi buka mata kamu syang" ucap Yiwen, menepuk pundak Lian yin, yang masih duduk diam, dengan tubuh gemetar ketakutan.


Perlahan Lian yin membuka matanya, menyipitkan sejenak, melihat apa dia sudah benar sampai.


Lian yin segera turun lebih dulu, ia bersamdar di mobilnya, dengan tangan memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, akibat ulah Yiwen.


"Iya, bisa membuat aku mati konyol syang" ucap Lian yin, matanya terlihat mulai kunang-kunang ia terasa sangat pusing. 


"Tapi itu hebat lo syang, aku bisa mengemudi mobil kamu dalam hitungan menit" ucap Yiwen dengan bangganya. 


"Kamu membuat Luka aku tambah sakit, kebentur-bentur. Bukannya cepat sembuh syang, cepat sakit lagi iya" gumam Lian yin, berjalan lebih dulu dan berhenti tepat di depan pintu. 


"Kenapa berhenti syang" ucap Yiwen yang masih berdiri di belakanya dengan senyum tipisnya.


"Buka dulu pintunya sayang" ucap Lian yin, menoleh ke belakang di sambut dengan tawa kecil dari bibir yiwen. 


"Makanya jangan sok-sokan jalan duluan, tapi gak bisa buka pintunya" ucap Yiwen mengejek. 


Yiwen segera berdiri di depan pintu, dan seperti baisa pintu itu terbuka sendiri. Ia segera menarik tangan Lian yin untuk masuk. 


"Syang bentar! Mobil aku gimana?" Tanya Lian yin. 


"Udah entar juga bisa terparkir dengan sedirinya jadi jangan khawatir." Ucap Yiwen. 


"Baiklah, kalau begitu. Kalau ada apa-apa awas ya, aku ingin kamu menuruti apa kataku" ancam Lian yin. 


"Kalau gak ada apa-apa dengan mobil kamu. Jadi kamu yang harus nurut dengan aku" gumam Yiwen. 


"Terserah kamu deh!" ucap Lian yin, mengibaskan tangannya dan mulai menapakkan kakinya menuju ke kamar Yiwen. 


"Syang tidur sini ya" ucap Yiwen yang berjalan di belakang Lian yin. 


"Kenapa tidur sini syang?" Tanya Lian yin bingung. 

__ADS_1


"Aku pengen di sini syang" ucap Yiwen. "Tapi kamu tidur di sofa ya. Aku ingin menikmati ranjang kesayangan aku ini sendiri" ucap Yiwen.


~


Yiwen yang sudah sampai di rumahmya, ia berbaring di ranjang miliknya sendiri. Yiwen menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Hari pertama ia di rumah ini ia ingin tidur di ranjangnya, ia gak mau tidur di ruang kerja ayahnya. 


Yiwen, berbaring tengkurap, merenyangkan ke dua tangannya. Mengibas-ngibaskan merasakan ranjangnya yang sudah lama tidak pernah ia tempati. Tapi masih tetap saja bersih. 


"Syang kenapa aku tidur di sofa? Aku di sini ya sama kamu?" Ucap Lian yin, menarik-narik kaki istrinya itu. 


"Gak mau syang, aku maunya kamu tidur di sofa. Sudah jangan banyak bicara atau mengelak lagi" gumam Yiwen. 


"Syang aku ingin bicara sesuatu dengan kamu" ucap Yiwen, yang tidur terlentang menatap ke arah Lian yin yang berdiri di sampingnya. 


Lian yin hanya diam, memegang ponselnya. Ia melihat sekilas ponselnya terus menyala, yang sepertinya ada sebuah pesan dari seseorang. Membuat Yiwen merasa sangat kesal gak di perduliin lagi. 


"Yin!" Panggil Yiwen, berbaring menyangga kepalanya dengan tangannya, menatap ke arah Lian yin yang melepaskan jaketnya. Ia meletakkan po slenya di ranjang.


"Apa syang!" Ucap Lian yin penuh manjanya. 


"Sudah sekarang kamu cerita padaku." Ucap Yiwen. 


"Iya syang bentar" gumam Lian yin. Yang beranjak duduk bersandar di ranjang. 


"Aku hanya ingin bilang padamu syang, aku sebenarnya tahu keberadaan Lyli. Dan aku yang memberi dia tempat tinggal. Aku menyembunyikan semuanya karena takut jika kamu akan marah padaku nanti. Apalagi kamu kalau marah itu benar-benar nyebelin" ucap Lian yin. 


Yiwen beranjak mendekati Lian yin, duduk bersandar di sampingnya.


"Iya, tapi kenapa kamu melakukan itu padaku syang, kenapa kamu merahasiakan semuanya padaku." Ucap Yiwen. 


"Maaf syang, udah ayo tidur aku ngantuk syang" gumam Lian yin.


"Kok tidur, kamu belum cerita semuanya padaku." Yiwen mengerutkan bibirnya kesal. 


"Nanti aku akan cerita lagi bertahap ya syang" gumam Lian yin, tersenyum tipis. Dengan jemari mengacak-acak rambut Yiwen. 


" kebiasaan deh selalu rambut aku yang di berantakin" gumam Yiwen kesal. 


"Sudah sekarang kita tidur, sudah malam besok aku ceritakan lagi" ucap Lian yin, yang mulai bernaring di ranjangnya. Menarik selimut menutupi tubuhnya. 


"Eh.. syang kamu tidur di sofa" ucap Yiwen, yang bangkit dari duduknya.


"Syang, udah tdur, kalau gak broleh aku tidur di sini, ku pergi ke rumah jenguk Grace" ancam Lian yin, seketika membuat Yiwen, langsung bebaring di sampingnya.


"Udah tidur, jangan jenguk dia" gumam Yiwen kesal, ia langsung berbaring berlawanan arah, membelakangi Lian yin.


"Jangan marah ya syang, lagian kamu sih. Suami istri malah gak boleh tidur berdua" ucap Lian yin, memeluk Yiwen dari belakang.


"Gak siapa juga yang marah, aku hanya kesal denganmu" gumam Yiwen yang masih tidak mau menatap ke arah Lian Yin.


"Ya maaf syang, lagian aku hanya ingin melihat wajah kamu. Bukan wajah wanita cantik lain"gumam Lian yin.


Namun Yiwen hanya diam, ia sudah memejamkan matanya dan tertidur lebih dulu.


"Selamat malam syangku" gumam Lian yin, menegcup telinga Yiwen.


Lian yin tersenyum, dan mulai memejamkan matanya. Ia tahu kelemahan Yiwen, dia sering cemburu jika dekat dengan wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2