
Lie Wei sudah bersiap, menerima beberapa pukulan nantinya. Ia berdiri tegap, dengan salah satu tanganya ke depan, dengan jemari bergerak pelan, memberi kode agar mereka cepat meyerangnya. Ia menarik ujung bibirnya
tipis.
“Lie Wei, apa kamu yakin?” tanya Ley, yang berdiri di belakangnya.
“Sudahlah, kamu gak percaya dengan aku. Kamu duduk dan nikmati saja tontonan bagus dariku,” ucap Lie Wei, dengan senyum semringai di wajahnya.
“Baiklah, jadi kamu gak perlu bantuan aku kan?” tanya Ley, memastikan. Menarik alisnya sedikit menggoda.
Lie Wei berjalan ke depan, menatap musuh di depanya dengan tangan meraih kerah bajunya. Sedikit menariknya ke depan. “Hanya mereka saja aku bisa mengatasinya dengan mudah,” Lie Wei mengucapkan penuh percaya diri, tanpa menatap musuhnya. Yang terlihat mulai mengertakkan rahangnya, ke dua
matanya sudah mengobarkan api kemarahan yang seakan sudah siap untuk membakar
semua musuhnya, bahkan tatyapannya sudah semakin menajam ke arah Lie Wei.
Ley hanya tersenyum, ia duduk di atas halicopter nya, menatap Lie Wei yang memang pandai untuk berpura-pura dan tidak pernah lepas untuk membuat musuhnya sangat marah.
“Selesaikan semuanya, maka aku akan traktir kamu makan sepuasnya. Tapi dengan syarat selesai dalam hitungan menit saja,” ucap Ley,
duduk santai dengan siku menyandar di pintu keluar halicopternya, dengan badan sedikit condong, menyangga kepalanya.
“Baiklah, kasih aku waktu lima menit,” ucap Lie Wie dengan ada keras, mengulurkan tangan kananya ke atas menunjukkan lima jarinya, sebagai kode waktu.
“Kalian jangan banyak bicara lagi,” ucap musuh di depannya, raut wajahnya mulai merah padam, seakan aliran daranya sudah mulai naik ke wajahnya. Yang sudah terlihat sangat kesal dengan Lie Wei dan Ley yang terus banyak bicara dari tadi. Membuat mereka hanya membuang-buang waktunya saja.
“Ehh,, ada yang marah?” tanya Lie Wei menggoda.
Jangan banyak bicara,” musuhnya mulai menarik kerah bajunya, di balas dengan senyum santai terpaut di wajah laii-laki tampan itu. Ia menurunkan pelan tangan musuhnya itu dari kerahnya. “Jangan beranianya menyantuh bajuku. Jika kamu bernai menyentuh bajuku, makan aku kana memberimu pelajaran,”
Buuukkk...
Sebuah pukulan keras menganai wajahnya. “Apa yang kamu lakukan?” uicap laki-laki di depannya, dengan tangan memegangi pipinya yang sudah terlihat memar. Akibat hantaman kepalan tangan Lie Wei, yang secara
tiba-tiba.
“Kenapa, kamu gak suka. Bukannya kamu sendiri yang tidak suka jika ada orang banyak bicara,”
Semua musuh hanya diam beberapa detik, melirik tajam, menarik bibirnya tipis. Menunggu aba-aba tangan yang menjulur ke atas dari pemimpinnya.
Merasa sudah ada aba-aba menyerang semua berlari menyerang bersamaan. Lie Wei hanya diam dan duduk santai di pasir tanpa menghindar dari mereka semua.
Sraaakkkk....
Lie Wei, menaburkan pasir di bawahnay ke atas, membuat semua musuhnya melangkah mundur, menutup ke dua mata mereka. Yang lain mulai menyerang secara bersamaan, ke arah Lie Wei yang masih duduk bersila di atas pasir.
tepppp,,,
Buukkk.... Bukkkk,,
Dengan sigap, Lie Wei mampu menepis serangan demi serangan musuh yang ada di depannya. Ia menarik kakinya, melemparnya jauh ke belakang. Kecepatan ke dua tanganya, menepis serangan di depannya yang terus bertubi tubi.
Bahkan Lie Wei tanpa bergeming sedikit pun dari duduknya, ia hanya menghindari. Menggeser duduknya, ada kesempatan ia memegang kaki musuh, melemparnya lagi menjauh. Serangan kejutan tak terduka, seorang musuh, menjatuhkan badanya, melawan dengan ke dua kakinya, memukul bergantian dengan ke dua kakinya bertubi-tubi. Tangan Lie Wei dengan cepat menangkis serangan kaki yang tak terduga itu. Ia mempu memegang ke dua kakinya, menariknya ke
depan, dan mengunci tubuh musuhnya di depannya, dengan ke dua kaki ia tekan,
tedengar suatra seakan patah tulang, ia melemeparkan jauh hingga mengenai
pengawal lainya.
“Sini!!” panggil Lie Wei santainya.
Ia menyangga tubuhnya dengan ke dua tangannya, menarik ke dua kakinya ke atas, dan memutarnya dua kali, melompat berdiri tegap, menangkap tubuh di depannya, mencengkram dan melemparnya dengan mudah.
Buukkk... Bukk...
Lie Wei, memegang salah satu tangan musuh, dengan ke dua kaki berjalan di tubuh musuh depannya. Memutar tubuhnya ke belakang. Membuat ke dua tangannya mendekap tubuh musuh untuk jadi tameng tubuhnya, dari serangan musuh di depanya, yang mengincar dirinya. Ia Merasa semua selesai , dengan
segera menendang tubuh musuh depannya. Menjatuhi tubuh para musuh yang lainnya,
yang berada tak jauh darinya, dan sudah bersiap untuk menyerang lagi.
“Ternyata mereka belum kapok juga.” Gumam Lie Wei dengan bibir tertarik tipis.
Buukkk... bukk...
Beberapa pukulan dengan kecepatan tanganya begitu mudah, ia lakukan pada musuh depannya, ia menendang memutar, mengunci salah satu tubuh musuhnya, menarik tanganya sedikit ke belakang punggung, dengan tangan kanan mencengkram erat telapak tangannya dengan jari jempolnya. Membuat musuh di
bawahnya merisingis kesakitan.
__ADS_1
“Lepaskan aku!!” ucap laki-laki itu.
“Oke, aku bisa lepaskan dengan mudah asalkan kamu dan yang lainya pergi dari sini. Atau kamu mau aku mematahkan tangan kamu ini,” ucap Lie Wei, membalikkan tanganmusuh, dengan badan berdiri di atas tumpuan pundak musuh depannya. Kakinya menyudutkan punggung laki-laki di bawahnya. Aagar tidak bisa berkutik lagi.
“Jangan pernah kamu membuatnya terluka, jika kamu tidak ingin peluru ini mendarat di kepala kamu.” Mendengar suara ancaman itu, ia membalikkan badanya dengan senyum semringai terukir di bibirnya.
“Apa kamu sedang main-main dengan aku,” ucap Lie Wei, tanpa rasa takut di wajahnya.
Ia melepaskan tubuh laki-laki dalam sanderanya, dan beranjak berdiri. “Silahkan tembak, jika kamu bisa,” ucap Lie Wei.
Doorrr....
Dan tembakan itu langsung melesat, dan. Sreettttt..
Lie Weimenjatuhkan tubuhnya, menghindari tembakan yang melesat dengan cepat ke depannya, ia melakukan tendangan di kaki laki-laki di depannya tepat . Seketika ia langsung mengunci kaki musuh, menggunakan ke dua kakinya.
Tanganya cepat sigap, meraih senjata di tanganya, dengan mencengkram telapak tangan musuh, dan sedikit mencengkram
“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Lie Wei
“Aku gak akan beri tahu kamu, meskipun aku harus mati sekalipun,” ucap musuh itu tegas.
“Aku bicara, baik-baik dengan mu, jika kamu mau memberi tahu semuanya, maka aku akan melepaskanmu begitu saja.”
“Meskipun kamu melepaskanku, sama saja. Aku akan tetap mati, jadi lebih baik kamu membunuhku saja. Itu lebih baik.”
“Baiklah, akau akan membawa kamu pergi, dan bisa tinggal di paviliun, jika kamu mau ceritakan semuanya tentang mereka. Aku sendiri yang akan melindunginmu.”
Lie Wei mencoba bernegosiasi lagi, ia tidak ingin mengotori tanganya, dengan membunuh laki-laki itu.
Laki-laki dalam sergapannya itu, hanya diam. Ia mencoba menimang-nimang apa yang di katakan Lie Wei. Karena memang sudah lama, ia ingin pergi dari bossnya. Tapi, karena rasa takut yang membuatnya merasa tidak
bisa apa-apa, tak bisa berkutik sama sekali, dengan semua perintah bossnya. Perjanjian
yang membuat ia terikat dengan bossnya sekarang. Dan kini ia merasa ada
kesempatan untuk dia pergi dari pimpinan boss yang membuat ia merasa selalu
tertekan.
“Bagaimana? Apa kamu sudah memikirkannya?” tanya Lie Wei, mencoba memastikan.
“Kenapa kamu tidak membunuhnya
saja, dia itu musuh. Gak akan baik jika membawanya ke paviliun kita,” sambung
Ley, yang memang dari tadi duduk santai.
Lie Wei menatap Ley, kesekian
detik. Dan kembali menatap ke arah musuhnya itu. Wajahnya terlihat sangat pucat
pasi. Lie Wei merasa banyak sekali yang ingin di ceritakan laki-laki itu, namun dia takut jika menceritakan semuanya, makan nyawanya juga akan terancam.
Lie Wei melepaskan laki-laki itu,
meski belum jawaban dari apa, yang dia tanyakan tadi, tapi setidaknya dia
sudah tahu dari raut wajah yang menyimpan kesedihan. Ia membantu musuhnya untuk
berdiri.
“Jangan sentuh teman aku, jika
kamu berani membawanya, maka aku aka membunuhnya.” Saut seseorang di belakangnya, dan.
Dorrr....
Tembakan melesat dengan sangat
cepat, sebelum Lie Wei menjawabnya. Ia merasa tidak ada tembakan yang menenai
dirinya dan musuh depanya, namun suara tembakan itu membuat Lie Wei, Seketika menoleh ke samping, melihat orang itu sudah tergeletak, dengan bersimbahan darah di
tubuhnya. Membuat Lie Wei bingung, siapa yang menembaknya.
Seakan sudah menemukan jawaban
dari keraguannya. Dengan Cepat Lie Wei menoleh ke arah Ley, “Maaf, aku ikut
__ADS_1
campur, sudah lama sekali senjata aku tidak pernah melukai seseorang,” canda
Ley, meniup ujung pistonya, yang sedikit berasap samar.
Lie Wei tersenyum tipis, “Kamu
selalu mengejutkanku, aku tidak pernah marah sama sekali, tapi jangan bikin aku
terkejut dengan tembakan mendadak kamu.”
“Apa kamu takut,” goda Ley, yang
langsung masuk dalam halicopter, seakan sudah siap untuk pergi.
“Selesaikan dulu dia, apa dia
benar mau cerita semuanya atau tidak. Jika memang iya, maka cepat naik sekarang.
Kita jemput Lian yin dan Yiwen,” lanjut Ley.
“Baiklah,”
Lie Yie yang masih mencengkram
erat lengan orang di depannya itu. Agar ia tidak seenaknya kabur nantinya.
“Aku sudah pikirkan sekarang, aku
mau dengan tawaran kamu. Aku juga sudah lama memang ingin kelura. Tapi aku gak
tahu harus minta perlindungan dengan siapa, tapi jika memang kalian mau melindungiku. Maka aku mau menerima tawaran kalian, aku akan menceritakan
semuanya, tapi tidak di sini. Karena di sini terlalu bahaya” ucap laki-laki itu, dengan wajah nampak was-was, dan bingung, ia melirik ke kiri dn kanan bergantian. “lebih baik kita segera pergi dan selamatkan ke dua teman kalian.”
“Haii... Hai... Haii kalian” sapa
seseorang yang membuat Ley yang di dalam halicopter, dan Lie Wie menoleh
kompak ke sumber suara. Suara perempuan yang terlihat lembut itu menghentikan
pembicaraan mereka.
Lie Wei melebarkan matanya
seketika saat melihat seorang wanita kecil melambaikan tanganya berdiri di
ujung kapal yang berada masih lumanyan jauh dari pandangan mata mereka. Namun,
kapal itu semakin mendarat.
Ley, mentap ke arah Lie Wei,
dengan wajah bingung, tak percaya dengan apa yang ia lihat. “Kamu kenal dengan
gadis kecil itu, Min.” Tanya Ley, menarik ke dua alisnya
Lie Wei hanya menggelengkan
kepalanya, mencoba mengingat siapa gadis itu. Pikirannya yang masih di penuhi
rasa kecewa, membuat ia tidak bisa mengingat jelas siapa dia.
“Dia, anak dari pengusaha kaya di
kota C. Dia gadis lugu yang baru berusia 18 tahun, baru tamat sekolah.”
Ley dan Lie Wei menatap ke arah
musuhnya bersamaan. Maksud kamu?” tanya Lie Wei.
“Nanti aku jelaskan semuanya di
dalam, jika memang aku boleh ikut kalian.” ucap laki-laki itu.
“Tapi sebelumnya, kalian boleh periksa sekujur tubuhku ada hal yang mencurigakan
tidak,” lanjutnya.
“Baiklah, nama kamu siapa?” tanya Ley.
__ADS_1
“Aku, Boby. Aku sudah hampir 5 tahun ikut dengan boss aku. Dan sekarang lebih baik kamu periksa aku cepetan, aku tidak mau jika kalian nanti akan curiga. Aku akan mencelakai kalian semuanya di dalam halicopter kalian. Sebelum gadis itu ke sini, cepat perikasa aku.” Ucap Boby.