
Lian yin mengusap manja kepala Yiwen. Menempelkan kepalanya.
"Makasih syangku!!" ucap Lian yin lembut. Kali ini tangannya hanya diam, tidak bertindak nakal lagi seperti tadi. Ya, mungkin dia sudah tidak nafsu, atau sudah lelah.
"Apa kalau kita punya anak, masih bisa se-romantis ini?" tanya Yiwen, mendongakkan kepalanya menatap ke atas wajah Lian yin.
"Masih! Dan akan selalu seperti ini sepanjang waktu. Karena aku juga akan selaku bersama kamu, sampai aku tidak bernapas lagi." ucap Lian yin, membuat hati Yiwen tersentuh.
Ia mulai teringat, jika dia tidak bernapas lagi nantinya. Apa Lian yin akan selalu setia bersamanya? Atau dia akan mencari wanita lain yang jauh lebih cantik dan tampan nantinya.
Yiwen menghela napas berat, membuat Lian yin mengerutkan alisnya. "Kenapa kamu diam syang?" tanya Lian yin, memegang helaian rambut yang terurai panjang hingga menyentuh air.
"Aku hanya memikirkan sesuatu syang!" Yiwen, melepaskan tangan Lian yin yang bersandar di pundaknya. Ia membalikkan badannya, sedikit mendongak menatap Lian yin.
"Memikirkan apa? Apa memikirkan laki-laki lain?" Lian yin, memegang ke dua pipi Yiwen.
Yiwen menautkan ke dua alisnya."Kenapa kamu bisa curiga denganku seperti itu?" ucap kesal Yiwen.
"Apa kamu akan tetap setia padaku, jika aku sudah tidak ada kagi di dunia ini." ucap Yiwen, membuat Lian yin, terdiam seketika.
"Kamu bicara apa? Aku akan selalu ada buat kamu. Dan meski kamu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Maka aku juga akan selalu setia bersama kamu." ucap Lian yin. mencoba meyakinkan Yiwen tentang perasaannya selama ini.
Wajah Yiwen yang semula murung, ia mulai mengembangkan bibirnya, membentuk senyum merekah terukir di bibirnya. "Sangat indah, aku ingin sekali bisa bermanja ria denganmu seperti ini terus." gumam Yiwen, memeluk tubuh Lian yin erat. Meski tanpa balutan kain yang menempel di tubuh mereka.
Yiwen kembali memeluk suaminya erat, menempalkan tubuhnya dalam dekapan suaminya. Hari ini mungkin dia masih bisa menikmati hari ini tapi tidak dengan besok-besoknya lagi. Ia juga tidak tahu, apa masih bisa seperti ini lagi. Atau hanya sekarang saja.
Lian yin melepaskan tubuh Yiwen, menenggalamkan dalam bathup, mengecup bibi Yiwen penuh gairah, dengan tangan masih bergetar liar merayap di tubuh istrinya. Lian yin mulai memasukan lagi miliknya, membuat Yiwen menahannya lebih kuat, memegang punggung Lian yin. Mencengkramnya, menahan rasa sakit.
Wanita itu sudah tidak kuat lagi bernapas dalam air, ia menarik tubuhnya agar bisa bernapas, sembari menikmati setiap irama, yang Lian yin mainkan. Hembusan napas berat saling berpacu, saling mencengkram, memeluk, dan saling mendesah pelan.
Tubuh wanita itu semakin bergairah hebat. Ia bermain dengan bibirnya, menahan desahan yang seolah ingin keluar dari mulut Yiwen. Tak terasa manda mulai mengerang keras membuat Lian yin semakin menikmatinya dan melanjutkan aksinya.
pria itu, mulai mengangkat tubuh Yiwen duduk ke atas bathup. Mulai melakukan lebih cepat lagi, membaut desahan semakin hebat keluar dari mulut Yiwen. Lian yin berhenti sejenak dengan aksinya. Yiwen, menatap wajah Lian yin, yang masih berdiam menikmati. Seakan tidak mau melepaskan tubuhnya.
Desahan kenikmatan keluar dari bibir Yiwen, membuat Lian yin, semakin bersemangat mulai memainkan sebuah olahraga tubuh yang akan menghasilkan, sebuah kejutan kenikmatan baginya. Lian yin yang berhenti, mulai melanjutkan lagi, Lelaki itu menghentakan sebentar lalu lembut kembali. Hingga Manda terhanyut dalam Pusaran gairah.
Yiwen mendesah sebentar, menahan pekikan dan berbaur dengan hasrat irama. Gadis itu mendekap erat tubuh Lian yin. Membalas merengkuh, mencengkram, bahkan ia mengikuti irama tubuh Lian yin. Hingga mereka berdua larut dalam irama tubuh yang selaras.
Ia berhenti sejenak mengusap peluh keringat yang membasahi kening Yiwen, dengan tangan kekar miliknya. Di balas dengan senyum tipis dari bibir Yiwen.
Semburan lahar keluar dari kawahnya, membuat Lian yin memulai gentumannya lagi. Kali ini lebih cepat, Yiwen memeluk tubuh Lian yin. Yang semakin cepat dan cepat. Hingga lava miliknya keluar di dalam milik Yiwen. Dengan naps menggebu hebat, Lian yin memeluk tubuh Yiwen dan berbisik.
"Makasih!!" Bisik Lian yin tepat di telinga kanan Yiwen. Lian yin membelai lembut wajah wanitanya. Membiarkan tubuh mereka masih menempel, merasa sudah capek kakinya berdiri, ia menggendong tubuh Yiwen, tanpa melepaskan, masuk ke dalam bathup lagi.
__ADS_1
Seakan belum puas, Ia menciumi leher Yiwen, dengusan napas beratnya, membuat gadis itu merasa geli.
"Syang, hari ini kamu bergairah sekali," bisik Yiwen.
"Karena aku sudah lama tidak melakukannya denganmu." ucap Lian yin, sembari melanjutkan tangannya, yang masih belum berhenti merayap di tubuh Yiwen.
Lian yin melepaskan miliknya, dan duduk di belakang Yiwen, memeluk tubuh Yiwen dari belakang. "Hari ini kamu beda, membuatku lebih bersemangat lagi syang!!" bisik Lian yin, mengecup telinga Yiwen manja.
"Karena aku memang ingin syang. Agar cepat punya anak juga," gumam Yiwen.
"Pasti kita segera punya anak. Tapi sabar dulu ya syang," ucap Lian Yin.
Lian yin memggerakkan tangannya turun, ke daerah sensitif Yiwen. Memainkan dengan tanganya, membuat wanita itu memegang leher Lian yib di belakangnya, dengan desahan kecil, memainkan bibirnya. Menahan irama yang di mainkan jemari tangan Lian yin.
Tangan Lian yin, memegang dadanya, desahan hebat semakin keluar. Membuat miliknya seakan tak behenti mengeluarkan laharnya.
Hingga hampir 1 jam setengah, Lian yin dan Yiwen berada dalam kamar mandi. Memuaskan hasrat yang selama ini hanya ia lakukan setengah-setengah. Mereka berhenti, mengambil napas, melanjutkan lagi olahraganya. Hingga merasa hasrat mereka terpuaskan.
Lian yin, menggendong tubuh Yiwen, yang kini sudah berbalut handuk. Keluar dari kamar mandi. "Senyum bahagian keluar dari wajah mereka."
"Semoag kali ini dari binih yang sudah kamu tanam, menjadi binih baby yang kita inginkan," ucap Yiwen, melingkarkan tangannya di leher Lian yin.
"Kalau setiap hari bisa bermain seperti ini, bahkan bermain sampai pagi. pasti aku terpuaskan syang." goda Lian yin, melangkahkan kakinya menuju ranjangnya, meletakkan tubuh Yiwen duduk di ranjang.
"Yiwen ini milik kamu?" tanya Lian yin, mengangkat bra milik istrinya.
"Milik aku, memangnya punya siapa lagi." ucap Yiwen kesal. Ia menyipitkan tangannya, menatap curiga pada Lian yin. "Atau jangan-jangan kamu menyembunyikan wanita lain ya." Yiwen beranjak berdiri, menatap curiga pada suaminya.
"Wanita lain siapa syang, gak ada wanita lain selain kamu. Aku hanya melakukannya denganmu," ucap Lian yin, memegang ke dua lengan Yiwen, mencoba meyakinkan istrinya itu.
"Alah, Bukanya kamu pernah tidur dengan, Yhing yhi, di depan mataku lagi. Kalian bercumbu berdua, sangat mesra." ucap Yiwen, kesal. Dengan ke dua tangan bersendekap, melemparkan pandangannya berlawanan arah. Dan bibir masih menyun beberapa senti.
Lian yin, mencubit manja pipi Yiwen. "Sudah jangan bahas itu lagi. Itu hanya masa lalu, yang penting sekarang aku hanya memuaskan istri aku." ucap Lian yin, menarik handuk yang membalut tubuh Yiwen. Membuat wanita itu terjingkat, mundur ke belakang.
"Apa yang akan kamu lakukan syang?" tanya Yiwen.
"Memakaikan bra kamu, setelah itu aku ada urusan syang."
"Urusan apa?" tanya Yiwen, menyipitkan matanya, menatap raut wajah Lian yin. Apa dia benar, atau hanya pura-pura ada urusan. Padahal malam ini ia ingin tidur di temani dia seharian. Tapi bayangan itu gagal, Lian yin terlalu sibuk dengan kegiatannya. Dan sekarang jarang ada waktu buatnya. Jadi ia harus lebih bisa bersabar lagi, dan penegertian dengannya.
"Kamu tahu sendiri kan syang." ucap Lian yin, yang sudah memakaikan bra milik Yiwen. Lalu memakaikan baju biasa padanya. Karena memang Yiwen jarang sekali pakai gaun, agar terlihat lebih feminim. Tapi kebayangan bajunya hanya kaos dan baju lainnya.
Ia juga memakaikan dalaman Yiwen, membuat wanita itu terpaku dengan apa yang di lakukan suaminya. Ia meraih dalaman milik Lian yin, menarik handuknya. dan mulai bergentian memakaikan.
__ADS_1
"Udah kamu diam, jangan banyak bergerak. Aku juga ingin melakukan hal yang sama syang," ucap Yiwen, yang sudah duduk jongkok.
"Syang!!" panggil Lian yin, mengusap ujung kepalanya.
"Ada apa?" jawabnya, mendongakkan sedikit kepalanya, menatap ke atas.
"Gak bermain lolipop?" tanya Lian yin, membuat Yiwen seketika mengerutkan keningnya, menatap aneh pada Lian yin.
"Maksud kamu?" tanya Yiwen.
"Sudahlah, gak jadi syang." Yiwrn yang polos itu, tak mengerti apa yang di maksud Yiwen membuatnya sangat kesal.
Yiwen beranjak berdiri, memakaikan kemeja Lian yin.
Setelah sudah memakai baju lengkap. Lian yin berniat untuk segera pergi, lagian pasti Lay sudah menunggunya nanti.
Entah apa yang akan dia bicarakan. Tapi setidaknya ia harus menemui Lay dulu.
----
"Yin, kamu mau kemana?" tanya Yiwen, menarik tangan Lian yin, menghadap ke arahnya.
Lian yin tersenyum, mengusap kepala Yiwen.
"Aku mau pergi bentar, syang. Kenapa kamu jadi manja gini sekarang?" goda Lian yin, mencubit dagu manis Yiwen.
Yiwen mengerutkan bibirnya, merengek seperti anak kecil.
"Lagian kamu kalau pergi, gak pernah ajak aku sekarang. Atau.. Jangan -jangan kalian merencanakan sesuatu, tanpa sepengetahuanku ya." kata Yiwen, melipat ke dua tangannya, di letakkan di dadanya, dengan badan sedikit mendekat ke arah Lian yin.
"Rencana apa, syang. Aku kalau ada rencana. Aku selalu cerita padamu." Lian yin, menyentuh ke dua pipi Yiwen, sedikit menekannya gemas.
"Apaan, kamu selalu diam-diam, gak pernah cerita padaku. Kalau aku gak maksa, apa kamu mau cerita," ucap Yiwen kesal, mengerutkan biburnya, sedikit menarik bibirnya kesal.
"Sudah jangan ngambek. Aku hanya keluar sebentar. Kamu jangan khawatir, aku gak pergi dengan wanita lain syang. Aku hanya syang denganmu. Gak ada wanita lain di hatiku," ucap Lian yin, menepuk bahu Yiwen, mencium lembut keningnya, lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Yiwen.
"Selalu deh, belum sempat jawab. Sudah di tinggal sekarang. Terus sekarang apa yang aku lakukan," decak kesal Yiwen, menghentak-hentakkan kakinya kesal, dengan dua sudut bibir mengerut ke bawah.
"LIAN YIN!!!" umpat kesal Salsa. Menghentakkan kakinya kesal, dan beranjak pergi dari kamarnya.
belum sempat melangkahkan kakinya keluar dari pintu kamarnya, langkahnya terhenti. Berpikir dalam benaknya untuk diam-diam memata-matai Lian yin.
"Aku harus mengikuti dia, lagian siapa suruh dia diam-diam pergi tanpa beri tahu aku pergi kemana." ucap Yiwen, menarik bibirnya semringai. Ia membalikkan badanya, berjalan masuk ke dalam kamarnya. mengambil jaket, dan perlengkapan ia untuk menyamar nantinya.
__ADS_1