
"Yiwen ambilkan aku handuk sekalian siapkan baju aku"Teriak Lian yin yang masih di dalam kamar mandi.
"Iya bentar, aku mau pakai baju dulu"balas Yiwen.
Kesel aku kalau kayak gini terus, aku gak ingat diriku siapa, dan Lian yin siapa. tapi aku merasa dekat dengannya. Bahkan sangat dekat. tapi aku belum tahu apa hubunganku dengan dia. Dan menerima gitu saja menikah dengannya. Itu hal yang paling bodoh yang pernah aku lakukan. Menikah dengan orang yang baru aku temui 1 hari, gumam kesal yiwen ia merasa marah dengan dirinya sendiri.
Ia segera menyiapkan baju Lian yin dan mengambilkan handuk untuknya. "Ini cepat buka" ucap yiwen di balik pintu kamar mandi.
Lian yin segera meriah baju dan handuknya. Dari pada Yiwen menolak terus ia lebih memilih pakai baju di kamar mandi. Menghindari Yiwen yang terlihat sensitif saat ia dekati.
"Oya, jangan keluar dulu tunggu aku"ucap Lian yin.
"Iya"jawab yiwen singkat.
Huff, aku harus nunggu lagi, lagian kenapa sih aku harus nurut sama dia. memang sih dia suami aku. Tapi rasanya aneh banget kalau aku itu harus nurut sama dia, gumam yiwen duduk di ranjangnya.
Ia sudah selesai memakai baju ketat yang terlihat lekuk tubuh seksinya dan rok pendek sangat ketat. Sama seperti keseharian dia. bahkan kini sudah menguncir satu rambutnya di atas hingga menyisakan helaian tipis di pelipisnya. Ia terlihat lebih tomboy jika memakai pakaian seperti itu.
Yiwen beranjak dari duduknya menatap lian yin keluar dari kamar mandi.
"kenapa kamu lama?" tanya Yiwen kesal.
"Lama gimana sayang, padahal hanya 10 menit aja"ucap lian yin mengelak.
"Ya sudah ayo keluar, Luhan sudah menunggu lama"ucap Yiwen menarik tangan lian yin keluar dari kamarnya. Lian yin hanya diam menatap wajah cantik istrinya itu. meskipun penampilannya sangat tomboy dari dulu. Ia masih tetap suka dengannya. Baginya Yiwen itu unik beda dengan wanita lainnya.
Yiwen berjalan terburu-buru menuju ke meja makan. Tidak nampak Luhan di sana, "Di mana Luhan?" tanya Yiwen menatap sekeliling ruangan itu.
"Mungkin dia sudah pergi ke kantor"ucap Lian yin dengan santainya menjawab.
"Iya, gara-gara kamu kelamaan kan, Luhan jadi pergi duluan. Aku gak enak sama dia udah numpang di rumahnya tapi kita seenaknya sendiri."ucap kesal Yiwen pada Lian yin yang berdiri di sampingnya.
"Lagian salah sendiri dari tadi kamu gak mau di ajak mandi bareng, kelamaan berdebat"ucap Lian Yin, seketika Yiwen menutup mulut Lian yin agar tidak bicara itu di luar. Ia takut ada yang mendengarnya.
Lian yin menjauhkan tangan yiwen dari mulutnya.
"Kenapa kamu menutup mulutku" tanya Lian yin dengan tatapan menggoda.
__ADS_1
"Ih. apa sih yin"gumam Yiwen kesal mendorong tubuh Lian yin yang terus menggodanya.
"Kamu cantik"goda Lian yin mencolek dagu Yiwen.
"Apaan, gak usah merayu ku"ucap Yiwen, ia segera duduk di kursi, menatap sejenak makanan yang masih tersedia lengkap di mejanya. Berbagai menu makanan pagi hari yang begitu lezat. Seakan air liurnya menetes, melihat lezatnya makanan di depannya. Tapi tidak ada Luhan, membuat ia mengurungkan niatnya kembali untuk mengambil salah satu makanan di meja.
"Sepertinya enak, haduh perutku lapar"ucap Yiwen mengusap perutnya yang terasa keroncongan.
"Kenapa kamu duduk duluan. Lagian mata kamu sepertinya udah tergoda dengan makanan di depan kamu"ucap Lian yin, yang mulai mengambil makanan.
"Plakk..." Yiwen menepuk tangan Lian yin agar tidak menyentuhnya dulu.
"Jangan sentuh makananya dulu, lagian Luhan beluk ada di sini. Kita tunggu sampai Luhan ada, baru kita makan bersama nantinya" ucap Yiwen, sebenarnya ia ingin sekali menyantap habis makanan di depannya. Namun ia hanya bisa menelan ludah menahan rasa laparnya sejenak.
"Kenapa harus nunggu Luhan, lagian Luhan sudah pergi ke kantor. masak kita harus nunggu dia sampai pulang dari kantornya"gumam Kesal lian yin.
"Udah sabar nunggu, aku yakin dia belum berangkat, dia pasti nunggu kita makan bersama. Dia bukan lelaki seperti itu yang makan duluan dan meninggalkan tamunya sendiri."ucap Yiwen.
Mendengar ucapan yiwen, Lian yin mengerutkan keningnya. Dia sudah ingat dengan apa masa lalunya. Kenapa dia bisa tahu kebiasaan luhan, gumam Lian yin dalam hatinya.
"Kenapa kamu tahu tentang Luhan?" tanya Lian Yin curiga.
"Maksud kamu?" Yiwen bingung dengan apa yang di tanyakan Lian yin.
"Kenapa kamu tahu kebiasaannya?" lanjut Lian yin.
"Kebiasaan apa?" Yiwen semakin bingung di buatnya.
"Soal, kenapa kamu bisa tahu jika dia tidak mungkin pergi ke kantor duluan"tanya Lian yin.
"Karena sebenarnya di ingatanya masih tertanam ingatan masa lalu, tapi dia belum bisa mengingat semuanya. Ia butuh tahap dan proses untuk mengingat semuanya. Lagian kamu jangan curiga dulu. Kita sama-sama bantu dia untuk mengingat kembali. Siapa sebenarnya dirinya. Jangan menuduhnya yang tidak mungkin ia lakukan. Kita harus dukung dia, ingatanya semakin maju dan pulih"saut Luhan berjalan di belakang mereka.
Mendengar suara serak lelaki yang sangat familiar itu, membuat mereka kompak menoleh ke belakang. "Luhan?" ucap Lian Yin.
Ia terdiam sejenak, benar apa kata Luhan. Kenapa aku harus cemburu lagian kalau dia ingat tentang aku ada baiknya juga. cinta dia tambah besar denganku. dan dia tidak ragu lagi padaku. Dan aku bisa memiliki dia seutuhnya. Lagian dia audah jadi istri sahku. Tak ada yang bisa merebutnya dariku lagi, gumam lian yin dalam hatinya.
"Iya bener itu kata Luhan"ucap Yiwen menepuk pundak lian yin di sampingnya.
__ADS_1
"Iya, maaf aku tadi sudah curiga denganmu"ucap Lian yin.
"Udah sekarang kita makan, dan kalian pergi ke kantorku bersama dengaku"ucap Luhan, beranjak duduk di depan Yiwen. Ia memilih duduk di depan yiwen, karena ingin memandang wajah cantik Yiwen, meski sekarang bukan miliknya lagi.
"Iya, aku dari tadi nunggu kamu. Udah lapar banget nih perut"ucap yiwen yang langsung mengambil makanan duluan, hingga satu piring penuh berbagai macam lauk.
Lian yin hanya menggelengkan kepalanya, Yiwen sekarang lebih banyak makan dari pada biasanya. Ia curiga kalau yiwen hamil. namun tidak ada tanda-tanda dia hamil sama sekali.
Luhan menatap yiwen tersenyum tipis, ia tidak menyangka gadis yang ia sukai lucu juga. kalau lagi lapar seperti ini.
Merasa sudah kenyang mereka beranjak menuju kantornya, yang lumayan jauh dari rumah Luhan. hanya memakan waktu setengah jam perjalanan.
"Masih lama ya?" tanya Yiwen yang sudah tak sabar melihat perusahaan Luhan. Yang kabarnya sangat besar dan megah.
"Itu di depan" ucap Luhan menunjuk ke depan.
Semua pegawai menyambut kedatangan Bossnya yang sudah mulai berhenti tepat di depan pintu masuk. Seorang pejaga membuka pintu depan dan belakang.
"Selamat datang tuan"sapa para pegawainya kompak. Dan Yhing Yin berdiri di depan pintu menunggu kedatangan Luhan.
Kenapa dia ikut segala, rencana aku buat deketi Luhan gagal lagi. Padahal aku mau ajak dia keluar nanti. Kalau seperti ini terus rencana aku bisa gagal di buatnya. Jangan sampai aku gagal kali ini. Lee dan yhing Yhi pasti menertawakanku tidak bisa memikan lelaki yang sudah lama aku bekerja dengannya. Hanya untuk mengambil hatinya butuh pengorbanan ekstra. Hingga aku harus jatuh bangun, tapi ingin mendapatkan segalanya tak semudah yang di bayangkan, gumam Yhing yin menatap sinis ke arah Yiwen.
Yhing yhi mencoba meraih tangan Luhan, namun dengan segera Yiwen menyerobot tangan Yhing yin dan memegangnya. Ia memandang Yhing yin dan tersenyum tipis di depannya, mereka berjalan lebih dulu, dan yiwen tanpa rasa bersalah sama sekali. "Kita pergi dulu"ucap Yiwen berjalan ringan menganggandeng tangan Yhing yin.
"Tapi..."
"Udah gak usah tapi-tapian. Lian yin sama Luhan berjalan di belakang kita. Apa kamu takut jika Luhan menyakiti Lian yin."tanya Yiwen melebarkan matanya menatap ke arah Yhing yin.
"Shittt.. Wanita ini selalu gagalin rencana aku."batin Yhing Yin kesal.
"Sepertinya kamu gak suka ya?" gumam Yiwen tersenyum tipis.
Rasain kamu, emang enak selalu gagal terus rencana kamu. Kali ini aku yang akan selalu gagalin rencana kamu, batin Yiwen tersenyum samar menarik bibirnya sedikit.
"Siapa yang gak suka, tapi aku mau berbicara dengan Luhan dulu"ucap Yhing yin mengelak.
"Bicara di dalam jangan di lupa banyak pegawai yang mendengar ucapan kalian nanti. Takutnya mata-mata itu mendengar"bisik Yiwen, seolah sindir Yhing yin.
__ADS_1