
"Yiwen, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Amerta, yang terlihat sangat panik, memeriksa setiap tubuh Yiwen dari atas sampai pinggangnya.
"Aku gak napa-napa, memangnya ada apa?" tanya Yiwen, yang terlihat sangat biasa, seakan ia melupakan tentang kejadian tadi bersama dengan Jack. Kehadian yang sangat memalukan jika ia ingat, hampir saja Jack bertindak kurang ajar dengannya.
"Sudah jangan bahas itu lagi, sekarang lebih baik kita tidur," ucap Yiwen, membaringkan tubuhnya di ranjang, lalu menarik selimut membungkus setengah tubuhnya.
"Beneran kamu gak apa?" tanya Amerta, melirik yiwen, yang membalikan tubuhnya miring ke kiri.
"Iya, aku gak apa-apa, lebih baik sekarang kamu tidur," ucap Yiwen tanpa menatap ke arah Amerta.
"Kamu gak tanya padaku?"
"Tanya apa?' jawab Yiwen datar, ia masih memikirkan apa yang di lakuakn Jack tadi padanya.
"Soal apa yang aku bicarakan dengan kakak aku tadi!!"
"Enggal ada yang perlu di tanya. Karena itu urusan kamu. Jadi kamu berhak cerita atau enggak, aku juga tidak mau banyak ikut campur dengan masalah kamu berdua." ucap Yiwen, membalikkan tubuhnya, berbanring menatap ke atap langir kamarnya.
"Ada hal yang harus di ceritakan, ada hal juga, yang tidak perlu di ceritakan. Jika itu menurut kamu berhak untuk di ketahui orang lain. Ceritakan!! Tapi jangan masalah orang lain kamu ceritakan, dan di bumbui dengan sebuah kata-kata tambahan. Jika masalah orang itu sangat butuh bantuan kita, ceritakan!! Mungkin kita bisa saling membantu, jika masalah pribadi. Lebih baik diam, dan pendamlah dalam hati." ucap Yiwen, melirik ke arah Amerta.
"Jangan terlalu percaya dengan teman, bisa jadi teman itu nenusuk kamu dari belakang. Simpanlah masalah itu, selesaikan dengan kakak kamu, tapi jika kamu butuh bantuan aku, aku akan siap membantu kamu!!" lanjutnya.
Amerya hanya bengong, menatap tak percaya dengan kata-kara sok bijak yang di utarakan Yiwen padanya. Sebuah kata baru yang belum pernah ia dengar. Tapi apa yang di bilang dia ada benarnya juga. Membuat gadis itu menambah kata bijak lagi dalam hidupnya. Agar tidak mudah percaya dengan orang lain.
"Baiklah, tapi aku hanya ingin bilang. Kamu hati-hati dengan Jack, aku tahu apa yang akan di lakukan Jack pada kamu. Maka dari itu, tadi aku cepat-cepat kembali, agar hal yang tidak di inginkan terjadi." ucap Amerta, yang mulai menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya.
"Jadi kamu sebenarnya tahu?" tanya Yiwen.
"Iya, aku tahu. Apalagi dari sifat Jack yang memang pecinta wanita, iru sudah terlihat jelas. Jadi gak mungkin dia tidak melirik kamu. Apalagi kamu sangat cantik, dan pasti dia juga melirik kamu." jelas Amerta.
"Apa dia juga menggoda kamu? Dan kanu juga cantik, tapi kenapa dia tidak terlihat sama sekali memandang kamu?" tanya Yiwen heran, entah kenapa Jack sering menatapnya, seakan tatapanya ingin sekali melecehkan dirinya.
Amerta tertawa. "Aku.. ha.ha. Kamu bercanda. Padahal aku itu masih kecil, dan aku adik Mei, dia gak mungkin menggodaku, aku bukan seleranya." Amerta melirik ke arah Yiwen.
"Kenapa bisa begitu?" Yiwen masih heran di buatnya.
Amerta menatap jam dinding di depannya, sudah menunjukan pukul 12 malam, dan mata mereka seakan masih terbuka lebar, belum bisa tertutup.
"Entahlah!! Udah lebih baik sekarang kita tidur. Besok di bahas lagi. Masih banyak hal yang harus kamu lakukan, dan gara-gara kamu tadi gagal ambil serpihan kertas itu, besok kamu juga harus cari cara lagi agar bisa masuk ke dalam kamar, Jack."
__ADS_1
"Baiklah!!" Yiwen segera mematikan lampu di samping ranjangnya. Di atas meja sampingnya.
--------
Di sisi lain Lian yin masih dalam perjalanan menuju ke perbatasan, yang harus memakan waktu hampir tiga jam setengah. Dan dia sekarang sudah hampir sampai ke tujuan.
"Sepertinya aku harus mengalah hanya satu hari, tapi apa benar ini bisa memancing kakak aku, aku gak tahu apa dia akan datang atau tidak. Lagian aku tidak pernah tahu, jika aku punya kakak. Dan semuanya menyembunyikan dariku" decak kesal Lian yin. Memukul setir mobilnya dua kali.
Hembusan napasnya semakin cepat, seakan gemuruh kekesalan mulai datang menjalar ke tubuhnya. "Semua orang memang benar, benar-benar nyeselin. Seumur hidup mereka. Bahkan tidak sama sekali cerita tentang kakak. Dan seakan mereka benar-benar merahasiakan kakak aku. Saat kecil wajahnya saja aku tidak tahu, foto tentang dia saja juga tidak ada di rumah." gerutu Lian yin semakin kesal. Ia tak hentinya terus menggegam kesal, dan langsung menginjak rem mobilnya, berhenti di bahu jalan, tepat di daerah perbatasan.
Lian yin, menyandarkan punggungnya di kursi, dengan ke dua tangan mengusap wajahnya dari rahangnya sampai ke atas kepalanya, penuh frustasi. "Arrgggg...." teriak Lian yin, memukul keras setir mobilnya.
"Aku gak bisa seperti ini, aku harus tenang.. Harus tenang!!" ucap Lian yin pada dirinya sendiri. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkan secara perlahan, mencoba mengatur emosi dalam tubuhnya yang belum bisa stabil.
"Lian yin!! Tenanglah! Kamu harus tenang! Jangan gegabah, dan jangan sampai mereka tahu tentang rahasia aku!!" pikir Lian yin dalam hatinya, ia melepaskan sabuk pengamannya, dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari mobilnya.
Laki-laki itu berdiri di depan mobilnya, memutar matanya, menatap sekelilingnya, yang terlihat sangat sepi, tanpa ada pertandan orang datang.
Hampir lima belas menit ia menunggu.
Lian yin yang merasa kesal, sudah lama menunggu, ia menghentakkan kaki kanananya, dan beranjak pergi. Masuk ke dalam mobilnya, baru membuka mobilnya, suara langkah kaki terdengar jelas di belakangnta.
"Ternyata kamu benar-benar berani datang sendiri!!" suara berat seorang laki-laki di tengah kegelapan malam. Langkah kakinya terdengar semakin jelas berjalan mendekati Lian yin.
Pluk!
"Kamu mau kemana? Jangan terburu-buru, padahal aku ingin sekali bermain dengan kamu. Dan hari ini, aku ingin tunjukan pada kamu tentang suaru hal, yang belum kamu ketahui, Lian yin." Laki-laki itu menrpuk pundak Lian yin, bersik tepat di belakangnya. Membuat Lian yin menoleh seketika.
Seketika ia terekejut, melebarkan matanya, melihat seorang dengan wajah tertutup topeng. Dengan beberapa pengawal di belakangnya.
"Siapa kamu?" tanya Lian yin, dorong tubuh Laki-laki di depannya.
"Kamu gak tahu, siapa aku?"
Lian yin memalingkan wajahnya sekana malas untuk mendengar siapa namanya.
"Kamu ikutlah denganku," ucap Laki-laki itu.
"Jangan harap aku bisa ikut secara cuma-cuma dengan kamu,"
__ADS_1
"Oke! Jika kamu gak mau ikut, maka jangan salahkan aku, jika aku bertindak bodoh padamu."
"Oke, aku akan Lihat, seperti apa yang kamu inginkan." Ucap Lian yin tanpa rasa takut terbesit dalam pikirannya. Ia membalikkan badannya, dan kembali membuka pintu mobilnya.
Klek.. Klek..
Suara senjata tepat di belakang, membuat Lian yin terdiam, mematung seketika. Ia melebarkan pupil matanya, perlahan membalikkan badannya. Tepat di keningnya, seorang di depannya, mendoongkan senjaatanya.
"Jangan mencoba untuk pergi, dariku!!"
"Apa sebenarnya yang kamu mau?" tanya Lian yin dengan nada santainya.
"Aku ingin mengajak kamu bekerja dama dengan baik. Tapi jika kamu tidak bisa di ajak berunding secara baik-baik, maka aku akan bertindak keras dengan kamu!!" ucap jelas laki-laki itu.
"Jika kamu ingin melihat wajah aku, maka ikutlah denganku!!"
Apa aku harus ikut dengannya, agar aku tahu siapa dia. Dan apa motifnya. Sepertinya aku harus pura-pura bekerja sama dengannya. Tapi tujuan pertama aku bukan itu, aku hanya ingin memancing kakak aku, gimana cara dia keluar nantinya, untuk menolong aku.
"Kenapa kamu hanya diam? Aku hanya butuh jawaban ceoat. Jika tidak, jangan salahkan peluru ini menembus kepala kamu,"
Lian yin menarik sudut bibirnya. "Silahkan!! Jika kamu ingin membunuh aku, maka kamu tidak akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan dariku." ucap Lian yin dengan santainya. Mengangkat ke dua tangannya ke samping, tanpa rasa takut peluru akan berhasil melesat di kepalanya.
"Baiklah!! Kamu memang benar." ucap Laki-laki itu, melemparkan senjatanya ke belakang, tepat di tangkapan pengawalnya.
"Jika kamu ingin tahu tentang aku, maka aku akan beri tahu kamu sekarang. Namaku, Jack!"
Lian yin menautkan ke dua alisnya, memutar ingatanya tentang nama yang sudah tidak asing lagi kini baginya. "Jack!!" ucap Lirih Lian yin.
"Kenapa? Apa kamu sudah mengenalku?" Jack mengeluarkan sebuah bom di dalam sakunya, bom kecil yang bisa membuat semua orang bahkan ratusan orang pingsan jika menghirup asap yabg di keluarkan dalam benda bulat seperti bom itu.
Jack menyembunyikannya di balik tanganya, meliaht Lian yin tak begitu memperhatikan tanganya, ia melepaskan tepat di belakang dan depan Lian yin, membuat laki-laki itu tidak bisa keluar dari pusaran asap tebal.
"Kalian smua tutup hidung, dan bawa Lian yin yangvsudah pingsan, ke mobil. Dan salah satu bawa mobilnya, dan kirimkan pulang. Bilang pada semua orang di rumahnya, jika boss yang di banggakan ini, sudah ada di tangan kita." ucap Jack dengan bangganya, ia mulai menutup mulutnya, dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam asap tebal di depannya.
"Shiitt!! Apa yang kamu lakukan?" decak kesal Lian yin, mencoba menutup hidungnya. Namun, ia sudah terlanjut menggirup asap itu. Membuat tubuh Lian yin terasa sangat lemah, dan seketika langsung pingsan tergeletak di tanah.
Jack tersenyum penuh dengan kemenangan dalam dirinya. Ia menarik sudut bibirnya sinis, melihat Lian yin, yang sudha tergelrtak tak berdaya. Benda bulat seperti bom asap itu, mengeluarkan gas beracun. Jika di hirup semakin banyak, maka akan langsung merusak laru-parunya. Dan tidak bisa tumbuh lagi dengan teman yang lainya.
"Ternyata begitu bodoh juga kamu," ucap Jack, duduk jongkok, menatap wajah Lian yin yang sudah tertidur. Bawa dia pulang ke suatu tempat, yang sudah aku siapkan pada sudah lama," ucap Jack dengan bangganya, ia segera menyuruh pengawal Jack, untuk membawa tubuh Lian yin masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1