
"Ini kamar kita?" tanya Amerta melangkahkan kakinya masuk ke dalam.kamar hotel yang baru saja di buka oleh Changmin.
"Kamarku!! Dan kamu tidurlah di sofa!!"
"Gak mau, harusnya kamu yang mengalah kamu tidur di sofa. Kamu alki-laki, kenapa gak bisa ngalah dikit sama wanita."
"Kenapa aku harus mengalah," ucap Changmin, langsung berbaring di eanjangnya, merentangkan ke dua kaki dan tangannya memenuhi ranjang lebar itu.
"Kamu tidur di bawah!!" ucap Amerta kesal, dia menarik kaki Changmin hingga terjatuh ke lantai.
"Shitt.. Apa yang kamu lakukan?" umpat kesal Changmin, duduk dengan tatapan tajam mengharap pada Amerta yang sudah duduk di ranjangnya.
"Aku tidur di sini, ku capek, habis jatuh juga apa kamu tidak perduli denganku?" tanya Amerta, membaringkan tubuhnya terlentang, menatap atap langit hotel itu.
"Gak perduli, kamu tidur di sini atau aku akan tidur di samping kamu," goda Changmin beranjak berdiri, dia melebarkan matanya seakan sudah siap menerkam mangsa di depannya. Tatapannya sangatlah tajam, bahkan ingin sekali melahap habis sasarannya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Amerta beranjak duduk, menarik tubuhnya ke belakang.
"Aku mau tidur di sini, kalau kamu gak mau pindah. Ya, sudah. Kamu tidur bersama aku di sini, tapi itu kalau kamu mau!!"
"Enggak sudi!!" ucap tegas Amerta mengambil bantal dan melangkahkan kakinya kesal, berjalan dengan terus berdecak kesal, dan tak hentinya ucapan kasar keluar dari mulut Amerta.
"Nah dari tadi mengalah begitu kan lebih enak!!" ucap Changmin, ia bergegas melepaskan kaos yang membalut tubuhnya.
"Eh... Apa yang kamu lakukan, apa kamu gak lihat ada aku di sini?" Amerta menutup ke dua katanya dengan telapak tangannya. Dia duduk di sofa memalingkan wajahnya berlawanan arah.
"Kenapa? Aku mau mandi," ucap Changmin, berjalan melemparkan kaosnya tepat di wajah Amerta, dia beranjak masuk ke dalam kamar mandi, merendam tubuhnya yang di penuhi bau minuman yang membuatnya merasa semakin pusing nantinya. Dan bisa menganggu tidurnya.
"Eh.. Emangnya aku bak kain kotor,"
"Siapa yang bilang?"
"Enggak ada?"
"Lagian memang benar, tadi aku gak sengaja melihat tempat cucian kotor di depanku. Jadi aku lempar saja," gumam Changmin, melangkahkan kakinya masuk lalu menutup pintu kamar mandi.
"Jangan mengintip," ucap Changmin membuka sedikit pintunya.
Amerta menguntupkan bibirnya, dengan mata melotot ke depan. Dia ingin menendang jauh laki-laki itu, yang membuatnya tak hentinya terus kesal jika melihatnya. Tapi dia sayang!!
__ADS_1
"Kalau kamu mau mandi, aku akan tidur di ranjang!!" ucap Amerta.
"Kalau kamu berani tidur di ranjangnya, aku akan angkat kamu dan aku letakkan kamu di luar,"
Ah... Dasar Changmin nyebelin." Amerta mengumpat kesal menghentakkan ke dua kakinya ke lantai seperti anak kecil.
"Terpaksa aku tidur di sini, ini pengalaman pertama aku. Dan aku harap jadi pengalaman terakhir aku tidur di sini. Aku gak mau lagi tidur di sofa, besoknya pasti tubuh aku sakit semua.." ucap Amerta sembari mewek tak keluar air matanya.
"Papa!! Tolong anakmu yang manja ini. Papa tega melihat anak kamu tidur di sofa kecil ini. Apa anak kamu ini bisa tidur," gumam Amerta tak hentinya terus menggerutu dengan gaya manjanya selama ini. Saat di rumah Amerta yang di didik dengan bela diri, namun sifat manjanya masih sama, ia sangat manja pada ke papanya. Karena apa yang dia minta selalu di penuhi. Bahkan kakaknya Mei kalah dengannya, seakan dia yang paling di syang di keluarganya. Tidak pernah sama sekali kerja dan merasakan dunia luar hang kejam. Amerta selalu di bawah lindungan papanya. Dan kali ini baru pertama kali bisa lepas dari kawalan orang tuanya. Saat bersama Yiwen dulu, ada pengawal ayahnya yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Tak pernah lepas dari pengawasan mata papanya.
Selesai mandi, Changmin berjalan menghampiri Amerta yang sudah tidur di sofa, tubuhnya terlibat menggigil kedinginan. "Merasa kasihan dengannya, dia mengangkat tubuh Amerta untuk berbaring di ranjangnya.
Sepertinya dia lebih baik tidur di ranjanganya, kasihan juga dia. Changmin meski dia terlibat sangat cuek di luar. Tapi hatinya tak bisa tidak perduli dnegan orang lain.
"Tidurlah!!" ucapnya, bergegas memakai bajunya, selesai memakai baju, dia terbaring di sofa, menarik selimut menutupi tubuhnya.
---------
Keesokan harinya, Amerta sudah bangun lebih dulu, sinar matahari pagi menembus sela-sela kelambu tepat mengenai wajahnya. Dia mengusap ke dua matanya, lalu beranjak duduk dengan perasaan malas.
"Emm.. Ternyata enak juga bisa tidur pulas!!" ucap Amerta menarik ke dua tangannya ke atas, merenggangkan itot-ototnya yang terasa kaku sehabis tidur semalaman.
Perasaan tadi malam aku tidur di sofa, kenapa aku sekarang di sini. Apa dia yang mengangkat aku. Ternyata dia perduli juga denganku. Gumam Amerta tersenyum bahagia, dia beranjak bangkit dari ranjang dan berjalan dengan langkah sangat hati-hati mendekati Changmin.
"Maaf!! Sepertinya aku ingin melihat kamu," ucap Amerta lirih, berjalan mengrndap-endap, dan duduk jongkok di bawah sofa, jemari tangannya mengusap lembut wajah Changmin saat tertidur. "Apa ini namanya cinta? Aku merasa kamu cinta pertama dan terakhirku!" ucapnya, menyilakan rambut yang menghalangi dahinya, mengusap wajah tampan Changmib, menyentuh hidung, pipinya bahkan hingga bibirnya.
"Bibir yang begitu menggoda, maaf aku kecup dikit ya. Kamu jangan marah!!" ucap Amerta lirih
Dia mengecup lembut bibir Changmin beberapa detik.
"Kamu syang gak denganku?" tanyanya, menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri, melihat setiap ukiran laki-laki sempurna di depannya. Bagi dia sangat sempurna, tapi entah bagi orang lain. Karena menurutnya dia yang paling bisa membuat hatinya merasa sempurna jika dia bersama dengannya. Meski hanya sakit hati, hinaan, cacian dan makian yang di dapatnya.
Amerta menyangga dagunya dengan ke duabtanganya, menatap dekat wajah Changmin, hembusan napas mereka saling berpacu dalam diam. "Kenapa kamu kasar banget!! Padahal aku serius suka dengan kamu, baby!!" ucapnya.
"Eh.. Kenapa aku panggil , baby. Bukanya dia lebih tua dariku. Harusnya aku panggil, om saja!"
Changmin tiba-iba membuka matanya, ke dua mata mereka saling tertuju sangat dekat.
Deg!
__ADS_1
Kenapa dia bangun? Mati aku!! Kalau dia marah gimana? Padahal aku gak sengaja melihatnya. Lebih baik aku pergi! Amerta menarik tubuhnya ke belakang. Mencoba menjauh dari pandangan Changmin yang terlihat sangat kenakutkan!
"Apa yang kanu lakukan tadi?" tanya Changmin.
Apa dia tahu kalau aku cium dia? Haduh.. Gimana nih..
"Kenapa kamu diam?" tanya Changmin, membuka selimutnya dan beranjak duduk.
"Aku ingin bicara dengan kamu, kamu mendekatkan jangan menjauh!!"
"Maafkan aku!! Aku gak bermaksud tadi. Lupakan saja apa yang terjadi," Ucap Amerta menundukkan kepalanya dengan ke dua tangan saling menaruh seakan meminta maaf padanya.
"Apa yang kamu lakukan, cepat berdiri dan mandi sana!!" ucap kesal Changmin beranjak berdiri, ia berjalan mengambil ponselnya di atas meja.
Amerta menarik napasnya lega, bisa bebas dari tatapan itu. Dua lebih lega lagi Changmon tidak marah dengannya. Entah dia tahu atau tidak jika tadi dia menciumnya. Kalau tahu pasti akan marah banget. Dan aku juga pasti malu banget berhadapan dengannya. Bagi seorang wanita kecup laki-laki duluan, pasti dia akan bilang aku murahan lagi.
"Apa kamu mau duduk di situ sampai nanti," ucap Changmin fokus dengan ponselnya tanpa menatap ke belakang.
"Memangnya kita.. Mau kemana" tanya Amerta gugup.
"Kita mau pergi jalan-jalan!!" ucap Changmin kesal.
"Kamu sudah tahu kenapa masih yanya, cepat mandi. Aku gak punya banyak waktu lagi."
"Emm.. Baiklah!!" ucap Amerta beranjak berdiri.
"Sekalian bawa pakaian yang akan kamu pakai ke dalam. Aku gak mau jika kamu buka-bukaan di depan aku,"
Amerta berdengus kesal, dia mengepalkan tangannya dia melayangkan kepalanya diatas kepala Changmin seakan ingin sekali menonjoknya. "Dasar nyebelin!!" umpatnya.
"Apa yang kamu bilang?" Changmin menoleh ke belakang.
"Gak jadi! Aku hanya bilang mau mandi," jawab Amerta mengalihkan pembicaraan.
"Cepat sana mandi, ku gak mau menunggu lama!!" jelasnya.
"Iya, bawel!!" Amerta mengambil gaun yang dia bawa. Pakaian ganti sayu-satunya yang ada di tasnya. Dan ini terkahir. Jika tidak segera pulang, ia sudah tidak punya pakaian ganti lagi.
Melihat Amerta sudah berjalan masuk ke kamar mandi dengan bibir yang terlihat masih mencibir dan bergumam tak hentinya, Changmin menarik dua sudut bibirnya tipis membentuk sebuah senyuman kecil. Terlibat sangat samar dan terpaksa. "Dia benar-benar menarik.. Tapi belum bia semenarik hatiku. Hatiku masih sama, masih terkunci untuk orang lain."
__ADS_1