Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
pulang ke rumah


__ADS_3

“Min, kenapa kamu membawanya” tanya Lay, melirik ke arah


Changmin, yang tetap berusaha memegang tangan gadis itu untuk naik.


“Iya, menagnya kamu kenal dengannya?” sambung Yiwen, menatap


aneh pada Changmin, ia melirik sekilas ke arah Lian yin yang dari tadi hanya


diam. Dengan wajah nampak kosong, mentap ke depan.


Changmin tidak perduli omongan mereka, ia tetap menolong


gadis itu. Hingga halicopter itu semakin meninggi. Membuat ia harus segera


membawa gadois itu segera naik.


“Waahhh.. sangat menyenangkan,” gumam gadis itu.


Dasar gadis aneh, sudah


tahu halicopter semakin tinggi tapi kenapa malah dia tidak takut. Apa dia tidak


takut jatuh nantinya. Pikir Changmin.


Yiwen dari tadi, terus mengamati setiap detail wajah Lian


yin, merasa ada yang aneh. Ia memegang tangan Lian yin, kemudian memegang


keningnya. Dan beralih memegang lehernya. “Gak kenapa-napa” ucap Yiwen, membuat


Lian yin tersentah dengan sentuhannya.


“Kenapa kamu?” tanya Lian yin bingung, melirik ke arahnya.


“Harusnya aku yang tanya padamu, kamu kenapa?” tanya Yiwen,


menatap tajam ke arah Lian yin.


Lian yin menarik napasnya dalam-dalam, menahannya, lalu mengeluarkan


secara perlahan.


“Aku hanya mencoba mengingat gadis itu, sepertinya aku kenal


dengannya. Tapi di mana? Apa kamu pernah melihatnya?” tanya Lian yin.


Yiwen mencoba mengingat-ingat kembali, sepertinya gadis itu


pernah ia lihat. Tapi mereka tidak ingat di mana, dan kapan.


“Hai, kamu pegangan yang kuat,” teriak Changmin.


“Memangnya kenapa? Ini sangat menyenangkan” jawab gadis itu,


mengulurkn salah satu tanganya, menikmati angin yang berhembus mengenai


tubuhnya.


“Dasar, gadis gila!”


“Biarain... weekk” Amerta mengulurkan lidah ke wajah


Changmin.


`````


Di lain sisi, di balik pulau itu. Semua musuh Lian yin masih


berdiri menatap kepergiannya. Mereka masih tidak terima, mereka kabur begitu


saja tanpa memberikan sesuatu yang berharga padanya.


“Sialan, mereka kabur!” ucap seseorang di bawah mereka, yang


menatap ke atas dengan tatapan kesal. Dan umpatakn kasar yang terus keluar dari


mulutnya.


“sepertinya Boby juga ikut dengan mereka,”


“Apa katamu? Kenapa kamu gak bilang dari tadi? Dan jika kamu


tahu kenapa tidak membunuhnya saja,” tanya salah satu boss dari para pengawal


itu. Dengan wajah nampak sangat geram dengan para anak bauhanya itu, yang membuat


dia semakin tambah pusing di buatnya.

__ADS_1


“sekarang layangkan tembakan ke atas,” perintah boss dengan


tegas. “Aku gak mau Boby kabur. Dia pasti kana cerita semuanya nanti.” Lanjutnya.


“Maaf boss, saya gak berani, ada non, Amerta yang


bergelantungan di halicopter itu, sepertinya dia berusaha untuk naik.”


“Shiiittt.. Kenapa dia bisa ada di sini? Dan dengan siapa


dia? Siapa yang bernai membawanya di sini? Jiak dia kenapa-napa kita yang akan


mati, boss pasti akan marah dengan kita.” ucap boss itu bertub-tubi, dengan


wajah yang sudah mengerang kesal.


“Non, Amerta datang ke sini naik kapalnya boss. Dan sekarang


kapal itu sudah pergi,” ucap anak buahnya dengan kepaal menunduk, takut!!


“Shiitttt... sekarang apa yang akan kita lakukan lagi. Boss


besar pasti akan marah dengan kita.” Ucap pemimpin mereka dengan nada kesalnya.


Sekarang siapkan kapal, kita harus segera pergi dari pulau


ini. Dan beranjak menuju ke rumah Boss, kita harus melaporkan semuanya.”


“Kenapa kita tidak menghubungi boss saja,”


Plaakk..


Laki-lakin itu, menepuk kepala pria di depannya, membuatnya


merasa sangat kesal, dan geram. “Apa kamu bodoh, di sini tidak ada jaringan”


umpat kesal laki-laki itu. Ia tidak berehnti memgang kepalanya. Yang terasa


sangat sakit, akibat ulah anak buahnya sendiri.


“Maaf boss, saya lupa”


“Iya, sudah sekarang kamu cepat pergi dari sini. Dan atur


semua kapal, kita semua pergi,” ucap boss mereka dengannnada yang mulai


“Baik,” jawab pengawal itu tegas. Dan segera berlari untuk


memberi tahunyang lainya sebelum mereka semua pergi dari pulau itu. Sebagian


memang menyamar sebagai warga di sana, dan tinggal beberapa hari untuk mencari sesuatu


yang di inginkan bossnya.


`````


Di sisi lain Changmin berhasil menarik masuk tubuh Amerta ke


dalam halicopter.


Brukkk...  Tubuh


Amerta jatuh tepat di atas tubuh Changmin.


“Menghindar dariku,” ucap Changmin, mendeong tubuh Amerta.


“Min, sekarang aku tanya padamu?” ucap Lay, melirik ke arah


Changmin, yang terlihat masih mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.


“Ada apa?” jawab Changmin.


“Kenapa kamu menolongnya?” tanya Lay, yang merasa belum ada


jawaban dari Changmin dari tadi, ia tidak berhenti bertanya soal itu.


“Apa karea dia adik mantan kamu, jadi kamu seenaknya saja


bawa dia masuk ke dalam halicopter ini. Apa kamu gak sadar siapa dia, dia itu


adik mata-mata,” ucap Lay, dengan wajah nampak sangat kesal.


“Jangan bahas itu lagi, sekarang lebih baik kita pergi dulu


dari sini. Kita bisa bahas semuanya di rumah,” ucap Changmi.


Lay terdiam, dan menurut begitu saja dengan ucapan Changmin,

__ADS_1


lagian juga ada benarnya jika mereka lebih baik bahas di rumah. Dari pada bahas


dalam halicopter, sangat merepotkan jika berdebat di dalam. Da juga sangat berbahaya


nantinya.


Amerta, memandang wajah Changmin secara detail ia


memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri bergantian. Ia mendekatkan wajahnya,


membuat Changmin tersentak ke belakang. “Apa yang kamu lakukan?” tanya


Changmin, menyangga tubuhnya dengan ke dua tanganya.


Yiwen dan Changmin yang duduk diam, mereka menahan senyum


dengan ulah mereka.


 “Apa kamu mantan


kakak aku?” tanya Amera lirih, menatap semakin dekat wajah Changmin.


“Kenapa memangnya?” jawab Changmin was-was.


“Kakak aku benar-benar bodoh,” umpat kesal Amerta, duduk


tegap dengan bibis sedikit mengruty, melipat ke dua tanganya di depan dadanya


kesal.


“Memangnya kenapa?” saut Yiwen.


“Kakak ini benar-benar sangat tampan, dan juga baik. Dan


sedangkan kakak aku menikah dengan monster, yang berhati iblis.” Decak kesa


Amerta, dengan napas beratnya, menatap semakin tajam ke depan. Membayangkan keputusan


kakanya yang salah harus menikah dengan laki-laki yang sudah jadi mantannnya


itu. Dan kini akan menikah dengannya.


“Iya, dia memang bodoh,” ucap Yiwen, semakin ngomporin


Amerta.


Hampir tiga jam perjalanan, di dalam halicopter itu terlihat


sunyi. Hanya suara baling-baling yang terdengar sangat keras.


Mereka sampai di atap rumah Lian yin, dan mendarat dengan


sangat sempurna. Dan Amerta dengan sangat percaya diri, ia melompat turun lebih


dulu.


Pandanganya memutar, mentap sekelilingnya. “Ini rumah siapa?”


tanya Amerta. Matanya tak berhenti berkeliling, melihat rumah yang begitu


tinggi dan uga ada halam sangat luas seperti lapangan golf.


Changmin melirik tajam ke arah Amerta, membuat gadis itu,


menarik ujung bibirnya ke bawah. Seakan dia sudah mau merengek nangis seperti


anak kecil pada umumnya.


“kenapa kamu melirikku seperti itu?” tanya Amerta.


“Selakarang antarkan dia pulang elbih dulu, aku gak mau dia


di sini. Dan hanya akan menjadi mata-mata sama seperti kakaknya,” ucap kesal


Lay, menatap tidak suka dengan gadis itu.


“kenapa kalian tidak mau menyuruhku untuk masuk, meski hanya


sekedar berbincang dan minum teh hangat atau kopi gitu,” ucap Amerta dengan ke


dua alis tertarik ke atas, mentap wajah Changmin yang kili ini terlihat mulai


serius.


“baiklah, kalian semua masuk dulu. Aku ingin bertanya pada


kalian” ucap Lian yin, melangkahkan kakinya pergi menjauh dari yang lainya. Ia

__ADS_1


memgang tangan Yiwen, berjalan beriringan bersamanya.


__ADS_2