
Yiwen yang baru masuk ke kamarnya, ia kembali masuk dalam ruang kerja ayahnya. Dan kembali ke rumah kecil bawah tanah milik ayahnya. Untuk segera menemui Lian yin. Ia mengira sudah keluar dangat lama tadi, pasti Lian yin ceriga nanti.
Yiwen berjalan ringan menuju ke arah lian yin. Yang terbaring pulas di ranjangnya. "Ternyata dia sudah tidur" ucap Yiwen, yang semakin melangkah mendekatinya. Ia melihat wajah tampan Lian yin saat terbaring pulang di ranjang. Dengan balutan selimut tebal menutupi tubuhnya. Yiwen mulai tetingat apa Lian yin sudah makan atau belum tadi. Mata Yiwen memutar melihat makanan di meja, yang sudah habis tanpa tersisa sama sekali. "Ternyata dia kelaparan juga tadi" ucap Yiwen, mengusap lembut pipi Lian yin dengan jemari lentiknya.
Lian yin yang merasa ada seorang di depannya. Ia mencoba memegangnya, ia dengan sigap memegang tangan Yiwen di wajahnya. "Yiwen jangan pergi lagi" ucap Lian yin dengan mata yang masih tertutup rapat. Seolah ia tak sadar jika ada Yiwen di depannya.
Yiwen tersenyum tipis. "Sepertinya kebiasaan dia selalu ngigau. Dasar kamu Yin sangat menggemaskan" ucap Yiwen, mencoba meelapaskan tangan Lian Yin yang menggenggamnya erat.
Yiwen menatap ke arah jam dinding di sampingnya. Menunjukan pukul tiga sore. Seharian ia baru makan sekali, hari ini meski tidak terlalu melelahkan tapinseyidaknya ia juga masih butuh asupan makanan.
Kruukkkk...
Haduh perutku ternyata sudah lapar juga, sudah dari tadi aku belum makan. Bentar.. Apa masih ada maknan cepat saji. Aku malas banget untuk masak. Lagian hari ini hari yang membuat aku sangat-sangat bosan, banyak masalah baru apalagi Grace tiba-tiba datang. Kepalaku terasa sangat penat" ucap Yiwen, ia segera menuju ke dapur, mencari stok makanan yang ada di dalam kulkas milik ayahnya itu.
Ia membuka perlahan kulkas besar di depannya. Matanya seketika melebar saat melihat banyak makanan dan Snack di sana. Dengan segera ia mengambil makanan, dan Snack tak lupa dengan minumannya juga. Kemudian duduk di sofa menyalakan Tv di depannya. Hari ini ia ingin bersantai dulu, lagian capek, siang-siang Lian yin malah ajak hubungan tadi. "Dasar gak sabarana memang" gumam Yiwen, menatap kenarah Lian yin berbaring.
"Yiwen yang semula sangat ingin berbicara dengan Lian yin. Soal Grace di rumahnya, kini mengurungkan niatnta, ia harus menunda dulu, saat tiba sudah melihat dia tertidur pulas di ranjang. Mau bangunkan dia juga gak mungkin. Aku gak tega bangunkan dia, lagian dia pasti sangat capek akhir-akhir ini banyak beban pikiran yang mengganggunya. Dan sekarang datang lagi masalah di kantornya membuat dia merasa sangat lelah untuk berpikir." Gumam Yiwen, dengan mata yang masih memandang ke arah Lian yin bebaring.
Lian yin yang mulai tersadar dari tidurnya, ia mengusap matanya berkali-kali, dan beranjak duduk di ranjang. Dengan mata masih menyipit, melihat sekelilingnya.
"Yiwen kamu sudah kembali" tanya Lian Yin.
"Eh.. kamu sudah bangun" gumam Yiwen.
"Kenapa kamu tadi lama banget, apa kamu pergi keluar rumah. Kan ayah kamu sudah bilang jangan pergi keluar rumah, di luar sangat berbahaya Yiwen" ucap Luan yin dengan badan yang masih lunglai seakan tanpa tulang. Ia beranjak dari ranjangnya, berjalan dengan penuh rasa malas mendekati Yiwen dan duduk di sampingnya. Ia merasa sangat khawatir dengan Yiwen yang bandel itu. Susah banget dia di bilangin, kalau tidak Lian yin yang bertindak agak keras dengannya, agar dia sadar kalau dirinya dalam bahaya.
"Jangan terlalu khawatir begitu padaku. Gak mungkin aku pergi ninggalin kamu sendiri di ruangan ini. Lagian aku yang membawa kamu di sini, jadi keluar juga dengan aku" ucap Yiwen.
"Terus tadi kamu kemana lama banget kalau hanya ambil baju saja" tanya Lian yin, menatap ke arah Yiwen.
"Mei tadi mrnghubungiku. Jadi aku ngobrol sejenak dengannya. Banyak hal yang terjadi dan kamu juga bakalan tidak menyangka. Tapi besok Mei ingin mengajak aku bertemu di luar dan bicara tentang sorang yang menyerang kantor kamu. Tapi dia tidak mau jika Lay dan Changmin tahu. Berhubung dia ajak aku, jadi aku menawarkan kamu ikut gak" gumam Yiwen, dengan tatapan menggodanya.
__ADS_1
" maunya aku keluar juga dengan kamu, menemanimu. Tapi ayaj kamu ingin bicara dengan kita. Lalu apa kita bisa pergi besok. Lebih baik kita diam di sini. Nunggu ayah kamu dulu, apa yang ingin ia bicarakan" ucap Lian Yin.
"Gimana kalau aku saja yang keluar, kamu di sini. Sepertinya ayah aku akan bicara hal serius dengan kamu. Dia kalau lagi bicara dengan seseorang tidak mau aku mengganggunya. Dan ayah aku hanya ingin bicara dengan kamu bukan aku. Dari pada aku di usir lebih baik aku keluar menyelidiki apa yang terjadi dengan kantor kamu" ucap Yiwen, menjelaskan semuanya. Meski sebenarnya ia ingin keluar berdua dengan Lian Yin. Tapi apa boleh buat, sepertinya hal penting ingin ayah bicaran dengannya.
"Aku gak mau kamu keluar sendiri, di luar sangat berbahaya. Apalagi kamu hanya sendirian. Aku takut kamu kenapa-napa." Ucap Lian yin, duduk menyandarkan punggungnya di sofa, demgan ke dua tangan merentangkan di atasnya.
Yiwen terdiam memutar oraknya untuk berpikir sejenak apa yang harus ia lakukan.
"Emmm.. gimana kalau kita keluar berdua lebih pagi. Nanti aku akan hubungi Mei di mana kita bertemu. Dan kita keluar sebelum ayah ke sini. Aku yakin ayah akan siang ke sini." Gumam Yiwen
"Boleh juga, tapi kamu jangan bangun ke siangan. Soalnya memang kebiasaan kamu bangun siang" ucap Lian yin.
"Kamu kan bisa bangunkan aku syang" ucap Manda, mencubit pipi Lian yin.
"Ehhmm.. kebiasaan, baiklah" ucap Lian yin.
" oya ada hal penting lagi yang ingin aku bicarakan dengan kamu" ucap Yiwen.
"Tapi kamu jangan kaget dan jangan curiga ya" ucap Yiwen, yang semakin membuat Lian yin tambah penasaran.
"Emm apa kamu sudha hamil?" Tanya Lian yin.
Yiwen memukul lengan Lian yin.
"Enggak, bukan itu yang ingin aku katakan" ucap Yiwen kesal.
"Terus apa syang aky" ucap Lian yin, memegang dagu Yiwen. Dengan mata menatap mata Lian yin yang kesal dengannya.
"Aku ingin bilang pada kamu, jika ada Grace di rumah" ucap Yiwen penuh ragu, ia tahu Grace punya perasaan dengan Lian tapi entah dengan suaminya itu. Apa dia juga punya perasaan sama atau tidak.
Mendengar hal itu, Lian yin seketika melebarkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang di katakan istrinya itu. "Apa kamu serius?" Tanya Lian yin. " Tapi kenapa Lay tidak mengbubungiku, dan Changmin juga tiak memberi tahuku" lanjut Lian yin yang tak percaya dengan semua yang di katakan istrinya.
__ADS_1
"Kamu gak percaya dengan istri kamu sendiri. Lagian Mei sendiri yang bilang padaku jika Grace di rumah kamu. Dan gak mungkin jika dia bohong, dan dokter pribadi kamu sekarang yang akan merawatnya di rumah kamu." Ucap Yiwen mencoba meyakinkan Lian yin tentang apa yang ingin ia bicarakan.
"Baikalah, aku percaya. Tapi apa urusan dia datang ke utara. Dan kenapa dia bisa kabur dari rumah sakit. Dia gak mungkin bisa kabur jika tidak ada yang membantunya. Pasti ada seorang yang sengaja membantunya di rumah sakit untuk kabur. " ucap Lian yin yang perlahan mulai percaya dengan perkataan istrinya.
" aku gak tahu soal hal itu, lagian hal itu gak begitu penting bagi aku. Yang penting aku tidak terlalu suka jika kau dekat-dekat dengannya." Ucap Yiwen yang merasa sangat cemburu Lian yin nanti langsung menjenguknya. Apa lagi jika menjenguknya diam-diam. Maka malah membuat hatinya sakit.
"Sudah jangan pikirkan itu lagi, aku gak akan menghianati kamu syang" ucap Lian yin, menyandarkan kepala Yiwen di bahunya.
"Yakin? Gak bohong kan?" Tanya Yiwen memastikan, dengan mata memandang ke wajah Lian yin.
"Gak syang, kenapa jauga aku bohong." Ucap Lian yin. "Oya tadi kamu sudah makan belum" lanjutnya.
"Sudah syang, ini makanan di meja sebanyak ini udah habis" gumam Yiwen.
Seketika mata Lian yin melebar, melihat sambah berserakan di lantai.
"Syang bereskan semuanya. Aku mau hubungi Lay dulu untuk memastikan. Dan kelanjutan penyelidikan" ucap Lian yin.
Yiwen mengerutkan bibirnya. " kenapa harus aku" gumam Yiwen.
"Siapa lagi?" Tanya Lian yin. "Udah bersihkan sekarang" lanjutnya.
" iya syang, benar hubungi Lay ya jangan diam-diam menghubungi Grace" ucap Yiwen.
"Kamu curiga terus denganku, aku gak mungkin menghubungi dia" jawab Lian yin tegas.
"Baiklah" ucap Yiwen.
selalu saja aku, kenapa dia gak pernah bantu aku bersih-beraih. Kalau aku capek gimana, lagian dari tadi masak juga aku. dia hanya tidur bangun, dan menyuruhku bersih-bersih. Sepertinya ada yang gak beres ini. aku harus coba dengarkan apa yang di bicarakan Lian yin dengan Lay. apa benar dia tidak bicara dengan Grace atau malah dia berbohong padaku. Aku mulai curiga dengannya, ini gak bisa di biarin jika dia menghubungi Lau diam-diam, bati Yiwen dengan tatapan mengarap ke Lian yin . yang sibung mencari ponselnya.
Lian yin segera meninggalkan yiwen, menuju ke ruangan di aman Yiwen tidak bisa mendengar pembicaraannya nanti. Karena ia takut jika Yiwen akan ikut panik dan Khawatir. Lian yin sudha berusaha menyembunyikan wajahnya yang sangat khawatir dengan keadaan di rumahnya. Bahkan ia ingin sekali ke kantornya tapi, lian yin juga memikirkan gimana Yiwen nanti. Yiwen ingin ketenangan, ia hanya bisa membawanya di sini.
__ADS_1