
Yiwen yang sudah hampir 1 hari berada di kediaman Lee. Tanpa sadar siapa masa lalunya dan siapa keluargannya. Yiwen hanya ia tahu tentang lee sekarang dan para pejaganya lainnya yang belum ia ketahui namanya.
Yiwen terus melamun sendiri seperti ada yang kurang dalam hidupnya, namun dia tak tahu itu. Ia mengira mungkin gara-gara kelihangan orang tuanya
Selama 1 hari perlakuan Lee sangat baik padanya, tanpa mengakitinya sama sekali. Dan benar-benar baik banget padanya. Itu yang membuat Yiwen nyaman berada dengannya. Dia itu orang yang simple banget gak mudah basa-basi.
Lee menileh ke belakang, melirik Yiwen yang berjalan mendekatinya.
"Yiwen kamu sudah bangun?" tanya Lee beranjak mendekati Yiwen yang lagi merenung sendiri.
"Sudah, oya di mana rumah aku?" tanya Yiwen yang entah kenapa, ia tahu tentang rumahnya. Padahal sama sekali ia sudah menghapus ingatannya.
Lee tersenyum tipis. "Oh... rumah kamu kebakaran waktu aku antar ke rumah kamu kemarin, tapi aku masih menyuruh orang selidiki siapa yang membakar rumah kami" ucap Lee. Ia memamg pembohong yang handal demi menutupi kebusukannya.
Yiwen terdiam.. ia merasa masih tetap kurang informasi dari Lee itu. Yiwen kini tiba-tiba merasa sangat sesak, ia terus menyentuh dadanya yang terasa sangat sakit kali ini. Apa yang sebenarnya terjadi ia juga tak tahu.
"Yiwen kamu kanapa?" tanya Lee. Ia beranjak mendekati Yiwen.
"Gak tahu tiba-tiba hatiku merasa sangat sakit" gumam Yiwen. Ia duduk di sofa menyandarkan punggungnya. Sembari memegang dadanya yang sangat sakit.
Lee terlihat khawatir, "Apa perlu aku panggil dokter sekarang" tanya Lee. Ia memang lelaki yang sangat licik dan pandai berpura-pura. Namun sebenarnya itu bukan dirinya yang asli . Lee dulu orang yang sangat lembut, baik , ramah. Namun semenjak semua keluarganya di bunuh. Ia tak mau tinggal diam. Dan berencana membalas semuanya.
Ia mencari tahu siapa pembunuhnya, dan kenapa dia membunuhnya. Pertanyaan itu terus muncul dalam otaknya. Tapi dia benar-benar masih tidak tahu semuanya.
Ia hanya tahu siapa pembunuhnya, alasan dia membunuh sepertinya bukti itu semua di hapus, hingga tak ada yanvlg curiga untuk dengannya.
"Lee kanapa kamu diam?" Tanya Yiwen melirik sekilas ke arah Lee.
"Gak papa hanya saja aku aku bingung dengan kondisi kamu. Kalau kamu seperti ini jadi aku yang merasa bersalah tak bisa mengantarmu ke rumah" ucap Lee, dengan senyum tipis terpapang di wajahnya.
"Lee!! kamu mau ajak aku jalan-jalan gak. Entah kenapa aku ingin sekali melihat pemandangan luar. Karena aku tak begitu hafal jalan jadi aku mau kamu mengantarku, bisa kan?" gumam Yiwen.
Lee setuju dengan ajakan yiwen. Ia hanya mengaggukkan kepalanya dan menatap Yiwen. "Sekarang kamu ganti baju dulu, aku tunggu kamu di luar" gumam Lee melangkahkan kakinya pergi, ia menutup kamarnya rapat-rapat dan beranjak menuju ke sofa ruang tamu kembali.
__ADS_1
Ia menyandarkan punggungnya di sofa, sembari menunggu kabar pengawalnya berhasil melukai Lian yin. Jika dia terluka maka tidak akan bisa bertemu dengan Yiwen lagi. Tapi sepertinya belum ada kabar juga.
Lee tiba-tiba tertawa. Ia benar-benar di kira sudah gila mungkin kalau jalan di luar. Wajahnya yang tampan tak jadi penghambat ia menjadi seorang yang sadis. Lian yin telah begitu tega melukai semua keluarganya. Maka dia akan membalas jauh lebih menyekitkan. Mulai dari orang terdekatnya. Itu akan menjadi permainan yang sangat menarik bagi Lee.
Jika dia kehilangan satu per satu orang terdekatnya. Dia pasti semakin terpuruk dan sendiri. Kini mulai dari Yiwen ia melaksanakan misi pertamanya. Dan setelah itu teman-temannya. Namun sepertinya tak mudah untuk membawa pergi ke dua temannya itu. Mereka sangat licik juga banyak hal tak masuk akal ia lakukan untuk merampas milik perusaahan lain.
"Lie Wei dan Ley, mereka akan jadi milikku juga. Akan aku suruh mengembangkan usaha ku di kota selatan." gumam Lee. Ia memang orang sukses tapi belum se sukses lian yin saat ini.
Lian yin terjun dalam dunia mafia dan bisnis sudah dari kecil. Sedangkan dia tak ada pengalaman sama sekali dalam dunia bisnis. Jika bukan temannya yang membantu dia dalam mengembangkan usahanya.
Tap..tap..tap..
Langkah sepatu Yiwen terdengar jelas di ruang tamu. Lee segera monoleh seketika, "Kamu sudah siap?" tanya Lee beranjak berdiri mendekati Yiwen.
"Sudah "gumamnya.
"Pagi, non" sapa para pengawal itu pada yiwen. Wanita itu terlihat cuek hari ini. Ia hanya senyum tipis, mengacuhkan mereka.
"Gak usah, biar aku saja yang antar dia" ucap Lee. Ia segera memegang tangan Yiwen dalam dekapannya dan beranjak menuju ke mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh sopir yang dari tadi sudah menunggunya.
Yiwen hanya diam kali ini, ia merasa aneh pada dirinya sendiri dan rumah itu. Rumah yang agag kecil tapi punya banyak pengawal dan juga mobil mewah.
Lee menatap yiwen yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya. Ia benar-benar seperti menyembunyikan sesuatu dari Lee.
"Yiwen kanapa kamu diam?" tanya Lee menarik dagu Yiwen yang terus menunduk ke bawah.
Yiwen tersenyum tipis, "Gak papa aku hanya aneh saja kenapa kamu tinggal di tempat seperti itu. Padahal kamu terlihat seperti pengusaha" ucap Yiwen.
Lee tersenyum tipis. "Kamu benar-benar aneh, emangnya salah meski lunya banyak uang tinggal di rumah kotor dan kecil itu. Atau kamu gak suka tinggal di sana" tanya Lee.
"Bukannya gak suka tapi aku masih merasa aneh saja" gumamnya.
"Udahlah lupain, sekarang kamu mau pergi kemana?" tanya Lee.
__ADS_1
"Aku pergi ke suatu tempat, untuk menyejukkan pikiran sejenak" gumam Yiwen. Pikirannya merasa tidak nyaman banyak pertanyaan yang harus aku tanyakan ke dia. "Kenapa aku tidak mengenali keluarga dan masa laluku semua, apa aku gagar otak? Tapi kenapa aku bisa ingat namaku sendiri" gumam Yiwen, memalingkan oandangannya ke arah Lee.
"Putar balik kita ke taman" ucap lee. Ia merasa Yiwen telah menyembunyikan sesuatu darinya. Entah kenapa rasa curiganya padaku sangat tinggi. Dan bukannya dokter itu sudah sempurna memberi obatnya.
Sekilas Yiwen melihat Lian yin bersama dengan Ley berada di dalam mobilnya yang berhenti di lampu merah tepat di belakangnya kali ini. Yiwen mengernyitkan matanya, ia melihat sekilas. Seakan banyak kenangan bersamanya. Dan ia merasa sangat kenal dengannya. Namun ia tak bisa mengenali perasaan dan cintanya lagi.
Yiwen terus memandang ke belakang, ia juga membuka kaca mobilnya sedikit, mengeluarkan kepalanya sebagian untuk menatap kepada belakang.
"Yin bukannya itu yiwen" tanya Ley menepuk pundak Lian yin. Lian yin terdiam ia menatap sudah tidak ada odang di depannya sekarang.
"Mana?" tanya Lian yin yang mulai penasaran dengan Yiwen.
"Tadi dia di depan? Sekarang di mana dia?" Tanya Ley, menatap sekelilingnya. Ia tak mungkin salah lihat itu pasti benar Yiwen .
"Sudahlah kita cari dia lagi" gumam Lian yin yang terlihat lesu. Wajahnya tak ada semangat lagi kali ini.
"Tapi Yin aku benar-benar melihat Yiwen. Dia berada di dalam mobil itu bersama dengan seseorang" ucap Ley mencoba meyakinkan Lian yin.
"Apa benar katamu? Berapa nomor platnya. Dan siapa orang yang bersamanya" ucap Lian yin tak hentinya bertanya pada Ley.
"Aku tidak terlalu jelas dengan plat mobilnya karena terhalangi mobil di depan kita tadi. Tapi aku yakin jika itu adalah Yiwen" gumam Ley
"Baiklah kita cari dia lagi, kamu tahu gak mobil itu pergi kemana? Atau berapa orang di dalamnya?" tanya Lian yin.
"Aku sekilas melihat dia ke seletan. Apa kita akan pergi ke perbatasan itu. Bukannya di sana di tutup dan tidak ada yang boleh lagi pergi ke sana apalagi dadi orang barat seperti kita.
"Benar juga katamu, tapi kita bisa menyamar sejenak kan. Untuk menyelidiki di dalam. " gumam Lian yin.
"Baiklah, aku punya tanda masuk ke selatan, hanya saja kita harus bersiap membawa senjata sekarang. Karena mungkin sangat berbahaya jika kita menengenakan tangan kosong jika pergi. " gumam Ley.
"Cepat hubungi Lie Wei suruh bawa senjata lengkap dan kita tunggu di perbatasan.
"Baiklah!!" ucap Ley. Ia segera mengubungi Lie Wei dengan segera.
__ADS_1