Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Di mobil


__ADS_3

"Apa benar kamu akan melakukan apa yang aku inginkan" tanya Yiwen memastikan.


"Benar, walau harus nyawaku taruhannya, aku akan lakukan apapun demi kamu" ucap Lian yin, mulai membuka pintu kamarnya perlahan.


"Tapi aku gak mau kamu mempertaruhkan nyawa kamu meskipun demi aku, kalau kamu gak ada nanti, siapa yang menjagaku, apa kamu rela aku di jaga oleh lelaki lain."


Lian yin menurunkan perlahan Yiwen duduk di ranjangnya.


"Aku gak mau, kalau kamu di miliki orang lain" ucap lian yin, duduk di samping Yiwen.


"Maka dari itu, aku hanya ingin kamu tahu suatu hal, Jangan pertaruhkan nyawa kamu untukku. Kamu suami aku, setiap ada masalah kita akan hadapi bersama berjaung bersama. Jika harus kehilangan nyawa kita harus tetap bersama." ucap Yiwen menegaskan.


Lian yin tersenyum, ia mengusap lembut pipi Yiwen, "Makasih, kamu sudah jadi wanita terindah dalam hidupku, aku akan selalu menjagamu selamanya," ucap Lian yin memgecup lembut kening Yiwen.


"Aku juga akan selalu menemanimu, selalu membantumu, dan kita akan selalu bersama. Meski pernikahan ini bagi aku merasa aneh, tapi aku tidak akan pernah berniat untuk pisah denganmu suatu hari nanti. Aku merasa kamu lelaki yang baik, dan selalu mejagaku, dan membuat aku nyaman saat di dekat kamu," ucap Yiwen.


"Tapi aku merasa kamu akan meninggalkanku nantinya" gumam Lian yin. Yiwen terdiam menatap aneh pada Lian yin, dia tadi bilang bakal menjaganya namun kini dia terlihat pasrah berbicara seperti itu.


"Iya, oya jangan terlalu seirus gitu wajah kamu, kuntadi hanya bercanda. Aku yakin kamu selamanya akan selalu bersamaku" Lian yin mengusap lembut rambut Yiwen dan beranjak berdiri.


"Kamu mau kemana?" Yiwen memegang tangan Lian yin mencegahnya pergi.


"Bukannya kamu tadi minta jalan-jalan keluar atau kamu sudah tidak ingin pergi keluar dan hanya tinggal di dalam kamar berduaan denganku" goda Lian yin.


"Mau keluar!!" ucap Yiwen antusias. "Kalau aku di kaamr terus dengan kamu, yang ada kamu berpikir mesum terus entar padaku" lanjutnya.


"Baiklah, cepat pakai jaket, udara di luar sangat dingin. Aku mau ajak kamu pergi berkeliling ke kota Roma, sebelum kita balik lagi nantinya," ucap Lian yin.


"Malam-malam gini" tanya Yiwen. memastikan.


Lian yin melihat jam tangan di pergelangan tangannya, menunjukan pukul 20.00.


"Masih jam segini, masih ada waktu sampai jam 11 malam nanti kita pulang"gumam lian yin, ia melihat Yiwen sudah memakai jaket, lalu segera menarik tangan Yiwen untuk turun, keburu malam nantinya.


"Eh.. kalian mau kemana lagi?" tanya Ley, yang dari tadi masih duduk di sofa.


"Kenapa kamu masih di sini, aku kira sudah di kamar?" ucap Lian yin.

__ADS_1


"Emangnya kamu sudah menyuruhku tidur lebih dulu, gar kamu bisa keluar sendiri dengan yiwen." ucap Ley kesal "Ya, nasibku emang kesini hanya tugas, tidak pernah di ajak jalan-jalan" ucap Ley dengan wajah memelas.


"Yin, ajak Ley gak apa-apa kasihan dia, Otak juga butuh hiburan gak terus-terusan bekerja." ucap Yiwen membela Ley.


"Nah itu istri kamu saja tahu, kenapa kamu tidak tahu kondisiku" ucap Ly, dengan mata mulai berkaca-kaca seakan mengharapkan ingin jalan-jalan keluar juga. "Sekalian aku jaga kalian entar" ucap Ley memohon.


"Yin, boleh ya " yiwen menarik jaker Lian yin, agar dia merasa kasihan dengan Ley.


Lian yin hanya diam belum juga kemberi keputusan, ia hanya bisa memghela napasnya, jalan-jalan ingin benmesraan dengan Yiwen tapi harus ada orang ketiganya. Dengan terpaksa Lian yin menerimanya.


"Baiklah, meski awalnya aku hanya ingin berdua denganmu. Tapi karena ini juga izin dari iatriku, kamu boleh ikut tapi ingat jangan iri aku berduaan bermesraan dengan istri aku" ucap Lian yin, melangkahkan kakinya pergi menuju ke halaman Vila.


"Siap"ucap Ley antusias berlari mengikuti Lian yin dan Yiwen yang sudah melangkah jauh didepannya.


"Aku yang nyetir mobil kamu ya?" ucap Ley.


"Baiklah" ucap Lian yin, keluar dan duduk di belakang bersama Yiwen.


"Kita mau kemana?" tanya Ley.


"Di Itali semua tempat bagus, kamu tinggal pilih di mana, aku akan langsung menuju ke sana secepat mungkin"ucap Ley.


"itu kamu tahu, kamu sudah pernah liburan kesini kan. terus kenapa kamu ikut lagi"ucap Lian yin.


"Kan dulu, dari pada aku di Vila sendiri sepi gak ada teman. Aku bosan lebih baik jalan-alan sama kalian, dan sekalian jaga kalian berdua. Siapa tahu ada orang yang mengganggu kalian aku akan dengan sigap maju depan sendiri menolong kalian"ucap Lay.


"Emang itu sudah tugas kamu"ucap Lian yin.


"He..he. Tapi biasanya kamu yang maju lebih dulu, apalagi sekarang ada Yiwen yang jauh lebih ahli tembak jitu, dia lah yang maju lebih dulu namun di belakang panggung tanpa menampakkan wajahnya" ucap Ley.


Lian yin terdiam sejenak, ada benarnya juga di saat hal buruk itu akan terjadi, maka Yiwen bisa berdiri di balik layar untuk melindungi semuanya. Hanya dia yang ahli di tembak jitu, bahkan dia juga ahli dalam berbagai senjata. Aku yakin dia bisa melakukan itu, dan Ley bisa membantunya dibalik panggung dan aku serta Lie Wei di depan menghadapi semuanya. Tapi pertempuran itu belum terjadi. Tapi setidaknya Lian yin sudah harus berjaga saat ini dan merencanakan strateginya saat ini. Untuk memperkuat pertahannya, di balik layar maupun di depan layar.


Sebenarnya Ley dan Lian yin memang seperti itu, meskipun kadang ucapanya nyeselin tapi salah satu dari mereka tidak ada yang sakit hati. Mereka menganggap semuanya adalah candaan, Dan hanya di saat seperti ini mereka bercanda, saat tugas mereka menunjukan wajah seriusnya, tak mau di bilang ceroboh oleh para client nantinya.


Yiwen yang mendengar perdebatan mereka yang tak ada hentinya, ia merasa sangat bosan. Apalagi dia juga tidak tahu apa maksud dari ucapan mereka itu.


"Kenapa kamu diam?" tanya Yiwen memiringkan kepalanya menatap wajah Lian yin yang sepertinya melamun.

__ADS_1


"Yin.." sapa Yiwen lagi.


"Ley kenapa dengan lian yin?" tanya Yiwen pada Lay yang kini fokus mengemudi mobilnya.


"Mana aku tahu, pasti banyak pikiran yang menganggunya. Kamu cium saja bibirnya nanti kalau di balas berarti dia hanya pura-pura. Kalu dia masih diam dan belum langsung merespon berarti dia memang dari tadi melamun. Sekalian dengan ciuman kamu bisa membangunkan dia" ucap Ley.


Lay tertawa kecil. "Sekaligus membangkitkan gairahnya, apa lagi Lian yin gak bisa tertahankan entar kalau dia cium wanita. Apalagi di goda wanita seperti Yiwen."gumam Ley dalam hatinya.


Yiwen hanya diam, memegang bibirnya, ia masih menimang-nimang apa yang di katakan Ley padanya. "Apa aku harus menciumnya, apa itu tidak berlebihan. Tapi lagian juga dia gak menggubris sudah aku panggil berkali-kali"Gumam Yiwen salam hatinya.


"Yin.. kamu mendengarku gak" tanya Yiwen menepuk pundak Lian yin.


Namun Lian yin masih sama dia tak menggubris yiwen sama sekali. Dengan segera Yiwen melaksanakan masukan dari Lay tadi, ia mengecup. Lembut bibir Lian yin, membuatnya melotot menatap Yiwen, saat bemda kenyal itu kenempel di bibirnya.


Lian yin tersenyum tipis, dan langsung membalas ciuman Yiwen dengan lembut.


"Bentar kenapa kamu langsung membalas ciuman aku" tanya Yiwen.


"Karena kamu yang menggoda aku" ucap Lian yin.


"Sialan Ley membodohiku" gumam Yiwen dalam hatinya.


"Apalah dayaku, aku tidak punya pasangan hanya bisa menatap mereka. Meskipun ingin melakukan tapi dengan siapa. Nasibku memang selalu seperti ini" batin Ley.


Ciuman itu semakin dalam, Lian yin membalikkan tubuh Yiwen berbaring di kursi bekakang melanjutkan Ciuman lembut mereka.


"Tunggu!! berhenti!!"ucap Yiwen mendorong tubuh Lian yin.


"Kenapa?" tanya Lian yin.


"Di lihat Ley, apa gak malu entar"ucap Yiwen.


Lian yin menatap ke arah Ley, ia melihat Ley curi pandang ke belakang. Ia melepaskan jaketnya, dan segera menutupi belakang punggung Ley agar tak bisa melihatnya.


"Sudah dia gak bisa lihat" ucap Lian yin, melanjutakan aksinya lagi, kini dengan jemari nakal menelusuri tubuh Yiwen.


"Haahhh... kenapa ditutup segala, gak ada pemandangan dikit gitu sebagai hiburan mata" gumam Ley.

__ADS_1


__ADS_2