
Lian yin beranjak perlahan keluar dari rumahnya. Ia berharap Yiwen pengertian. Ia sudah meninggalkan surat di kamarnya.
"Maaf! Yiwen. Aku hanya pergi sebentar" gumam Lian yin.
Sebuah halicopter mendarat menunggunya tepat di pinggir pantai, Ley keluar dan melangkahkan kakinya menuju Lian yin.
"Kamu datang saat yang tepat, aku mau kamu antar aku di sebuah pulau seperti di peta ini" ucap Lian yin menyodorkan peta dan sebuah tulisan kecil dari kakeknya.
"Baiklah, cepat naik" Ley memberi kode pada Lian yin agar cepat naik ke halicopter.
"Di mana changmin?" tanya Lian yin.
"Dia sama mia sibuk dengan tugasnya. Oya, apa perlu kita beri Yiwen, para pengawal di sana untuk menjaganya selama kamu pergi. Karena sekarang luhan sudah bertindak cepat. Pasti sebentar pagi dia juga akan menemukan pesembunyian kamu di sini. Lie Wei dan mia berusaha menyelidiki setiap pendatang ke kota kita." Ley mulai beranjak naik.
Lian yin terdiam, ia berpikir ada benarnya juga apa yang di bilang Ley padanya. Ia tidak tega juga meninggalkan Yiwen sendiri. Chengyi pasti akan membawanya pergi lagi. Dan ia tidak mau itu terjadi.
"Baiklah, hubungi Lie Wei suruh beberapa orang ajudan untuk menjaganya di sini, dan ingat harus di seleksi ketat, karena takutnya salah satu dari mereka adalah mata-mata Chengyi. Kita juga tak bisa remehkan dia. Aku yakin dia sudah menaruh seseorang untuk masuk ke kota" ucap Lian yin.
Ley terdiam, ia segera meraih ponselnya di saku jas, dengan sigap tangannya mencari nama Lie Wei di kontak ponselnya.
Sembari menunggu Ley menghubungi Lie Wei, ia menatap sejenak balkon kamar Yiwen. Meski merasa berat harus meninggalkan Yiwen, walaupun hanya sebentar. " Maafkan aku" batin Lian yin, tersenyum samar.
Ley sudah selesai mengubungi changmin ,
Halicopter itu sudah mulai beranjak naik, melaju ke tempat tujuan mereka.
Tak butuh waktu lama perjalanan, Ley mendarat dengan selamat di sebuah pulau terpencil. Bahkan di sana hanya ada desa kecil, namun sepertinya kehidupan desa itu terlihat sangat makmur.
Lian yin beranjak turun, "Kamu pergilah, saat aku membutuhkanmu aku akan menghubungimu nanti" ucap Lian yin,
"Baiklah" Ley tanpa basa-basi segera meninggalkan Lian yin sendiri.
__ADS_1
Lian yin terdiam sejenak, menatap sebuah desa di depannya, banyak anak kecil berkeliaran di mana-mana. Bahkan para wanita dan lelaki saling bercengkrama satu sama lain.
Lian yin menghela napas sejenak, Ia segera masuk ke dalam sebuah desa kecil di sana. Semua orang menatapnya aneh, mungkin penampilannya yang begitu berbeda. Ia terlihat lebih elegan dengan berbagai baju branded yang menutupi sekujur tubuhnya.
Lian yin tak perdulikan tatapan itu, ia terus berjalan dan mencoba berhenti untuk bertanya pada salah satu orang di sana.
" Permisi apa kalian tahu alamat ini" tanya Lian yin pada lelaki paruh baya yang duduk di depannya.
"Oh ini..kamu lurus saja tepat di ponjok, dan rumahnya menghadap ke pantai" jawab orang itu , sembari menujuk di mana arah rumah yang Lian yin tanyakan.
Meski dulu pernah kesana, tapi Lian yin tak begitu ingat karena saat pertama masuk ke pulau itu hanya ada 3 rumah. Dan sekarang sudah menjadi sebuah desa kecil yang mungkin penduduknya sekita 500 orang.
Meskipun hidup jauh dari kita sepertinya mereka terlihat bahagia, bahkan tidak kekurangan sedikitpun. Tapi anehnya mereka tak bekerja namun berkecukupan di sana. Dari mana uang yang mereka dapatkan, gumam Lian yin. Ia mulai curiga dengan desa itu.
Namun misinya buka soal desa itu, ia hanya mencari sebuah bukti di sana, dan mencari gadis yang tinggal di sana.
"Makasih," ucap Lian yin menundukkan badanya sedikit.
Orang itu hanya tersenyum, bahkan semua orang di sana terus menatapnya. "Desa yang aneh" gumamnya. Ia segera melangkahkan kakinya semakin cepat menuju sebuah rumah kecil di sana.
Ia menatap sekilas rumah itu, nampak terbengkalai, kursi di depan rumah berantakan hingga ke teras rumahnya. Dan banyak sekali sarang laba-laba menjulur kemana-mana. Bahkan rumah kayu itu sudah terlihat sangat lapuk, beberapa kayu berserakan di depan pintu. Serta gagang pintu berwarna perak itu patah menjadi dua.
"Sepertinya tak ada orang di dalamnya" Ucap Lian yin beranjak masuk ke dalam rumah usang itu.
Krekkk....
Semua perabotan rumah itu tak ada sama sekali, bahkan rumah itu kosong tanpa ada apapun di sana. Bahkan meja, kursi pun tak ada. Namun rasa penasaran Lian yin tak berhenti sampai di situ. Ia berjalan masuk menuju setiap ruangan yang ada di sana. Meskipun ia sudah tahu ruangan itu semua kosong.
"Kenapa gak ada petunjuk sama sekali, foto gadis itu sekarang gimana" gumam Lian yin . Terus berjalan ringan masuk ke dalam salah satu ruangan yang tertutup, Dan segera membukanya.
Krekkkk...
__ADS_1
Decitan pintu itu sangat menakutkan membuatnya merinding seketika. " ruangannya kosong" gumam Lian yin.
Ruangan itu memang benar nampak kosong, namun debu seakan sudah menumouk dan menutupi seluruh pantainya. Ia menemukan sebuah pigora yang terpajang di tembok kayu depannya. Foto yang sudah tertutup debu, hingga semua sudah tak terlihat sama sekali potonya.
Lelaki itu meniup debunya, dan mulai membersihkan dengan tangannya. Di foto itu terlihat seorang gadis kecil bersama dengan seorang lelaki. " Gadis ini sama seperti yang dulu pernah aku temui" ucap Lian yin. Ia terus meraba detail foto itu.
"Gadis yang sangat imut, dulu bahkan aku pernah melupakannya" lanjutnya. Ia segera memasukan poto itu dalam tasnya.
Sepertinya aku harus segera pulang, tak ada apa-apa di sini. Lian yin menyandarkan tangannya ke tembok kayu sampingnya.
Krek....sebuah pintu rahasia di bawah tanah terbuka dengan sendirinya. Tanpa sengaja lian yin menemukan pintu rahasia itu.
"Aneh kenapa ada pintu rahasia di sini" Gumamnya.
#Back Yiwen.
Yiwen tidur merengkuh ke kiri dengan tangan meraba ranjangnya, ia tak mendapati Lian yin di sana.
Dengan segera wanita itu beranjak dari ranjangnya, dan berjalan menuju kamar mandi. Ia mencoba mencari di mana lian yin berada.
" yin kamu di mana?" Teriak Yiwen dengan wajah terlihat sangat panik. Ia berlari keluar mencari Bibi Lu.
"Bi... kamu di mana?" Yiwen berlari kecil menuruni anak tangga dan perasaan khawatinya semakin menjadi.
Bibi lu berlari menghampiri Yiwen.
" Iya non," ucapnya. " maaf non tadi tuan Yin keluar katanya hanya sebentar" lanjut bibi lu menundukkan kepalanya. Ia bergutu takut jika Yiwen akan marah padanya.
"Kemana dia pergi bi" Yiwen memegang ke dua bahu bibi lu.
"Maaf non, tuan yin tidak bilang mau pergi kemana" Yiwen tanpa bertanya lagi, ia beranjak pergi, ia berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya. Dengan segera mencari ponselnya. Ia ingin bertanya pada Lie Wei atau Ley. Dan berharap mereka tahu di mana lian yin pergi.
__ADS_1
Belum sempat meraih ponselnya, ia melihat sebuah surat di meja kecil samping ranjangnya.
Dengan perasaan paniknya, Yiwen membuka surat itu. " kangan mencariku, aku tidak akan pergi lama tenang saja. Kalau tidak nanti malam ya besok aku akan pulang, kamu harus jaga diri baik-baik. Meskipun tahu kamu bukan gadis biasa tapi aku masih sangat khawatir denganmu" ucap Lian yin di balik sepucuk surat itu.