
Changmin lebih santai, di mana ia menampakkan kakinya. Tidak melihat musuh, Ia memutar matanya melihat ke depan. Ia langsung berlari ke depan balkon yang menjulang panjang, memutar di kantornya. Seorang penembak jitu itu di balik gedung kantor Lian yin di gedung pencakar langit, depannya.
Changming pandangannya terdiam, mengikuti arah senjatanya, yang tertuju pada Mei. Yang terlihat melawam beberapa orang lelaki di depannya.
Changmin yang panik melihat Mei dalam bahaya ia segera memberi tahu Mei.
"Mei, dengar aku. Mei" ucap Changmin dengan nada gugup dan khawatir jadi satu.
"Ada apa?" ucap Mei.
"kamu cepat sembunyi di balik tembok sekarang, ada sesorang yang akan menembak kamu dari jarak jauh" ucap Changmin tergesa-gasa.
"Di mana?" tanya Mei, dengan pandangan memutar menatap sekelilinganya. Ia belum melihat orang itu.
"Kamu jangan menatap kemana-mana, lebih baik kamu sembunyi dulu, baru cari tahu di mana orangnya saat kamu tenang. Kami kana melihatnya nanti" ucap Changmin, yang melihat Mei dari kejauhan.
"Baiklah" Mei segera sembunyi di balik tembok dan.
DORR...
Tembakan itu mengarah ke arah Mei, tetapi tidak tepat sasaran, Mei dengan cepat sembunyi di balik tembok, hingga tembakan itu menembus ke tembok di sampingnya.
"Peluru ini" ucap Mei, mencoba mengambil peluru yang tembus di tembok tepat sampingnya. Ia menatap setiap detail peluru itu. "Siapa sebenarnya dia?" tanya Mei. "Peluru ini sepertinya aku pernah tahu, apa hubungan mereka dengan negara Timur" lanjut Mei, yang penuh tanda tangaya di otaknya. Epluru hang sangat familiar di otaknya. Mei segera memasukan bukti peluru itu dalam saku jaketnya. Dan mencoba mencari di mana orang yang berani menambaknya.
Mei menatap ke depan, ia melihat seorang bertopeng dari jarak jauh. Tak mau berlama Mei mengeluarkan senjatanya dan mulai menembakkan tanpa harus berlama untuk melihat sasarannya lebih dulu.
Doorrrr.
Tembakan satu kali dari Mei, tepat mengenai kaki orang itu yang hampir saja berlari dari tempatnya.
"Kaki kanan" ucap Mei. "Aku akan segera tahu siapa sebenarnya dia" lanjut Mei.
Changmin yang mendengar suara tembakan itu. Ia segera berlari maraton melihat keadaan Mei.
"Haah.. Haah.. "Suara napas Changmin yang berada tepat di depannya membuat Mei terekejut seketika. Changmin menunduk dengan tangan menhangga tembok, ia menatur napasnya yang ngos-ngosan tak beraturan.
"kamu, kalau datang itu bilang" ucap Mei kesal, ia mengusap dadanya, ia bernapas lega. Tadi Mei kira jika itu adalah musuh. Ternyata malah kekasihnya.
__ADS_1
"Maaf, aku tadi khawatir dengan kamu" ucap Lay, mencoba mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.
"Aku gak apa-apa, tadi aku berhasil melukai dia di kakinya. Aku yakin pasti sekarang dia gak bisa jalan sempurna. Jadi kalian bisa gampang menemukan dia siapa" ucap Mei. "Udah sekarang ayo pergi cari Lay" lanjutnya, menarik tangan Changmin berlari menuju ke arah Lay berada.
"Baiklah" Changmin dan Mei mencari Lay yang masuk ke dalam ruang dokumen.
"Syang langkahmu jangan cepat-capat gitu" gumam Changmin, yang napasnya masih belum teratur. Ia tadi berlari dan sekarang Mei menariknya dan berlari lavi mencari Lay.
Sebuah gerombolan musuh tepat di depannya. Menggunakan senjata lengkap. "Kalian mau apa" tanya Changming dengan senyum tipisnya.
DOR.. DOR... DOR...
"Kelamaan gak usah banyak bicara" ucap Mei, yang sudah melepaskan beberapa tembakan ke depan, dengan mata tertutup. Ia takut jika melihat secara langsung kejadian di depannya yang ia lakukan.
"Huff.. ternyata aku melakukannya juga" gumam Mei, menarik napasnya lega.
Changmin tersenyum, melihat Mei menutup matanya, dengan segera Changmin menarik tangan Mei berlari menjauh dari mereka. "Kamu itu lucu, sudah lama berkecimpung dalam dunia ini tapi takut dengan darah" gumam Changmin.
"Aku gak takut hanya ngeri saja" ucap Mei, yang mulai membuka matanya. Langkah mereka terhenti di depan lift.
Pintu Lift terbuka, semua orang di dalamnya keluar dengan wajah paniknya, karena situasi yang sangat mencengkam, membaut mereka ketakutan. Karena suara tembakan di mana-mana, membuat semua pegawai lain berhamburan keluar. Dan dengan segera Changmin menarik tangan Mei masuk dalam lift. Untuk segera menetralkan situasi yang ada.
"Maaf tuan Changmin, apa aku perlu hubungi polisi" tanya salah satu pagai yang mrnghentikan pintu lift yang akan tertutup.
"Ceoat hubungi polisi, kamu bantu netralkan suasana di baeah. Agar tidak terlalu panik" ucap Changmin.
"Baik" icap pegawai itu, yang mukai melepaskan tangannya di depan pintu lift.
~
Di sisi lain, Lian yin yang sibuk berbincang dengan ayah Yiwen dan kekek Yiwen. Tanpa perdulikan sebuah pesan dari salah seorang pegawainya. Yang memberi tahu keadaan di kantornya sekarang.
"Kalau kamu satukan ini, kamu harus temukan satu potongan kertas ini lagi" gumam ayah Yiwen.
"Di mana aku harus menemukan potongan sisanya? Tidak ada petunjuk algi dari kakek" tanya Lian yin.
"Kamu bisa tanya pada istri kamu, dia pernah melihatnya. Entah sekarang ada di tangannya atau di ambil oleh orang lain." jawab Wo Jian, ayah Yiwen tahu semua tentang Yiwen.
__ADS_1
"Baiklah, tapi apa yang aku harus lakukan lagi jika semuanya terkumpul. Apa ada suatu hal yang penting yang akan di sampaikan kakek aku? Atau kakek menyembunyikan sesuatu di sana?" tanya Lian yin semakin penasaran..
"Sebuah harta karun yang tak ternilai harganya, semua orang merebutkan itu. Jadi kamu harus benar-benar menjaganya, agar tidak di salah gunakan oleh orang yangbtak bertanggung jawab. Dan sebuah dokumen yang banyak di cari di kantor kamu itu adalah sebuah pesan yang di sampaikan kakek kamu, itu bukan peta harta karun yang sebenarnya. Peta yang sebenarnya ada di depan kamu sekarang" ucap Wo Jian. "Sekarang kamu buka apa pesan dari kakek kamu itu" lanjutnya.
"Jadi selama ini semua orang salah paham, dan mengira jika dokumen itu adalah sebuah peta" ucap Lian yin. "Tapi dokumen itu tidak ada di ganganku, dokumen itu ada di kantor aku" lanjutnya.
"Iya, selama dalam proses pencarian, biarkan peta itu di sini. Kamu sembunyikan peta itu di sini, karena tempat ini paling aman. Dan kamu sama Yiwen juga tinggal di sini lebih dulu, sampai situasi terkendali" gumam Wo Jian.
"Baiklah, sepertinya aku harus kembali dulu, Yiwen pasti akan mencari aku, kalau lama-lama. Lagian dia juga gampang sekali marah." ucap Lian yin, mencoba ijin untuk kembali lebih dulu.
"Baiklah, kalian kembalilah dulu. Kalau ada hal penting lagi yang ingin aku sampaikan pada kaliam, aku akan menemui kalian secara langsung" ucap kakek Yiwen.
"Baik" ucap Wo Jian.
Wo Jian dan lian yin segera kembali menemui Yiwen, yang dari tadi hanya diam merenung sendiri di rumah kecil. Dia merasa bosan tidak ada hiburan sama sekali. Hanya pemandangan hutan yang hanya bisa ia lihat dari sebuah teropong yang menembus langsung ke hutan.
Kling...
Sebuah pesan masuk membuat Yiwen yang sedang melamun terkejut. "Siapa yang kirim pesan" ucap Yiwen, meraih ponselnya di meja, melirik sekilas, sebuah pesan dari 'Mei'. Yiwen segera membaca isi pesannya.
Kami di mana sekarang, di kantor dalam situasi bahaya, kamu dan Lian yin segera kembalilah. Ada orang yang menyerang kantor Lian yin. dan mereka mencati sebuah dokumen yang di miliki Lian yin.
"Gawat, Lian yin tidak segera kembali, kantornya dalam bahaya" gumam Yiwen, yang mulai panik menunggu Lian yin, ia tak berhenti mondar-mandir memikirkan cara gimana untuk membantu temannya yang dalam bahaya di sana.
"Yiwen, berpikirlah. Ayo berpikir Yiwen." ucap Yiwen pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian Lian yin datang bersama ayah Yiwen. "Yiwen kamu kenapa?" tanya Lian yin, berjalan kendekati Yiwen yang terlihat masih panik.
Yiwen meraih ke dua tangan Lian yin, "Yin, ada bahaya" gumam Yiwen dengan nada tergesa-gesa.
"Yiwen tenanglah, tarik napas dan keluarkan. Lalu bicaralah yang jelas. Apa sebenarnya hang terjadi" ucap ayahnya.
"Ayah itu di kantor" ucap Yiwen terpatah-patah.
"Kenapa di kantor" tanya Lian yin, memegang ke dua bahu Yiwen erat.
"Yin, di kantor dalam bahaya, semua saling memperebutkan sebuah dokumen yang kamu miliki" gumam Yiwen menjelaskan.
__ADS_1