Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Salah paham


__ADS_3

Changmin menarik tangan Mei untuk duduk di sofa. Ia menunduk sejenak, melihat bekas darah ada di lantai putih tepat di bawahnya. "Bekas darah siapa ini?" tanya Changmin, matanya memutar tepat berhenti di meja, melihat berbagai perlengkapan obat ada di atas meja. Ia bingung gimana bisa orang itu tahu kotak obat yang bada di sini. Kecuali ada orang yang mengambilnya


"Eh.. I-itu bekas darah orang tadi" ucap Mei, yang terlihat sangat gugup berbicara depan Changmin.


"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku. Kenapa ada kotak obat di atas meja? Siapa yang mengambilnya? Apa orang itu juga yang mengambilnya?" tanya Changmin, dengan wajah nampak serius, ia memojokan Mei yang sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya.


Mei terdiam, memutar otaknya untuk berpikir keras mencari alasan lagi di depan Changmin, yang sepertinya terus memojokkannya. Seakan dia tahu sebenarnya yang di lakukan oleh Mei tadi.


"Memang dia tadi yang ngambil kotak obat, tadi dia sempat mengancamku, untuk segera mengambilkan kotak obat. Dan aku menurutinya. Jika tidak menurut dia akan menembakku" ucap Mei beralasan.


"Apa kamu gak bohong?" tanya Changmin penuh kecurigaan dalam dirinya pada Mei.


"Kamu gak percaya padaku. Kalau kamu memang gak percaya padaku, baiklah aku akan pergi sekarang dari sini. Percuma jika aku terus di sini, kamu gak pernah percaya denganku" ucap Mei, dengan nada kecewanya pada Changmin.


Dengan sigap Changmin memegang pergelangan tangan Mei. "Kamu mau kemana?" tanya Changmin. "Jangan pergi! Aku tadi hanya memastikan jika kamu tidak bohong" lanjutnya.


Mei tersenyum kecut, "Emangnya aku tetlihat berbohong padamu. Aku sudah bilang jika kamu tidak percaya denganku. Biarkan aku pergi sekarang" ucap Mei, dengan nada tingginya, ia mencoba melepaskan tangan Changmin yang mencengkramnya erat.


"Aku gak akan biarkan kamu pergi dari sisiku, aku percaya sama kamu" ucap Changmin, menarik tubuh Mei masuk dalam dekapan hangatnya. Ia memeluk erat tubub Mei, mencoba menenangkan hati Mei yang lagi marah dengannya.


Perasaan marah, kesal, dan kecewa dalah hati Mei seolah luntut. Dengan pelukan hangat dari Changmin yang mampu mengubah segalanya. Hatinya langsung luluh dengan kekasihnya itu.


"Jangan pergi! Aku gak mau kamu pergi jauh dari sisiku, aku syang dengan kamu. Jangan tinggalkan aku Mei" ucap Changmin, dengan tangan mengusap kepala dan salah satu mengusap punggung Mei.


"Iya, aku tidak akan pergi" ucap Mei, membalas memeluk tubuh Changmin, ia mengusap lembut punggung Changmin. Lalu melepaskan pelukannya.


"Kita harus segera pergi dari sini, bukannya kondisi sudah mulai baik" ucap Mei memegang tangan Changmin, ia takut jika Jeff akan kembali dan melukai orang terdekatnya.


"Iya nanti kita pergi, tapi kita temui Lay dulu, dia lagi bicara dengan petugas keamanan" ucap Changmin.


"Baiklah, ayo kita segera kesana." ucap Mei.


Changmin segera memegang tangan Mei, untuk oergi menemui Lay yang sedang sibuk berbincang dengan petugas kemanana di lobi kantor.


"Lay apa semua sudah beres?" tanya Changmin


"Sudah, aku juga sudah menghubungi petugas kebersihan, dan tukang untuk membereskan keruskan di kantor ini" ucap Lay.


"Kalau semua sudah beres, lebih baik kita pergi. Kita juga harus Stay di rumah. Karena di sana juga ada hal yang oenting" ucap Changmin.

__ADS_1


"Kalian pergi saja dulu, aku mau mengambil sesuatu dulu" ucap Lay.


"Kita pergi sama-sama" ucap Changmin.


"Sudah pergilah, jangan khawatirkan aku. Aku akan segera kembali, jika sudah mendapaykan apa yang aku ambil. Karena ini penting untuk Lian yin." ucap Lay menjelaskan.


"Baiklah, kamu hati-hati" ucap Changmin


"Baiklah" gumam Lay, yang segera masuk ke dalam ruangan penyimpanan Lian yin.


~


Di lain sisi, yiwen yang tadinya tidur nyenyak. Ia perlahan membuka matanya. Melihat sekelilingnya. Tidak ada Liannyin di sampingnya.


"Syang kamu di mana?" tanya Yiwen, beranjak duduk di ranjang, menatap ke kanan dan kirinya. Tidak ada Lian yin juga, bahkan ia di panggil juga tidak menjawab.


Yiwen beranjak dari ranjangnya, "Syang, di mana kamu?" tanya Yiwen, mencoba mencari Lian yin di berbagai ruangan yang ada di rumah kecil itu.


"Syang aku di kamar mandi" ucap Lian yin di balik kamar mandi.


"Aku kira tadi kamu ke mana?" ucap Yiwen yang merasa lega, jika suaminya itu ada di kamar mandi.


Lian yin yang baru keluar dari kamarnya, menatap ke arah Yiwen yang berdiam dri di ranjangnya. Dan sibuk memegang ponselnya. "Syang ada apa?" tanya Liannyin yang masih memakai handuk, ia merangkak di ranjang, memeluk tubuh Yiwen dari belakang.


"Lepaskan aku Yiwen" ucap Yiwen.


"Gak mau" gumam Lian yin, semakin memeluknya erat, dengan dagu bersandar di pundak Yiwen.


"Aku boleh tanya?" ucap Yiwen.


"Tanya apa?" ucap Lian yin antusias.


"Kamu tadi kenapa menghubungi Mei, apa dia dalam masalah. Atau ada hal buruk di kantor kamu" ucap Yiwen, menoleh, melirik ke arah Lian yin.


Lian yin teringat tentang Mei, ia melepaskan pelukannya. Tadi dia bilang tidak boleh cerita dengan Yiwen. Tapi jika dia tidak cerita maka Yiwen akan curiga dengannya, pasti dia akan mengira hal yang aneh-aneh dengan Mei.


Lelaki itu duduk di samping Yiwen, meraih ponselnya. Dan meletakkan di ranjang. "Aku akan bilang padamu" ucap Lian yin, membuat Yiwen terdiam, menatap ke arahnya. "Tapi kamu jangan marah denganku ya" lanjutnya


"Bilang apa?" tanya Yiwen, dengan nada juteknya. "Apa kamu ada sesautu dengan Mei"

__ADS_1


Lian yin mengerutkan keningnya, terkejut dengan ucapan Yiwen yang tiba-tiba menuduhnya yang tidak-tidak dengan Mei. "Kamu jangan salah sangka dulu Yiwen" ucap Lian yin memegang ke dua bahu Yiwen.


"Tadi Mei dalam bahaya, saat Changmin dan Lay sedang keluar dari kantor, mencari dalang siapa yang membuat keributan di kantor aku. Dan Mei berada di kantor sendiri. Ada seseorang yang menyekapnya, dan mengambil ponselnya saat aku ingin telepon Mei, tadi aku coba hubungi Lay dan Changmin tidak ada jawaban. Jadi aku hubungi Mei dengan ponsel kamu" ucap Lian yin menjelaskan panjang lebar dengan Yiwen.


"Kamu jangan salah paham terus syang, aku itu hanya suka dengan kamu. Gak ada wanita lain di hati aku kecuali kamu" ucap Lian yin, memegang tangan Yiwen dengan salah satu tangannya mengusap pipi Yiwen lembut.


Yiwen hanya diam, ia tersenyum malu dengan apa yang di katakan Lian yin. "Ternyata aku terlalu cemburu. Maaf sudah curiga dengan kamu syang" gumam Yiwen tersenyum tipis.


"Makanya jangan salah paham dulu, sebelum aku jelaskan" ucap Changmin.


"Sekarang gimana keadaan Lay dan yang lainnya. Apa mereka baik-baik saja" tanya Yiwen yang mulai panik.


"Mereka baik-baik saja, barusan Lay kirim pesan padaku jika aku gak perlu khawatir lagi dengan keadaan di sana." ucap Lian yin, yang mulai bangkit dari duduknya.


"Syang ambilkan baju aku, tadi baju aku di kamar kamu" ucap Lian yin yang teringat jika tadi ia masuk dalam rumah kecil itu hanya bawa satu baju.


"Lagian kamu kenapa jam segini mandi syang" ucap Yiwen. "Aku gak tahu cara untuk pergi keluar" lanjutnya.


"Terus gimana, apa aku harus seperti ini" ucap Lian yin.


"Gak apa-apa, lagian di sini hanya ada kita berdua" ucap Yiwen.


"Baiklah, kalau di sini hanya ada kuta berdua. Jadi kita bikin cucu buat ayah kamu" ucap Lian yin dengan senyum menggodanya.


"Apa? Gak-gak aku gak mau" gumam Yiwen, melemparkan pandangannya berlawanan arah.


"Ayolah syang" ucap Lian yin, mendorong tubuh Yiwen hingga berbaring. Ia mencoba menggoda Yiwen menatap wajahnya sangat dekat, dengan tangan mengusap lembut pipi Yiwen.


"Sekali saja syang" ucap Lian yin.


"Gak mau" gumam Yiwen. "Bukannya waktu di timur kamu sudah mangajakku bikin anak" ucap Yiwen, mendorong tubuh Lian yin, hingga terjatuh tepat berbaring di sampingnya.


Yiwen beranjak berdiri, namun tangan Lian yin menariknya. Membuatnya terjatuh tepat di atas tubuh Lian yin. "Kamu mukai menggodaku sekarang, pura-pura terjatuh" ucap Lian yin menggoda.


"Siapa yang menggoda kamu" ucap Yiwen, mencoba melepaskan tangan Lian yin yang mencengkram pergelangan tanganya erat.


"Lepaskan aku Yin" ucap Yiwen, namun dengan sigap benda kenyal menempel di bibir Yiwen membuatnya tidak bisa berkutik lagi. Yiwen yang semula menolak, ia menerima kecupan panas Lian yin membuatnya terpancing dan menikmati.


Lima belas menit kemudian, Lian yin bermain dengan sangat lihainya. Ia bermain hingga 2 ronde berturut-turun. Dengan menutup tubuhnya di balik selimut. Ia tidak mau jika ada ayahnya nanti yang tiba-tiba datang melihat. Mereka bermain hingga keringat mulai bercucuran. "Syang makasih" ucap Lian yin, mengecup leher belakang Yiwen, membalikan badan Yiwen yang sudah penuh dengan keringat. Bahkan mereka tadi lupa tidak menyalakan AC yang ada dalam rumah tersebut. Ia mengusap puluh keringat yang ingin menetes dari dahi Yiwen.

__ADS_1


Yiwen hanya diam, mengecup lembut bibir Lian yin, sebagai tanda terima kasih dari Yiwen.


__ADS_2