
Yiwen yang baru sampai di rumah sakit ia berlari masuk ke dalam bersama dengan Mei, mencoba mencari Lian yin di ruang UGD.
"Di mana Lian yin" ucap Yiwen, yang menatap sekelilingnya dengan wajah paniknya.
"Itu Lian yin!!" Ucap Mei, yang melihat Lian yin duduk dengan wajah yang terlihat sangat cemas, dia terus mengusap wajahnya dan rambutnya berkali-kali. Dan Lyli duduk di depan Lian yin dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata, ia terus nenunduk tanpa menatap ke arah Lian yin.
Yiwen yang sadar dengan keadaan Lian yin, ia berjalan mendekati Lian yin dengan langkah ringan, dan duduk di sampingnyan menepuk pundak Lian yin.
"Sudah jangan terlalu di pikirkan!!" Gumam Yiwen.
"Iya tapi aku gak bisa tenang syang!!" Ucap Lian yin, menutup wjahanya lagi. Ia lalu memegang kepalanya yang terasa sangat penat.
"Gimana keadaan Lay?" Tanya Yiwen.
"Aku gak tahu, dia masih belum sadarkan diri, aku harap semuanya baik-baik saja. Semua ini salah ku!!" Ucap Lian yin.
"Kenapa kamu merasa bersalah. Ini bukan salah kamu. Semuabterjadi tanpa di senagaja. Dan itu juga karena musuh kita" Ucap Yiwen, melirik ke arah Lyli. Dan ia terua mengusap punggung Lian yin, mencoba menenangkan hatinya. Agar tidak terlalu di bawa ke dalam pikirannya saat ini.
"Ini salah aku Yiwen, kalau aku tidak membawa file itu, dan menyerahkanya secara cuma-cuma pada mereka. Ini semua tidak akan pernah terjadi. Dan harusnya aku yang ada di sana bukan dia" Lian yin tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Ia tidak bisa tenang jika Lay belum juga sadarkan diri.
__ADS_1
Dan Lyli ia hanya diam, menangis tersedu-sedu beranjak berdiri di depan pintu, ia tidak berhenti menatap gimana keadaan Lay di dalam. Ia juga terlihat sangat khawatir dengannya. Tangisannya bahkan semakin menjadi.
"Maafkan aku Lay!! Aku salah, sekarang aku baru tahu jika kamu benar-benar sayang dengan aku, bahkan apa yang kamu ucapkan benar. Kamu rela bekorban dengan aku, tapi kenapa kamu melakukan itu untuk aku. Kenapa!! Kenapa kamu rela mengorbankan nyawa kamu sendiri" Ucap Lyli, dengan tangan memegang pintu ruang UGD dan perlahan ia duduk di pojikan pintu, dengan tangisan yang semakin menjadi.
Mei yang merasa kasihan dengan Lyli, ia berjalan ringan mendekati Lyli mendekapnya dari belakang. "Kamu jangan salah kan diri kamu sendiri, Lay pasti segera sadar. Kamu harus kasihbsemangat dia untuk bertahan hidup" ucap Mei.
"Enggak!! Ini semua salah aku!!" Saut Lyli yang membuat semua menatap ke arahnya.
"Kenapa kamu bilang seperti itu?" Tanya Mei, yang bingung berada dalam posisi apa dia sekarang. Melihat semuanya sedang berduka, menunggu dokter keluar dan membawa kabar baik bagi mereka semua. Dan semua tim medis juga masih berusaha untuk mengeluarkan puluru yang bersarang di belakang punggung Lay. Semua menunggu dengan perasaan cemas dan khawatirnya.
"Karena aku yang mencuri itu file dan memberikan pada Lian yin. Karena kau tahu itu hak Lia. Yin, itu miliknya, milik kakeknya dulu. Dan bukan hak dari ayah Grace, aku mencurinya juga karena ingin menebus semua kesalahanku terhadap Lian yin. Aku telah berkhianat padanya. Tapi aku gak tahu jima semuanya bakal seperti ini" ucap Lyli.
"Iya, karena aku yang mencurinya dulu. Tapi aku bukan mencurinya, hanya saja aku yang menemukannya di rumah kamu dulu. Dan memberikannya pada ayah Grace. Maafkan aku dulu gak bilang denganmu" ucap Lyli penuh dengan penyelasalan.
"Udah jangan bahas itu, aku sudah tidak permasalahkan itu lagi. Yang penting sekarang adalah keselamatan Lay." Ucap Lian yin.
Mei mencoba memapah tubuh Lyli agar berdiri dan duduk di kursi. "Sekarang kamu tenanglah dulu, kita bahas itu nanti. Kita harus berdoa untuk keselamatan Lay. Kita semua berharap jika Lay segera sadar dan segera sembuh" sambung Mei.
__ADS_1
Yiwen yang mendengar itu merasa kasihan, ia ternyata salah paham tadinya dengan Lian yin dan lyli. Ia mebgira jika Lian yin diam-diam menghubungi Lyli. Dan sekarang ia sudah tahu jika Lyli sebenarnya mau menebus semua kesalahannya, bukan untuk mendekati Lian yin lagi. Mendengar jal itu ia merasa sudah lega kali ini.
Yiwen berjalan mendekati Lyli, dan duduk di sampingnya, menepuk pundak Lyli. "Jika kamu suka dengan Lay, kamu harus terima dia. Dia itu tulus dengan kamu. Dan lihatlah sekarang dia berjuang di sana demi kamu. Demi menyelamatkan kamu ia rela harus terluka menahan rasa aakit yang hampir merenggut nyawanya. Dia bahkan selalu membantu kamu, gak hanya sekarang, dulu dia selalu ada buat kamu. Meski aku gak tahu kisah persahabatan kalian semua, tapi setidaknya aku baru mengenal kalian sudah tahu gimana perasaan kalian masing-masing." Ucap Yiwen, membuat Lyli mengangkat kepalanya, mendongak menatap Yiwen di sampingnya.
Ia memutar kembali kenangan bersama dengan Lay. Dan memang benar jika Lay selama ini selalu membantunya, dia selalu ada untuknya. Selalu menjaganya.
"Benar katamu? Aku terlalu bodoh dan buta karena cinta, aku tidak sadar jika ada orang yang selalu mencintaiku selama ini" ucap Lyli, yang masih belum berhenti meneteskan air matanya.
"Mulai nanti kamu tinggal di rumah aku, dan di sana juga ada Mei dan Grace, kalian semua akan tinggal bersama. Dan untuk Lay dan Changmin bisa tinggal di sebelah rumah itu. Dan mereka jiga akan selalu menjaga kalian, jadi kalian tenang saja." Ucap Lian yin, menatap ke arah para wanita yang duduk di depannya. "Tapi di saat Lay sedang sakit. Aku mau kamu rawat dia nantinya, dan aku juga berencana bawa Lay di rawat di rumah, di ruang khusus. Lelayan udah aku suruh siapkan semua pelayan aku, dan dokter tebaik sudah aku siapkan unguk perawatan terbaik buat Lay" lanjutnya.
Tak lama dokter membuka pintunya. Semua sontak berdiri. Lyli dan lian yin langsung menghampiri dokter itu. "Gimana keadaan Lay?" Tanya Lyli yang sudah tidak sabar mendengar kabar baik dari dokter.
"Kita sudah berhasil mengeluarkan peluru dari punggung Lay, dan sekarang dia masih dalam keadaan kritis" ucap Dokter itu.
"Baiklah, tapi aku mau dia sekarang di bawa ke rumah aku. Dan aku ingin merawat Lay sendiri" ucap Lian yin.
"Tapi dia masih kritis apa tidak bahaya?" Tanya Dokter itu.
"Kalian bantu aku membawa Lay, dan menyiapkan semua peralatan kalian. Dan bawa perawat kalian bertugas di rumah aku." Ucap Lian yin.
__ADS_1
"Baiklah!!" Dokter itu segera membari tahu lainya, yang masih membantu menyiapkan alat bantu pernapasan untuk Lay.