Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Lyli Dan Lay


__ADS_3

pinggir danau, dengan suara gemericik air di iringi hembusan angin malam, dinginnya mulai menusuk ke tulang, hari sudah semakin gelap. Lay masih duduk di samping wanita yang selama ini ia kagumi. Bahkan ia sudah lama memendam rasa dengannya. Tetapi, ia tidak berani mengungkapkan isi hatinya. Bahkan ia baru menyadari jika cintanya sebenarnya pada gadis itu, meski mereka sudah lama berteman, dan bukan Yhing yhi yang selama ini ia kagumi.


Dua sejoli itu menatap ke langit gelap, dengan pamandangan danau yang indah. 


Lyli yang nerasa tubuhnya mulai dingin, ia nengusap ke dua bahunya berkali-kali. Lay melirik sekilas, ia menyadari wanita itu kedinginan. 


Di lepaskan jaket yang membalut tubuhnya, ia memakaikan jaket itu ke punggung Lyli. "Pakailah! Saat ini hanya kamu yang butuh jaket itu." 


Lyli terdiam, menatap ke arah Lay. Senyum manis terpaut di wajah cantik Lyli. "Makasih!" Ucap Lyli menundukkan kepalanya. Ia merasa malu dengan dirinya, tidak bisa membalas kasih syang orang yang tulus dengannya. 


Lay kemabli menatap ke danau, dengan punggung bersandar di kursi dan ke dua tangan merentangkan ke atas kursi. 


"Gak usah mengucap kata terima kasih, itu sudah jadi kewajiban seorang laki-laki melindungi orang yang ia sayang, selalu peka apa yang dia rasakan. Dan selalu menjaganya" danau itu semakin indah, di hiasi lampu lampion yang perlahan mulai menyala satu persatu. Membua oemandangan jadi lebih romantis. 


Mendengar ucapan itu Lyli terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. 


"Lay, aku dengar Grace ada di rumah Lian yin ya?" Tanya Lyli mencari alasan, menciba mengalihkan oembicaraan mereka.


"Iya, ia di rawat di rumah Lian yin." Ucap Lay. 


"Apa benar dia terluka? Dan gimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja?" Lyli tiba-tiba menyakan Grace dan khawatir dengannya. Wajahnya yang semula santai, kini terlihat bingung saat bertanya tentang Grace, teman masa lalunya yang sempat break, karena berantem yang tak ada celah untuk saling minta maaf. Namun mereka tidak bisa marah terlalu lama.


Lay membuka matanya lebar, ia bungung kenapa Lyli bisa tahu. Ia menatap wajah Lyli di sampingnya.


"Kenapa kamu bisa tahu? Apa kamu dengar dari orang?" 


Merasa tersudut, Lyli terdiam seketika, menundukkan kepalanya. Ia bingung apa harus cerita jika dia sebenarnya tahu dari Lian yin saat dia menghubunginya kemarin. Tapi, ia sudah janji tidak ingin memberi tahu Lay tentang semua ini. Jika dia tahu pasti akan marah dengan Lian yin, telah menyembunyikan keberadaan Lyli. Meski sebenarnya dia sudah tahu di mana Lyli tinggal. Bajkna dia yang membiayai temoat tinggl Lyli sekarang. 


Meski Lian yin sempat marah dengannya. Tapi ia sudah sadar jika Lyli melakukan semuanya hanya untuk dirinya. Ayah Grace mengancamnya akan menyakiti Lian yin, jika dia tidak mau kerja sama dengannya, untuk mata-matai apa yang di lakukan Lian yin. Dengan terpaksa Lyli menuruti semua kata Ayah Grace, yang harus membuat ia bernatem dengan Grace, dan Lian yin juga sempat marah dengannya. 


Lay, menepuk-nepuk bahu Lyli. "Kenapa kamu diam? Angkatlah kepalamu! Jangan menunduk seperti itu" ucap Lay, tanpa rasa curiga sedikitpun pada pujaan hatinya itu. 


Lyli menarik napasnya, mencoba membuka mulutnya mengucapkan alasan yang terlintas di pikirannya.


"Aku dengar dari seseorang! Kemarin aku sempat mau ke rumah Lian yin, tapi berhubung ada Yiwen dan Yin di sana, aku mengurungkan niat aku, dan kembali lagi ke rumah." Lyli menunduk, dengan ke dua tangan mencengkram erat ujung bajunya, menahan mulutnya agar tidak keceplosan dalam berbicara pada Lay. 


Lay memegang dagu Lyli, "jangan menunduk seperti itu, tataplah mata aku!" Ucapan lembut Lay mampu membuat Lyli terdiam, perlahan mendongakkan kapalanya, menatap mata Lay, yang penuh dengan perasaan cinta padanya. 


"Kita harus cari dia, ku tadi melihatnya di sini." Ucap beberapa pengawal yang mencari keberadaan Lyli.


"Itu dia!" Teriak seseorang yang membuat Lay dan Lyli mengakhiri tatapan matanya. Mereka kompak menoleh ke belakang, melihat beberapa orang yang tidak Lay kenal. 


"Siapa mereka?" Tanya Lay, yang bangkit dari duduknya. 


Wajah Lyli langsung panik, saat melihat siapa yang datang. Mereka lagi, mereka lagi, membuat aku terasa muak, pikirnya. 


"Lebih baik kita pergi sekarang, nanti aku ceritakan padamu!" Ucap Lyli bangkit dari duduknya, dengan wajah paniknya, ia menarik tangan Lay untuk segera pergi dari pinggir danau. Mereka berlari menjauh, mencari tempat sembunyi yang mana untuknya.

__ADS_1


"Kamu mau bawa aku kemana? Kita naik mobil saja lebih cepat dan aman. Dan kita bisa langsung pulang nantinya" ucap Lay, yang mengikuti lari Lyli. Dengan tangan masih berpegangan erat. 


Lyli menoleh ke belakang, melihat para ajudan itu tak hentinya berlari mengikutinya, sepertinya mereka tidak membawa senjata.


"Sudah diamlah! kita gak punya banyak waktu lagi untuk pergi ke mobil kamu, mereka sudah dekat, lebih baik kita berlari. Dan sembunyi di tempat yang aman" ucap Lyli tergesa-gesa. 


"Sebenarnya apa yang terjadi? Jangan buat aku khawatir denganmu" ucap Lay, Lily hanya diam, ia terus berlari menuju ke sebuah lorong sempit di tengan gedung yang menjulang tinggi, merke terua berlari, dan berhenti tepat di depan sebuah gudang penyimpanan, di belakang gedung tingg. Dengan sigap ia menarik tangan Lay masuk ke dalam sebuah gudang kecil, salah satu gedung itu. Sebelum para ajudan itu berhasil menangkapnya. Bersembunyi di balik beberapa tumpukan kardus yang tertata rapi. 


"Apa yang terjadi?" Tanya Lay, yang masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi sekarang. Lyli seketika menutup mulutnya, dengan pandangan mara melirik ke arah pintu gudang. Terlihat beberapa orang pengawal yang mondar mandir mencari mereka. 


"Sssttt, diamlah!" Bisik Lyli. Lay hanya diam, tersenyum tipis menatap wajah Lyli yang sangat dekat dengannya, bahkan tangan lembutnya menyentuh bibirnya, wajah yang semula khawatir berubah jadi kebahagiaan tersendiri baginya. Dia benar-benar membuatnya jantungan. Detak jantunya, terasa semakin cepat. 


"Di mana mereka?" Ucap salah satu pengawal, yang masih berdiam menatap setiap detail ruangan itu.


"Sepertinya mereka tidak ada di sini" saut pengawal lainnya. 


"Lebih baik kita pergi, cari ke ujung jalan sana" sambung yang lainnya. 


Lyli menghela napasnya, memgatur napasnya yang masih ngos-ngosan. "Akhirnya mereka pergi juga" ucap Lyli, melepaskan tangannya di mulut Lay, dan duduk di sampingnya. 


Lay tak berhenti memandang wajah Lyly, matanya tidak mau jauh-jauh darinya. Ia ingin dalam kondiri seperti ini terus, biar bisa bersama dengannya. Bisa menyentuhnya, mengganggamnya, bahkan menatapnya dari dekat seperti yang ia rasakan sekarang. Hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Dulu ia selalu menghindar saat ia pegang tangannya, bahkan menatapnya saja dia tidak mau. 


"Lay!" Panggil Lyli, mengibaskan tangannya ke wajah Lay. 


"Eh.. iya syang kenapa?" Tanya Lay, yang langsung tersadar dari lamunannya.


"Eh.. maaf tadi aku hanya kepikiran cara panggil Yiwen dan Lian yin tadi, jadi keceplosan ini mulut" ucap Lay, menutup mulutnya, menepuk-nepuk pelan. 


"Oo.. ya udah" gumam Lyli, kembali bersandar di balik tumpukkan kardus besar. Yang entah apa isinya di dalam.


Lay bersandar di samping Lyli. "Oya kenapa mereka mengejar-ngejar kamu? Emangnya kamu ada masalah dengan mereka?" Tanya Lay, yang tidak tahu siapa sebenarnya para pengawal itu.


"Gak ada? Mereka saja yang mengejar-ngejar aku." Jawabnya, menguntupkan bibirnya. "Apa kamu gak tahu kalau itu pengawal Timur" lanjutnya. 


Mata Lay, melebar seketika. "Apa? Kenapa kamu gak bilang tadi?" 


"Aku udah terlalu panik gak sempat bilang, yang penting kita gak ketangkap mereka saja sudah sangat dekat. Kita juga gak bawa senjata apa-apa." Gumam Lyli. 


"Baiklah, lebih baik kita pergi sekarang" ucap Lay memegang tangan Lyli. 


"Tunggu!" Lyli memegang lengan Lay, dengan ke dua mata tertuju padanya. 


"Kenapa? Apa kamu takut? Kalau kamu takut kamu bisa tinggal denganku. Sekarang kita pulang ke rumah Lian yin, kamu bisa tinggal di paviliun kecil dekat dengan rumah utama Lian yin." Ucap Lay, menatap ke aeah Lyli yang masih duduk di bawah.


"Bukannya takut! Tapi aku mau kamu di sini dulu" ucap Lyli, dengan wajah menunduk, seakan malu untuk mengungkapkan keinginannya. 


Wajah Lay berbunga seketika, dengan senyum tipis menyungging di bibirnya. Mendengar kata singkat yang membuat hatinya mungkin tidak akan bisa tidur tenang hari ini.

__ADS_1


"Baiklah, kita di sini dulu" 


"Maaf! Bukannya aku melarang kamu pulang. Aku ingin tenangkan hati aku dulu. Aku belun siapa jika berada di rumah itu lagi, apalagi saat melihat foto Lian yin terpajang di rumahnya. Mungkin akan membuat hatiku semakin hancur.Dan Grace juga ada di sana, dia pasti gak terima jika aku juga tinggal di sana" gumam Lyli. 


Mendengar itu, wajah Lay berubah, wajah yang smeula berbunga, ekana bunga itu rontok berguguran. Ia mengira jika Lyli ingin bersama dengannya, hanya berdua dengannya. Dan ternayat di pikiran dan hatinya masih sama. Mungkin harus ekstra sabar dan terus berjuang untuk mendapatkan cinya Lyli. 


"Jangan pikirkan itu, sekarang aku antar kamu ke tempat tinggal kamu sekarang. Aku akan temani kamu sampai kamu tenang" gumam Lian yin. 


Lyli menghela napasnya, meski terasa berat untuk berdiri. Tapi dia juga tidak mungkin akan bermalam di gudang itu. Ia mulai bangkit dari duduknya. 


"Udah ayo pergi! Sekarang jangan takut lagi" ucap Lay, mengusap lembut kepala Lyli.


Dia benar-benar baik, dan tulus dengan aku. Tapi entahlah apa aku bisa jatuh cinta dengannya.


pikirnya dalam hati, dengan tangan menyentuh kepalanya, bekas sentuhan Lay.


Lyli bangkit dari duduknya, dan mengkituki kemana arah langkah Lay berjalan. Mereka berjalan dengan langkah hati-hati dan pandangan tak berhenti untuk tetap waspada. 


"Apa kamu ingin cerita tidak tentang masalah kamu tadi! Sampai para ajudan Timur itu mengejar kamu. Apa ada amsalah lagi dengannya? Atau ada hal penting lagi yang kamu sembunyikan dariku dan yang lainnya. 


Lyli masuk dalam mobil Lay, di susul Lay, yang segera masuk ke mobilnya. "Nanti di hotel aku akan cerita padamu, jangan bicara di luar" ucap Lyli. 


"Baiklah" ucap Lay, yang mulai menjalankan mobilnya, menuju ke sebuah hotel di mana tempat tinggal Lyli sekarang. 


Suasana mobil nampak hening, tidak ada suara satupun keluar dadi mulut mereka. Lay hanya melirik ke arah Lyli yang dari tadi ia diam tanpa banyak bertanya padanya. 


Hingga mobil mereka terparkir di sebuah hotel tempat tinggal Lyli. 


"Sudah sampai!" Ucap Lay, yang beranjak turun lebih dulu. Dan membuka pintu mobil untuk Lyli.


Lyli hanya diam, ia tidak bersuara sedikitpun. Ia terus berjalan lebih dulu menuju kamar yang memang tidak jauh. Tepat di lantai 2 kamar nomor 75.


Merasa bosan Lyli tidak bersuara sedikitpun. Lay memberanikan diri untuk bertanya dengan Lyli.


"Kenapa dari tadi kamu diam?" Tanya Lay. 


"Gak apa-apa! Kamu mau minum apa? Biar aku buatkan minuman buat kamu" ucap Lyli. 


"Apa saja" gumam Lay. 


"Ya, sudah kamu tunggu bentar" ucap Lyli yang segera mengambil minuman botol yang memang sudah ia siapkan di kulkas hotel. 


"Ini minumlah" ucap Lyli, nengulurkan botol minuman pada Lay. 


"Makasih!" Ucap Lay, "Sebenarnya kamu kenapa? Apa kamu gak mau cerita dengan aku. Anggap saja aku adalah teman kamu, sahabat kamu. Apalagi kamu selalu memendam masalah kamu sendiri tidak pernah cerita apda siapapun." Ucap Lay, meletakkan botol minumnya, dan memegang tangan Lyli. 


"Gak apa-apa? Gak ada maslah berat. Hanya saja aku malu pada diriku sendiri. Kamu terlalu baik buat aku" ucap Lyli.

__ADS_1


"Kenapa kamu bialng seperti itu, aku melakukan ini semua juga karena aka sangat mencintai kamu. Bahkan aku akan terus menunggu kamu sampai kamu merasakan hal sama padaku." Gumam Lay, memegang pipi Lyli, dengan mata menatap mata Lyli. 


__ADS_2