
Lay membawa Grace pergi ke rumah Lian yin. Hanya di sana sekarang tempat yang aman baginya. Sepertinya pengawal ayahnya tidak bisa mengejarnya tadi. Lay yang mengemudi dengan kecepatan tinggi, para pengawal kehilangan jejak Lay di tengah jalan raya.
"Diam di situ jangan turun dulu" ucap Lay, yang turun lebih dulu dari mobilnya, berlari memutari mobilnya, membuka pintu mobil Grace, ia mengangkat lagi tubuh Grace, dan membawanya masuk ke dalam rumah besar milik Lian yin.
Garace hanya diam, tubuhnya yang terasa sangat lemah, lemas, tak berdaya lagi. Bahkan ia tidak bisa berjalan. Ia kini hanya bisa mengharapkan bantuan dari Lay. Meski Grace tidak terlalu kenal dengan Lay, dan aaling bicara saat di depan kantor Lian yin.
"Ini di mana?" Tanya Grace ragu, ia memegang leher Lay untuk berpegangan sejenak. Menanhan rasa sakit bekas operasi yang sakitnya masih menjalar di tubuhnya.
"Ini rumah Lian yin" ucap Lay, tanpa menatap Grace.
Merasa tidak di perhatikan oleh Lay, Grace mencoba bertanya pada Lay.
"Hai.. nama kamu siapa?" Tanya Grace, menarik kerah kemeja Lay. Membuat Lay, saling bertatapan mata dengan Grace.
"Ehemm.. eheemm" mendengar daheman Changmin lay, langsung memalingkan pandangannya dari mata Grace. "itu siapa yang kamu bawa?" Tanya Changmin, yang mengetahui Lay membawa sorang wanita cantik dalam gendongannya. "Baru kali ini aku melihat Lay menggendong wanita cantik seperti, kamu dapat dari mana tadi? Aku kira tadi kamu gak mau pulang bareng karena ada milik Lian yin yang tertinggal. Tapi ternyata ada wanita yang tertinggal" lanjut Changmin menepuk pundak Lay, dengan senyum menggoda.
Grace hanya diam, menatap mereka aneh. Ia juga baru melihat wajah baru di rumah Lian yin. " Apa dia Changmin, yang sering dengan Lian yin dulu. Anak umur 10 tahun yang di temukan Lian yin saat kecelakaan mobil saat dia masih SMP." batin Grace, menatap detail wajah Changmin yang sudah berbeda, dia tumbuh jadi laki-laki dewasa yang tampan. Dulu ia bertemu dengannya dia masih sangat kecil. Tapi sekarang sudah 14 tahun berlalu, dia tumbuh sempurna, keahliannya apa masih sama, Grace juga masih belum tahu.
"Apa? Menghundar dariki" ucap Lay jutek.
"Udah jangan banyak bicara dulu, cepat siapkan kamar buat dia, dan Mei suruh panggil dokter sekarang. Dia lagi sakiy dan butuh dokter segera" ucap Lay, yang mulai meletakkan tubuh Grace di atas sofa lebih dulu.
"Kamu jangan bergerak, tetaplah di situ. Aku akan ambilkan minum untuk kamu" ucap Lay, yang langsung berlari menuju ke dapur, untuk mengambil air putih untuk Grace.
Changmin masih menatap gadis cantik yang Lay bawa. Ia belum sadar jika Grace adalah orang yang pernah membantunya dulu dengan Lian yin. Bahkan sudah menyelamatkan nyawanya.
"Sepertinya temanku sudah mulai berubah, ia berani dekat dengan wanita. Bahkan berani membawanya ke rumah Lian yin. Sepertinya Lay sekarang sudah ada perubahan. Dari pada Yhing yhi wanita ****** itu. Lebih cantik dia, di bandingkan dengannya angka tujuh banding lima belas perbandingannya.
Plakkk..sebuah pukulan keras di punggung Changmin membuatnya terkejut. Hingga tersadar dari lamunannya. "Mau samoai kapan kamu menatap wanita itu terus, bukannya tadi Lay suruh kamu carikan kamar biat dia" ucap Mei, sambil melirik ke arah wanita cantik di depannya itu. Ia melihatnya dari jauh, Changmin yang terus menatap wanita itu.
"Baiklah" ucap Changmin kesal, ia segera pergi membersihkan kamar untuk wanita yang di bawa Lay tadi. Kamar yang pernah jadi kamar Yiwen, yang masih ada. Hanya itu, kalau masalah Lian yin bisa di pikir nanti. Lagian Yiwen bisa yidur bersama dengan Lian yin. Mereka suami istri jadi harus tidur bersama.
__ADS_1
"Hai.." sapa mei yang berjalan mendekati Grace.
"Eh.. iya" ucapnya dengan senyum sapaan menyungging di bibirnya tipisnya
"Kamu siapa?" Tanya Mei mengulurkan tangannya ke arah Grace.
"Aku Grace" ia menerima uluran tangan Mei.
"Sepertinya aku pernah kenal, tapi aku benar-benar lupa." Ucap Mei.
"Gak usah terlalu di paksa jika kamu lupa" gumam Grace.
"Ini minumnya" ucap Lay, yang berjalan mendekati Grace. meletakkan minuman di meja. Dengan langkah buru-buru.
"Mei kamu bantu dia untuk minum, aku akan panggil dokter dulu. Setelah itu kita ke kamar" ucap Lay, yang langsung pergi menelpon dokter. Dan Mei segera membantu Grace duduk, lalu mengambilkan minumnya di meja.
"Emangnya kamu kenapa?" Tanya Mei.
"Apaa? Kenapa kamu bisa tertembak? Dan apa hubungan kamu dengan Lian yin?" Gumam Mei, yang mulai membaringkan tubuh Grace lagi di sofa.
"Aku teman lamanya, tapi terpisah lama" ucap Grace, menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat terpukul jika mengingat hal itu. Hal yang semestinya tidak ia ingat. Sebuah kenangan yang sangat menyakitkan. Kenangan sebuah cinta yang tak terbalas.
"Kamar sudah siap" sambung Changmin berlari ke arah M ei dan Grace. Ia terdiam tidak melihat Lay di sana. "Di mana Lay?" Tanya Changmin.
"Ada apa mencariku?" Saut Lay, yang berjalan ringan menghampiri Changmin, ia menepuk pundaknya. Lalu melewatinya menuju ke arah Grace.
"Mei kamu minggir dulu, biar aku yang gendong dia" ucap Lay, yang perlahan mulai mengangkat tubuh Grace, berajalan ringan menuju ke kamarnya. Grace hanya diam, menatap wajah Lay yang terlihat sangat dingin. Bahkan tanpa ekpresi sedikitpun di wajahnya.
"Dia benar-benar berubah sekarang" ucap Changmin lirih, berjalan mendekati Mei. "Emangnya berubah gimana?" Tanya Mei bingung, menatap ke arah Changmin.
"Dia tidak pernah seperti itu dengan wanita. Dia sempat suka dengan Lyli tapi semenjak Lyli pergi semua berubah. Dia menjadi lelaki yang sangat dingin pada wanita" ucap Changmin, menatap punggung Lay yang sudah melangkah jauh.
__ADS_1
"Emm gimana kalau kita bantu Grace dekat dengan Lay, agar teman kamu itu bisa lupa dengan masa lalu. Lagian Grace itu sangat cantik. Dan dia juga masa lalu Lian Yin. Agar tidak merusak rumah tangga Lian Yin dan yiwen sebaiknya kita harus satukan mereka dengan segera. Kalau mereka saling cinta maka akan bersama. Jika tidak entahlah.." gumam Mei.
"Iya dia sangat cantik, benar-benar wanita yang sempurna" ucap Changmin seolah tanpa sadar mengucapkan hal itu.
"Apa katamu?" Tanya Mei melotot tajam ke arah Changmin, ia memukul kecil dada Changmin. "Dasar kamu ya, kalau melihat wanita cantik saja tidak bisa berhenti menatap" gumam Mei kesal.
"Syang hentikan, dengar dulu" ucap Changmin, memegang ke dua tangan Mei, agar dia berhenti memukulnya.
Mei mengerutkan bibirnya, melemparkan pandangannya berlawanan arah. Dengan tangan bersendekap.
Di lain sisi, Lay berjalan menampakkan kakinya manaikii anak tangga tanpa mengeluarkan suara apa-pun. Bahkan ia tidak menatap sedikitpun ke arah Grace.
"Boleh tanya?" Ucap Grace ragu, dengan mata memandang tatapan Lay yang fokus ke depan.
"Tanya apa?" Ucap Lay jutek.
"Kenapa kamu jadi seperti ini. Apa karena kehilangan Lyli?" Tanya Grace.
"Bukan urusan kamu" ucap Lay. "Lebih baik nanti kamu istirahat saja. Dan tunggu dokter. Jangan pergi kemana-mana. Lagian aku sudah menyelamatkanmu dari para pengawal kamu. Pastinya mereka sekarang akan mengincarku" ucap Lay, mulai membuka pintu kamarnya perlahan. Dengan langkah ringan ia masuk ke kamar yang sudah di siapkan oleh Changmin tadi.
"Baiklah, makasih kamu sudah menolongku. Aku gak tahu lagi kalau gak ada kamu. Pasti aku akan di bawa pulang lagi. Aku gak mau pulang, aku ingin tetap di sini" Ucap Grace dengan wajah menunduk sedih.
"Tapi yang buat aku bingung, kenapa kamu bisa sampai di sini. Dengan kondisi seperti ini? Dan kenapa juga kamu kabur dari ayah kamu" Tanya Lay tanpa menatap ke arah Grace sama sekali.
"Aku sama Luhan, dia yang membawaku masuk ke perbatasan. Dan dia berhenti untuk mnecari sesuatu. tapi saat dia berhenti di suatu tempat aku pergi dari mobilnya. Karena ingin bertemu dengan Lian yin. Saat aku pergi ke kantor Lian yin ternyata ayah aku sudah melakukan hal itu lebih dulu. Lalu aku bertemu dengan kamu di depan kantor" gumam Grace.
Lay segera menarik selimut putih tebal, menutupi sebagian tubuh Grace.
"ya sudah, sekarang kamu di sini dulu. Aku nau pergi" ucap Lay, membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya pergi.
"Saat kamu sudah mulai baikan, ceritakan semuanya padaku. Aku gak mau akan jadi masalah aku dengan ayah kamu nantinya. Mereka juga pasti akan mengejar aku, dan bahkan akan terus mencariku sekarang." Ucap Lay, yang mulai melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Grace di kamarnya.
__ADS_1