
3 hari kemudian.
Lian yin bekerja seperti semula kembali setelah menghabiskan waktu dengan Yiwen di vila.
"Ley apa yang terjadi selama aku pergi" Ucap Lian yi. Bergerak cepat melangkahkan kakinya menuju ke tempat duduknya. Di dalam sudah ada Ley dan changmin yang berdiri dengan wajah menunduk.
Mereka terdiam seolah berat untuk bekata pada Lian yin. Sepertinya masalah yang cukup serius kali ini.
"Cepat katakan sebenarnya ada apa?" Bentak lian yin dengan nada sangat keras. Emosinya terlihat mengobar dalam penjuru ruangan.
"Berlian peninggalan kakekmu di curi oleh Yhing yhi" Ucap Lie Wei. Ia masih menundukkan kepalanya. Ia tak mau menatap amarah lian yin yang mengobar di matanya.
Mata Lian yin melebar seketika percikan kemarahan terpancar di matanya.
"Apa katamu, sekarang cepat cari Yhing yhi jebloskan dia ke penjeara bawah tanah milik kita, suruh dia mengaku siapa yang kenyuruhnya. Dan apa alasan dia mencuri berlian itu" ucap Lian yin dengan nada marahnya.
"Kita sudah berusaha mencari dia di setiap penjuru kota bahkan kita juga mencengkal visa serta paspornya dia untuk pergi keluar negeri. Jadi dia tak mungkin bisa lolos sekarang" ucap Ley mendongakkan kepalanya menatap lian yin.
"Baiklah. Jangan biarkan dia lolos" ucap Lian yin. Ia menghela napasnya mengatur emosi yang tak bisa di kontrol dalam dirinya.
Baru beberapa hari di vila bersama Yiwen menghabiskan waktu berdua. Semua kejadian mengejudkan terjadi. Dan kini juga masalah yang bertubi-tubi di perusahaannya masih terselamatkan, berkat kepintaran Lie Wei.
Entah jika dia tidak ada di sampingnya. Ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi di saat-saat genting seperti ini.
Lian yin beranjak duduk di kursi kerjanya. Menyandarkan punggungnya yang terasa kaku.
"Kalian harus berusaha menjaga pertahanan kita. Besok aku akan segera pergi ke Itali untuk urusan bisnis bersama Yiwen" ucap Lian yin menghilangkan keheningan di antara mereka.
"Baiklah, tapi sepertinya memang perlu merebut kerja sama dengan negara lain untuk mengembangkan bisnis kita" sambung Lie Wei duduk di depan Lian yin.
"Dan kamu Ley besok kamu berangkat ke Sydney jemput seseorang di sana. Bawa dia kemari. Dia adalah aset emas buwat kita nantinya" Saut Lian yin pada Ley yang masih berdiri di depannya.
"Baiklah, tapi gimana dengan gadis bernama Mei itu, apa dia harus tetap tinggal di rumah bersama kita. Kenapa gak kita usir saja dia. Karena dia sangat berbahaya bahkan dia bisa mencuri dokumen penting itu kapan saja" wajah Ley terlihat datar. Karena ia tak suka Mei berada di sana. Waktu pertahanan Lie Wei jadi berkurang. Bahkan dia menghabiskan waktu senggangnya bersama Mei.
"Biarkan Lie Wei yang memutuskan, namun jika dia mau ikut bergabung dalam dunia kita. Maka tak ada salahnya ia tetap tinggal bersama kita" jawab Lian yin dengan duduk bersandar melipat kaki kanannya ke atas lutut kaki kiri.
__ADS_1
"Dan kamu Wei cepat buwat tanya ke dia dan buwat surat perjanjian. Jika dia suka denganmu maka dengan mudah dia bisa bergabung dengan kita. Dia juga ahli dalam berkuda, menembak, dan memanah sangat cocok untuk kekurangan pertahanan kita" lanjut Lian yin.
Kini ia duduk tegap dengan siku menyangga di meja dengan tumpukan berkas yang masih berserakan di mejanya.
"Baiklah, ku akan coba bujuk dia" jawab Lie Wei penuh keraguan. Ia ragu jika nanti Mei menolaknya. Maka apa yang akan ia katakan pada lian yin nantinya. Ia juga tak mau membuat Lian yin kecewa.
Kali ini ia harus bisa membujuk Mei agar keluar dari agen intelijen dan masuk dalam dunia mafia bersamanya. Mungkin bukan hal yang mudah membujuk dia. Dan ketua agen intelijen pasti snagat marah. Mereka juga sudah memikirkan jika akan berdapak birik pada pertahanannya.
Namun bagi Lian yin dan kawan-kawan itu tak masalah. Semua yang masuk di dunia mafia dengan kepemimpinan Lian yin. semua akan di beri senjata lengkap bahkan di beri keahlian kusus untuk memegang senjata dengan benar. Dan juga mereka di beri kelahlian dalam bela diri untuk memperkuat pertahanan dirinya sendiri.
"Gimana kalau kali ini aku akan ajak kalian bersenang-senang di Vila. Dan kamu changmin boleh bawa Mei. Atau pacar kamu. Dan kamu lay ada seseorang yang mau bertemu denganmu nantinya" ucap Lian yin beranjak berdiri menghampiri mereka.
Ia menepuk pundak Lie Wei dan Ley bersamaan dengan berbisik pelan padanya. "Kita bersenang-senang dengan pasangan kita masing-masing akan terasa menyenangkan" lanjut Lian yin dengan nada lirih.
Ley terlihat bingung, ia berpikir siapa yang menunggunya. Dan di acara yang akan di adakan lian yin, bahkan ia tidak punya pasangan. Beda dengan Lie wei yang lagi pdkt dengan Mei. Dan Lian yin pasti bersama Yiwen. Kalau Yhing yhi tidak mungkin, Ia sudah berkhianat dan pergi entah kemana.
Namun apa yang di katakan Lian yin semakin membuat Ley penasaran.
"Kenapa kamu diam" Lian yin menepuk pundak Ley membuatnya terkejut seketika.
"Hai kawan. Sudah lah jangan terlihat ragu begitu. Kita akan bersenang-senang bersama. Meski tanpa pasangan jangan terlihat sedih begitu. Nanti juga dapat pasangan" Lie Wei merengkuh pundak Ley membuat ia kini bisa tersenyum tipis.
Ada benarnya juga yang di bilang Lie Wei. Meskipun tak ada pasangan bukan berarti menghabat untuk bersenang-senang bersama taman. Bersama teman sudah merasa sangat happy meskipun hati terasa kosong tak ada yang menempati.
Ley tersenyum tipis.
"Benar katamu" ucap Ley merangkul pundak Lie Wei dan Lian yin.
Mereka sangat akrab kali ini seperti sahabat karib yang sangat erat.
***
Di sisi lain di balik Vila yang terlihat sepi. Hanya ada bibi dan Yiwen. Dan bibi baru dikirim untuk menemani Yiwen tadi pagi.
Meskipun kini ia tak sendiri lagi, namun ia masih merasa sepi tak ada Lian yin di sampingnya.
__ADS_1
Yiwen kini duduk di sofa dengan kedua kaki sembujur di atas meja. Ia menonton tv siaran kesukaannya.
"Non Yiwen mau makan apa?" tanya bibi Lu
"Gak usah, di bawakan buah aja, sama teh hijau" ucap Yiwen yang masih santainya menikmati cemilan di dekapannya dengan badan bersandar di sofa.
"Baik non" bibi segera pergi menuju dapur. Bibi sudah tua namun tetap setia bekerja dengan Lian yin. Ia tak mau menyuruh bibi dengan pekerjaan berat. Yiwen merasa kasihan dengannya, bahkan melihat dia ia teringat dengan ibunya yang sudah lama tak ada.
"Ini non" Bibi lu jongkok dan meletakkan buah dan teh hijau ke depan Yiwen.
"Apa lagi yang harus saya kerjakan, non" tanya Bibi lu yang sudah berdiri di depannya dengan badan agak menunduk sedikit.
"Sudah bii gak ada, lebih baik sekarang bibi istirahat saja. Atau tamani aku nonton tv juga gak papa. Kita makan buah bersama" ucap Yiwen beranjak berdiri memapah tubuh bibi ku untuk duduk di sampingnya.
Yiwen segera mengupas buah jeruk di piring yang sudah di suguhkan bibi Lu. Namun bukan untuk dirinya, melainkan untuk bibi lu yang ada di sampingnya.
"Ini bi makan" ucap Yiwen
"Gak usah non, buwat non Yiwen saja. Takutnya tuan lian yin marah dengan bibi" ucap bibi lu menundukkan kepalanya.
"Sudah lah bi, lian yin gak akan marah dengan bibi. Aku yang akan marahi dia nantinya" Yiwen masih memaksa bibi untuk segera makan buwat yang sudah ia kupaskan.
Meraka berdua nonton tv bersama hingga tertawa, saling cerita dan bercanda bersama. Bibi lu kini seperti seorang ibu bagi Yiwen. Karena ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sejak ia kecil. Ia tumbuh besar bersama ayahnya dan kakeknya. Namun kakeknya juga meninggal saat Yiwen baru berusia 17 tahun.
Hari sudah larut malam yiwen dan bibi lu ketiduran di sofa dengan keadaan tv measih menyala . Dan ponsel Yiwen di atas meja terus berdering. Hingga 5 panggilan tak terjawab dari nomor yang tak di kenal.
Yiwen yang sudah tertidur pulas tak perdulikan itu. Ia masih tertidur dengan posisi masih duduk memegang remot.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 23.00. Lian yin baru saja pulang dari kantornya. Ia berjalan masuk dengan tangan melonggarkan dasinya, serta membuka kancing baju atas yang terasa menariknya di leher. Ia tak lupa melepaskan kancing kemaja panjangnya. Tersenyum tipis melihat Yiwen tertidur pulas.
"Dia benar-benar kelelahan" gumam Lian yin lirih.
Lelaki itu menepuk pundak bibi lu untuk segera pergi ke kamarnya. Lian yin segera duduk di samping Yiwen dengan tangan meraih remot dalam genggaman erat Yiwen lalu mamatikan tvnya.
"Semua terlihat sangat berantakan" gumam Lian yin beranjak membersihkan sampah makanan dan minuman yang memenuhi meja di depannya. Bahkan juga berserakan di lantai bawah kaki Yiwen.
__ADS_1
Tak terlihat capek ia memebersihkan semuanya tanpa tersisa. Hingga meja dan lantai sudah bersih dari sampah.