
Keesokan harinya..
Jarum jam sudah menunjukan pukul empat pagi, di luar masih sangat gelap, hanya beberapa mobil juga yang lewat. Melintas di samping Lay.
Lay pergi dari rumah saat pagi tiba, bahkan matahari belum menampakkan sinarnya, ia sudah pergi diam-diam dari rumah Lian yin tanpa sepengetahuan Lian yin dan Changmin. Ia tidak mau merepotkan Changmin dan Lian yin, Lay ingin mencoba mencari tahu siapa mata-mata itu sendiri, meski ia sebagai taruhannya, dan dirinya juga sudah memasang perekam suara di kaos yang ia kenakan. Agar dengan mudah bisa di lacak nantinya saat ia menekan tombol dan mengirimkan ke ponsel Lian yin. namun hanya saat terjadi apa-apa padanya. Semua sudah di rencanakan dari awal oleh Lay, jika dia akan pergi sendiri tanpa teman, sampai dia tidak bisa tidur dari semalam hanya ingin menunggu saat rumah sepi dan Changmin juga baru saja tertidur meski dia tidur hanya sebentar. Lay memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi meninggalkan rumah itu
Ia pergi bejalan menuju ke rumah kosong, yang sangat jauh dari rumah Lian yin, terletak di ujung perbatasan kota. Rumah yang biasa jadi tempat tinggal mata-mata dari luar. Dari luar memang seperti rumah biasa yang tidak terawat, dan bahkan sebagian sudah terlihat rapuh dan roboh. temboknya. Banyak ranting dan lumut menjalar ke atas tembuk menuju ke atap rumah itu.
~
Namun, di sisi lain Changmin dan Lay yang baru saja bersiap, mereka beranjak untuk turun. Dan Changmin mencoba mencari Lay, tapi dia tidak menemukan Lay di mana-mana. Ia sudah berlari ke lantai atas hingga lantai bawah masih saja Lay juga gak ada.
"Yin, dimana Lay" tanya Changmin yang memang sudah menunggu Lian yin di depan rumah. Karena sudah capek mencari Lay, tapi tetap saja tidak menemukannya dari tadi. Hari ini para wanita di buat tidur pulas oleh mereka di kamar masing-masing, agar mereka tidak ikut campur dengan masalah ini.
Lian yin mengerutkan keningnya bingung menatap Changmin.
"Kenapa kamu tanya padaku, mana aku tahu Lay di mana. aku saja baru keluar dari kamar dan langsung keluar. Sebelum Yiwen bangun" ucap Lian yin.
"Terus di mana dia?" ucap Changmin yang mulai bingung.
"Apa dia sudah berangkat?" Tanya Lian yin. yang masih terus menoleh ke belakang, ia ragu Jika obat yang dia berikan semalam tidak bekerja pada Yiwen.
"Sepertinya begitu, ayo kita pergi sekarang" ucap Changmin.
"Baiklah" ucap Lian yin, yang mulai melangkahkan kakinya pergi menuju
"Yin cepat kemari" ucap Lay, yang duduk jongkok, mencoba mengambil suatu jejak yang tertingal di sana.
"Ada apa?" Tanya Lian yin, berlari mendekati Lay. Sedangkan Changmin, masuk ke dalam gedung tua, ia curiga dari tadi ada orang di dalamnya.
Changmim terus berjalan menelusuri masuk ke dalam gedung tua yang sangat besar itu, namun sudah terlihat rapuh, lapuk dan penuh lumut di makan usia.
Banyak debu berterbangan kemana-mana, karena memang setiap dinding debu itu penuh debu, ia melihat jejak kaki di setiap lantai putih yang tidak terlihat putih, lantai itu di penuhi debu, hingga bisa meninggalkan jejak bekas kaki jika ada orang yang lewat di sana.
Semua masih sangat sepi, matahari bahkan baru menampakkan sinarnya, menembus gedung tua, yang memang dari tadi terlihat sangat gelap, tanpa ada lampu atau penerangan lainnya. Lay memang sengaja tidak menggunakan senter untuk menerangi jalan di depannya. Ia menembus langsung kegelapan di depannya.
__ADS_1
"Sepertinya sepi, tapi aku yakin mereka tinggal di sini" gumam Lay dalam hatinya, ia terus menapakkan kakinya menaiki anak tangga di depannya. Dengan langkah sangat hati-hati, ia berjalan ringan. Karena tanpa penerangan hanya dengan menggunakan mata telanjang ia berjalan ke atas, sinar matahari yang kini sudah mulai membantunya.
"Masih sepi" gumam Lay.
"Shiiitttt..."
Suara injakan rem mobil membuat Lay, terkejut. Ia mengira jika itu adalah musuh. Dengan segera ia naik ke lantai atas dan melihatnya dari atas. Yang semula ragu dan khawatir jika ada musuh. Kini dia merasa sangat lega, ternyata bukan musuh.
"Lian yin, ternyata dia tahu kalau aku sudah berada di sini" gumam Lay. Ia melanjutkan pencariannya. Meraba tembok yang tak terlihat putih, penuh dengan debu coklat yang membuatnya kesulitan untuk melihat sesuatu yang tersembunyi di sana.
"Lay" Teriak changmin berlari masuk ke dalam, dengan sigap Lian yin menarik tangan Changmin agar tidak gegabah.
"Jangan gegabah" gumam Lian yin. "Dan jangan berteriak" ucap Lian yin.
"Baiklah, aku jalan ke lantai atas, mencoba mencari petunjuk di atas. Dan kamu coba cari petunjuk di bawah" gumam Changmin, memberikan intruksi pada Lian yin.
"Baiklah, kalau gitu kita berpencar sekarang. Sambil cari Lay juga, siapa tahu dia di sini juga" ucap Lian yin.
"Baiklah" Changmin segera menaiki anak tangga di depannya, ia melangkahkan kakinya sangat hati-hati. Agar tidak terdengar oleh musuh. Jika memang sudah ada musuh di atas, yang bersembunyi di sana. Dari informasi yang di dapatkan sebelumnya memang di sinilah tempat persembunyian mereka.
Brukkk..
"Siapa kamu?" teriak Changmin, yang langsung menodongkan senjatanya ke belakang.
"Apa-apaan kamu. Apa kamu mau membunuh teman kamu sendiri" ucap Lay, menyingkirkan senjata itu dari wajahnya.
Changmin mengusap dadanya, menarik napasnya lega. "Aku kira tadi kamu musuh, kenapa kamu sudah ada di sini, dan tadi berangkat kenapa tidak sama-sama dengan kita?" tanya Changmin.
"Tadi aku masih lihat kalian tidur, jadi aku berangkat lebih dulu" gumam Lay, dengan mata yang terus memutar, berkeliling melihat situasi di sekitarnya. Matanya tidak pernah kecolongan saat ada musuh, karena ketajamannya dalam mendeteksi musuh.
"Ya sudah, tapi apa kamu tadi sudah menemukan musuh di sini?" tanya Changmin.
"Tidak, ku baru mau masuk ke ruangan ini, dari seluruh ruangan lantai dua sudah aku lihat. Dan hanya ini yang belum" ucap Lay. "Coba kamu menggir dulu" gumam Lay, mendorong tubuh Changmin ke samping. Hingga kaki Changmin tak sengaja menghentak ke lantai dan.
KREKKKK..
__ADS_1
Sebuah pintu tepat di bawah Changmin terbuka, membuatnya meloncat menghindar.
"Pintu apa ini?" gumam Changmin.
Mereka saling menatap, melihat ada anak tangga yang menuju ke bawah, bamun ruangan untuk turun ke bawah sangat sempit.
"Sepertinya ini pintu masuk ke tempat persembunyian" ucap Lay, yang langsung turun ke bawah, dengan langkah sangat hati-hati. Di susul dengan Changmin, yang tanpa ragu mengikuti langkah kaki Lay yang budah lebih dulu masuk. Tak lama pintu itu tertutup sendiri.
"Lay, pintunya tertutup. Apa nanti ada cara agar kita bisa keluar" ucap Changmin.
"Bukannya kalau soal bigini kamu lebih ahli, kenapa kamu tanya padaku" ucap Lay menoleh ke arah Changmin di belakangnya. Semakin masuk ke dalam semakin gelap, tanpa ada penerangan sama sekali.
Tanpa pikir panjang, Changmin yang memang ahli menyiptakan benda yang sangat berguna, ia menekan tombol di sepatunya dan kerah bajunya. Yang memang tersimpan seperti lampu kecil di balik kerahnya dan di ujung sepatunya. Ia menah sengaja mendesain itu di setiap sepatunya. Agar tidak kerepotan saat pergi berpetualang saat gelap.
"Ternyata ciptaan kamu berguna juga" ucap Lay, yang langsung jalan mundur ke belakang, membiarkan Changmin lebih dulu jalan di depannya.
"Kenapa kamu mundur?" tanya Changmin menoleh ke belakang.
"Sudah diam, aku di belakangmu saja. bukannya kamu yang terang ada penerangan di baju kamu. Jadi aku tinggal pegang pundak kamu dan berjalan mengikutimu" ucap Lay, dengan santainya.
"Eh.. tapi gimana dengan Lian yin, di mana dia" tanya Lay, yang teringat tentang Lian yin.
"Oo.. iya, tadi Lian yin ada di lantai bawah sendirian" ucap Changmin.
Plakkk..
Lay memukul kepala Changmin dengan telapak tangannya. "Kenapa kamu meninggalkan Lian yin sendirian di lantai bawah" ucap Lay.
"Sakit tahu, kenapa kamu memukulku, lagian mana tahu jika aku akan bertemu denganmu di lantai atas. Lagian tadi aku berpencar dengannya untuk mencari kamu. Gak tahunya aku sudah bertemu dengan kamu di sini" ucap Changmin kesal.
"Lagian kamu bodoh banget, kalau ada apa-apa dengan lian yin gimana" ucap Lian yin.
"Sudahlah percaya padaku, kalau dia pasti baik-baik saja. Gak mungkin dia kenapa-napa. Kamu saja yang terlali khawatir dengannya" gumam Changmin. "Sudah kita lanjutkan saja ke dalam, aku yakin pasti dia sudah menemukan jalan masuk juga. Dari arah lantai ini ke bawah, pasti ada jalan masuk dari lantai bawah.
"Baiklah" gumam Lay, yang terpaksa harus menuruti Changmin untuk tetap menelusuri masuk ke dalam.
__ADS_1