
Di balik rumah yang sederhana. Dua orang pasangan yang sedang sibuk dengan ke giatannya masing-masing. Tanpa saling menyapa satu sama lainnya.
Yiwen duduk di sofa, hari ini ia bingung mau ngapain lagi, gak ada kegiatan! Bikin dia merasa bosan!! ia hanya menatap tv di depannya. Menonton film drama percintaan sampai ia bosan, udah berkali-kali memberi kode dengan Lian yin untuk nonton bersama, saling manja dan bermesraan bersama. Seperti drama yang ia tonton. Tapi percuma juga, ia tidak di anggap dengannya. Dan Lian yin masih sibuk dengan laptopnya. Tak menghiraukan Yiwen yang dari tadi diam di sofa.
Yiwen yang sudah merasa kesal, ia menoleh ke belakang. Melihat Lian yin, yang masih tetap sama di posisinya.
"Syang!! Kamu masih sibuk?"
Tanya Yiwen yang sudah tidak tahan di cuekin terus olehnya.
Yiwen menguntupkan bibirnya, beranjak berdiri. Ia meletakkan remot tv nya.
Prakkk..
Suara kerar lemparan remot di tv, membuat Lian yin tersemtak kaget. Ia mentap wajah Ywiwen yang sudah muram dengan bibir mantun beberapa senti.
Lian yin berdengus kesal.
"Yiwen ada apa?" Tanya Lian yin, yang terkejut dengan ulah Yiwen.
"Lagi kesel!! Sama laki-laki yang hanya fokus denga. Laptopnya sendiri. Tidak perduli drngan istrinya" gumam yiwen, dengan ke dua tangan bersendekap. Dan bibir masih menguntup kesal.
Lian yin, tersenyum ia sadar jika Yiwen kesal dengannya. Ia segera menutup laptopnya. Dan meletakkan di atas meja. Ia berjalan medekati Yiwen yang masih berdiri dengan tangan bersendekap, dan bibir manyunnya udah beberapa senti. Lagian tiba-tiba dia marah gak jelas membuat kosentrasinya gak fokus dengan pekerjaannya.
Lian yin duduk di sofa, dengan tangan memegang tangan Yiwen yang berdiri di depannya.
"Syang!!" Gumam Lian yin, dengan panggilan manjanya.
Lian yin bukannya ingin mengabaikan Yiwen. Namun, lama tidak di kantor, pekerjaannya semakin menumpuk membuatnya kesal. Dan pikiran terasa sangat penat, beberapa haru ini bahkan dia tiidak bisa tidur nyenyak. Namun di depan Yiwen, ia mencoba melupakan rasa stressnya dengan pekejaan. Ia membuang jauh-jauh, agar dirinya tidak sampai marah dengan istrinya itu.
Beberapa hari juga Changmin sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak bisa pergi kr kantor untuk mengurus semua pekerjaannya. Kini ia haris bekerja sendiri, pekerjaan yang dulunya di gantikan dengan Lay dan Changmin untuk handle semuanya. Kini ia harus mengerjakan sendiri meski hanya di rumah. Dan ia juga sudah siapka suamua berkas untuk rapat yang akan di adakan dua hari lagi.
"Syang! Kenapa kamu hanya diam? Apa kamu masih marah denganku? Maaf syang, jangan marah lagi ya!!" Lian yin, memegang tangan Yiwen, dan memohon seperti anak kecil.
"Apaa!!" Ucap Yiwen sinis, melemparkan.
Lian yin, menarik tangan Yiwen agar duduk di sampingnya.
"Kesal kenapa syang!!" tanya Lian yin, memegang bahu Yiwen yang duduk di sampingnya. Ia berusaha untuk tetap sabar dengan kelakuan Yiwen yang kali ini seperti anak kecil.
"Lepaskan tanganmu!!" Decak kesal Yiwen, menepis tangan Lian yin dari tangannya.
Lian yin menghela napas berat, ia mencoba mengkokohkan hatinya agar tidak terpancing emosinya. Ia berusaha untuk tetap sabar menghadapi istrinya yang semakin manja kali ini.
"Syang dengarkan aku dulu!! Kamu pasti cemburu dengan laptop kan. Kamu kira aku sibuk ngapain syang. Aku hak menghubungi wanita lain sama sekali!"
"Ooo"
"Terus!! Kenapa kamu masih kesal?"
"Aku kesal kamu cuek, acuh tak acuh padaku. Aku dari tadi di sini, kamu gak perduliin aku sama sekali " gumam Yiwen menghentak-hentakkan kakinya kesal.
__ADS_1
Lian yin memegang dagu Yiwen, menatap ke dua matanya. "Diamlah dulu!! Aku ingin bicara dengamu syang! Kamu jangan merengek seperti itu." Ucap Lian yin, mengusap rambut samping telinga Manda lembut dengan jemari-jemarinya. Membuat Yiwen terdiam, ia tidak
"Jangan marah lagi! Aku gak mau kalau kamu marah, apa lagi sampai manyun gini, jelek taul" Lian yin, menyetuh bibir Yiwen yang masih manyun beberapa senti dari tadi. Meski kesla Yiwen masih tetlihat manis saat manja.
"Kam---"
"Jangan bicara lagi! Aku mau kamu diam dulu dan dengarkan aku" Lian yin, menutup mulut Yiwen dengan telunjuknya cepat, ia tidak membiarkan Yiwen untuk bicara lebih dulu sebelum mendengarkan penjelasannya. Ke dua mata mereka saling tertuju.
Yiwen hanya diam, mengedipkan matanya berkali-kali, wajah yang semula ingin marah, kesal kini hatinya mulai luluh kembali dengan sentuhan lembut Lian yin yang semakin membuatnya tak bisa bergerak. Ia terpaku dengan sifat Lian yin, yang sangat dewasa menghadapi dirinya, yang selalu seperti anak kecil. Ia yang selalu yiba-tiba marah, kesal dan nyeselin.
Yiwen tersenyum samar, mangangguk-anggukan kepalanya pelan. Menuruti apa yang di katakan Lian yin padanya.
"Yiwen!! Kamu itu harus bisa mengerti keadaan aku, posisi aku sekarang. Dan kamu juga harus mengerti tentang apa yang aku kerjakan juga. Aku itu banyak kerjaan di kantor. Kalau kamu gak percaya kamu bisa lihat saat aku mengerjakan semuanya. Dan kamu bisa duduk di samping aku melihat setiap aktifitas aku. Kalau kamu jauh dariku, malah nonton tv sendiri. Jadinya selalu salah paham seperti ini terus!! Sekarang jangan di ulangi lagi ya. Aku gak mau kamu marah-arah gitu" Lian yin, menarik tubuh Yiwen masuk dalam dekapan hangatnya. "Dan kalai kamu masih belum percaya dengan aku, kamu bisa telepon Changmin dan Lay untuk tanya mengenai pekerjaan kantorku.
"Iya syang! Maaf! " ucapnya penuh penyesalan. Dengan wajah lesu, dan nampak sedih. Ia terlalu edois dengan Lian yin membuatnya menyesal kali ini.
Lian yin melepaskan pelukannya, memegang ke dua pipi Yiwen. "Jangan sedih!! Kenapa kamu jadi sedih, lagian aku gak marah denganmu"
"Aku salah! Aku terlalu egois!" Gumam Yiwen seperti anak kecil, menyesali kesalahannya.
"Enggak kok, kamu itu terlalu minta perhatian aku sehingga kamu seperti ini" ucap Lian yin menggoda.
Mereka saling berpandangan, tersenyum dan saling bercanda satu sama lain.
Lay yang tadinya pergi menemui Lyli. Ia berjalan dengan langkah cepat menyalip orang yang merasa menghalangi jalannya, menuju ke sebuaj Lift yang terlihat sudah terbuka, ia langsung masuk begitu saja saat lift hampir saja tertutup.
Lay menuju ke lantai dua, yang sebenarnya bisa dengan naik tangga. Tapi ia gak mau kelamaan, lagian liff juga sudah terbuka jadi ia bisa langsung masuk tanpa menunggu lama Dan.
Lift mulai terbuka hanya hitungan detik, lift sampai di lantai dua, ia segera menuju ke kamar Lyli, ia yang lupa nomor berapa kamar Lyli hanya mondar-mandir di depan pintu, mencoba mengingat-ingat kembali. Berapa nomor kamar Lyli, ia berharap lyli seegra keluar dan menemuinya. Tiba-tiba ia kepikiran untuk pergi mengambil ponselnya di saku, dan denfan seera mencari nama 'Lyli' di kontak ponselnya. Belum sempat memencet tombol memanggil tiba-tiba..
Kriikkkk..
Sebaih pintu terbuka, membuat Lay, terkejut dan langsung menoleh ke sumber suara. Matanya terbuka lebae seketika saat melihat Lyli sudah berada di belakangnya, di balik pintu kamarnya. Ia bersembunyi di halik pintu, dan hanya mengeluarkan setengah badannya.
Lyli menatap ke kanan dan kiri was-was. Merasa sudah aman dan tidak ada siapun yang mencurigakan baginya. Ia keluar dari kamarnya, melangkah cepat mrmegang tangan Lay.
"Cepat masuklah!!" ucap Lyli, menarik tangan Lay, masuk ke dalam kamarnya dengan segera.
Ia dari tadi merasa ada orang yang mengikutinya dari krmarin setelah Lay pergi. Ia yang merasa takut, tak bernai keluar dari kamarnya. Bahkan makan saja ia harus menahannya. Sejak malam kemarin ia ingin bilang pada Lay, tapi Lay yang baru saja pulang dari tempatnya. Ia tidak mau mengganggunya lagi, apalagi menunyuruhnya datang lagi ke tempatnya.
Lay yang dari tadi hanya diam, seakan tidak bisa bergerak, dan hanya mengikuti apa saja yang di katakan Lyli.
"Kamu duduk lah dulu! Aku akan ambilkan minuman buat kamu" ucap Lyli, yang semula khawatir kini berubah menjadi tenang saat kedatangan Lay. Jika tidak ada dia entah gimana lagi jadinya. Ia tidak bisa berbuat apa\-apa lagi nantinya. Selain menunggu sampai Lay datang menolongnya. hanya dia juga yang bisa menolongnya, Lian yin juga tidak mungkin, apalagi Changmin. Ia laki-laki paling sibuk tidak mungkin mau menolongnya. Lay yang selalu setia menunggunya, dan selalu ada buat dia saat dia membutuhkan, bahkan dia selalu tepat waktu saat dia butuh bantuan mendesak.
"Bentar!!" Lay memegang tangan Lyli, membuat langkahnya terhenti. "Aku mau tanya dulu denganmu" lanjut Lay, membuat Lyli menoleh seketika, ia menatap ke arah Lay di belakangnya. Denfan mata menyipit, dan mengerutkan keningnya. Pandangan mata Lay sangat berbeda dari biasanya. Membuat harinya tersentuh, mata mereka saling memandang satu sama lain. Jantung Lyli entah kenapa berubah seketika, detak jantunganya berpaci sangat cepat dari biasanya. Perasaan apa ini!! Perasaan yang bdlum pernah aku rasakan sebelumnya!!
"Kenapa kamu diam??" Tanya Lay, membuat Lyli tersadar dari lamunannya.
"Eh.. iya. Aku sudah tahu apa yang ingin kamu katakan. Jadi nanti saja, aku baru kasih kamu jawaban kalau aku sudah memberimu minum. Jangan kahawatir aku akan jawab apa yang ada di pikiranmu." Lyli melepaskan tangan Lay dan beranjak pergi, ia sangat gugup kali ini berhadapan dengan Lay. Napasnya semakin tidak teratur di buatnya.
__ADS_1
Lay memincingkan matanya, bagaimana bisa ia bisa tahu apa yang ingin aku tanyakan padanya. Padahal aku belum sama sekali bertanya?
Lay terdiam, menatap punggung Lyli yang sudah pergi emnjauh darinya. Ia membiarkannya pergi, meski sebenarnya ia ingin berbincang dengannya lagi.
Lyli segera beranjak? Ia berjalan menuju dapur untuk mengambilkan minuman. Tak lama Lyli segera beranjak dan mendekati Lay yang masih duduk dengan mata memutar. Melihat sekeliling kamar Lyli yang terlihat sangat rapi. Sepertinya dia sudah merapikan barangnya. Apa dia mau pergi? Pikirnya.
Ada hal yang bikin ia janggal sebuah koper besar sudah ada tepat di atas ranjangnya. Apa dia mau pindah? Tapi kemana? Otak Lay banyak pertanyaan yang menghantuinya. Ingin ia tanyakan pada Lyli tapi mulutnya terkunci, ia tidak berani bertanya dengannya.
Lyli kembali demgan membawa dua botol minuman dingin untuknya. Hingga Lyli duduk di sampingnya, memegang ke dua pundak Lay, sontak membuatnya terkejut. Ia kaget bukan main, tak menyangka jika Lyli menyentuhnya. Baru kali ini ia merasakan sentuhan lembut dari tangan Lyli yang terasa masuk dalam tubuhnya. Lay tersenyum tipis, ke dua mata mereka saling tertuju.
Lyli duduk di samping Lay, ia menggerakakn kepalanya sembilan puluh derajat, menatap ke arah Lay yang diam terus menatapnya.
"Ada apa?" Tanya Lyli, dengan ke dua laisnya menyatu.
pandangan Lyli sontak membuat Lay terjingkat tubunya ke belakang. Ia terkejut bukan main saat menatap Lyli semakin dekat, dengan wajahnya.
Hembusan napas berat keluar dari mulut Lay.
"Emm.. Kamu mau pergi kemana? Kenapa banyak koper kamu sudah ada di atas ranjangmu" Tanya Lay penasaran.
Lyly tersenyum, dan beranjak dari duduknya. Menoleh menatap ke arah koper yang sudah ia siapkan. Ia hanya diam dan bergegas mengambil koper itu tanpa suara sedikitpun dari mulutnya. Lay semakin di buatnya bingung.
"Aku mau pergi!!" Ucap Lyli, yang sudah mengambil kopernya dan kembali berdiri di depan Lay.
"Pergi kamana?" Tanya Lay semakin bingung di buatnya.
"Aku mau kamu bawa aku pergi dari sini. Dan Cari tempat tinggal lagi!! Aku gak mau lama-lama tinggal di sini" Lyli duduk lagi di samping Lay, dengan duduk agak miring tiga puluh derajat menghadap ke arah Lay.
Lay mengerutkan keningnya, hingga membentuk garis\-garis kecil di keningnya.
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Lay, yang dari tadi belum di jawab oleh Lyli.
Lyli menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba bercerita dengan Lay tentang semuanya.
"Ada seseorang yang tidak aku kenal" ucap Lyli. "Kamu tahu, aku tidak ahli dalam melindungi diri aku sendiri. Senjata saja aku tidak bisa menggunakannya. Aku sangat bodah dalam hal seperti itu. Makanya aku hubungi kamu untuk antar aku pergi. Di luar dari kemarin banyak orang mondar\-mandir mencurigakan di dalam. Sampai-sampai aku harus mengurungkan niatku untuk makan." Ucap Lyli, dengan mata masih was-was.
Lay terdiam seketika, ia bingung harus bicara apa lagi sekarang. Lyli dari dulu memang tidak bisa apa-apa soal senjata. Ia hanya mahir dalam hal IT.
Tiba-tiba Lay teringat tentang apa yang di katakan Changmin, dengan segera. Lay mencari kontak nama Lian yin, dan segera mengirimkannya sebuah pesan.
"Aku akan bawa Lyli kembali ke rumah. Apa kamu nengijinkannya, hanya sebentar. Agar dia bisa merasa aman." Lay segera menekan kirim, dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Gimana?" Tanya Lyli, yang belum dapatkan jawaban dari Lay mau atau tidak mengantarnya pergi. Dan sebenarnya Lyli tidak mengharap tinggal di rumah Lian yin, ia takut akan ada yang kecewa lagi nantinya. Dan grace juga tinggal di sana, jadi ia benar-benar mengurungkan niatnya untuk ingin ke sana. Meski ia juga sering menghubungi Lian yin diam-diam dulu. Tapi dia juga tidak mau di anggap sebagai pengganggu rumah tangga orang .
Lay hanya diam, ia menatap layar ponselnya, yang terlihat menyala. Sebuah pesan dari Lian yin. Dengan segera tangannya mengambil ponselnya. Dan membuka pesan dari Lian yin. Sebelum menjawab pertanyaan Lyli nantinya.
Bawa lyli ke rumah, nanti malam aku akan datang ke rumah. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan ke kamu dan Lyli. Kalau memang kamu mau bawa dia ke rumah silahkan bawa saja dia ke rumah, lebih aman.
Sebuah pesan singkat dari Lian yin, seketika membuatnya senang. Dan segera ia meletakkan ponselnya dalam saku. Lalu kepalanya bergerak menatap ke arah Lyli yang masih diam menatapnya, menunggu jawaban darinya. Mata yang saling menatap dalam diam, dan Lyli butuh jawaban pasti. Wajah yang nampak muram, berubah jadi senyum dari raut wajah Lay. Ia memegang tangan Lyli.
"Kamu boleh tinggal di rumah Lian yin, kita di suruh pergi ke sana, dan Lian yin ingin bicara dengan kamu dan aku nantinya. Dia menunggu kita nanti malam"
__ADS_1
Lyli tersenyum, tapi ia merasa tidak enak jika harus merepotkan Lian yin lagi.