
Gemelap bintang sudah menampakkan wajah cantiknya. Di hiasi dengan sinar terang rembulan menemani dua pasang suami istri yang sedang bermanja di atas balkon kamarnya. Sembari menatap pemandangan langit yang nampak sangat indah dari bawah.
"Sayang, apa yang ingin kamu katakan sekarang?"
Lian yin mengerutkan keningnya bingunh, dia menatap ke arah Yiwen.
"Memangnya aku mau bicara apa?" tanya Lian yin.
"Aku juga gak tahu," Yiwen menggrlrngkan kepalanya pelan. Sembari sesekali dia melirik ke belakang, melihat dua anaknya yang madih tertidur pulas.
"Sepertinya kita harus pergi dari kita ini," ucap Lian yin, memecahkan keheningan sejenak di antara mereka.
Yiwen menyipitkan matanya. "Apa kamu bilang? Kenapa kita harus pergi? Dan nanti gimana dengan Jia nantinya. Apa kita bisa meninggalkan dia sendiri di sini," ucap kecewa dan khawatir, Yiwen pada Lian yin.
"Jangan khawatirkan akan hal itu." Lian yin memegang ke dua lengan Yiwen, mencoba berbicara dari hati dengannya.
"Sayang! Jangan egois, kita pikirkan nasib anak kita satunya."
Yiwen menepis tangan Lian yin. Perasaan yang semula saling romantis satu sama lain, kini berubah menjadi kekesalan pada ke duanya.
"Bukanya kamu penguasa dunia mafia, terus kenapa kamu takut. Apa gunanya ke kekuasaannya sekarang?" tanya Yiwen meninggikan suaranya.
"Pelankan suaramu, jangan sampai anak kita mendengarnya." Lian yin, mengusap lengan Yiwen. Wanita itu menoleh kr arah anaknya lagi.
"Aku akan jelaskan sekarang. Tapi kamu jangan terlalu emosi." ucap Lian yin.
Yiwen memejamkan matanya sejenak menarik napasnya dalam-dalam, menahanya, lalu mengeluarkan secara perlahan. Merasa hatinya sudah mulai tenang, Yiwen mengangkat kepalanya menatap ke arah Lian yin.
"Sudah, jelaskan sekarang!" ucap Yiwen datar.
"Oke, lebih baik kita duduk. Sambil menikmati pemandangan indah malam, di temani secangkir kopi dan teh hijau milikmu." ucap Lian yin basa-basi.
"Kebiasaan! Di saat aku serius, kamu selalu basa-basi." ucap Yiwen kesal.
"Baiklah, kalau begitu. Sekarang kita duduk dulu," Lian yin, memegang tangan Yiwen, menuntunnya untuk segera duduk. Merasa sudah lega, bisa duduk santai. Dan pikiran Yiwen juga sudah dingin tidak emosi lagi. Lian yin mulai pembicaraannya dengan wajah serius khas miliknya.
"Sekarang, yang paling penting adalah. Gimana keselamatan anak kita. Kalau soal Jie, dia pasti akan baik-baik saja di rumah. Tapi apa kamu tidak mau anak kita satunya selamat juga, dia juga harus tumbuh dewasa kelak dengan kehidupan barunya." jelas panjang lebar Lian yin.
"Iya, tapi aku tidak sanggup jauh darinya."
"Kita bis amenghubunginya, dan aku bisa kok menjalankan mesin waktu ayah kamu. Jadi kamu bisa bertemu dengan Jie secara diam-diam nantinya."
Yiwen yang semula cemberut, bibirnya mulai mengembang. "Apa benar?" tanya Yiwen memastikan.
"Iya, tapi kamu harus diam. Dan jangan bicara dengan siapapun. Termasuk kakakku," ucap Lian yin mengingatkan.
Yiwen terdiam lagi, wajahnya mulai mengkerut, seakan ada pikiran yang mengganjal dalam dirinya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Lian yin, yang merasa ada yang di sembunyikan oleh Yiwen.
"Kenapa kamu ingin pergi? Bukanya kamu penguasa?" tanya Yiwen.
"Iya, tapi aku tidak luput dari banyaknya masih. Mereka bisa kapan saja kembali membawa masa besar. Karena sudah lima tahun ini, Chengyi bahkan sudah pergi dan tidak ada kabar lagi. Dan diam-diam dia juga mulai bisnis baru atau mendirikan dunia mafia baru. Kita juga tidak tahu, meskipun sekarang kita berteman dengannya."
"Jadi kamu curiga dengan Chengyi?" tanya Yiwen.
"Enggak! Yang aku takutkan, semua organisasi nantinya akan datang dan mencari tahu tentang semuanya. Dan aku tidak bisa dipungkiri itu nantinya." jelas Lian yin, mencoba tersenyum menatap ke arah anaknya.
"Jadi maksud kamu apa?" tanya Yiwen.
"Seperti yang di bilang kakakku tadi, dunia mafia tidak hanya di sini. Ada kelompakan mafia yang terbesar dan paling di takuti di dunia. Di saat kakakku mulai keluar dari dunia mafia. Dan kelompotan itu yang menggantikannya."
"Jadi dia mengincar anak kita?" tanya Yiwen panik.
"Iya, dua anak kita pasti akan di incar oleh mereka. Dan kabar terbaru, mereka sudah sampai di sini. Dan besok kita akan pergi ke seberang pulau dulu menggunakan helikopter. Dan Ley dengan Lyli akan mengantar kita nantinya.
"Kenapa harus kita, meskipun kita sudah tidak berurusan dengan dunia mafia. Masih saja banyak yang mengincar kita."
"Karna harta yang kita sembunyikan."
"Tapi.. Harta itu, kan...." Lian yin dengan cepat menutup mulut Yiwen dengan telapak tangannya.
"Jangan bicara di sini, kita bisa bicara nanti saja." jelas Lian yin.
"Kamu tahu tempat harta itu. Jadi diam saja. Jangan bicara dnegan orang lain. Yang tahu hanya kita dan Ley, serta Lie Wei. Tapi yang bisa masuk ke sana hanya kita,"
Jika dewasa nanti. Kita bisa tinggal dengan Jie lagi,"
"Iya, semoga semua akan cepat berlalu nanti." ucap Yiwen.
"Oya, sekarang waktunya tidur." goda Lian yin, menarik turunkan ke dua alisnya.
Yiwen, menautkan ke dua alisnya bingung. "Jangan hilang kamu..."ucap Yiwen menghentikan ucapannya, dia paham jika suaminya itu memberi kode.
Lian yin, beranjak berdiri, mencoba mencium Yiwen. Dengan sigap wanita itu mendorong jauh tubuh Lian yin, hingga duduk terseret agak ke belakang.
"Yiwen, sakit!" decak kesal Lian yin.
"Salah sendiri, udah tahu aku lagi gak mau berhubangan, kamu selalu maksa."
"Jadi kamu gak mau?"
"Gak?"
"Yakin?"
__ADS_1
"Sangat yakin? Dan benar-benar yakin 100 persen."
"Gak nyesel?"
Ke dua tangan Yiwen bersendekap. "Kenapa harus nyesel?" tanya Yiwen bingung.
"Aku kalau main dengan wanita lain gimana?" goda Lian yin.
"Terserah kamu," ucap kesal Yiwen, mendorong bahu Lian yin, dan mulai berbaring di ranjangnya bersama dengan Jie, yang sudah berbaring di sampingnya.
Lian yin tersenyum tipis, melihat istrinya yang marah karena ulahnya. "Kenapa kamu hanya diam di situ, cepat pergi!" ucap Yiwen kesal.
Lian yin beranjak menghampiri Jie, menggendongnya, laku membawanya pergi ke kamarnya.
"Kamu bawa Jie kemana?" tanya Yiwen bangkit dari ranjangnya.
"Ke kamarnya sendiri," ucap Lian yin. Yang terus berjalan menuju ke kamar Jie, tanpa perdulikan Yiwen. Membuat wanita itu semakin kesal dan berbaring lagi di ranjangnya. Menarik selimut menutupi tubuhnya, kemudian dia berusaha memejamkan matanya. Baru ingin tidur, dia merasakan sebuah tangan kekar mendarat di pinggangnya.
"Sayang! Jangan marah," bisik Lian yin.
"Aku gak marah,"
"Terus kenapa ngambek?" tanya Lian yin.
"Kesal," jawab datar Yiwen tanpa membuka matanya.
"Udah, kesalnya jangan lama-lama," Lian yin, membalikkan badan Yiwen menghadap ke arahnya. Di kecupanya lembut kening Yiwen. Seketika merontokan rasa krsal, dan emosi yang menggebu dalam hati Yiwen.
"Aku tidak akan bermain dengan wanita lain. Lagian aku sudah punya dua anak dari kamu. Jadi jangan pikir aku bisa dengan wanita lain,"
"Janji?"
"Iya, aku janji. Bawel" gumam Lian yin, mencubit hidung mungil Yiwen. Mereka yang semula marah-marahan, Lian yin menarik selimut tebal miliknya. Dan mulai mematikan lampunya. Dia tidak mau banyak bicara lagi jika menginginkan itu pada Yiwen. Hanya dengan menggodanya hati Yiwen merasa luluh. Di tengah gelapnya kamar, di balik selimut yang terus bergerak sendiri, suara hentakan dan erangan terdengar sampai keluar ruangan.
#####
----------
Note untuk penggantian nama, dan masih dalam tahap revisi bertahap.
Luhan : Chengyi
Ley : Ley yi, dan bisa di panggil Ley
Tao : Feng yin
Chengmin : Lie Wei
__ADS_1
Queen nama panjangnya di ganti : Queen Jie Li Mou
Jika sebagian belum di revisi harap maklum ya, soalnya masih dalam tahap revisi total.