Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Datang Musuh


__ADS_3

“Lyli, cepat kita turun, aku mau bawa kamu ke perbatasan. Ada yang perlu kita kerjakan di sana. Dan sekalian, aku mau cari tahu, siapa


yang mengikuti aku dari semalaman.” Ucap Ley, duduk di ranjang, mentap Lyli


yang masih sibuk di depan kacanya, menatap wajah cantiknya, yang sudah di poles


sempurna dengan bedak miliknya.


“Baiklah, tapi tunggu sebentar,” ucap Lyli, beranjak berduri, mengambil jaketnya.


“Kamu tumben, tampil lebih cantik,” tanya Ley, beranjak berdiri, memegang ke dua lengan Lyli, menatap detail ukiran wajah Lyli yang


sangat berbeda hari ini.


“Aku mau turun, sekaliak kita keliling ke hutan, aku mau lihat seberapa beraninya mereka mengikuti kita. Dan ada hal yang mau aku tunjukan padamu,” ucap Lyli, memegang tangan Ley, dan melangkahkan kakinya pergi dari hotel. Dengan langakh terburu-buru.


“Oya, nanti kamu jangan terkejut. Setelah tahu, seoalnya di sanna banyak pengamanan,”


“Memangnya kamu memberi tahu aku apa?’ Tanya Ley, yang semakin penasaran.


“Sebuah rahasia, dan hanya aku yang tahu, aku dapat bocoran dari seseorang tapi, aku harap kamu jangan memberi tahu suiapapun. Dan Lian yin juga belum aku beri tahu, karena hanya dia yang bisa melihatnya nanti.” Ucap Lyli menjelaskan.


“Tapi kamu yakin, memberi tahu aku sekarang, aku curiga ada


orang yang terus mengikuti kita..”


Tap.. Tap.. Tap..


Langkah kaki sangat cepat terdengar di belakang mereka, membuat Lian yin, mengerutkan keninganya seketika, ia memutar matanya, menatap


sekelilingnya tidak ada siapa-siapa. Dan hanya beberapa orang yang memang


melewati mereka.


“Lyli, kamu merasa ada yang mengikuti kita gak?” tanya Ley, mulai memegang tangan Lyli, menatiknya ke samping mendekat dengannya. Ia tidak mau Lyli dalam bahaya.


“Iya, langkah kaki, lebih dari satu orang,” bisik Lyli, seketika langsung memberanikan dirinya untuk menoleh ke belakang.


Ia tercengang seketika, saat melihat tak ada siapapun di sana, “Gak ada siapa-siapa?” tanya Lyli, menatap bingung, lalu kembali menatap wajah Ley, di sampingnya.


Ley, menoleh ke belakang, dengan perasaan was-was, memang


benar tak ada siapaun yang ada di belakang mereka. Entah siapa yang mengikuti


mereka.


“Lebih baik kita sekarang pergi dari sini,” ucap Ley, menarik tangan Lyli, segera berlari keluar dari hotel itu.


“Kita mau kemana?” tanya Lyli, denagn wajah yang mulai panik, terus melihat ke belakang.


“ke tempat yang kamu bilang tadi!! Di dalam hutam, di sana kamu bisa sembunyi nantinya.”


“Tapi jika kita ke sana, sama saja kita menyerahkan diri kita.” Lyli menarik tanganya, menghentikan larinya.


Ley menarik napasnya dalam-dalam, menatap ke belakang, melihat Lyli yang terlihat begitu gusrah dan sangat panik. Ia tak hentinya,


memandang ke belakang, dan ke depan bergantian.


“Sudah tenanglah, kita tidak akan kenapa-napa, aku bisa melindungimu, sekarang lebih baik kamu teta di sampingku, jangan pergi menjauh dariku.” Ley memegang ke dua bahu Lyli, emncoba menenangkan dirinya yang


terlihat sudah sangat panik.


Lay, memegang erat tangan Lyli, melanjutkan larinya, dan berlari menuju ke hutan yang terasa sangat lebat, dengan pepohonan rindang, yang mungkin bisa dengan mudah untuk para musuh mencelakai mereka. Karena banyak tempat persembunyain di sana.


“Ley, aku mohon!! Jangan ke sini dulu, litahlah ke belakang. Mereka semua mengikuti kita. Dan jumlah mereka sangat banyak!!” Ucap Lyli, dengan nada memohon padanya.


“Shiittt... sepertinya, kiyta harus menghadapi mereka semua sekarang, “ Ley, menghantikan larinya, dan menarik tangan Lyli, bersembunyi di balik punggungnya.


“Tapi ak...”


“Sudah, jangan pikirkan lagi, kamu jaga diri, aku akan melawan mereka semuanya.” Potong Ley cepat. Tak mengijinkan Lyli untuk


berbicara.


“Apa kamu yakin,?” tanya Lyli memastikan.


“Iya, aku yakin.”


“Gunakan ini!!” Lyli menggunakan benda yang bisa di bilang peledak, namun hanya hamparan asap tebal, yang di dalamnya sudah ia masukan obat tidur.


“Apa ini?” tanya Ley, menatap ke arah Lyli.


“Sudah gunakan saja, jika kamu terpepet.” Ucap Lyli.


“kamu dapat ini dari mana?”


“Aku buat sendiri, bersama dengan Lie Wei dan Grace kemarin. Sekarang jangan banyak tanya lagi, mereka sudah mendekat.”


“Kalian mau pergi kemana?” tanya seorang laki-laki di depannya.

__ADS_1


Ley menatap ke depan, dan segera, dengan tatapan sinisnya. “Kita bertemu lagi


ternyata?” ucap Ley, yang memang melihat orang yang sama, saat bertemu di


pantai.


"ternyata kamu masih ingat denganku?”


“Masih ingat jelas” ucap Ley. “Jadi kamu selama ini mengikutiku? Atau akmau juga mengikuti yang lainya juga?”


“ku hanyatanya padamu serahkan Boby, atau aku akan membuat hidup kamu dalam masalah besar.


“Boby tidak bersama dengan aku,” ucap Ley, “Tapi sepertinya kita gak punya banyak waktu untuk bicara lebih banyak lagi, aku tinggal dulu, ya. Bye....”


Boommmm....


Ley melemparkan peledak tepat di depan mereka semua musuhnya, dan bergegas memegang tangan Lyli, berlari menjauhi mereka semuanya. Sebelum kabut


asap itu semakin menebal.


“Sialan!! Dia memakai obat tidur, kalian harus menutup hidung, dan ikuti aku kaluar dari asap ini.” Umpat kesal, musuhnya. Menutup


hidungnya dan beranjak keluar dari kabut asap buatan, dan para pengawal lainya,


terkapar ke tanah. karena sudah terlanjur mengisap dalam asap itu.


“Kemana perginmya mereka?”


“Mereka ke depan, Boss.”


“Naik, kerjar mereka. jangan sapai mereka lolos lagi, kita akan mendapagkan bonus, jika kita bisa menangkap mereka.”


``````


Ley, aku capek, lebih baik kita sembunyi saja.” Ucap Lyli, menundukkan badanya, mencoba mengatur napasnya yang terasa sudah mulai


ngos-ngosan.


Ley menatap sekelilinganya, wajahnya ce,as seketika saat melihat musuh sudah Mengejar mereka.


“Baiklah, kamu pergi sembunyi di balik pohon besar itu, jangan jauh dari sana. Aku akan menyerang mereka sendiri.” Ucap Ley, yang sudah terlihat sangat panik dan cemas akan keselamatan Lyli, ia segera mendorong


tubuh Lyli agar pergi darinya, dan bersembunyi lebih duu.


Lyli memegang lengan Ley, dengan ke dua tangannya.


“Jangan takut, aku bisa malawanya. Sudah cepat pergi.” Ley mendorong tubuh Lyli agar menjauh darinya, dan dia segera menemui para musuh itu, meski harus behadapan dengan puluhan orang bagi Ley tak masalah, dengan langkah ringan, ke dua tanganya melakukan pemanasan sebentar, seakan sudah sangat siap untuk memukul. Meski kini di tubuhnya tanpa senjata apapun yang, ia


bawa. Ley berdiri tegap tanpa rasa takut terbesit di otaknya.


“kalian mengikutiku?” tanya Ley.


“Ternyata kamu tidak punya nyali, kenapa kamu pergi dariku? Dan memilih kabur dengan buronan wanita itu.”


“Yang buronan itu kamu, jadi sekarang jangan basa-basi lagi,” Ley, mulai berlari, menyerang dengan kecepatan tangan, menarik, menendang, lalu


melemparnya satu persatu. Menarik salah satu tangan dari mereka, memutarnya ke


belakang, menendang punggungnya. Hingga jatuh menimpa dua orang temanya.


Buukkk.... Bukk...


Brakkkk.


Ley meraih rantung di sampingnya, memukulkan musuhnya, sangat cepat bahkan seakan kecepatan tanganya sampai tak terlihat, membaut semua senjata mereka jatuh di tanah.


“Kalian menyerah saja!!” ucap Ley.


“Kita tidak akan meneyerah padamu begitu saja, kamu hanya sendiri, jangan harapkamu bisa menang.” Ucap musuhnya dnegan penuh percaya diri.


“Keluarkan senjata kalian semuanya,” pinta Boss pipinan para pengawal itu.


Semua penagwal, megeluarkan sejata tak terlihat di balik sepatunya dan tanganya.


“Kalian mainya keroyokan, da selalu mengunakan senjata. Baiklah, aku akan hadapi kalian.”


Di rumah kecil yang sederhana milik Yiwen. Semua terlihat sangat sepi. Dan Lian yin hanya berdiam diri di kamarnya, menatap laptopnya dan seperti biasa, ia ingin membuka setiap file yang di berikan oleh Grace padanya. Banyak rekaman yang belum ia ketahui.


Kenapa banyak sekali rekaman yang di berikan Grace. Apa ini akan membongkar semua kejahatannya. Tapi ada satu yang belum, siapa sebenarnya dalang si balik semuanya.


Dan kini Grace juga mencari senuah jawaban kenapa ayahnya membunuh orang tuanya. Lian yin juga ingin membuktikan apa kesalahan orang tuanya dulu, yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya..


Lian yin, membuka setiap isi percakan.


Rekaman percakapan 1 :


"Semua sudah di lakukan dengan baik,"


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudha gila?"

__ADS_1


"Aku memang gilang syangku. Aku sebenarnya sudah


merencanakan ini sudha lama"


"Syang, tapi aku gak mau. Jika naka kita Grace tahu kelak nanti, gimana? Pasti dia akan marah,"


"Aku gak perduli, yang penting semua dendam sudah terbalaskan dengan sempurna"


"Tapi tinggal satu lagi yang belum di singkirkan"


"Siapa syang!!"


"Anaknya Lian yin, tapi ada sebuah rahasia yang masih di sembunyikan. Dia tidak boleh mati lebih dulu. Kita harus temukan rahasia


itu. Dengan bantuannya,"


---------


Ternyata itu yang membuat mereka tidak membunuhku. Tapi gila berupa berkas itu apa bukti foto. Lebih baik aku lihat semuanya. jangan sampai ada salah satu berkas yang belum aku lihat, kalau bisa aku harus copy agar mereka tidak bisa sembarangan mencurinya. Dan sebuah file yang di berikan Lyli dulu, juga pasti ada hubungannya dengan ini. Aku juga harus cari tahu semuanya.


Wo Jian yang dari tadi berdiri di balik pintu kamar Yiwen, seakan mengurungkan niatnya intuk masuk setelah mendengar semuanya. Hatinya mulai terketuk untuk membantunya, membantu Lian yin? yang dulunya di kenal


sebagi mafia paling sadis. Sebelum Jack merajalela lebih sadis dari pada dia.


mendengarkan apa yang mendengar semua percakapan itu. Ia beranjak mendekatinya


Lian yin, aku ingin bicara dengan kamu" Wo jian, berjalan mendekati Lian yin, yang duduk sendiri menatap layar laptopnya di


kamar Yiwen.


"Aku yakin, tak butuh waktu lama, Yiwen akan bisa menemukan sepihan peta harta karun itu. dan setelah itu. Kamu pergi dari dunia


mafia, tinggalkan semuanya, hiduplah damai menggunakan apa yang akan kamu


temukan nanti. Kamu bisa bikin rumah tak terlihat seperti aku, jika kamu bisa


menguasai apa yang kamu pelajari,"


Lian yin menatap ke arah Wo Jian yang dush berdiri, di sampingnya. "Iya, aku garap juga Lie Wei dan Grace menemukan siapa yang


bersalah dalam oembunyhan orang tua aku." ucap Lian yin.


"Kamu sudah tahu masalah itu. Aku akan ceritakan semuanya. Tapi dengan satu syarat. Kamu lepaskan Grace, biarkan dia pulang.


Karena dia sebentar lagi akan menikah dnegan Luhan. Jadi setelah dia bisa


menjebloskan ayahnya sendiri ke penjara, biarkan Grace pergi." ucap Wo


Jian, yang memang orang yang sering berkelana, ia tahu semua rahasia orang, yang


tidak di ketahui orang lain sebelumnya.


"Apa? Dia menikah dengan Chengyi? Apa aku gak salah dengar? Bukanya Yiwen yang dulu cinta pertama Chengyi? Dan kenapa sekarang dia mau menikahi Grace?" tanya Lian yin, yang semakin penasaran. Lian yin yang


semula duduk di lantai, ia beranjak naik ke atas, duduk di sofa, menatap


penasaran.


"Iya, mereka akan menikah 1 bulan lagi. Dan entah semua bisa terungkap atau tidak dalam satu bulan berebut. Dan aku menugaskan kamu dengan Yiwen, untuk menuntaskan semua masalah yang ada dalam satu bulan."


Wo Jian mulai memasang wajah sangat serius kali ini.


"Jika kalian bisa menuntaskan semuanya dengan cepat. Aku bisa hidup tenang dengan kakek Yiwen, dan kita bisa hidup bersama sebagai keluarga nantinya dengan damai, tanpa harus bersembunyi lagi." jelas Wo


Jian.


"Baiklah!! Aku janji, akan menuntaskan dengan cepat. Aku juga berharap jika bisa selesai dalam hitungan hari saja. Tanpa harus


membuat orang yang di dekat kita terluka."


Wo Jian dan Lian yin, saling berbicara rencana mereka masing-masing. dan membahas tentang orang yang harus dia waspadai. Hingga mereka lupa akan membahas kenapa keluarga Lian yin mencelakai ayah Grace dulu.


Dorr... Dorrr...


Suara tembakan bertubi membuat pembicaraan mereka terhenti.


Mereka berdua saling menantap, dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Sepertinya ada musuh, lebih baik kita pergi dari sini"


"Enggak!! Paman di sini saja. Atau paman sembunyi di ruang rahasia." ucap Lian yin beranjak berdiri.


"Aku akan segera membereskannya."


Lian yin berlari keluar dari rumah itu. Dan benar apa yang di bilang Wo Jian, ayah Yiwen. Jika semua pintu rumah sudah di riset, dan bisa terbuka saat dia sudah menginjak tepat di depan pintu rumahnya.


"Ternyata yang keluar kamu?"


"Siapa kamu?" Lian yin menatap tajam ke wajah seorang laki-laki tampan, yang bisa di bilang seumuran dengannya.

__ADS_1


__ADS_2