Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Sebuah Buku Peninggalan


__ADS_3

Lian yin terus menatap wajah cantik Yiwen yang tertidur pulas di sofa. Bahkan wanita itu tak menyadari dengan kehadiran lian yin di sampingnya. Dia benar-benar sudah tertidur pulas, gumamnya.


Jemari Lian yin memegang wajah lembut Yiwen yang terlihat polos tanpa balutan make up sama sekali. Lelaki itu memberi kecupan lebut pada keningnya, sebagai ucapan selamat malam untuk menamani mimpi indahnya.


"Heemmmm" Yiwen merenggangkan otot-ototnya yang kaku dan berbalik berlawanan arah dari pandangan Lian yin.


Lelaki itu tersenyum menatap yiwen, Ia segera mengangkat Yiwen untuk masuk dan istirahat di ranjangnya. "Kenapa badanya kali ini terasa berat" Gumam Lian yin, yang masih berusaha mengangkat tubuh Yiwen berjalan menaiki anak tangga menuju ke atas kamarnya.


Wajah yang sangat polos saat tertidur, begitu menggemaskan. Gumam Lian yin tersunyum tipis terus memandangi wajah cantik yiwen.


Lelaki itu membaringkan tubuh Yiwen di ranjang, tak lupa memakaikan selimut menutupi sekujur tubuhnya. Lian yin terdiam sejenak, ia menatap Yiwen sekelias, lalu beranjak dari kamar Yiwen.


Kali ini ia tidak ingin mengganggu Yiwen saat tidur, bahkan ia tak ingin menyentuhnya kali ini, ia lebih memilih berjalan menuju ruangan tempat ia biasa menyelesaikan pekerjaanya.


Di sebuah ruangan yang nampak tak begitu luas, dengan pemandangan rak yang begitu tetata rapi bersama deretan macam buku menghiasi dalam rak tersebut.


Lian yin berhenti sejenak, menatap pemandangan buku yang tak pernah ia lihat lagi setelah ia dewasa saat ini, bisa di bilang itu perpustakaan kecil miliknya.


Dia terdiam sejanak, ia mulai teringat sesuatu tentang sebuah buku peninggalan kakeknya. Namun ia juga tak ingat di mana kakeknya dulu menyimpan buku itu. Ia hanya ingat setiap bab tulisan buku itu yang masih terngiang di otaknya.


Sebuah buku tentang pulau tersembunyi, dari mula sejarahnya. Dan ada apa saja di dalamnya. Lian yin berjalan ringan melihat setiap detail sampul buku yang berjejer rapi.


Ia mencari sebuah buku sejarah, "Kenapa aku tidak ingat apa judul buku itu" Gumam Lian yin, ia masih memutar otaknya untuk bekerja lebih keras lagi mengingat tentang buku itu.


"Ini dia," gumamnya, wajahnya nampak senyum tipis meraih buku itu yang terletak tepat di atas kepalanya.

__ADS_1


Dengan segera Lian yin duduk membawa buku itu, ia membuka setiap lembar isi dari buku itu, mencoba mengingat sejenak apa benar itu isi buku yang sama dari yang kakeknya perlihatkan padanya dulu.


#Flash Back Masa kecil


"Yin sini?" Panggil kakeknya yang duduk si sebuah perpustakaan di tempat tinggalnya.


"Iya, kek.." Lian yin berlari mendekati kakeknya.


"Sini coba lihat, kakek mau beritahu kamu sesuatu. Kamu harus ingat sampai kamu dewasa ya" Ucap Kakeknya sembari menggendong tubuh kecil Lian yin.


Ia duduk di atas paha kakeknya, sembari membaca awalan buku itu. Sebuah peninggalan kuno, yang sangat berharga. Bahkan nilainya tak bisa terhitung dengan berapa banyak uang.


"Ini buku apa kek?" tanya Lian yin yang nampak sangat penasara dengan buku itu.


"Ini buku peninggalan sejarah turun temurun dari keluarga kita, kamu harus jaga buku ini. Mungkin sekarang kamu belum mengerti namun kelak kamu akan paham saat menginjak sudah dewasa" jelas kakeknya.


Ya, meskipun begitu Lian yin tak begitu tahu apa masud dari buku itu. Ia hanya mengagumi setiap gambar yang ada dalam buku itu. Tetapi setiap tulisan itu ada bahasa yang tidak ia pahami. Bahkan bahasa yang sangat aneh dari pandangan matanya.


"Kakek buku ini milik siapa?" tanya Lian yin sembari mendongakkan kepalanya menatap mata lelaki paruh baya itu yang berada tepat di atas kepalanya.


"Ini sekarang menjadi buku mu, kamu harus simpan buku ini baik-baik dan jangan sampai ada orang yang tahu tantang buku ini" gumam kakeknya.


"Baik kek" Lian yin tersenyum .


---------------

__ADS_1


"Kakek aku sekarang paham apa yang kakek bilang dulu" gumam Lian yin. Yang sudah tersadar dari ingatan masa lalunya.


Lian yin terdiam sejenak, membuka lembar demi lembar buku itu. Ia mengerutkan keningnya. Ketika menatap sebuah surat dengan foto gadis kecil.


Lian yin yang sangat penasaran dengan isi surat itu, segera membuka surat yang sudah ia pegang saat ini


"Lian yin kamu sekarang pasti sudah dewasa, akun tahu kamu sudah terlibat berbagai banyak masalah saat membuka surat ini. Namun kakek hanya berpesan jaga buku ini. Kamu akan menemukan jawaban tersendiri tentang semua yang ada dalam buku ini. Dan foto itu adalah foto cucu teman kakek yang dulu pernah menyukaimu. Kakek berniat menjodohkan kamu dengannya. Dan ini saatnya kamu harus segera menikah dengannya. Kalian sekarang pasti sudah tubuh dewasa dan menjadi orang hebat. Jika kamu ingin menemukan semua jawaban dari tulisan buku itu. Kakek memberimu alamat di mana rumah wanita itu tinggal. Entah sekarang teman kakek masih hidup atau tidak. Kamu coba carilah karena teman kakek yang tahu semua kunci dari buku itu"


Lian yin terdiam sejenak, ia berpikir apa maksud kakeknya menjodohkannya dengan cucu temannya. Dan apa hubungannya dengan buku itu. Dan gimana dengan Yiwen nanti jika ia tahu kalau Lian yin sudah di jodohkan. Dan mungkin wanita itu sudah menunggunya di sana.


Otaknya terus berpikir sangat keras. Membuatnya tak bisa lagi meneruskan. Kepalanya sangat sakit. Ia memijat keningnya yang terasa sangat penat. Ia bingung dengan semua ini. Masalah satu belum selesai. Ia juga harus di hadapkan dengan sebuah perjodohan yang tidak ia ketahui sebelumnya.


Lian yin beranjak berdiri, ia segera menuju kamar Yiwen untuk mengambil beberapa barang yang ia perlukan. Setiap langkah slbayangan perkataan kakeknya masih terngiang di otaknya.


"Tuan masih belum tidur," sapa bibi yang berdiri tepat di sampingnya.


"Belum bi, oya tolong jaga Yiwen sebentar. Jangan biarkan dia keluar kamana-mana. Kamu harus bisa membuat Yiwen betah di vila. Sekarang aku akan pergi sejenak ke suatu tempat. Mungkin hanya butuh wakti 12 jam. Kemudian aku akan kembali lagi ke sini" ucap Lian yin dengan wajah terlihat begitu banyak pikiran yang membebaninya.


"Baik tuan" jawab bibi lu, ia menundukkan badanya sedikit.


Lian yin segera pergi ke kamar Yiwen, ia membuka perlahan pintu kamarnya. Agar tidak terdengar decitan suara pintu, yang bisa menganggu tidur Yiwen.


Lelaki yang masih mengenakan kemeja putih itu. Segera berjalan mengendap-endap, ia berdiri tepat di depan lemari, sekilas ia melirik ke arah yiwen. Apa dia tersadar atau tidak.


Merasa Yiwen sudah tidur ia segera mengambil sebuah koper kecil dan membawanya pergi. Ia menoleh sekilas ke belakang menatap Yiwen yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Lian yin jangan pergi," Ia tiba-tiba mengingigau membuatnya harus menghentikan langkahnya lagi.


"Maaf kan aku Yiwen" gumam Lian yin lirih. Ia segera berjalan keluar dari kamarnya.


__ADS_2