
Lian yin begitu bergairah, mereka saling merengkuh, memeluk, mencengkeram satu ama lain. Yiwen membalikkan badan Lian yin, berganti posisi, membuat Lian yin semakin tercengang dengan istrinya itu. Rasa marah yang semula menggebu-gebu dalam dirinya, berubah jadi hawa nafsu yang membuat semakin gairah.
Yiwen memainkannya dengan sangat baik, ia menikmati irama tubuhnya, dengan sentuhan jemari Lian yin di dadanya. Hingga 1 jam berlalu, berbagai gaya mereka lakukan, membuat Yiwen yang sudah lelah, membaringkan tubuhnya di atas tubuh Lian Yin, mencoba mengatur napasnya, yang seakan sudah tersendak-sendak.
Adik milik Lian yin, masih tersimpan di dalam milik Yiwen, sembari beranjak untuk istirahat sejenak.
"Syang!! Kamu tidak marah lagi kan?" tanya Yowen, menggerakan jemari tangannya di dada Lian yin.
Lian yin memeluk tubuh Yiwen, sembari mengusap lembut rambutnya. "Tidak syang, maaf soal tadi. aku terlalu emosi. Mendengar rekaman itu, aku ebnar-benar sangat marah. Gimana bisa mereka tega membunuh orang tua ku. Sebenarnya apa salah mereka, kenapa mereka begitu tega, dan sebenarnya ap yang di rencanakan ayah Grace, kini banyak pertanyaan yang muncul di otak aku, membuat ku benar-benar sangat pusing." ucap Lian yin. "Aku sekarang berhuntung, punya istri seperti kamu, selalu membuat aku tenang di saat seperti ini. Makasih syang!!" lanjut Lian yin, mengecup ujung kepala Yiwen.
Yiwen menyandarkan kepalanya di dada bidang Lian yin, mendengarkan detak jantung Lian yin, yang berpacu sangat cepat. "Aku juga, ingin selalu seperti ini terus sayang. Aku tidak mau kamu terbawa emosi, dan itu akan mencelakakan kamu sendiri." Jelas Yiwen.
Lian yin, menggerakkan tubuhnya lagi, membalikan tubuh Yiwen, di bawahnya. Ia mulai menghenatkakn semakin cepat, membuat Yiwen semakin berteriak keras, hentakan keras Lian yin seakan meremukkan tulang-tulangnya. Lian yin engeluarkan cairan miliknya, ke dalam daerah inti Yiwen dan beranjak berdiri. Ia mulai memakai celananya.
"Syang, kamu mau kemana?" tanya Yiwen, dengan tubuh yang sudah terlihat sangat lemas. Ia terbaring di sofa, tak berdaya.
"Aku mau keluar sebentar syang, aku akan menghubungimu nanti." ucap Lian yin.
"Jangan pergi syang!! Apa kamu gak mau temani aku sehentar," ucap Yiwen, memegang tangan Lian yin dengan tubuh masih berbaring.
Lian yin, melepaskan tangan Yiwen, dan beranjak mengambil kunci cadangan di laci, dan mulai membuka pintunya. ia melirik sekilas ke arah Yiwen, yang terlihat lelah, dengan kaki masih terbuka, menunjukan miliknya.
Lian yin, berbalik arah, dan beranjak, mengecup bibir Yiwen, melumatnya sebentar. Dengan jari memegang inti Yiwen yang masih terbuka.
"Kamu sangat basah syang, sekarang kamu cepat mandi." ucap Lian yin, memegang dada Yiwen.
Brakk..
Glup!! Changmin menelan ludahnya kasar, menatap apa yang ada di depannya.
Lian yin!!" panggil Changmin, seketika mengedipkan matanya, melihat apa yang ada di depannya, dan langsung berbalik menatap ke belakang.
Lian yin seketika menutup tubuh Yiwen dengan tubuhnya.
"Pergi dulu!!" bentak Lian yin, yang tidak suka ada orang yang melihat tubuh istrinya.
"Maaf, aku kira tadi ada orang di dalam, teriakan Yiwen keras, jadi aku kira ada seseorang yang diam-diam masuk. ternyata kalian sedang bercumbu, maaf!!" ucap Changmin tanpa menatap ke arah Lian yin.
Lian yin segera menarik selimut di ranjangnya, menutup tubuh Yiwen yang masih merasa lemas, dan mengangkatnya masuk ke dalam kamar mandi. Ia membuka selimut menutupi tubuh istrinya, mengangkat Yiwen, masuk ke dalam. Bathup kamar mandi.
"Sekarang kamu berendam dulu, biar rasa lelah kamu hialng."
"Temani ak di sini syang!!" ucap Yiwen manja.
"Kalau aku terus di sini, bukanya mandi syang!! Nanti aku malah terus bermain milik kamu," gumam Lian yin, mencubit pipi kanan Yiwen.
"Asalkan kamu gak pergi sendiri syang, ayolah kita mandi bersama." ucap Yiwen, beranjak berdiri, menarik tangan Lian yin.
Lian yin, memegang ke dua pipi Yiwen. "Syang!! Bukannya aku gak mau, tapi aku gak bisa syang. Aku harus pergi dulu. Aku janji gak akan bertindak bodohnya ada seseorang yang ingin aku temui sekarang, jadi jangan khawatirkan aku lagi ya," jelas Lian yin, dengan pandangan mata slaing tertuju menatap penuh arti.
__ADS_1
Yiwen menghembuskan naapsnya kesal. "Baiklah, tapi kemu benar gak mau temani aku sudlu syang. Sebentar saja, seetalh itu kamu pergi,"
"Apa kamu mau lagi di dalam?" tanya Lian yin.
"Iya syang!! Sebentar saja,"
"Nanti saja syang, nanti malam aku akan puakan kamu. Dan sekarang aku pergi dulu ya," Lian yin mengecup kening Yiwen sangat lembut.
Yiwen menguntupkan bibirnya, hingga manyun beberapa senti. Meski sangat keaal, gimanapun juga dia harus mengijinkan suaminya itu pergi.
"Gimana syang? Boleh ya?" tanya Lian yin, dengan mata penuh harapan dari Yiwen.
"Baiklah, tapi kamu janji, jangan pergi ke rumah ayah Grace sendiri. Aku tidak mau kamu bertindak bodoh syang. Aku takut jika kamu terluka nantinya."
"Iya, istriku yang bawel!!" ucap Lian yin, melangkahkan kakinya pergi dari kamar mandi.
Changmin masih berdiri di depan pintu, dengan ke dua nata di tutup.sangat rapat, tanpa menoleh ke belakang.
Puk!! Puk!!
"Kamu mau bicara apa?" tanya Lian yin, kenepuk-nepuk pundak Changmin.
"Aku hanya mau tanya, apa kamu sudah membuka file itu. Jika belum terbuka semuanya, u akan membantu kamu sekarang. Karena ada sebagian file tersembunyi kata Grace." jelas Changmin.
"Baiklah, sekarang cepat, kamu buka. Ambil laptop di dalam kamar aku." ucap Lian yin. Dan Changmin tak mau menunggu lama, ia segera mengambil laptop Lian yin, dan beranjak pergi.
"Kamu ikut aku tidak, biar kamu juga tahu apa yang mereka simpan di laptop ini." gumam Changmin, yang sudah berdiri lagi di sampingnya.
"Rekaman soal apa?" tanya Changmin penasaran.
"Kamu pasti ingat saat orang tua aku terbunuh, dan sekarang rekaman itu ada di tangan kita. Aku akan mengumpulkan bukti lagi, untuk membuat ayah Grace, masuk ke dalam penjara.
"Jadi maksud kamu, ayah Grace yang membunuh orang tua kita," ucap Changmin.
Semenjak jadi bagian keluarga Lian yin. Dia dan Lay sudah menganggap orang tua Lian yin sebagai orang tua baru baginya. Seakan dia merasakan kasih sayang orang tuanya lagi, dalam jemari tangan orang tua Lian yin.
Keluarga Lian yin sangat baik padanya, mau merawatnya sampai sekarang menjadi orang yang beguna. Tapi sekarang ia bingung di sisi lain, dia adalah ayah dari Grace, orang yang ia sukai.
"Jika kamu sudah tahu semuanya, maka saatnya kamu harus menyelidiki lebih jauh lagi," saut Grace, berjalan mendekati Changmin dan Lian yin, yang udah duduk di sofa. Dengan wajah masih nampak sangat serius, saling memandang satu sama lain bergantian.
Lian yin, memandang Grace, dengan tatapan terkejutnya. "Apa kamu sudah tahu semuanya?" tanya Lian yin, menatap tajam Grace.
"Yin, tenanglah!" sambung Changmin, mencoba menenangkan Lian yin, agar tidak terbawa emosi dan meluapkan pada Grace.
"Aku akan jelaskan semuanya," ucap Grace, duduk di samping Lian yin.
"Apa yang ingin kamu jelaskan, aku yakin kamu juga tahu semuanya, makanya kamu pergi meninggalkan aku dulu." bentak Lian yin, dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Grace memegang tangan Lian yin, "Yin, aku akan jelaskan padamu, jangan marah padaku, dengarkan penjelasan aku dulu," ucap Grace, memegang pipi Lian yin.
__ADS_1
Membuat Changmin merasa sangat geram melihatnya. Meskipun begitu, ia tidak bisa marah dengan Lian yin. Ia hanya bisa menahan emosinya.
Grace duduk tegap, mulai menceritakan semuanya.
# Flash back Grace.
"Apa yang ayah lakukan?" tanya Grace, tak sengaja mendengar pembicaraan ayahnya.
"Jangan ikut campur!!"
"Apa ayah benar, ayah yang membunuh orang tua Lian yin."
Ayah Yiwen beranjak berdiri, dan. Plakkk...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Grace. "Jangan ikut campur urusan ayah. Jika kamu syang dengan ayah. Tutup mulut kamu,"
"Tapi ayah sudah kelewatan Aku temenan dengan Lian yin daei kecil."
"Itu karena aku sengaja membuat kamu dekat dengannya. Biar kamu bisa mengalihkan dia jauh dari orang tuanya. Dan usaha kamu berhasil, sekarang waktunya kamu pulang. Karena mereka semua sudah terbunuh."
Kenapa ayah membunuh mereka, pa salah mereka.?"
"Karena merak telah melukaiku, mereka pernah bertindak lebih daei ini padaku. Bahkan hampir saja membunuhku. Untung saja ayah kamu ini di selamatkan orang lain. Saat ayah di buang di tengah laut, dan di ikat ke dua kaki dan tangan. Dan yang menyelamatkan aku adalah mama kamu, ari kota ini. Setelah itu dia membawa aku pulang ke rumahnya."
Mendengar hal itu, seketika Grace tak percaya.
"Apa benar yang ayah katakan?" tanya Grace.
"iya, ayah sudah di buang dua kali. Dan pertama dia tidak berhasil membunuh ayah. Dan ke dua mereka hampir saja membunuh ayah kamu."
"Kenapa, mereka ingin membunuh ayah?"
"karena hubungan aku dengan Moly, mama Lian yin."
---------
"Itu yang pernah aku tahu, Yin. aku gak tahu masa lalu orang tua kamu dengan ayah aku. Tapi ayah aku hanya bilang itu padamu. Tapi aku belum bisa terima karena orang tua kamu sangat baik padaku," ucap Grace
"Sepettinya kita harus mencari bukti masa lalu orang tua kamu," ucap Changmin.
"IyaN aku yang akan menyuruh kamu dan Grace mencari buktinya. Aku dengan Yiwen akan segera pergi besok menemui ayahnya. Jadi cepat selesaikan, san pergi ke rumah Grace. Kamu pura-pura saja tidak kerja sama lagi denganku," ucap Lian yin, dengan wajah nampak sangat kosong, banyak beban pikiran yang membuat dia benar-benar bingung dan terpukul.
"Baiklah, tapi siapa yang jaga rumah ini?"
"Kamu selesaikan pengamanan di sini. Dna biarkan rumah ini kosong. Semua dokumen akan aku sembunyikan di rumah Yiwen. Agar mereka tidak bisa mencarinya lagi."
"Baiklah!!"
"Dan kamu Grace, apa kamu yang merekam itu secara diam-diam?" tanya Lian yin.
__ADS_1
"Iya, dana ayah aku juga yang mengambilnya. Dan membuang ponselku. Dan aku gak tahu kalau ternyata sudah ia simpan di laptop nya." jelas Grace.