
"Benar tidak ada yang kamu tanyakan lagi?" tanya Lian yin lagi pada Yiwen.
"Nanti saja dulu kalau aku sudah pertanyaan lagi buwat kamu" ucap Yiwen.
"Baiklah"
"Pak, sudah sampai di restaurant." ucap sopir itu.
"Baiklah makasih, tunggu di sini aku akan masuk ke restaurant itu sebentar" ucap Lian yin.
"Baik tuan" ucap Sopir itu menundukkan kepalanya.
"Ayo kita turun." ucap Lian yin.
Dengan segera Yiwen turun dari mobilnya, bersamaan dengan Lian yin. Lian yin menglonggarkan tangannya agar Yiwen bisa merengkuhnya. Meski penuh rasa ragu
Yiwen merengkuh erat tangan lian yin dan berjalan masuk ke dalam restaurant itu.
Lian yin menarik kursi untuk Yiwen dan mempersilahkan yiwen untuk duduk. "Kamu mau makan apa?" tanya Lian yin.
"Terserah kamu" ucap Yiwen singkat.
"Permisi tuan mau pesan apa?" sapa waiters yang berjalan mendekatinya.
"Makanan yang enak di sini" ucap Lian Yin.
"Yang paling populer di sini atau gimana tuan, karena yang enak semuanya enak masakan di sini" ucap Waiters itu penuh percaya diri.
"Baiklah, masakan yang paling banyak di makan hari ini" ucap Lian yin.
"Baik tuan" ucap waiters itu mendukkan badanya. Pelayan itu segera pergi dari hadapan lian yin.
"Oya belum pesan minum ya" ucap lian Yin.
"Udah minum air putih saja juga bisa kan" ucap Yiwen.
"Baiklah, terserah kamu"
"Oya dalam pernikahan nanti aku harap kamu jangan gugup ya" ucap Lian yin memegang tangan yiwen di atas meja.
"Ya semoga saja aku tidak gugup"gumam Yiwen.
Tak menunggu lama semua masakan yang ia pesan datang, berbagai menu yang berbeda. "Emm.. minuman aku belum pesan tadi?" Ucap Lian yin yang menatap ada 3 minuman di depannya.
"Ini khusus dari kita tuan telah membeli beberapa menu termahal dan terlaris di sini"ucap waiters itu.
Ya meskipun ia sudah tahu masakan itu paling mahal. Tapi baginya itu tidak masalah, asalkan pujaan hatinya suka dan langsung memakannya dengan lahapnya. Lagian uang segitu bagi Lian yin tak seberapa di bandingkan kesenangan orang yang ia cintai di depannya itu.
Tak mau menunggu lama Lian yin dan yiwen segera memakannya. Ya perut mereka sudah tak tertahan lagi. Lagian ia ingin cepat-cepat menuju ke hotel dan sekalian persiapakan gaun juga untuk pernikahnnya nanti. Ya, karena ia juga mendadak harus pesan gaun dulu jarena besok pagi ia akan menikah di suatu tempat yang megah.
"Akhirnya selesai juga, perutku sekarang sudah kenyang" gumam Yiwen bersandar di tempat duduknya. Perutnya kali ini sudah terasa sangat penuh makan begitu banyaknya.
__ADS_1
"Cepat minum dulu, setelah itu kita pulang. Sudah tidak ada waktu lagi?"ucap Lian yin. Segera meminum habis minuman capucino gratis dari pihak reatauran untuknya.
Yiwen bahkan sudah minum habis lebih dulu dari pada Lian Yin
"Sudah ayo kita plang"ucap Lian yin.
"Iya." Jawab Yiwen singkat.
Lian yin segera meninggalkan uang di meja, tepat dengan bill yang sudah di kasih waiters tadi.
Ia menggenggam tangan Yiwen keluar dari restautan itu, benar-benar tak mau pisah jauh dari Yiwen. Bahkan ia terus menggenggam tangan Yiwen keluar menuju ke mobil yang sudah menunggunya dari tadi.
"Pak kita langsung saja ke hotel"gumam Lian yin pada sopir itu. Hotelnya juga tak jauh dari tempat di mana mereka makan seksrsng. Mungkin hanya sekitar 15 menit perjalanan.
"Yin, kamu serius kan menikah denganku?" Tanya Yiwen penuh ragu.
"Serius, aku akan menikah denganmu, untuk sekarang dan selamanya. Aku gak mau main-main dalam hal pernikahan. Jangan pikir aku menikahimu ada maksud lain. Aku menikahimu karena aku cinta denganmu."gumam Lian yin memegang ke dua tangan Yiwen.
"Semoga kamu benar-benar serius, ku berharap begitu. Karena bagiku kamu yang bisa melindungku. Entah kenapa aku sangat percaya dengamu" ucap Yiwen, tersenyum tipis memandang Lian yin.
Lama berbincang di mobil mereka sampai didepan hotel. Dan Yiwen tertidur lagi di mobil bersandar di bahu Lian yin. Tak mau menunggu lama Lian yin segera turun dari mobilnya. Mengangkat tubuh Yiwen untuk segera masuk ke kamar yang sudah ia pesan sebelumnya. Di lantai 7 dengan nomor 353.
Meski semua orang menatapnya, ia tak perduli dengan hal itu. Melihat Yiwen merasa capek ia tak tega harus membuatnya fitting baju pengatin entar. Lebih baik ia pilih sendiri untuk Yiwen dan membawanya ke hotel. Agar ia bisa memilih mana yang cocok dengannya dan pas dengan lekuk tubuhnya.
Sampai di kamar, Lian yin mulai membaringkan tubuh Yiwen di ranjangnya. Dan ia segera turun bertemu dengan Client di lantai bawah. Karena tak mau jauh dari Yiwen ia mengatur jadwal bertemu di restauran hotel. Dan kali ini tak perlu banyak basa-basi dalam pembahasan ia segera memandatangani semua perjanjian dan sebaliknya. Karena dia adalah investor terbesar di perusahaannya. Karena tak mau ambil resiko dengan perusahaannya. Ia memilih invostor dari luar negeri dari pada dlama negeri.
Lian yin banyak musuh di sana, jika perisahaannya jatuh di tangan mereka entah apa yang akan terjadi. Gak cuma namanya ya yang akan hancur. Dan dia juga sudah berniat untuk pergi dari dunia mafia hidup bahagia bersama Yiwen. Namun setelah semua masalah sudah selesai. Maka mereka akan meninggalkan semuanya.
"Kamu sudah bangun ternyata?" ucap Lian yin.
"Sudah, tadi aku melihatmu gak ada. Tapi hanya ada beberapa gaun ini di kamar. Apa ini untukku?" tanya Yiwen memegang gaun pengantin berwarna putih.
"Kamu pilih salah satu yang pas untukmu dan gmtubuh mungilmu itu" gumam Lian yin.
Yiwen tersenyum lebar, ia segera mencoba berbagai gaun itu di bantu dengan Lian yin yang mebenarkan resleting yang panjang menjular ke punggunya.
"Apa gaun ini cocok untukku" tanya Yiwen.
Lian yin menatap detail dari ujung kaki hingga kepalanya, benar-benar sangat cocok untuknya.
"Kamu cantik" ucap Lian yin.
"Benarkah?" ucap yiwen ragu.
"Iya, kamu coba lihat di kaca. Kamu benar-benar cantik pakai gaun itu." ucap Lian yin. Ia merengkuh erat pinggang Yiwen , menyandarkan dagunya ke pundaknya.
"Aku sudah gak sabar menantikan hal yang paling indah besok" ucap Lian yin.
Yiwen menoleh ke arah Lian yin memegang tangannya yang merengkuh erat pinggangnya.
"Lepasakan aku, aku merasa gerah pakai gaun ini. Aku mau melepaskannya lebih dulu." ucap Yiwen.
__ADS_1
"Baiklah." Lian yin segera melepaskan rengkuhaannya.
Lama berbincang dengan Lian yin soal pernikahannya besok sampai tidak terasa jarum jam menunjukan jam 02.00 pagi. Akhirnya lelaki itu tumbang juga tertidur di sofa. Dan yiwen tertidur lelap di ranjangnya.
---00--
Keesokan harinya mereka sudah bersiap di gedung.
Pernikahan sudah akan di mulai, mereka menikah hanya di dampingi rekan bisnis Lian yin dan Para waratawan yang meliput pernikahan mereka. Meski tak begitu meriah ia tak permasalahkan itu semua, baginya menikah tak perlu mewah asalkan sudah menjadi suami istri itu jauh lebih baik.
Dan meski tak di dampingi patner kerjanya sekaligus temannya itu. Ia terlihat bahagia, meskipun sebenarnya ia merasa ada yang kurang. Tapi Lian yin sudah melakukan rencana akan mengadakan pesta nantinya.
Setelah mengucap sebuah janji bersama, mereka akhirnya resmi menjadi suami istri. Hal yang tak bisa ia duga akan menjadi suami Yiwen meski dalam kondisi Yiwen seperti ini. Tapi setidaknya ia melihat tanpa ada paksaan di raut wajah Yiwen.
Bahkan dia bisa tertawa, tsrsenyum lepas di depannya. "Makasih!!" ucap Lian yin. Menatap wajah Istrinya itu.
"Terima kasih untuk apa??" Tanya Yiwen yang terlihat bingung pada suaminya.
"Makasih telah mah menjadi pendamping hidupku" ucap Lian yin. Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Yiwen, dengan suara tepuk tangan meriah dari para tamu bisnis dan wartawan di ruangan itu.
Yiwen hanya tersenyum, ia merasa hari ini adalah hari kebahagiaan baginya, bisa menikah dengan orang yang ia lupakan. Namun kini ia mengikuti kata hatinya. Tak mau memikirkan hal siapa dia. Ia merasa lian yin adalah suami yang baik untuknya.
Lian yin menggendong Yiwen berjalan keluar, menuju ke mobilnya. Pandangan mereka saling tertuju. Yiwen segera melemparkan bungannya tepat mengenai seseorang yang sepertinya sangat ia kenal. Namun dia lupa itu siapa.
"Yiwen kamu melihat apa?" tanya Lian yin menatap istrinya yang terus menatap ke belakang.
"Aku merasa ada yang mengikuti kita" ucap Yiwen.
"Siapa? Apa Lee yang mengikuti kita?" tanya Lian yin terlihat sangat panik. Gimana gak panik jika saat pernikahan selalu ada mata-mata. Ia tak mau orang itu menganggu Yiwen lagi.
"Bukan. Tapi sepertinya aku pernah kenal orang itu, hati aku merasakan pernah dekat dengannya."gumam Yiwen.
Lian yin terdiam seketika, ia bingung siapa yang di maksud oleh Yiwen, apa dia adalah Feng yin atau Chengyi. Karena yang paling dekat dengan hatinya dulu adalah mereka. Sosok yang juga pernah singgah di hatinya. Tapi kenapa mereka tahu jika Yiwen menikah denganku di sini, dan apa motif di balik itu. Apa mereka Kan merencanakan suatu hal, gumam Lian yin dalam hatinya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Yiwen menatap Lian yin yang terus melamun saat mendengar ucapan dari Yiwen tadi.
"Udah biarkan saja yang mengikuti kita, aku tidak akan membiarkan mereka menganggumu dan pernikahan kita juga sudah berjalan dengan mulus" ucap Lian yin. Ia segera meletakkan yiwen di kursi depan mobilnya.
Kali ini ia tak menyawa sopir untuk menuju ke suatu tempat. Karena dia tak mau ambil resiko. Dia lebih memilih untuk menyetir mobilnya sendiri agar saat bahaya dia bisa mengendalikan sendiri mobilnya.
Lian yin dengan sigap memakaikan sabuk pengaman di tubuh Yiwen.
Ia segera menjalankan mobilnya pergi menjauh dari gedung itu. Pandangan Yiwen masih tertuju pada spion mobil yang menembus ke seseorang yang terus menatapnya di belakang dengan wajah nampak sangat sedih. Seperti tak rela untuk kehilangannya.
"Siapa dia?. Kenapa dia terus melihatku" gumam Yiwen dalam hatinya.
Yiwen manoleh ke belakang, ia sudah tidak ada di pandangannya. "Sepertinya dia sudah pergi" ucap Yiwen.
"Siapa yang kamu lihat"tanya Lian yin, yang semakin khawatir dengan Yiwen.
"Gak tahu, dia terus menatapku tadi. Wajahnya menunjukan kesedihan. Tapi sepertinya dia bukan oranga jahat" ucap Yiwen.
__ADS_1
Lian yin terus bertanya-tanya dalam hatinya siapa yang di maksud oleh Yiwen itu. Rasa curiga ragu dan khawatir campur aduk jadi satu. Lian yin segera mengemudi dengan kecepatan tinggi. Ia tak mau lelaki itu terus mengikutinya dan Yiwen nantinya.