
Perjalanan yang memakan waktu hampir 4 jam, mereka lalui bersama, bercanda, tertawa bersama ngobrol tentang hal-al seru. Bahkan hingga Yiwen mulai tertidur lagi di kursinya.
"Makasih syang"ucap Lian yin mengucap kepala Yiwen. Lian yin berhenti tepat di depan rumah Chengyi, ia menatap Yiwen masih tertidur pulas di sampingnya.
"Yiwen"panggil Lian yin mengusap lembut rambut Yiwen.
"Emmm..."Gumam Yiwen yang masih menutup matanya.
"Syang bangun, udah sampai di rumah Luhan"ucap Aron mencoba memanggil yiwen lagi.
"Iya sebentar" ucap Yiwen, menarik ke dua tangannya ke atas, merenggangkan ototnya yang terasa kaku sehabis bangun tidur.
"Sudah sampai Yin?" tanya Yiwen perlahan membuka matanya.
"Sudah syang, ayo bangun dulu. Nanti aku akan carikan hotel di dekat sini. Sepertinya kamu seeing tertidur akhir-akhir ini." tanya Lian yin.
"Iya, gak tahu aku sering ngantuk sekarang. Habis makan selalu ngantuk." ucap Yiwen.
"Ya, sudah mungkin kamu kecapek-an. Habis ini kita cari hotel di sekitar sini. Sementara kita tinggal di kota ini. Sampai luhan mau kerja sama dengan kita. Tapi sepertinya musuh juga akan datang kesini. Jadi kita harus lebih hati-hati dalam bertindak. Dan kita juga haru berjaga, jika musuh akapn saja akan menghampori kita."ucap Lian yin.
"Iya syang"ucap Yiwen yang mulai mengusap matanya, yang masih sangat lengket.
Melihat wajah Yiwen yang lucu saat bangun tidur, ia langsung mengecup kening Yiwen lembut. Dan beranjak turun dari mobilnya.
"Lian Yin" ucap Yiwen yang terkejut dengan kecupan tiba-tiba dari Lian yin.
"Ayo turun"Lian yin sudah membuka pintu mobil khusus untuk Yiwen, bak seorang putri yang turun dari kereta kencana.
"Iya, makasih ya syang"ucap Yiwen lembut
"Apa coba katakan lagi"ucap Lian yin, yang mendengarkan ucapan syang dari yiwen. Hatinya seakan langsung meponcat gembira.
"Gak mau"gumam Yiwen memalingkan kepalanya ke kanan. Hingga rambut panjangnya mengibas ke arah wajah lian yin.
Harusnya rambut lurus panjang milik yiwen menusuk ke penciumannya. Lian yin menyentuh helaian rambut Yiwen menciumnya dari ujung hingga ke atas. Tepat mendarat di pipi kiri Yiwen. Yang terlihat ngambek.
"Lian yin, ini di luar nanti banyak orang yang lihat"ucap kesal Yiwen.
__ADS_1
"Habisnya kamu tiba-tiba ngambek sih, padahal kan aku hanya tanya syang tadi"ucap Lian yin.
"Udah ayo masuk" Ucap Yiwen.
Belum sempat melangkahkan kakinya, seorang pejaga datang menghampiri yiwen dan lian yin dengan berbagai macam senjata yang di gunakan.
"Siapa kalian?" tanya salah satu penjaga yang sudah menodongkan senjata ke arah mereka.
"Bilang pada tuan kalian Chengyi, Yiwen dan lian yin ingin bertemu." ucap Lian yin pada para pejaga.
"Baiklah, kalian tunggu di sini jangan kemana-mana atau peluru ini akan menembus ke tubuhmu"gumam salah satu pejaga.
"Okee.. Tanang saja kita tidak akan kabur."ucap Yiwen dengan santainya, tanpa rasa takut dengan todongan senjata dari para pengawal yang mengelilinginya.
Salah satu pejaga segera menghubungi Chengyi, dengan sebuah chip komunikasi yang si pasang di hansat pembawa. Alat itu hanya di kota Chengyi. Karena ia yang produksi itu sendiri untuk kotanya.
Pejaga itu memegang telinganya, seolah berbicara sesuatu, namun Lian yin tak bisa mendengarnya. Jarak pengawal itu hampir 10 langkah darinya. Dan pembicaraannya juga sangat lirih. Namun Yiwen memasang pendengaran sangat tajamnya. Ia mendengar smaar apa yang mereka bicarakan.
"Tuan, ada Lian yin dan yiwen yang ingin bertemu dengan anda"ucap penjaga itu.
"Biarkan dia masuk"ucap Chengyi.
"Kalian cepat masuk, sebelum kita berubah pikiran"ucap penjaga itu sinis.
Lian yin tersenyum tipis, memegang tangan Yiwen untuk masuk ke dalam. Mereka berjalan beriringan di ikuti para pengawal yang terus menodongkan sejata ke arahnya. Yiwen dan Lian yin tak ragu dan takut akan todongan senjata itu padanya.
"Masuk ke dalam"ucap penjaga.
"Lian yin membuka pintunya perlahan, ia melihat Luhan duduk di sana dengan seorang wanita yang membuat Yiwen merasa samar-samar ingat dengannya.
Luhan beranjak berdiri menghampiri Lian Yin, dan memeluknya seolah mereka sangat akrab. "Selamat datang lagi di rumahku"ucap Luhan dengan senyum terpaksa di bibirnya.
Luhan sekilas memandang Yiwen yang ia tahu sekarang sudah menjadi milik Lian yin. Tapi dia terlihat dari matanya masih ingin memiliki Yiwen seutuhnya.
"Ternyata kamu berani juga masuk ke dalam rumah aku, setelah apa yang kamu lakukan dulu"ucap Chengyi dengan mata memandang tak suka pada lian yin.
"Apa yang aku lakukan dulu itu belum seberapa, mungkin kedepannya akan ada bahaya lagi yang akan mengancam nyawamu"ucap Lian yin dengan nada seakan kengancam Chengyi.
__ADS_1
"Kamu berani mengancamku di kediamanku sendiri. Sungguh luar biasa anda, menantang aku di rumah aku yang di prnuhi dengan senajata rahasia." gumam Chengyi tersenyum tipis mendengar ucapan Lian yin yang seakan setor nyawa sendiri padanya. "Apa kamu sudah bosan hidup datang sendiri kesini tanpa ada pengawalan dari ke dua anak buahmu itu"ucap Chengyi.
"Jangan marah begitu, aku hanya bercanda pada tuan Chengyi. Kedatanganku kesini bukan untuk masalah itu."ucap Lian yin duduk di sofa sebelum Chengyi, mempersilahkan dia duduk lebih dulu.
Ia duduk santai sekana seperti di rumah sendiri. "Dari pada kuta bahas masa lalu itu, lebih baik kita bahas rencana masa depan"ucap Lian yin.
"Jangan macam-macam denganku, maksud kamu apa"ucap Chengyi dengan nada mengancam.
"Tenang saja, aku tidak akan mengacaukan acara kamu lagi. Sekarang aku hanya ingin kita ngobrol berdua. Biar Yiwen dan wanita itu keluar dari tempat ini"ucap Lian yin.
"Baiklah, tapi ingat jika kamu berani berbuwat onar di rumahku. Selamanya kamu gak akan kembali ke kotamu." ancam Chengyi
Lian yin hanya tersenyum. "Kamu pergilah! ajak Yiwen jalan-jalan di luar" ucap Chengyi pada wanita di dalam ruangannya itu.
"Baiklah"
"Ayo Yiwen kita keluar"ucap wanita itu, dengan senyum palsunya. Yiwen tahu siapa dia, namun ia hanya diam. dan ini kesempatan juga baginya untuk berbicara dengan Yhing Yin. Wanita yang pernah kengancamnya. Dan sekalian ia bisa melihat gimana ciri-ciri yang sempat ia tuduhkan pada Mei kemarin.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yiwen menatap dengan sentum tipis di bibirnya.
"Ini adalah tempatku, kamu tidak akan bisa memberi tahu Chengyi, aku yakin dia pasti akan percaya denganku. Dan menolak.semua ajakanmu"ucap Yhing yin.
"Dan jangan coba-coba macam-macam denganku, Jika kamu berani macam-macam kamu akan tahu akibatnya. Entah apa yang akan terjadi padanya nanti. Dan semua akna berjalan dengan sempurna sesuai rencanaku. "Ucap Yhing yhi penuh percaya diri.
"Maksud kamu apa?" tanya Yiwen.
"Jika Lian yin jadi milikku, kamu akan di usir dari kehidupannya"ancam Yhing yin.
"Coba saja kalau bisa, aku akan mecegahnya. Aku tahu kamu sangat licik tapi. Aku bisa berbuwat licik lebih dari kamu. Apa kamu gak tahu apa maskud kedatanganku kemari."tanya Yiwen penuh percaya diri.
"Kamu ingin melakukan kerja sama dengan Chengyi kan? aku sudah tahu semuanya. Dan Chengyi pasti menolaknya mentah-mentah."ucap Yhing yin.
"Kita Lihat saja nantinya siapa yang memang, ku hanya bisa diam menatap krkalahanmu annti. Selamat menikmati kekalahan. Tapi Oops. aku gak bolrh bilang gitu pertempuran itak baru saja di mulai"ucap Yiwen, mendekatkan wajahnya ke wajah Yhing yin.
"Sialan"umpat kesal Yhing yin.
"Selamat memikirkan rencana lebih bagus lagi, aku juga sudah menyiapkan rencana yang kebuh manjur dari pada kamu"ucap Yiwen beranjak pergi tanpa di temani yhing yin.
__ADS_1
"Awas kamu"ancam Yhing yin. "Aku tidak akan membiarkan kamu lolos begitu saja"ucap Yhing yin. Ia tidak mau kalah dari Yiwen berkali kali ini.