
Cklekkk...
Suara pintu terbuka membuat Yiwen terjingkat dari ranjangnya, ia duduk bersandar di kepala ranjangnya, dengan selimut tebal yang menutup tubuhnya.
"Kamu?" ucap Yiwen, menaikkan ke dua kelopak matanya, pupil matanya perlahan membesar melihat jelas wajah seorang laki-laki yang ia kenal baru saja bertemu dengannya tadi di pesta.
"Aku sudah janji padamu, kalau aku akan datang lagi?" gumam Yin, menutup pintunya rapat.
"Apa yang ingin kamu lajuakn, cepat pergi atau aku akan lawan kamu"
"Coba saja kalau kamu mau malawan, dalam keadaan seperti itu kamu bisa lawan aku?" ucap Yiwen tersenyum tipis, melangkahkan kakinya perlahan mendekati Yiwrn, naik ke atas ranjangnya.
"Aku bilang jangan mendekat!!" ucap Yiwen, menarik tubuhnya ke belakang, mencoba menghindari Yin hang terus mendekatinya.
Lian yin menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Yiwen, sontak gadis itu menutupi tubuhnya dengan ke dua tangannya sebisa mungkin. "Pergi, atau aku akan teriak sekarang!!"
"Aku sudah bilang aku akan datang, bagi aku itu adalah sebuah janji" gumam Yin, mengecup bibir Yiwen lembut, wanita itu perlahan terbius dalam kecupan laki-laki yang itu.
Yin menarik selimut menutupi tubuh mereka, dan mulai bermain panas, gadis itu seakan sangat senang berhubungan dengan Yin, meski ia tidak kenal dengan alki-laki itu tapi dia merasa sangat akrab lama dengannya, bahkan hubungan ini sepertinya bukan hubungan pertamanya dengannya.
"Yin!!" ucap Yiwen, mencengkeram punggung Yin, memeluk tubuhnya, sembari menikmati permainan Yin yang semakin membius wajah cantik Yiwen.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Lebih baik sekarang kamu pergi" bisik Yiwen, sembari menikmati permainan Yin.
"Aku kangen kamu, syang!! Aku ingin kamu temani aku lagi, dan suatu saat aku akan merebut kamu dari orang yang paling membuat aku muak, yaitu suami kamu sekarang!!" jawab Yin, menarik bibirnya tipis.
Malam yang bergairah, mereka melakukan berbagai gaya, dan akhirnya Yiwen yang sudah lelah, berbaring di atas ranjangnya, dengan tubuh yang berbaring lemas, di balut selimut tebal menutupi tubuhnya.
Yin mengecup kening Yiwen lembut, "Aku akan datang lagi, kali ini aku tidak akan gegabah. Aku akan menjaga kamu mulai besok aku akan cari cara agar bisa dekat dengan kamu," Yin tersenyum lebar, beranjak berdiri. Ia mulai memakai bajunya, dan segera keluar lewat pintu kamarnya, yang kebetulan tidak ada orang sama sekali yang melihatnya, dan Reysa dengan Brayen sudah membantunya untuk mematikan sistem keamanan di sana serta cctv. Agar gerak-geriknya nanti tidak ketahuan oleh Jack..
"Maaf! Aku harus pergi sekarang. Ada hal yang harus aku lakukan!!" Yin berlari pergi, ia tak sengaja menabrak Jack yang sedang berjalan dengan Mei membawa satu gelas minuman di tangannya kanannya. Minuman itu seketika tumpah ke dada Jack, membuat alki-laki itu kesal.
"Kamu tahu jalan, kan? Kalau jalan pakai mata," umpat kesal Jack.
Yin menarik bibirnya. "Sejak kapan jalan pakai mata, oo.. Atau jangan-jangan kamu kalau jalan pakai mata, ya. Gak pakai kaki, hebat juga kamu!!" Yin memberikan aplous pada Jack, membuat laki-ki itu menggertakkan giginya kesal, wajahnya mulai merah padam di buatnya.
"Kamu siapa? Dan kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Jack, mendorong tubuh Yin hingga terpental ke belakang.
"Kamu gak perlu tahu siapa aku, lagian juga kamu juga akan jadi teman aku nantinya!!"
"Ogah!! Jadi teman kamu, ingat pe4gi dari sini atau aku usir kamu, aku ceburkan sekalian ke dalam laut!!" ancam Jack tak main-main kali ini, ke dua matanya mulai memancarkan api kemarahan yang mengobar-ngobar.
"Lakukan bila kamu bisa!!" ucap yin tanpa rasa takut terbesit dalam itaknya.
"Kamu cepat pergi atau aku panghilankan pengawalju!!" ancamnya untuk yang ke dua kalinya.
"Yin, kamu di sini!! Ayo kita pergi!!" Brayen menepuk bahu Yin, membuat Jack seketika mengernyitkan matanya, melihat sosok familiar di dalam ingatannya.
"Siapa kamu?" tanya Jack.
"Kamu lupa aku siapa? Aku adalah orang yang kamu buang dulu, setelah ketahuan aku yang membunuh Lian Yin dan kamu juga yang memanfaatkan keadaan yang ada, Bukan!!"
Jack melangkahkan kakinya mendekat, an berbisik. "Jangan bicara terlalu keras di sini, jika kamu ada masalah denganku. Maka segera kamu masuk ke dalam ruanganku, ku akan bicara dengan kalian secara pribadi.
"Baiklah!! tapi sepertinya lain kali saja, aku masih banyak urusan, dan makasih selama ini sudah di berikan tempat tinggal!!" Brayen dan Yin tersenyum tipis sebagai tanpa perpisahan dengannya, dan beranjak pergi meninggalkan Jack dan wanita yang entah sedang apa mereka.
-----
"Apa yang kamu lakukan selanjutnya?" tanya Brayen.
"Aku akan balas dia, kita harus lakukan kerja sama dengan perusahaannya. Dan perlahan buat perusahaan dia jadi terpuruk." rencana licik Yin di sambut hangat oleh Brayen.
"Kalian kenapa lama di dalam, waktu kita sudah habis. Bahkan kita yang di tugaskan hanya setengah jam jadi 3 jam di dalam kapal!!" ucap cerewet Reysa tak hentinya.
__ADS_1
"Jangan bicara terus bawel. Lagian sekali-sekali bantah perintah kak Chen, lagian dia juga adiknya gak mungkin kak Chen marah dnegan Yin!!" Brayen mengusap ujung kepala Reysa membuat rambutnya terlihat sangat berantakan.
"Tapi...."
"Udah ayo pergi!!" ucap Brayen menarik tangan R3ya untuk segera turun menuju ne kapalnya sendiri, kapal kakanya yang hiasa dia gunakan saat dia ingin melakukan hal romantis dengan iatrinya di tengaj laut berdua di atas kapal.
"Apa aku boleh bawa kapal ini sendiri?" tanya Yin, meliaht seisi kapak yang tidak terlalu besar dan kevil itu, mungkin cukup untuk bersenang-senang orang 5 sampai 10 saja.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Brayen.
"Yang jelas melakukan malam romantis dengan mantan istrinya!!" saut Reys mengusap wajah Brayen yang baginya sangat nyebelin.
"Kenapa kamu yanf sewot, sih!!" sambung Brayen.
"Kamu terlalu banyak tanya, makanya jadi laki-laki yang romantis, biar kamu juga oaham, gimana cara membaur hati wanita itu luluh!!" sindir Reysa melirik sekilas ke arah Brayen, lalu kembali menatap lautan di depannya.
"Aku akan romantis jika sudah waktunya!!" jawab jutek Brayen.
"Sudah kalian berdua sana bercanda bersama. Aku mau istirahat, lagian sekarang sudah waktunya untuk istirahat, syang.." gumam Yin, yang mulai membaringkan tubyhnya di atas sofa, ia mengibgat kembali bertemu dengan Yiwen dulu tak senagaj dan kini bertemu algi tak senagaj menabraknya. Tuhan.. Memang selalu membaut semua jadi mudah. Aku sekarang tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi. Lebih baik cepat selesaikan dan ambil Yiwen. Aku khawatir denganya, jika dia terus di sana.
-------
Di Rumah Lian yin.
Pertempuran antar anggota tak di kenal semakin merajalela , hanya karena merebutkan sebuah harta karun, mereka rela saling membunuh satu sama lain.
Brakkk...
"Lay! Kamu sudah siap?" tanya Tao, mendobrak pintu kamar Lay, yang dari tadi dia masih berdiam diri di kamarnya, entah apa yang dia lakukan, membuatnya merasa sangat kesal.
"Tenang saja, semua sudah siap. Jebakan akan berhasil. Jadi kita tidak akan melawan orang yang segitu banyaknya." ucap Lyli yang kebetulan masih memperbaiki sistem keamanan.
"Kita harus bertindak cepat, lebih baik!" jawab Tao.
"Cepat kalian keluar!!" bentak Tao yang sudah mulai kesal.
"Lyli kamu di sini, aku akan lawan mereka semuanya!!"
Lay berlari keluar, menarik tangan Tao mengikutinya. pertempuran tak terhindarkan hanya dua orang laki-laki dan para pengawal Lian yin dengan ratusan orang yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya.
Tao memukul, menendang dan menjatuhkan orang yang ada di depannya, menghalangi jalannya dan akan langsung melemparnya ke tempat lain, membuat semua yang ada di rumah berantakan.
"Kita bertemu lagi, Lay!!" ucap seorang laki-laki yang membuat Lay terkejut, ia menoleh ke belakang, mencoba menendangnya, dengan sigap laki-aki itu menangkis tendangan kaki Lay. Lay menarik bibirnya tipis, memutar tubuhnya agar bisa melepaskan kakinya, Ia melemparkan tubuhnya ke bwaha, menarik ke dua kaki musuh, hingga jatuh ke lantai.
"Kamu masih ingat aku ternyata? Aku sungguh beruntung semua orang seperti kamu selalu mengingat orang yang akan membunuhmu." ucap Lay penuh percaya dirinya.
"Jangan banyak bicara!! Jika kamu tidak mau kalah!!" sindir Lay.
Sialan!!" laki-ki itu memukulkan tangannya di lantai, melompat berdiri, langsung menghujani beberapa pukulan dan tendangan ke arah lay, dengan tengannya Lay menangkis semua pukulan dan tenadangan, saat lawan mulai lengah dengan kelemahannya, dia menendang perutnya bertubi-tubi membuat dia terkapar.
"Apa yang kamu lakukan, dasar bodoh!!" ucap tao pada laki-laki yang baru saja kalah melawan Tao.
"Kamu kenal dengannya?" tanya Lay menatap tajam ke arah Tao.
Dan Tao hanya diam, ia menarik kerah laki-aki itu, pergi keluar dari rumah Lian yin, tanpa menjawab pertanyaan Lay padanya.
Brakkkk!!
Tao membenturkan tubuh laki-laki itu ke depan pintu rumah berwarna putih klasik itu.
"Siapa yang memerintahmu srkarang?" tanya Tao menguntupkan bibirnya, amarahnya semakin mengobar saat anak buahnya berani melawannya kali ini.
Laki-laki itu menarik bibirnya tipis, dan menepis tangan Tao dari ke arahnya. "Bukanya kamu yang menyuruhku,"
__ADS_1
Amarah tao semakin memuncak, dia mencengkeram lagi kerah laki-laki di depannya itu, dan Brakk...
Membenturkan ke pintu berkali-kali. "Kamu jawab atau tidak, karena aku tidak pernah menyuruh kamu seperti ini. Kalian semua anggota intelijen dan perbuatan kalian sangat bodoh. Kalian bekerja untuk negara, bukan untuk para mafia, bodoh!!" umpat kesal Tao.
"Terus! Kenapa kamu juga bekerja untuk para Mafia."
"Aku bekerja untuk negara, karena ini menyangkut kepentingan negara, menjaga harta karun yang akan jadi milik negara."
"Munafik!! Bilang saja kalau kamu juga menginginkannya?"
"Apa yang menyuruh kamu Luhan?" tanya Tao selalu lagi, dengan nada yang mulai merendah, ia mencoba untuk mengendalikan emosinya yang semakin memuncak di buatnya.
"Bukanya kamu juga bekerja dengannya?"
"Aku dan dia adalah temanku, meski aku bekerja dengannya. Tapi aku tidak seperti kamu yang memanfaatkan keadaan yang ada, kamu mengumpulkan semua masa anggota intelijen lainya agar membangun kamu melancarkan aksimu."
Dorrr.....
Suara tembakan sangat keras membuat Tao terkejut, dia menoleh ke brlakang, menuju sumber suara dan mencoba mendeteksi tembakan apa yang di gunakan dia.
"Snipper?" gumam Tao.
"Ada apa?" tanya Lay, hang berlari keluar saat mendengar suara tembakan.
"Apa di sini ada yang pandai menggunakan snipper?" tanya Tao. Dan hanya di jawab dengan menggelengkan kepalanya. "Yang jago snipper hanya Yiwen, dan kalau dia tidak mungkin. Coba kamu lihat jenis senjata apa yang di gunakan. Kali seri 008 maka itu hanya senipper rendahan yang bisa di lakukan orang-orang-orang biasa pengawal kita." jelas Lay.
"Tapi siapa yang menyuruh dia menbunuhnya?" tanya Tao meninggikan suaranya.
"Aku gak perintah siapapun, kecuali satu orang!!" gumam Lay, menatap ke depan.
"Aku yang membunuhnya?" ucap Luhan, membuat semuanya terdiam.
"Tao ikut aku!!" ucap Luhan pada Tao.
"Aku tidak bisa, masih ada misi yang harus aku selesaikan."
"Kamu bisa menyelesaikannya nanti!!"
"Kalau kamu bawa Tao, maka kembalikan Grace. Jangan suka menuruti egomu sendiri!!"
"Lay!!" panggil seorang wanita dengan suara khas lembutnya. Seketika Lay menoleh ke sumber suara. "Di mana Changmin, aku ingin bertemu dengannya?"
"Dia tidak ada du sini, dia pergi cari kamu. Sekarang lebih baik kamu cari dia, tapi sendiri jangan dengan Luhan!!"
"Tapi luhan adalah orang yang sangat berharga bagi Changmin!!" gumam Grace dalam.hatinya, selama dalam perjalanan Luhan menceritakan masa lalunya, dia bahkan memberi tahu kisah adiknya yang holang, selama ini tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Luhan. Dan semua terjawab saat dia mulai mengeluarkan isi hatinya pada Grace calon istri dan wanita yang sangat dia percaya sekarang, entah sejak kapan dia mulai membuka hatinya untuk wanita lain, setelah putus dengan Yiwen.
Dan saat menceritakan kisah adiknya, Grace langsung teringat tentang Changmin, kisahnya sangat sama dengan apa yang di bicarakan Luhan, seketika Grace langsung menyimpulkan jika mereka adalah saudara kandung.
"Dia pergi kemana?" tanya Grace pada Lay.
"Entahlah!! Sepertinya dia pergi ke suatu tempat di mana kalian pernah bertemu atau tempat kalian berdua berpisah!!" jawab Lay kesal, ia beranjak masuk ke dalam rumah, tanpa perdulikan mereka yang masih berdiri di depan pintu rumahnya, Dan Lay menutup rapat pintu itu.
"Kalian cepat pergi!! Cari Changkin, dan kalian harus melindunginya. Aku yakin jika banyak orang yang akan mengincarnya juga nantinya!!" gumam Lay di balik pintu rumahnya, dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar Lyli, tanpa mendengarkan jawaban dari Grace dan yang lainya.
"Di mana dia?" tanya Luhan.
"Lebih baik kita pergi cari dia!!"
"Iya, sekarang Changmin memang tidak ada di sini, dan dia mencari kamu, Grace."
Kenapa dia masih mencariku? Apa dia ingin kita bersama lagi seperti dulu? Atau hanya melakukan tugasnya saja.
"Sudah sekarang kuta pergi!!" Grace menarik tangan Tao dan Luhan membawanya segera pergi masuk ke dalam.mobilnya, untuk melanjutkan perjalanannya lagi mencari Changmin.
__ADS_1