
Yiwen yang tertidur, tidak merasa ada seorangg yang mencurigakan dan tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya diam-diam. Ia masih tertidur pulas di ranjangnya, memiringkan tubuhnya ke kanan. Dengen merengkuh erat bantal di sampingnya.
Suara langkah yang sangat pelan, seorang tiba-tiba masuk dengan baju serba hitam, dan mulut tertutup kain hitam. Ia seakan sengaja mengincar Yiwen kali ini, saat yiwen merasa capek dan lengah.
"Kamu harus ikut aku"ucap orang itu, mencoba meraih tangan Yiwen untuk di ikat.
Merasa ada yang janggal, Yiwen langsung membuka matanya, ia menendang Orang itu hingga menjauh terpental darinya. "Siapa kamu?" tanya Yiwen, beranjak dari ranjangnya.
"Apa kamu gak mau ketangkap aku di sini, dana akn menyerahkan kamu ke polisi, ini tempatku. Berani sekali kamu masuk ke sini. Dan ada urusan apa sampai kamu mau mengincarku."ucap Yiwen, dengan senyum sinis, tanpa rasa takut di eajahnya. Kini Yiwen lebih berani sari yang Lian yin duga. Meski Lian yin sekarang tidak ada di dalam. Tapi Yiwen bisa mengatasinya sendiri.
"Gimana bisa kamu bangun, bukannya kamu sudah tidur" ucap orang itu.
Yiwen tersenyum, ia berjalan ringan kenuju ke arah orang itu.
"Aku memang sudah tidur, tapi jika ada orang lain yang menyentuhku, aku bisa merasakannya. Selamat tinggal saja buat kamu. Aku akan memangkap kamu sekarang tanpa ampun"ucap Yiwen, mencoba meraih penutup mulut orang itu, dengan kecepatan tangannya, namun terus di tepis dengan mudah olehnya.
"Ternyata orang ini kuat juga, Kau harus hati-hati sekarang"gumam Yiwen.
Yiwen tidak menyerah, ia melawan orang utuk mengeluarkan semua kemapuan bela dirinya. mencoba membuka penutup yang dia gunakan, namun dia berhasil melukai lehernya, dan belum bisa meraih penutup itu. "Ternyata kamu hebat juga"ucap Yiwen, dengan senyum semringainya lagi.
"Emang dari dulu aku sudah hebat, dan aku ingin menantangmu di kejuaraan bela diri yang akan di selenggarakan di kota Timur, besok datanglah jika kamu ingin menang. Dan Kalau kamu mau melihatku"ucap Orang itu, memberikan kertas formulir dan sebuah lencana seakan seperti kunci masuk ke negara Timur.
Orang itu segera pergi dengan langkah kaki sangat cepat, ia mendorong tubuh Yiwen hingga terpental menjauh darinya.
__ADS_1
"Sialan!! siapa sebenarnya dia. Orang timur. Apa ada masalah lagi dengan orang timur"ucap Yiwen menatap formulir itu. Baginya itu tidak terlalu penting. Tapi ia ingin memanyakan hal itu pada Lian yin lebih dulu. Ia ingin meminta pendapat Lian yin, karena dia sekarang adalah suaminya.
Yiwen beranjak duduk di ranjang, ia berpikir apa yang harus ia lakukan lagi sekarang. Masalah baru terus muncul, apa mungkin ini karena kepintaran yang ia miliki. Atau hanya ingin cari masalah dengannya. Berbagai pertanyaan terus muncul dalam otaknya. Membuat Yiwen merasa sangat penat.
Ia memegang kepalanya, yang terasa sangat pusing.
"Yiwen, ada apa?" tanya Lian yin, yang baru saja masuk ke kamar. Tanpa sepengetahuan Yiwen.
"Lian yin?"gumam Yiwen, mengangkat kepalanya menatap Lian yin berjalan mendekatinya.
"Ada apa? Apa kamu sakit?" tanya Lian yin, duduk di samping Yiwen.
"Enggak, tadi ada orang yang masuk ke sini"ucap Yiwen lirih.
"Apa? Siapa yang berani masuk ke kamar kita? Tapi kamu gak apa-apa kan? Gak ada yang terluka kan?"ucap Lian yin, memengang tangan Yiwen, mencoba mengecek kondisi Yiwen.
"Ini kamu dapat dari dia?" tanya lian yin, menatap aneh pada Yiwen.
"Iya, dia hampis saja membawaku paksa saat aku tertidur tadi, dan hampis saja, namum aku bisa melawannya tapi aku gak bisa mencopot penutup mulutnya. Jadi aku gak tahu dia siapa? Ia hanya bilang aku suruh datang ke negara Timur. Aku bingung apa maksudnya, apa kamu juga ada musuh di sana?" tanya Yiwen, menatap ke arah Lian yin.
"Musuh? Negara Timur? Aku gak ada sama sekali musuh di sana? Tapi kenapa mereka membuat masalah denganku? Sepertinya ada yang tidak beres, tadi Lay juga bilang jika dia datang kesini ada orang yang mengikutinya. Tapi dia juga tidak tahu orang itu siapa. Apa mungkin orang sama dengan yang kamu temui tadi. Sepertinya ini ada urusan denganku juga"gumam Lian yin, dengan wajah nampak berpikir tentang masalah baru yang ia dapatkan.
"Maksud kamu? Jadi Lay tadi juga di ikuti olehnya? Dan kenapa Lay gak menyelidiki detail siapa dirinya. Dan apa motif dia menyerang kita. Bukannya kita gak ada urusan sama sekali dengannya? Aku merasa aneh, tapi yang di serang aku, dan Lay juga di ikuti. Dan kenapa dia gak menyerang kamu?"tanya Yiwen, ia semakin penasaran dengan teka-teki ini.
__ADS_1
"Apa kamu tahu siapa di balik semua ini?" lanjut Yiwen.
"Aku gak tahu, tapi bentar. Aku merasa ada yang janggal. Aku gak tahu pasti siapa yang memimpin mereka. Tapi aku pernah tahu jika dia mempunyai anak perempuan satu-satunya uang paling cantik di sana. Dan mereka sangat menyangi anak perempuan itu apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan anaknya itu"gumam Lian yin, mencoba mengingat ingat kembali.
"Anak perempuan? Berapa umurnya?Apa seusiaku juga?"tanya Yiwen.
"Sepertinya, aku juga kurang paham."jawab Lian yin.
"Sepertinya aku tahu sekarang, tapi aku belum bisa memastikan. Karena musuh kita tidak hanya satu dan dua negara. Tapi banyak. Dan kita harus selesaikan satu dulu. Baru kita urus yang lainnya."
"Baiklah, aku sudah punya rencana lain untuk mengurus Lee. Dia sekarang sudah ada di selatan. Dan dia masih dalam perawatan jalan. Dan tidak mungkin dia menyerang secara tiba-tiba ke arah kita. Kalau kita menyerang duluan juga gak mungkin, Dia masih lemah, kita jangan menyerang orang yang lemah. Biarkan dia sampai sembuh dulu."ucap lian yin, yang mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang, terlalu banyak pikiran yang mengganggunya membuat kepalanya juga terasa sangat penat.
"Baiklah, tidak baik menyetang orang yang lemah, tapi aku mau beri tahu kamu. Jika kita di undang ke Timur, dan dia menyuruhku dalam pertandingan bela diri yang di adakan di sana"gumam Yiwen, menyandarkan tubuhnya di samping Lian yin.
"Apa kamu bilang? Jadi kamu menerima tawaran mereka? Kapan pertandingan itu di mulai?"tanya Lian yin, membalikkan badanya, menatap ke arah Yiwen di sampingnya.
"Besok pertandingannya, dan aku di suruh datang ke sana, jika aku ingin tahu siapa dalang di balik semuanya. Dan kamu juga harus ikut. Kita sama-sama ke sana"ucap Yiwen, menatap ke arah Lian yin.
"Baiklah, aku akan kirim pesan pada Lay, gar dia menyeiapkan semua kebutuhan kita nantinya. Tapi ingat jangan pernah berpikir kamu akan pergi sendiri ke sana. Itu pikiran yang bodoh. Kamu harus pergi denganku dan Lay. Sekarang kita tidur, besok kamu harus bangun pagi. Dan jangan lupa bangunkan aku ya"ucap Lian yin, dengan senyum tipisnya, menyentuh dagu manis Yiwen.
"Kalau aku gak mau gimana?"ucap Yiwen.
"Harus kamu, kamu kan istriku, jadi suaminya belum bangun juga harus di bangunkan. Kamu tega mau ninggalin aku sendiri"ucap Lian yin, menyentuh lembut pipi Yiwen.
__ADS_1
"Iya, sekarang aku mau tidur dulu, capek tubuhku terlalu banyak gerak. Kamu segera hubungi Lay, tapi jangan pergi dari sini. Kamu bisa telefon dia atau hanya mengirim pesan padanya."gumam yiwen, yang mulai berbaring, menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya.
"Baiklah, Aku akan kirim pesan"ucap Lian yin, meraih ponselnya. Dan segera menghubungi Lay, jemarinya sangat lihai mengetik pesan dan langsung mengirimkan pada Lay.