
Keesokan harinya, Lyli bangun lebih pagi bersama Grace, ia beranjak menuju kamar mandi. Takutnya Lay menunggunya lama nanti, ia bergegas mandi lebih dulu, dan bersiap untuk melakukan tugas dengan Lay.
"Lyli, kamu kenapa buru-buru?" tanya Grace, yang bingung melihat Lyli mondar-mandir di dalam kamarnya, seakan ia bingung apa yang harus dia lakukan.
"Aku lagi ceri sesuatu!" ucap Lyli dengan wajah yang masih bingung.
"Cari apa?" tanya Grace.
"Ponsel aku di mana ya?" tanya Lyli, tanpa menatap wajah Grace, ia sibuk mengobrak-abrik kamar Grace.
Grace hanya tersenyum, menggelengkan kepalanya pelan, "Apa kamu lupa, ponsel kamu ada di sini," ucap Grace.
Lyli menatap ke arah grace, melihat sekitar meja temannya itu, ia melihat ponselnya tepat di samping laptop miliknya.
Lyli menepuk jidadnya, "Oo. Iya, aku lupa." gumam Lyli. Bernajak mendekati Grace, sedikit ia melirik laptop temannya itu yang masih sibuk dari kemarin malam.Seakan tidak berhenti untuk bekerja.
"Gimana Grace, semuanya sudah siap?" tanya Lyli, yang sudah bersiap untuk keluar dari kamar Grace.
"Belum, aku masih belum buka setiap file dari berkas dokumen ayah aku, yang di simpan. Sekarang aku berusaha mau retas komputer Jack. Aku hanya tahu sedikit di rumahnya. Setidaknya bisa jadi petunjuk nantinya." ucap Grace, jemarinya masih sibuk dengan laptopnya.
"Baiklah, aku tinggal dulu ya, kamu gak apa-apa kan. Di sini sama Changmin?" tanya Lyli, yang terlihat mulai tergesa-gesa.
"Iya, pergilah!! Aku gak apa-apa, lagian masih tinggal dikit. Kamu juga ada misi lagi kan?" ucap Grace, menepuk bahu Lyli.
Lyli segera pergi meninggalkan Grace dan Changmin yang masih tertidur pulas di sofa tepat di belakang tubuh Grace.
Changmin seharian menunggu meretas di laptop Grace yang belum selesai. Sekalian ia juga mengerjakan sistem keamanan yang di kerjakan Lyli. Hingga tubuhnya kecapek'an tertidur pulas di meja.
Grace dan Lyli yang membantunya untuk berdiri. Dan membaringkan Changmin, ke sofa.
"Grace.. Kamu jangan pergi, tetaplah di sini temani aku," ucap Changmin, memegang lengan Grace.
Grace yang tertegun.
Apa yang di katakan Changmin, kenapa dia bilang seperti itu, apa benar dia suka dengan aku. atau itu hanya hanyalan dia saja. Tapi bukanya dia tadi tidur, kenapa dia mengungkapkan isi hatinya sekarang.
"Changmin!! Apa yang kamu katakan?" tanya Grace, yang sama sekali tidak ada jawaban dari Changmin. Merasa lama tidak ada jawaban, ia menggerakkan kepalanya, ke kiri, menatap Changmin yang masih tertidur lelap di sofa. "Dia ngigau? Aku kira tadi beneran?" gumam Grace, menggelengkan kepalanya. Mencoba untuk tidak berpikir berlebihan pada Changmin.
Ia menatap sekilas wajah Changmin, yang begitu menggemaskan. grace menusuk wajah Changmin, menusuk-nusuk pipinya. "Sayangnya, aku akan menikah. Jika aku belum di jodohkan, mungkin aku akan mencoba menyukai kamu Changmin, kamu itu baik, perhatian padaku. Dan sangat perduli denganku, laki-laki kecilku." gumam Grace, menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis, menatap wajah menggemaskan Changmin saat tertidur lelap.
"Makasih, kamu sudah memberiku hari-hari indah saat di ini. Aku tahu gimana rasanya berkorban demi orang lain. Kamu yang mengajarkan aku semuanya. Aku menganggumi mu, tapi tidak mencintaimu, jalan pikiran kamu sudah tumbuh lebih dewasa dari pada aku." lanjutnya, menggerakkan kepalanya, ke kanan dan kiri, menatap setiap sudut, ukiran wajah tampan Changmin.
Grace, berusaha melepaskan tangan Changmin dari tangannya. "Sepertinya aku harus buat kopi untuk dia, kasihan dia tertidur sangat pulas, seharian dia sudah membantuku." gumam Grace, beranjak berdiri. Namun cengkraman tangan Changmin semakin erat, membuatnya tak bisa berkutik lagi.
Tok.. Tok.. Tok..
"Siapa?" tanya Grace berjalan menuju ke depan pintu.
"Aku Lyli, aku bawakan kamu dan Changnin kopi," teriak Lyli dari depan pintu.
"Pucuk di cinta!! ternyata keinginan aku terkabul juga" decak Grace, mencoba berdiir. Melepaskan tangan Changmin perlahan, tanpa mengganggu tidurnya nanti. Ia berjalan mendekati pintu, membuka pintunya. Menatap Lyli yang sudah berdiri di depannya, membawakan dua gelas kopi untuk Changmin dan dirinya.
"Maaksih!!" ucap Grace, meraih nampan gelas itu di tangan Lyli.
"Nanti, kita akan bicara berkumpul di ruang kerja. Ada yang ingin di bahas, kamu segera mandi, dan bangunkan Changmin. Lian yin dan Yiwen sudah menunggu kita nanti." ucap Lyli.
"Baiklah, ku juga akan memberi tahunya, dan menyerahkan file itu pada Lian yin. Sebelum aku pergi nanti."
Mendengar kata 'pergi' Lyli mengernyitkan "Memangnya, kamu mau pergi kemana?" tanya Lyli heran.
"Grace, kamu di mana?" teriak Changmin, yang sepertinya sudah mulai terbangun.
Grace, menoleh ke belakang beberapa detik, menatap lagi ke depan.
"Nanti aku akan ceritakan padamu, saat kamu sudah selesai tugas. Changmin sepertinya terbangun." Grace, segera masuk kembali ke kamarnya, dan beranjak mendekati Changmin.
__ADS_1
------
"Sepertinya ada yang di sembunyikan Grace, tapi apa? Tapi jika dia mara-mata gak mungkin, ngapain juga dia bantu kita semua. Lagian dia mata-mata siapa, aku dulu yang mata-mata, sekarang aku sudah mulai sadar. Dan hari ini aku gak mau buat kesalahan lagi. Aku harus cari tahu, apa yang di sembunyikan Grace," gumam Lyli dalam hatinya, ia yang semula masih berdiri di depan pintu. Ia segera melangkahkan kakinya pergi mencari Lay.
-----
"Kamu sudah bangun?" tanya Grace, duduk di samping Changmin yang terlihat sudah duduk di sofa, memegang kepalanya.
"Sudah, aku sekarang mau pergi," ucap Changmin.
"Pergi kemana?" tanya Grace heran.
"Pergi ke kamar mandi, apa kamu mau ikut?" tanya Changmin, mendongakkan kepalanya, menatap Grace di sampingnya.
"Gak!! Udah sekrang buruan ke akamr mandi, aku tunggu kamu di sini!!" gumam Grace, mendirong-diring tubuh Changmin.
"Beneran kamu gak ikut?" tanya Changmin memastikan.
"Changmin!! Jangan jorok, Deh."
"Siapa yang jorok, aku hanya menawarkan kamu. Lagian kamu juga belum mandi. Iya, kan?" goda Changmin, mencolek dagu Gracee, dengan badan mendekat ke arahnya.
"Aku bisa mandi sendiri nanti!!" ucap Grace, memalingkan pandangannya, dengan wajah kesalnya, dan ke dua tangan bersendekap.
Changmin mengerutkan keningnya. "Siapa juga yang mau mandiin kamu!! Aku hanya menawarkan masuk bersamaan, bukan berati aku mandiin kamu. Apa kamu lagi mikirin, itu ya." goda Changmin, membuat Grace, mulai memerah seketika. ia merasa sangat malu.
"Kenapa aku bilang itu tadi, lagian aku tadi bisa kepikiran itu sih.. Ih.. Grace, kamu yang jorok, kenapa pikiran kamu jadi kotor." gumam Grace dalam hatinya, ia mengacak-acak rambutnya.
"Udah, ayo ikut. Kalau memang kamu mau di mandiin!!"
"Heh.. Apa katamu?"
"Karena kamu yang minta, aku akan turuti apa yang kamu minta." ucap Changmin, mengangkat tubuh Grace.
"Changmin, apa yang kamu lakukan. Turunkan aku!!" Grace, nencoba meronta, untuk turun.
"CHANGMIN!!" teriak Grace, mengusap wajahnya, yang di penuhi degan air.
"Sudah mandilah!!" pinta Changmin.
"Kamu pergi, baru aku mau mandi,"
"Kalau aku gak mau gimana?" goda Changmin.
"Kenapa kamu jadi kotor gitu, pikiranmu. Apa perlu aku bersihkan sekarang.
"Sangat senang hati, bersihkan dengan mandi berdua?" ucap Changmin, mendekati Grace, melepaskan bajunya, hingga terlihat tubuh bugar Changmin.
"Cahmgmin, apa kamu sudha gak waras?" tanya Grace, menutup matany seketika, memalingkan pandangannya berlawanan arah.
"Kenapa kamu takut, tenang saja. aku gak akan menggodamu, sekarang mandilah. Lian yin sudah menunggu kita. Aku juga mau mandi di shower, dan tenang gak perlu khawatir, aku mengintip kamu mandi. Aku tidak sejorok itu." jelas Chamgmin, mengusap ujung kepala Grace, mengaca-acak rambutnya.
Grace menelan ludahnya, ia mengira jika Changmin akan bertindak macam-macam dengannya. Ternyata itu tidak seperti ekpentasinya. Dia masih sama, tidak seperti laki-laki lain.
Changmin segera beranjak menutup selambunya, an segera membasuh tubuhnya. Dan Grace, mulai berani membuka bajunya, dan merendamkan tubyhnya, di dalam bathup kamar mandi, yang sudah penuh berisikan air hangat.
"Grace, apa kamu sudah bawa handuk tadi?" tanya Changmin, yang teringat jika dia lupa bawa handuk tadi.
"Ada handuk satu, apa kamu mau pakai?" tanya Grace.
"Terus kamu pakai apa?"
"Kamu bisa keluar dulu, lalu ambilkan aku handuk, sekalian bajuku juga."
"Kalau baju kamu, ku gak berani. Gimana kalau aku ambil dalaman kamu."
__ADS_1
" Eh.. Gak usah, ku ambil sendiri saja." Grace menarik kata-katanya sendiri.
"Baiklah!! Kamu mandi dulu."
-------
Di sisi lain, Lian yin dan Yiwen masih di dalam kamarnya, Yiwen yang baru selesai mandi, ia berjalan keluar dari kamar mandi, hanya nenggunakan handuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Syang!! aku sudah siapkan baju buat kamu!!" ucap Lian yin, yang sudah duduk di ranjangnya.
Yiwen hanya tersenyum, dan beranjak duduk di depan cermin.Mengusap rambutnya yang masih basah, dengan handuk.
Lian yin, menghela napasnya, dan beranjak bangkit dari dudumnya, berjalan mendekati Yiwen, meraih handuk di tangan Yiwen. "Biar aku yang usap rambut kamu syang!!" ucap Lian yin
"Oya, kamu nanti jadi menyiapkan semua berkas kamu syang. Kamu mau membakarnya?" tanya Yiwen, memastikan. Sembari menatap wajahnya di cermin, ia segera memoles wajahnya dengan bedak.
"Iya, aku sudah aku salin semuanya. Jadi tidak perlu khawatir tentang itu. Soal sitem ke amanan berkas aku nanti di laptop. Aku mau minta bantuan ayah kamu. Jika ayah kamu yang memberikan pengaman. Tidak akan ada tang bisa meretas," jawab Lian yin, yang terus mengusap kepala Yiwen manja, sembari menatap.wajah Yiwen di balik bayangan kaca di depannya. Ia tak lupa melihat tubuh Yiwen, yang terlihat jelas, apalagi dadanya yang terlihat semakin menggodanya.
"Baiklah, ak akan coba hubungi ayah aku nantinya." jawab Yiwen, mengambil handuk, di tangan Lian Yin.
"Iya, kita besok ke sana. Sebenarnya aku mau ajak kamu ke rumah kamu nanti. Tapi sekarang ada hal yang perlu di bahas bersama. Sepertinya kita harus menundanya dulu. ucap Kian yin.
"Bahas apa?" tanya Yiwen; membalikkan badannya.
"Nanti, kamu juga akan tahu syang. Sekarang kamu diam saja di sini. Dan pakailah baju kamu. Atau aku yang memakaikan," tawar Lian yin, mengambil baju Yiwen yang sudha ia siapkan.
Melihat gaun di tangan Lian yin, seketika Yiwen mengernyitkan matanya. "Apa kamu gak salah, Yin. Aku kamu sirih pakai gaun itu?" tanya Yiwen memastikan.
"Iya, aku mau kamu tampil beda satu hari saja. Aku ingin melihat kamu tampil cantik seperti wanita biasanya." ucap Lian yin, dengan wajah seakan memohon, berharap jika Yiwen mau memakainya.
Yiwen menghela napasnya, dengan terpaksa ia harus menerima tawaran Kian yin. Dan segera meraih gaunnya. Ia beranjak berdiri.
Dan dengan segera Lian yin, duduk di ranjang.
"Kamu ngaoain?" tanya Yiwen.
"Aku mau melihat kamu pakai baju!!"
"Kamu setiap hari sudah lihat, kenapa.masih mau lihat terus?" tanya Yiwen heran.
"Enggak tahu, ku gak pernah bosan melihat tubuh kamu. Ataupun merasakan tubuh kamu. bahkan melirik body wanita lain saja aku sudah tidak selera." jelas Lian yin, seketika membuat Yiwen tersipu malu.
"kamu jangan bercanda," ucap Yiwen, malu-malu. Lian yin menarik tangan Yiwen, duduk di pangkuannya. Membuka perlahan handuk yang menutupi tubuh istrinya itu.
"Apa aku boleh, membantu kamu pakai gaun itu," ucap Lian yin, menatap kemolekan tubuh istrinya itu, terpampang jelas di depannya. membuat miliknya seketika menegang.
"Yin, apa yang keras di bawahku?" tanya Ywien, begitu polosnya.
"Kamu sudah berkali-kali hubungan dengan aku, sih belum tahu apa. Adik aku sudah ingin syang. Apa.kamu mau?" tanya Lian yin.
"Bukannya kamu sudah di tunggu, yang lainya untuk diskusi bersama. Nanti malam saja, ya, syang." ucap Yiwen, memeluk tubuh Kian yin, menempelkan tubuhnya, membuat Lian yin tak bisa menahannya.
Yiwen melingkarkan tangannya, si leher Lian yin. Dengan tangan lian yin, memegang dadanya. Sedikit menekan, membuat Yiwen mengigit bibir bawahnya, menahan desahan yang ingin keluar.
"Emm.. Lian yin, kenapa.kamu begitu nafsu denganku?" tanya Yiwen, sembari, menikmati permainan Kian yin, yang mulai mengecup sekujur tubuhnya. Mengisap dadanya, emgan jemari tangan memainkan daerah inti Yiwen, gadis itu tak berhenti mengeliat, menikmati.
"Lian yin!! Jangan dulu. Nanti saja!" ucap Yiwen; tak di gubris oleh Yiwen. Lian yin yang sudah tidak sabar, ia segera menjatuhkan tubuh Yiwen di ranangnya. Dan memasukan Lian yin kecil, dengan begitu semangat. Rasa sakit mulai terasa, membuat Yiwen, mencengkeram erat sprei ranjangnya.
Lian yin penuh semangat, menhentak Yiwen, semakin keras. membuat erangan keras keluar dari mulut Yiwen. "Yin, pelan. Yin.." ucap Yiwen, yang sudah terliaht naik turun.
Lian yin, menghentikan sejenak. Mengecup bibir Yiwen, menempelkan tubuhnya. Menikmati lumatan penuh gairah Yiwen.
"Syang, kita lanjut lagi ya, kanu harus tahan. Aku akan semakin cepat sekarang. Kurang sebentar lagi akan keluar," ucap Lian yin beranjak lagi, mengangkat tubuh Yiwen, untuk sedikit membungkuk.
Yiwen hanya diam, menganggukan kepalanya. "Gencatan keras terasa di daerah intinya. Membuat gadis itu seketika berteriak. Dan semburan lahar panas keluar dari tepat di dalam miliknya.
__ADS_1
Mungkin kita bisa menikmati seperti ini tiap hari, selagi bisa. Dan satu hari lagi kita tidak akan bertemu lagi Yin, aku akan menyusup ke daerah lawan. Entah sampai kapan, kita tidak akan bisa bertemu dulu.