Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Kelakuan Queen Jia Li Mou


__ADS_3

Semua keluarga masih berkumpul di ruang tamu mewah milik Chen. Bahkan Chen dan istrinya serta semua bawahannya juga masih duduk di sana. Ruang tamu luas itu bahkan bis menampung hingga tiga pulih keluarga bisa lebih.


"Oya, apa kabar dengan Lie Wei, kenapa dia tidak menghubungi kita sama sekali."


"Mungkin sedang sibuk dengan istrinya. Bukanya dia pengantin batu yang masih hangat-hangatnya," saut Lyli sembari terkekeh kecil.


"Pengantin baru dua tahun," saut Ley tertawa.


"Sudah-sudah jangan ketawa, entar gimana kalau dia datang ke sini, Terus mendengar ucapan kita."


Lian yin menoleh ke arah istri tercintanya itu. "Kalau dia di sini, ku ingin bilang jika suatu kebencian ternyata bisa jadi cinta," Yin meraih dagu Yiwen, menariknya mendekat. "Seperti kita dulu," lanjutnya lirih. Membuat ke dua nata mereka saling tertuju, tatapan mereka terkunci dalam diam. Tanpa perdulikan banyak orang di depannya Bagi pasangan tergolong sudah lumayan lama itu dunia seakan menajdi miliknya berdua. Entah di manapun tempatnya mereka selalu romantis.


"Ehem.. Ehemm..." dahem Ley.


"Ya, beginilah pasangan yang selalu di mabuk cinta di manapun tempatnya." ucap Lyli, yersrnyum tipis tanpa menatap ke arah mereka.


Lian yin melepaskan dagu Yiwen, menyapa ke depan kembali. "Di setiap hubungan haruslah ada hal yang romantis. Meski tidak terlalu mewah. Setidaknya membuat hubungan tetap awet. Jadikanlah hal sepele menjadi sebuah kenangan yang berarti." jelas Lian yin sok bijak.


Chen terkekeh. "Benar apa katamu. Meski aku seperti ini juga. Di setiap detiknya selalu mencoba membuat istri tercintaku ini tersenyum. Aku tidak mau membuat dia melamun sendiri, memikirkan hal-hal bukan denganku," saut Chen.


"Oya. Sekarang aku ingin membawa tetang suatu hal pada kalian,"


"Tentang apa?" tanya Lian yin antusias.


"Pergilah ke luar negeri selama beberapa tahun. Biar masalah di sini aku yang akan hadapi, kasihan anak kamu masih sangat kecil," sambung Chen memasang wajah seriusnya.


Lian yin dan yang lainya, hanya dia mengerutkan keningnya bingung. "Apa yang kamu katakan? Aku tidak paham?" tanya Ley.


"Ada segerombolan mafia bersatu ingin mendapatan aset berharga milik kamu. Yaitu anak kamu. Mereka tahu jika anak yang lahir dari istri kamu adalah aset berharga bagi mereka. Kamu tahu ayah dan kakek Yiwen orang yang sangat berpengaruh di kota. Dan orang tua kita, apalagi status kamu sebagai ketua mafia." jelas Chen.


"Jadi mereka mengincar anak laki-laki aku juga. Terus bagaimana dengan Queen" tanya Yiwen khawatir.


"Soal Queen serahkan pada kita. Aku akan menjaganya. Dan Ley kamu tetap di sini jaga mereka. Dan kamu Reysa dengan suamimu yang akan membantu Lian yin dan Yiwen.


"Baik!" jawab tegas Reysa.

__ADS_1


"Oya. Semua sudha berhalan dengan lancar. Dan tidak ada lagi hal yang perlu di tanyakan sekarang?"


"Gak ada. Tapi apa rahasia ini bisa bertahan lama."


"Bisa asalkan salah satu dari mereka patuh dengan perintah kita. Tapi entah dengan Queen kedepannya. Sekarang saja dia sudah bisa tinggal di sini dan ingin pergi ke kota, bahkan tidak hentinya terus merengek,"


"Apa boleh sebelum aku pergi, aku akan ajarkan beberapa hal pada Queen"


"Tidak masalah untuk menjaga dia nantinya,"


Suara tangisan keras bayi membuat ucapan mereka terhenti. Seakan bayi Yiwen tahu jika dia akan di pisahkan lagi dengan saudaranya. Tatapi meski demi kebaikannya Yiwen rela melakukan apapun.


Setelah semua pembicaraan selesai, Yiwen meletakan baby-nya, di tempat tidur yang sudah di siapkan istri Chen sebelumnya. Sedangkan Lian yin menghampiri anaknya, bermain di taman dengannya. Mereka terlihat sangat akrab bahkan seperti temannya sendiri. Di usia yang masih sangat belia hanya sebuah teori yang akan di dapatkan. Yin tidak mau anaknya belajar senjata lebih dulu. Lebih baik belajar teknik dalam bela diri lebih dulu.


Setelah selesai mengajari anaknya sedikit demi sedikit. Yin menggendong anaknya masuk ke dalam kamar. Membiarkan dia menggunakan laptopnya.


"Apa yang kanu lakukan, sayabg?" tanya Yiwen berjalan mendekati anaknya. Yang kini sedang serius dengan laptopnya.


"Ada hal yang ingin aku ajak main, ma!" jawab Jia, lugu tampa menoleh ke arah mamanya. Yiwen menatap sejenak layar laptop itu seketika dia melebarkan matanya melihat anaknya yang begitu mahir mengitak-atiknya.


Suara ketukan pintu keras membuat semua menoleh ke arah pintu. Kecuali Jia yang sibuk sendiri dengan kegiatannya.


"Maaf, nona. Sya menganggu anda."


Yiwen membuka pintunya secara perlahan. "Iya, ada apa?" tanya Yiwen.


"Apa nona queen ada di dalam?" tanyanya.


"Iya, tolong hentikan kegiatannya. Dia sudah meretas perusahaan Xin." ucap pangawal itu seketika membuat Yiwen melebarkan matanya.


"Apa katamu?" Yiwen membalikkan badannya dengan segera berlari menghampiri anaknya lagi Dan Lian yin yang mendengarnya sudah lebih dulu memeluk anaknya. Mencoba berbicara dengannya dari hati ke hati.


"Sayang! Apa kamu bermain dengan perusahaan Xin?" tanya Lian yin, duduk di samping Jia , dengan jemari tangan mengusap lembut rambutnya.


"Bermain sedikit pa, lagian seru juga." ucap Jia santai.

__ADS_1


"Berhenti dulu, ya. Syang! Papa mau ajarkan kamu sesuatu lagi,"


"Sekarang pa?" tanya Jia antusias.


"Iya, sekarang!!"


"Baiklah! Ayo," Jia beranjak dari duduknya.


"Sekarang kamu cepat bereskan dulu itu. Nanti kita bicara," ucap Lian yin pada Yiwen, yang dari tedi bengong tidak percaya dengan apa yang di lakukan anaknya. Gimana bisa anak sekecil dia bisa meretas perusahaan besar di kota sebelah. Dan semua dalam kendalinya. Tidak ada yang mengajarinya tapi dia sangar mahir dalam megotak-atik hal seperti itu. Baginya itu makanan sehari-hari. Dan Chen selalu menyelesaikannya agar tidak tersebar kemanapun siapa yang melakukan itu


"Kalian mau kemana?"


"Aku turun dulu, bicara dengan kak Chen!"


"Baiklah," Yiwen segera menghadap komputernya. Dia mulai sibuk mengitak-atik apa yang di lakukan anaknya. Berusaha memulihkan kembali tanpa meninggalkan jejak nantinya.


Setelah selesai, Yiwen segera keluar dari kamarnya.dan bergegas mencari Lian yin dan Jia.


"Jia," panggil Yiwen.


"Ada apa, ma?" tanya Jia yang masih sibuk makan.


"Kamu belajar dari mana ilmu itu," tanya Jia.


"Belajar dari om, Lie Wei. Tapi baru sebagian, aku berharap suatu jari bisa lebih dari itu,"


"Astaga Lie Wei.." desah kesal Yiwen.


"Kapan dia ke sini?" tanya Yiwen menatap ke arah Lian yin.


"Kata Chen memang dia sering ke sini jenguk anak kita,"


"Kenapa dia tidak mau bertemu dengan kita?"


"Mungkin dia malu dengan statusnya sekarang yang sudah menikah dan punya anak bersama dengan Amerta." jelas Lian yin. Dan Yiwen hanya bisa diam menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dia duduk di tengah-tengah Jia dan Lian yin, dan langsung di peluk oleh Lian yin mesra.

__ADS_1


"Biarkan anak kita bermain-main. Jangan marahi dia," ucap Lian yin, menyandarkan dagunya di pundak Yiwen.


__ADS_2