Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Kemarahan Changmin pada Amerta


__ADS_3

"Changmin, ini saatnya kamu pergi cari cita kamu." ucap Lian yin, menepuk pundak Changmin.


"Kemana aku harus cari dia, lagian dia pasti sudah bahagia." ucapnya pesimis.


"Kamu belum tahu, jadi lebih baik kamu cari tahu. Kalau kamu sudah tahu dia sudah bahagia. Maka kamu harus segera cari kebahagiaan kamu sendiri, jangan bergantung pada orang lain lagi. Aku ingin sekali melihat wajah kamu yang bahagia seperti dulu lagi," jelas Lian yin, mencoba memberikan semangat pada Changmin.


"Tapi apa aku pantas bahagia?"


"Tidak ada manusia yang tidak pantas bahagia. Penjahatpun juga berhak bahagia. Mungkin kebahagian mereka dnegan cara yang berbeda-beda." ucap sok bijak yin.


"Makasih, kamu selalu dukung aku!!" Changmin mengangkat kepala, tersenyum menatap Lian yin. Dia mengepalkan tangannya, memukul lengan Lian yin pelan.


"Aku pergi dulu sekarang," ucap Changmin.


"Pergilah!!" jawab Lian yin.


"Aku akan antar kamu pergi," saut Amerta, berjalan menghampiri Changmin dnegan langkah penuh ragu.


"Kenapa kamu ikut, menyusahkan aku saja!!" Changmin terlihat lebih cuek, dia memalingkan wajahnya tanpa menghiraukan Amerta.


"Min, lebih baik kamu ajak dia!" ucap Lian yin, dia paham dengan wanita kecil di depannya itu, sebenarnya dia suka dengan Changmin. Tapi Changmin memang dari dulu tidak suka dekat dengan wanita umurnya lebih muda. Meski hanya lebih muda 2 tahun saja dia tidak suka. Dia lebih suka wanita yang lebih tua darinya. Seperti Grace. Yang memang lebih tua beberapa tahun darinya.


"Aku ajak dia?" ucap Changmin menarik bibirnya sinis, sembari menunjuk ke arah Amerta. "Dia hanya bisa menyusahkanku. Apalagi jika dia tidak bisa bela diri, lihatlah dari wajahnya saja dia anak papa. Jadi mana berani dalam situasi terpepet nantinya." lanjutnya.


"Aku bisa jaga diri sendiri, dan ingat aku hanya membantu kamu melihat kak Grace. Bukan ingin dekat denganmu," umpat kesal Amerta, perlahan hatinya mulai kesal jika Changmin terus perlakukan dirinya seperti orang lain. Bahkan melihatnya saja seperti orang jijik.


Sedangkan Lian yin yang masih duduk dengan tangan kanan menyangga dagunya, dia hanya tersenyum, melihat wajah cantik itu terlihat muram, menguntupkan bibirnya memandang penuh amarah di depan Changmin.


"Kamu yakin? Atau jangan bilang kamu memang sengaja mau mendekatiku?" tanya Changmin, mendekatkan wajahnya.


Tangan kanan Amerta sudah siap melayang mendarat di pipi kanan Changmin, namun kecepatan tangan itu seperti kira menangkis tangan Amerta.


"Jangan beraninya kamu menyentuhnya. Dan lihatlah, belum dekat saja kanu benar menamparku. Apalagi kalau kita sudah dekat."


"Dasar sialan, awas saja aku gak akan mau lagi bertekar denganmu!!" umpat Amerta.


"Oke.. Sekarang kemu cepat pergi.." bentak Changmin.


"Aku sudah bilang padamu jangan terlalu kasar pada wanita. Awas nanti jatuh cinta!!" ucap Lian yin.


"Gak akan!!" jawab tegas Changmin, menatap tajam ke arah Amerta.


"Oke.. Apa kita bis ataruhan?" tantang Amerta.


"Taruhan apa?" tanya Changmin sinis.


"Jika kamu dalam 1 bulan bisa jatuh cinta padaku, maka kamu harus segera bilang pada semua orang jika kamu suka denganku," ucap Amerta.


"Oke.. Tapi kalau aku tidak suka dengan kamu, maka kamu harus pergi jauh dari kehidupanku. Dan jangan lagi bertemu denganku, gimana?"


Amerta terdiam, dia seakan berat jika harus meninggalkan Changmin, tapi dia berusaha untuk tetap yakin jika Changmin akan suka dengannya.


"Mau yakin padamu, jika kanu bisa menaklukkan hatinya," ucap Kian yin beranjak berdiri, tersenyum simpul laku beranjak pergi meninggalkan mereka berdua yang tak hentinya terus bertengkar.


"Kamu jadi pergi, gak?" tanya Amerta sinis.


"Iya--"

__ADS_1


"Ayo cepat siap-siap?"


"Kenapa kamu gak pergi duluan, aku mau kamu naik mobil sendiri,"


"Kamu mau aku bantu atau tidak?" tanya Amerta memastikan dengan bada kesalnya.


"Mau!!"


"Ya, sudah jangan banyak bicara lagi!!" ucapnya marah.


"Terus kenapa kamu yang marah? Harusnya kamu yang mengalah aku yang marah." ucap Changmin heran.


"Aku ini serius?"


"Aku juga serius, wanita kecil murahan!!" bisik Changmin, laku membalikkan badannya, melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Amerta yang masih berdiri di belakang dan terus menggerutu gak jelas.


"Eh.. Kak Changmin!! tunggu!!" gumam Amerta, berlari mengejar Changmin dan lansung masuk begitu saja ke mobil Changmin yang kebetulan baru menyalakan mesin mobilnya.


"Turun!!" pinta Changmin.


"Enggak!!"


"Kalau gak.mau turun, maka aku yang akan pergi dari sisi kamu,"


"Maksud kamu apa,"


"Aku yang akan pergi, lagian aku malas di sini. Gak ada gunanya sama sekali." ucap Changmin.


"Jadi kamu gak mau aku bantu kamu cari yang lainya?" tanya Changmin mematikan seketika mesin mobilnya.


"Turun!!" bentak Changmin.


"Baiklah kalau gak mau," Changmin menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Tanpa kesulitan keselamatan Amerta.


Amerta memegang tangannya sangat kiat pegangan atasnya "Jangan gila, kak. Apa kamu ingin mati?" tanya Amerta kesal.


"Tidak akan, tapi aku ingin kamu pergi dari sini. Aku tidak mau melihatmu."


"Kenapa kamu seperti itu.. Dulu kamu sangat baik, dan todak pernah mengusirku!!


"Itu dulu? Sekarang tidak!" jelasnya.


Amera terdiam, wajahnya bergidik takut melihat Chanhmin mengemudi mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, menyalip beberapa mobil di depannya. Tubuhnya gemetar seketika melihat hal itu, tak bisa berbicara apa-apa, dia memutar ke dua matanya, melihat Changmin yang semakin ambisius melakukannya, bahkan semakin meninggikan kecepatannya.


Hingga mobilnya berhenti tepat di depan sebuah terotoar, Dencitan rem terdengar jelas di telinganya membuatnya bergidik takit, ia memejamkan ke dua matanya. "Turun!!


"Aku gak akan turun!!"


"Aku bilang kamu turun sekarang!!"


"Gak akan!!"


"Oke baiklah," ucap Changmin, mendorong tubuh Amerta terpojok di pintu mobil. Changmin mendekatkan tubuhnya, mencengkeram erat rahang Amerta di depannya.


"Kamu suka denganku kan?" tanya Changmin memastikan, suaranya masih mrninggai, membuat Amerta bergidik ketakutan.


"I-iya" jawabnya, tubuhnya masih gemetar di buatnya. Jari-jarinya dan sekujur kakinya terasa sangat lemas melihat kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya. Wajahnya terlihat pucat pasi, bahkanntubuhnya hampir saja ambruk pingsan, dia yang takut dengan kejadian tadi, mengingatkannya drnganntrauma masa lalu. Saat dia mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan saat itulah ibunya kecelekaan. Jika mengingat hal itu, tubuhnya langsung lemas seketika, tanpa seuntai kata keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam?" bentak Changmin, mencengkeram semakin erat.


Amerta hanya tersenyum tipis, menahan rasa sakit tangan Changmin, lalu tubuhnya seketika semakin lemas, dengan tangan memegang tangan Chanhmin, "A-ku ta-takut--" ucapnya teraptah-patah, bibirnya gemetar, dan pucat, seakan sekujur tubuhnya mengigil, gemetar tak terhankan, lalu memejamkan matanya.


"Shiitt.. Sialan!!" umpat Changmin, melepaskan cengkeramannya.


"Dasar wanita gak guna," ujarnya lagi, melanjutkan laju mobilnya untuk pergi mencari Grace.


"Kenapa dia begitu takut tadi," ucapnya.


Changmin mengemudi dengan kecepatan sedang, berjalan melenggak, lenggok menyalip beberpa mobil di depannya, tanpa memperdulikan Amerta yang masih tak sadarkan diri, bahkan tubuhnya terlihat sangat pucat.


Hampir 2 jam berjalan mutar-mutar, Dia tak menemukan titik terang, bahkan sudah menyuruh orang untuk datang ke rumah Luhan juga dia tidak ada di sana. Tujuan terakhirnya sekarang adalah rumah Grace. Dia berharap jika Grace berada di rumahnya.


"Grace kamu di mana?" umpatnya, memukul kera setir mobilnya.


"Kenapa kamu memilih menikah dengan laki-kaki lain, jika kamu tidak suka dengannya. Dna kenapa kamu memaksakannuntuk mencintai orang yang tidak kamu suka" decak kesalnya, dia menghentikan mobilnya di sebuah club malam.


"Aku gak mau seperti ini terus. Aku juga gak bisa melupakannya. Melupakan orang yang paling aku sayangi," umpat Changmin, dia beranjak untuk keluar dari mobilnya, berjalan menuju ke club malam untuk melampiaskan kemarahannya pada setiap wanita penggoda di sana. Dia berjalan tanpa memperdulikan Amerta yang masih pingsan di dalam mobil, bahkan tubuhnya seakan lunglai kini.


"Hai..." sapa seorang pria bar tender, teman Changmin di dalam club.


"Hai.. Aku ingin minuman," ucapnya.


"Seperti biasanya?" tanya bar tender itu.


"Iya, dua botol," lanjutnya.


"Oke baiklah!!" bar tender itu mengambilkan gelas dan dua botol minuman untuknya.


"Kamu datang sendiru?" tanyanya.


"Iya, lagi suntuk?" jawab Changmin, yang mulai menuangkan minuman ke dalam gelasnya.


"Memangnya kamu ada masalah apa?" tanya pegawai bar.


"Biasalah!!" jawabnya, sembari menyandarkan tangannya di atas meja bar, dengan tangan kanan memegang satu gelas minuman, dia menggoyang-goyangkan gelasnya, memutar minuman di dalamnya, sebelum meneguknya.


"Hemm.. pasti masalah cinta lagi," pegawai bar itu tersenyum, berbicara sambil melakukan tugasnya, membersihkan gelas dan melayani tamu yang lainya.


Changmin meneguk satu gelas minuman di tangannya, lalu meletakkan kembali di atas meja.


"Iya, memang itu masalah aku... Dan entah kenapa aku merasa benar-benar sudah gila sekarang." ucapnya, menuangkan minuman lagi memenuhi gelasnya.


"Cinta gak usah di pikiean, jika jodoh pasti juga kembali sendiri. Sekarang pekirkan hidup kamu, senang-senanglah. Bukanya kamu baru terbebas dari dunia mafia!!" bisik pegawai bar itu, dia sengaja memelankan suaranya saat menyebut dunia mafia, karena itu seakan jata-kata keramat jika di ucapkan di depan umum.


"Tapi tanpa cinta hati hampa," ucap Changmin, tak hentinya meneguk minumannya lagi, laku menuangkannya.


Puk! Puk!


Pegawai bar itu menepuk-nepuk pundak Changmin. "Dengarkan aku!! Dalam dunia mafia cinta itu gak ada artinya. Jika bertemu dengan cinta berarti dia beruntung. Jika tidak memang nasib kamu belum beruntung. Cobalah lagi. Siapa tahu kamu beruntung kelak dalam dunia cinta dan mafia," ucapnya memelankan suaranya, ke dua katanya memutar melihat sekelilingnya


"Memangnya hadiah jack pot?" gumam Changmin kenarik bibirnya, ia tersenyum tipis sembari menggekengkan kepalanya pelan.


"Jika cari wanita dan cinta bisa diundi dengan jackpot. Lebih baik sekarang saja aku mau" ucap Changmin bercanda.


"Eh.. Tapi kamu serius tidak punya pasangan?" tanya pagawai bar memastikan.

__ADS_1


"Iya, dan aku memang lagi sendiri. Terlalu sakit terus patah hati. Dan sekarang kerjaan aku begini di bar, minum dan berbincang denganmu."


__ADS_2