Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Kembali ke rumah


__ADS_3

Kakek Yiwen berjalan dengan langkah sangat hati-hati, dengan sigap Yiwen memegang tangan kakeknya menuntunya untuk berjalan mendekati Changmin dan yang lainnya. Meski ia sudah terlihat sangat tua, namun dia terlihat sangat sehat, meski berjalan harus menggunakan tongkat. "Kakek suka tempat ini jauh dari keramaian, dan tidak mudah di ketahui orang. Tapi kalian memang sangat hebat semua, bisa tahu tempat kakek" ucap kakek Yiwen.


"Iya, kakek duduk dulu ya. Kakek udah makan belum, kalau belum Yiwen buatkan makanan untuk kakek ya" gumam Yiwen, yang menuntun duduk kakeknya di samping Lian yin.


"Aku bantu kamu ya?" ucap Lian yin bangkit dari duduknya.


"Baiklah terserah kamu" ucap Yiwen.


"Kek, di sini dapurnya di mana?" tanya Yiwen.


"Di ujung sana ada pintu, kamu buka di sana ada dapur kecil" ucap kakeknya.


"Oo. baik kek, aku tinggal dulu ya kek" ucap Yiwen. "Kalian jaga kakek aku, kalau kalian mau makan" ucap Yiwen.


Changmin berbincang dengan kekek Yiwen bertanya banyak hal dengannya. Ingin sekali ia menjaga kakek itu, namun gimana lagi, mana mungkin kakek itu mau tinggal dengannya di rumah Lian yin.


Lama berbincangbdengan kakek Yiwen, Changmin dan yang lainnya bisa berbagi pengalaman dengan kakek Yiwen. Yang dulunya juga pernah berkecimoung dalam dunia mafia, dan dia ternyata pernah dekat dengan kakek Yiwen.


Tak berapa lama Yiwen membawa beberapa makanan untuk para temannya dan kekeknya. Makanan spesial untuk kakeknya yaitu bubur kesukaannya.


"Kakek buburnya sudah jadi" gumam Yiwen, duduk di samping kakeknya. Ia segera menyuapi kakeknya itu.


"Maaf kek, aku boleh tanya" ucap Lian yin.


"Tanya apa cu" ucap kakek Yiwen lirih.


"Kenapa kakek menyimpan foto kekuarga aku di sini?" tanya Lian yin.


"Oo. mereka sudah aku anggP seperti keluarga kakek juga" ucap kaken Yiwen.


"Kek, kenapa ayah sekarang gak jenguk kakek, dan apakah ayah juga membawa makanan ke seukaan kakek setiap hari ke sini?" tanya Yiwen memotong pembicaraan Lian yin dengan kakeknya. Ia tidak suka menanyakan hal pribadi soal keluarga dengan kakeknya di depan semua orang.


Merasa sengaja Yiwen memotong pembicaraan. Lian yin hanya diam, melirik sekilas ke arah Yiwen dengan perasaan kesal. Ingin marah juga tidak bisa, ia tidak bisa membentak istrinya lagi, kemarin sudah membuat dia nangis. Sekarang dia gak mau membuatnya nangis untuk yang ke sekian kalinya.

__ADS_1


~


"Yiwen gak perlu khawatir, dan gak usah mikirin kakek, yah kamu mengurus kakek dengan baik. Dia tidak pernah lupa dengan kakek satu hari-pun" ucap kakek Yiwen.


Lay dan yang lainnya sedang asyik makan dengan sangat lahapnya, apalagi dari tadi pagi mereka belum makan. Dan berbeda dengan Lian yin, yang lebih memilih untuk tetap diam, menatap ke arah Yiwen, seakan banyak pertanyaan dalam otak Lian Yin yang ingin di ungkapkan padanya.


Yiwen yang sadar jika Lian yin hanya diam dari tadi tidak makan. Ia merlirik sejenak ke arahnya. Selesai menyuapi kakeknya Yiwen segera medekati Lian yin.


"Kenapa kamu diam?" tanya Yiwen duduk di samping Lian yin.


"Gak ada apa-apa, hanya saja aku lagi ingin diam" gumam Lian yin.


"Apa kamu gak makan?" tanya Yiwen.


"Gak, lagi gak mood makan" gumam Lian yin dengan wajah datarnya.


"Ya sudah kalau gitu, kamu silahkan pulang sekarang, dan jangan lama-lama di sini. Lagian aku juga gak mau kamu lama-lama di sini membaut aku muak" ucap Yiwen yang lengsung berdiri, dengan tangan menunjuk ke pintu, yang membuat Lay dan yang lainnya menghentikan makannya dan menatap ke arah Yiwen lalu ke Lian yin bergantian  dengan tatapan bingung.


"Apa yang kamu bilang?" tanya Lian yin, menarik tangan istrinya untuk duduk di sampingnya.


"Baiklah aku makan sekarang, kamu jangan marah seperti anak kecil." ucap Lian yin.


"Yang seperti anak kecil bukannya kamu, lagian kamu juga yang membuat aku tidur pulas sampai bangun kesiangan tadi" gumam Yiwen, menatap tajam ke arah Lian yin.


"Sudah-sudah jangan bertengkar, sekarang lebih baik kalian pulang. Dan bicara baik-baik di rumah. Dan kamu Yiwen cucu kakek, jangan marah juga ya sama ayah kamu" ucap kakek Yiwen mencoba melerai pertengkaran mereka yang tiada habisnya.


"Iya kek, iya kebih baik kita pulang. Biarkan kakek istirahat" ucap Changmin, yang merasa suasana juga semakin panas, bukan hanya Lian yin dengan istrinya. Tapi Mei sepertinya juga akan meledak amarahnya nanti saat di rumah.


"Iya sudah , kek jaga diri ya. Lain waktu Yiwen akan datang bersama ayah ke sini jenguk kakek" gumam Yiwen, memeluk kakeknya erat.


Mereka segera keluar dari rumah kecil itu, dan kakek Yiwen yang memeberi tahu jalan keluarnya. Mereka segera masuk ke dalam mobilnya masing-masing. Lian yin menarik tangan Yiwen untuk masuk ke dalam mobilnya. "Lepaskan aku" ucap Yiwen menepis tangan Lian yin yang mencegahnya pergi bersama dengan Mei dan yang lainnya.


"Aku mau bicara sama kamu" ucap Lian yin, yang langsung menarik tangan Yiwen masuk ke mobilnya.

__ADS_1


"Aku gak mau pulang sama kamu, turunkan aku sekarang" ucap Yiwen yang terus menolak untuk pulang bersama dengan Lian yin.


"Kamu kenapa seperti ini, aku baru lihat kamu marah seperti anak kecil. Kamu dulu terlihat seperti gadis kecil yang dewasa. Cara berpikir kamu jauh ke depan, tidak pernah marah karena hal sepele. Dan kamu ingat saat kamu ke pertandingan di Timur, kamu juga menanggapinya dengan biasa saat aku ijin pergi sebentar. Tapi kenapa kamu jadi seperti ini. Marah seperti anak kecil, aku gak suka kamu seperti ini" ucap Lian yin, yang mulai menjalankan mobilnya.


Yiwen terdiam sejenak, ia tidak mengeluarkan suara dari mulutnya sama sekali. Apa yang di katakan Lian yin ada benarnya. Bahkan ia marah seperti otaknya kerasukan saja membuat semua orang cemas. "Maaf!" ucap Yiwen menundukkan kepalanya, ia menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan tadi. Bahkan dia marah di depan semua orang, dan membuat semua orang di dalam ruangan itu melihat oertengkaran antara suami istri, yang seharusnya tidak boleh di beri tahu siapapun.


"Iya sudah, sekarang jangan marah lagi ya?" gumam Lian yin, mengusap lembut rambut Yiwen, membuatnya semakin luluh dengan Lian yin.


"Iya, tapi kamu jangan seperti tadi lagi" ucap Yiwen.


"Gak syang, sekarang kamu senyum dulu" gumam Lian yin, menarik pipi kanan Yiwen agar ia bisa tersenyum lagi. "Oya, besok pagi saja ya, kita pergi ke rumah kamu" lanjutnya.


"Iya, tapi kamu jangan bohong" ucap Yiwen memastikan.


"Kenapa juga aku bohong sayang" ucap Lian yin. Aku juga ingin bertemu dengan


Lama perjalanan tanpa ada hambatan atau pengganggu di jalan. Mereka samoai di depan rumahnya. Dengan segera Lian yin dan Yiwen turun, lalu masuk ke dalam rumahnya. Changmin, Lay dan Mei sudah berada di rumah dan duduk santai di ruang tamu.


"Kenapa kalian lama?" tanya Lay.


"Aku naik mobil gak seperti kamu, yang membuat para penumpangmu mati jantungan" sindir Lian yin, dengan senyum samarnya.


"Betul itu, aku hampir saja di bautnya jantungan" saut Changmin sangat antusias.


Lay hanya diam tidak bisa berkutik lagi, saat Lian yin mengatakan hal itu.


Hari sudah menjelang malam, mereka bahkan sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Untuk membersihkan dirinya, karena seharian dalam bahaya. Dan tadi hampir saja ada suatu yang membuat nyawanya hampir terancam.


"Syang besok bangun pagi ya" ucap Lian yin, yang baru saja selesai mandi dan berbaring di samping Yiwen.


"Terserah kamu syang, lagian aku sudha siapkan semua barang-barang kita. Tapi apa kita gak bilang pada yang lainnya juga?" tanya Yiwen.


"Lebih baik kita dulu ke sana, satu atau dua hari ajak mereka. kalau mereka mau" gumam Lian yin, yang mulai berbaring, menarik kepala Yiwen agar bersadar di dadanya.

__ADS_1


Lama berbincang berdua, mata mereka perlahan terpejam dengan sendirinya. Dan pasti dnegan posisi sama Yiwen bersandar di dada bidang Lian yin, dengan tangan memeluk erat tubuh Lian yin.


__ADS_2