
Apa yang harus aku lajukan sekarang. aku harus pergi ke keluar. Tapi aku gak bisa. Aku curoga dia menanam sesuatu di laur kemarin malam. Atoi aku gak yakin, jika itu adalah lembaran yang aku miliki. Jika memang itu peta adalah milikku, aku yakin akan dengan musah dapat jalan untuk mencurinya kembali.
Yiwen menatap pemandangan halaman di bawah, dari atas balkon, mengamati situasi di luar, dan beberapa penjaga, melihat gimana penjaga itu akan pergi nantinya. Jam berapa tempat itu sepi. Dan kapan mereka akan kembali lagi. Yiwen mengamati secara detail, ia tidak mau ceroboh lagi.
"Yowen, kamu ngapain di situ. Kamu gak.mau makan bersama?" tanya Amerta, berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Iya, ini aku mau masuk keluar, tapi masih mengamati situasi di luar." ucap Yiwen, menatap detai situasi di bawah, seakan pandangannya tak mau jauh dari kantai dasar di sana.
"Memangnya di bawah ada apa?" tanya Amerta, yang duduk di kursi, menatap Yiwen yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Di bawah aku melihat sesuatunyang sangat menarik. Kemarin aku melihat Jack di sana, memendam seauatu. Aneh kan? Lagian nagaoain juga dia malam-malam, memendam seaautu di ujung halaman ini," ucap Yiwen, dengan salah satu perut, dan salah satunya di tekuk ke atas, memegang dagunya, seakan dia beroikir apa hang di lakukan oleh Jack.
"Iya, sudha sekarang kita makan dulu. Nanti kita amati bersama." Amerta memegang tangan Yiwen, menariknya segera keluar dari kamarnya. Berjalan dnegan langakh beriringan, menurubi anak tangga menuju ke ruang makan, dan di sana sudah di tunggu oleh jack, Mei dan Luhan serta Tao.
Seketika langkah Yiwen terhenti, melihat mereka semua ada di temoat hang sama. Jantungnya mulai berdegup kencang, ia tajut jika Tao dan luhan tahu jika dieinya adalah Yiwen. tangan yiwen mulai gemetar di buatnya, napasnya mulai tak bertauran, ia nencoba mengeluarkan senyum terbaiknya, menyapa mereka semuanya.
"Kenapa mereka ada di sini? Apa mereka ada acara di sini?" bisik Yiwen, dengan nada gugupnya. dan pandangan tak hentinya memandangi Luhan dan Tao.
"Kenapa kamu berdiri di situ, aoa kalian berdua makan sambil berdiri," ucap Jack, memandang aneh pada Yiwen.
"Laki-laki itu kenapa terua menatapku, dia benar-enar palyboy. Setaipa wanita ia lihat, padahal sudah ounya laki-laki. Dasar mesum, mata keranjang, nyebelin, dan gak tahh malu." gumam Yiwen dalam hatinya.
"Ehh... Iya, ini aku mau duduk," ucap Amerta, menarik tangan Yiwen agar segera duduk di sampinganya. Dan tepat ia duduk di samping Jack, san di depan Mei. Tapi ia merasa sangat ragu, luhan dan Tao terus menatapnya.
"Oya, kamu kenalkan diri kamu, pada Luhan dan tao. Serta kita semua juga bekum tahu nama kamu," ucap Jack, dengan kaki, mengibjak kaki Yiwen.
seketika menbuat Yiwen mengangkat kakinya, ia berdengus kesal, dan mencoba, untuk tetap bersabar duduk di samping laki-laki mesum seperti dia.
"Kamu kenapa? cepat perkenalkan diri kamu, aku gak mau jika mereka curiga." ucap Amerta, lirih.
"Baiklah!!"
"Aku Bella," ucap Yiwen, dengan nama samarannya. Dan memasang wajah semanis mungkin, ia mencoba untuk tersenyum lebar di hadapan mereka semuanya.
__ADS_1
"Baiklah, dia luham dan dia tao," saut Jack, mengenalkan mereka semuanya.
"Kalau boleh tahu, kalian semua saudara?" tanya Yiwen ragu.
"Kita hanyalah rekan bisnis, bukan saudara." ucap Luhan.
"Ao..."
"Ya, sudha lebih baik kita semua makan. Dan setelah itu aku mau bicara dnegan kamu. Temui aku di kamar ada yang ingin aku suruh padamu!!" ucap Jack, sembari menatap menggoda pada Yiweh.
Seketika Yiwen tertegun, menelan ludahnya. Saat di aharua pergi ke dalam kamar Jack sendiri.
"Aku sendiri?" tanya Yiwen memastikan
"Iya, kamu sendiri, memangnya kenapa? Apakah kamu takut dengan aku?" ucap Jack tersenyum simpul.
Yiwen menelan ludahnya kasar, gimana jadinya jika aku berdua dengannya di kamar. Aku harap dia gak membuat aku muak melihatnya nanti.
"Aku tahu kamu pasti takut, tapi tenanglah. Aku yakin jika kamu bisa menghadapinya, dan bial menjaga diri. Lihat kamu saja dengan Lian yin, dia yang kalah denganmu," bisik Amerta.
"Jangan bilang nama itu. mereka pasti akan tahu nantinya. bahkan luhan dan tao yang akan mengenali aku lebih dulu nantinya. " ucap Yiwen lirih.
"Kalian bicara apa?" tanya Jack, menatap Yiwen dan Amerta.
"Gak ada, katanya dia malu dengan kamu. dan takut dnegan kak Mei,"
Jack tersneyum. "Kenapa.kamu harus takut, aku gak masalah dnegan Mei, lagian kita gak nagapi-ngapain. Kau hanya ingin kamu membantu aku melajukan tugas. Dan kamu pasti akan tahu nanti. Jika Mei mau ikut silahkan, aku juga tidak melarangnya." ucap jack, menatap ke arah Mei yang hanya diam. Seakan selera makannya mulai hilang, rasa cinta pada Jack juga sudha perlahan pudar, di balut rasa cemburu yang selalu ia rasakan. Sekan hatjnha sudha benar-benar sangat kebal menghadapi jack.
"Kenapa kamu diam syang!!" ucap Jack, mengusap tangan mei.
"Aku hanya ingin kamu ada di sisi aku sekarang." ucap jack, menguatkan hati Mei, ia tahu jika Mei sangat cemburu dengan apa yang ia lakukan. Tapi ia merasa sangat senang, jika melihat dia cemburu, itu pertanda jika dia memang cinta padanya.
"Iya!!" jawab Mei datar.
__ADS_1
"Kalian kenapa saling diam?" saut Yiwen, yang sudah mulai menyantap makanan di depannya, barengan dengan tao dan Luhan.
"Iya, dari pada saling memandang seperti itu. Lebih baik makan,
"Oya, ini aku mau makan."
"Iya, cepat makan, kak Mei. Jangan terlalu cemburu seperti itu. Kak jacak dan kamu pasti akan menikah nantinya. Jangan terlaku khawatir nanti." ucap Amerta.
Mereka semua mulai menyatap makanan dnegan sangat lapanya, saling memandang. dan slaing berrbincang satu sama lain. Dan Yiwen tak tau apa maksud dari omongan mereka sememuanya, ia gak terlaku paham dengan yang di bahas.
Yiwen menghantikan makanya, saat meliaht Luhan dan Tao saling nenatap ke arahnya, membuat ia maluk dan hanya bisa menunduk, menyembunyikan rasa gugupnya yang semakin menjalar dalam tubuhnya.
"Amerta! Lihatlah. Luhan dan Tao melihatku, aku merasa sangat gugup. Aku takut jika mereka mengenaliki," bisik Yiwen.
"Jangam khawatir, mungkinnmereka tertarik dengan kamu," ucap Amerta.
"Lebih baik aku masuk ke dalam kamar lebih dulu," ucap Yiwen, yang langsung beranjak berdiri. "Kamu mau kemana?" tanya Jack menayap ke arah Alana.
"Aku mau ke kamar dulu, lagian aku sudha selesai makan." ucap Yiwen.
"Kau juga, pergi dulu kak." ucap Amerta, tersenyum ramah di depan semuanya.
Amerta menarik tangan Yiwen bergegas pergi menjauh dari mereka semuanya. Ia tahu jiak temannya itu merasa gugup di depan Luhan dan Tao.
"Jangan lupa, nanti aku tunggu. Jangan terlalu malam. Akubtakutnya ada hang cemburu nanti." ucap Jack.
Yiwen tak perdulikan ucapan Jack dan bergegas pergi menaiki anak tangga, berjalan menuju ke kamarnya.
"Sebenarnya siapa mereka? Apa mereka orang yang kamu suka? Atau jangan-jangan mantan kamu?" tanya Amerta penasaran.
"Iya, memang dia adalah mantan aku, jadi aku harus jauh dari mereka. Aku takut jika mereka mengenali aku, merka sudha lama kenal dengan aku, aku yakin jika setiap gerak geriku mereka pasti akan tahu."
Amerta mengangguka kapalanya mengerti. "Emmm.. pantas saja kamu selalu menunduk tadi setiap bertemu dnegannya. Dan nanti 15 menit lagi.kamu harus pergi ke kamar Jack. Tenang jangan berpikir macam-macam. Positif tingking saja, ok." ucap.Amerta, yang mulai masuk ke dalam kamarnya, di ikuti dengan Yiwen.
__ADS_1