Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Perasaan Lay


__ADS_3

Yiwen masih terdiam duduk bersandar di kursi dengan pandangan kosong.


“Apa seperti ini yang aku rasakan dulu dengan Lian yin, kenapa aku baru merasakan lagi sekarang, Kenapa aku saat bertemu dengan dia pertama kali tidak merasakan seakan jantung aku mau copot seperti ini”ucap Yiwen dalam hatinya.


Lian yin menatap aneh pad Yiwen yang hanya diam memegang dadanya.


“syang, kenapa kamu diam, pasti kamu memikirkan aku ya.”ucap Lian yin menggoda. "Atau kamu sakit?"tanya Lian yin. Menciba mengecek dahi dan pipi Yiwen.


“Huff punya suami tapi ke pedean banget, dan lebaynya bikin aku semakin gemes sih”gumam Yiwen. Ia beranjak berdiri merentangkan ke dua tangannya, menatap ke arah danau di depannya, dengan pemandangan malam yang sangat indah.


Perlahan Ywen memejamkan matanya, membayangkan rasa cintanya yang benar-benar mulai tumbuh kembali dengan Lian yin.


“Ini pilihanku, ini adalah hidupku, bersamamu, menggapai semua yang aku inginkan”ucap Yiwen dalam hatinya, Lian yin perlahan memegang tangan Yiwen, dan menurun ke arah pinggang Yiwen, memeluknya erat dengan dagu menyandar di pundak Yiwen.


“Apa yang kamu pikirkan?”Tanya Lian yin, mendekatkan bibirnya tepat di pipi kiri Yiwen.


Yiwen membuka matanya perlahan, melepasakan pelukan Lian yin dari pinggangnya. Ia membalikkan badannya menatap ke arah Lian yin,”Makasih”ucap Yiwen, memegang ke dua pipi Lian yin dengan jemari lembutnya.


“Terima kasih untuk apa?”Tanya Lian yin, menatap mata Yiwen bingung.


“Terima kasih telah menjadi bagian hidupku, aku ingin selamanya bersama kamu, mejalani hubungan ini. Sampai kakek, nenek nantinya, dan jangan pernah berpaling dariku.”ucap Yiwen, memandang dengan tatapan penuh dengan cinta terpancar dari bola mata mereka.


Lian yin merasa bingung dengan ucapan Yiwen, etah kenapa Yiwen tiba-tiba mengucapkan kata itu, padahal memang dari awal Yiwen selalu bersamanya, perkataanya seakan menggambarkan akan nada perpisahan di ntara mereka. Namun Lian yin mencoba menghilangkan prasangka buruk itu, ia selalu berpikir positif dengan ucapan Yiwen.


“syang, sampai kapan-pun aku akan selalu bersama kamu, jadi jangan berpikir suatu saat aku akan ninggalin kamu, karena ini cinta kita, cerita kita, jalan hidup kita, susah, bahagia kita akan jalani bersama, karena ini adalah pilihan hidup kita.”ucap Lian yin, dengan jemari menyentuh wajah Yiwen lembut.


Pandangan mereka semakin dalam, Lian yin menarik kepala belakang Yiwen, hingga benda kenyal saling bersentuhan di iringi dengan hembusan angin malam, dan suara gemercik air, dan keributan pasar yang masih ramai, di tengah malam.


Mereka tidak perdulikan suasana sekitar, seakan dunia hanya milik mereka brdua, kisah romantis selalu di bagikan dengan orang lain, kemesraan mereka yang tidak pernah di tutup-tutupi.


-----000----


Selesai jalan-jalan, Lian yin membawa Yiwen segera pulang ke hotelnya. Ia tidak bertemu lagi dengan Lyli dan Lay tadi, dan mungkin mereka sudah pulang ke hotel lebih dulu. Atau mungkin mereka sudah tidur atau malah masih berkencan di luar, entahlah.


Yiwen yang merasa sangat lelah karena pertandingan kemarin, ia segera beristirahat diranjangngnya. “Aku capek”ucap Yiwen, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang empuk miliknya.


“Syang, kamu tidur di sofa ya.”ucap Yiwen, yang mulai meraih bantal dan memeluknya sangat erat.


“Eh.. apa yang kamu katakan?”Tanya Lian yin, yang merasa gak puas dengan apa yang di katakana Yiwen.

__ADS_1


“Kamu tidur di sofa”ucap Yiwen menegaskan dengan ke dua matanya yang sudah mulai terpejam.


“Kenapa aku harus tidur di sofa? Aku gak mau.”ucap Lian yin.


Yiwen yang sudah tertidur tidak menghiraukan apa yang di katakana Lian yin yang masih menggerutu gak jelas karena ia gak terima jika tidur di sofa. Yang ia mau tidur di samping Yiwen, namun Yiwen sudah memenuhi ranjangnya.


“Yiwen?”panggil Lian yin, yang merasa tak di hiraukan oleh Yiwen.


“Yiwen! Apa kamu sudah tidur sekarang?”Tanya Lian yin, berjalan mendekati yiwen di ranjangnya.


Lan yin mentap ke arah Yiwen, yang sudah terbaring pulas dengan ke dua kaki menggelantung dan masih memakai sepatu. Lian yin segera duduk di ranjang, melepaskan sepatu Yiwen, dan mulai meletakkan ke dua kaki Yiwen di atas ranjangnya, lalu menarik selimu ttebal menutupi setengah tubuh mungil Yiwen.


“Selamat tidur syang"ucap Lian yin, merapikan rambut Yiwen yang menutupi wajah cantiknya.


“Wajah yang begitu cantik, aku beruntung mendapatkan wanita secantik kamu Yiwen”ucap Lian yin.


Sebuah kecupan lembut penghantar tidur yiwen menempel di kening Yiwen.


-----000-----


Lyli dan Lay, masih berada di luar hotel, memang mereka sengaja tidak langsung pulang. Sejenak lay mengajak Lyli untuk pergi keliling kota, meski tdak begitu hafal dengan jalan di kota tapi Lyli bisa menemukan jalannya sendiri, dengan gelang yang dia pakai.


“Apa rencana kamu ke depannya?”Tanya Lay ada Lyli yang duduk di sampingnya.


“Entahlah, tapi aku juga merasa, belum menemukan rencana kehidupan aku selanjutnya. Aku sekarang masih focus dengan duniaku, tentang masa depan belum aku pikirkan matang-matang”ucap Lyli, menyandarkan kepalanya di bahu Lay, dengan pandangan mengarah ke danau di depannya.


“Kenapa kamu tidak merencanakan dari sekarang, apa kamu tidak mau menikah nantinya, dan hidup bahagia dengan pasangan kamu nantinya?”tanya Lay, yang kini mulai serius ingin menanyakan tentang pribadinya lebih dalam lagi.


‘’Aku belum memikirkan tentang menikah, itu masih jauh dari pikiranku”ucap Lyli.


“Kenapa?”Tanya Lay, menatap ke arah Lyli.


“Entah, aku juga tidak tahu kenapa, tapi aku merasa belum waktunya saja”ucap Lyli menatap ke arah Lay.


“Emangnya kamu sudah mau menikah?”Tanya Lyli.


“Enggak, aku yang aku ajak menikah saja belum siap.”ucap Lay, mencoba memberi kode pada Lyli.


“Emangnya siapa? Apa kamu sudah punya pasangan ya?”Tanya Lyli yang semakin penasaran. Lyli yang baru tahu Lay, belum sama sekali merasakan perasaan lebih dengannya, ia masih menganggap Lay hanya sebatas teman tidak lebih, perasaanya masih sama belum bisa melupakkan Lian yin, namun jika ada seseorang yang mampu membuat dia bisa melupakan Lian yin, mungkin dia akan berpaling.

__ADS_1


“Belum ada calonnya, aku gak punya pasangan. Kamu tahu Changmin sudah menemukan pasangannya, dan Lian yin juga sudah menemukan jodohnya, tinggal aku sendiri yang belum menemukan pujaan hati yang lama aku tunggu”ucap Lay, seakan sudah mengharapkan kasih syang dari seorang wanita seperti teman-temanya yang lainya.


“He.. He jangan sedih, kamu masih punya teman yang perduli dengan kamu, meski mereka berdua punya pasangan tapi mereka juga masih perduli dengan kamu, dan aku teman baru kamujuga akan selalu bersama kamu sekarang”ucap Lyli.


Lay, menyadarkan kepalanya dari kepala Lyli, ia mentap danau bersama dengannya.


Lay ingin sekali mengusap kepala Lyli namun perasaan  menghantuinya. Ia tidak berani mengucapkan apa yang di inginkan hatinya sebenarnya.


“Apa kamu mau bersama denganku?”tanya Lay.


“Iya, aku selalu bersama denganmu. Sebagai teman kamu yang paling perduli dengan kamu, dan jika kamu nanti bisa menemukan pujaan hati kamu, akuakan selalu hadir paling depan di acara pernikahan kamu nantinya.”ucap Lyli, membuat hati Lay mencut seketika, ia yang semula memberi kode padanya, namun ternyata Lyli tidak peka, ia hanya menganggap dirinya sebagai teman tidak lebih dari seorang teman.


“Kenapa kamu diam?”Tanya Lyli, yang mulai bangkit duduk seperti semual.


“Aku hanya merasa sangat bosan dengan kehidupan ini, yang merasa tidak pernah berpihak padaku. Setiap aku mulai menyukai seseorang tapi, orang itu tidak pernah menyukaiku”ucap Lay.


“Kenapa kamu bepikir duniaini tidak berpihak pada kamu, apa kamu tahu hidupan ini selalu berpihak pada kamu, awal memang terasa menyakitkan, tapi kebahagiaan akan selalu ada saat waktunya tiba nantinya”ucap Lyli.


Lay menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 01.00 malam. “Ayo kita pulang, sepertinya sudah sangat larut malam”ucap Lay.


“Iya, sudah hampir pagi, besok kita masih harus mengikuti jalanya pertandingan Ywen. Aku juga sudah penasaran dengan apa yang di pakai Lian yin besok. Saat dia jadi wanita untuk sementara.”ucap Lyli.


“Apa kamu masih suka dengannya?”Tanya Lay, yang memberanikan diri bertanya pada Lyli soal perasaanya dengan Lian yin, yang kini sudah jadi asangan orang lain.


“Perasaan itu, entahlah, aku masih syang atau tidak. Atau memang aku masih mencintainya”ucap Lyi.


“tapi Lian yin sudah mencintai orang lain, bahkan dia sudah menikah dengannya. Kenapa kamu masih mencitainya?”ucap Lay, dengan perasan kesalnya. Lyli tidak melihat orang yang ada di sampingnya. Dan malah memikirkan orang lain yang jelas-jelas tidak pernah mencintanya.


“aku tahu mereka sudah menikah, tapi entah kenapa perasaan ini tidak bisa di hilangkan. Meskipun Lian yin selalu menolakku, menyakiti aku dan mungkin tidak pernah menganggapku. Tapi aku ingin selalu ada untuknya, membantu di setiap dia butuh aku.”ucap Lyli dengan senyum membayangkan wajah Lian yin.


“apa kamu tidak bisa melihat lelaki lain yang lebih syang dengan kamu”ucap Lay, yang mulai menjalankan mobilnya pergi dari pinggir danau.


Lyli tertawa. “Siapa yang mencintai aku”ucapnya.


“Kenapa kamu gak melihat lelaki di samping kamu”ucap lay, yang mulai tak bisa menahan rasa sukanya.


“Kamu suka denganku”ucap Lyli. “Jangan pernah suka denganku, dari pada kamu sakit hati, karena perasaan kamu tidak terbalas.”lanjutnya.


Lay terdiam seketika mendengar ucapan Lily, entah kenapa dia masih mencintai Lian yin, apa yangia suka darinya. Hingga dia susah untuk melupakannya sampai sekarang, meski perasaan itu tidak pernah terbalas.

__ADS_1


Lyli yang merasa sudah sangat lelah ia tertidur di perjalanan menuju ke hotel. “Mungkin takdirku, hanya bisa mengagumimu, dan tidak bisa memilikimu”ucap Lay, tersenyum memandang wajah Lyli.


__ADS_2