
"Hari ini kita mau kaman lagi?" tanya Yiwen.
"Kamu lupa, bukannya kamu mau bertemu dengan ayah kamu, dan sekalian berbicara dengan luhan soal kerja sama kita nantinya"ucap Lian yin, sebenarnya ia ragu jika bertemu dengan Chengyi, pasti dia akan mengambil Yiwen darinya. Tapi itu tak mungkin ia biarkan karena yiwen sudah menjadi miliknya. Tetapi Lian yin merasa sangat khawatir jika berada di rumah Chengyi nantinya.
"Kalu begitu cepat kita berangkat, sebelum ada orang yang mengintai kita."gumam Yiwen, menarik tangan Lian yin untuk segera pergi dari restaurant itu.
Semenjak ada ancaman itu, Yiwen jadi tidak tenang dan selalu hati-hati setiap keluar kemanapun. Dan ia juga tak percaya dengan orang sembarangan yang baru sjaa ia kenal. Karena orang itu juga bisa jadi adalah seorang musuh baru yang menyamar.
"Yin, kamu sekarang setiap pergi kemanapun ajak aku ya" gumam Yiwen menoleh ke arah Lian yin.
"Memangnya kenapa harus ajak kamu?" tanya Lian yin mencoba menggoda Yiwen.
"Karena aku gak mau jika kamu dalam bahaya, Aku ingin selalu menemanimu meskipun dalam bahaya sekalipun aku juga tidak akan takut." gumam Yiwen.
"Baiklah, syang"ucap Lian yin mengusap lembut kepala Yiwen. "Sekarang kamu pakai sabuk pengaman dulu, kita berangkat ke rumah Chengyi dan mungkin perjalanan kita akan membutuhkan waktu lama. Kalau kamu capek tidurlah, aku bisa nyetir sendiri"ucap Lian yin, yang mulai menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju pergi dari parkiran restaurant itu.
"Iya, aku mau temani kamu sebentar, kalau aku capek baru aku tidur nanti. Sekarang aku belum mengantuk"gumam Yiwen menatap wajah suaminya dari samping.
"Ya sudah, jangan paksain untuk membuka mata kamu kalau sudah ngantuk"ucap lian yin.
"Baiklah.." gumam Yiwen
Perjalanan mereka memakan waktu hampir 2 jam berlalu, Yiwen yang dari tadi terus bicara kini suaranya seakan hilang, mobil itu nampak hening, hanya lagu klasik yang menemani perjalanan Lian yin. Yiwes sudah tertidur lelap di sampingnya. Mungkin terlalu capek bicara dari tadi gak ada habisnya. Hingga ia tertidur sendiri di tempat duduknya.
Lian yin menghentikan mobilnya tepat di depan supermarket. Karena perjalan jauh takutnya nanti saat bangun Yiwen meminta cemilan. Jadi sebelum meminta, ia lebih memilih untuk sedia lebih dulu. Lagian Yiwen juga masih tertidur pulas.
Merasa sudah cukup membeli semuanya, Lian yin meletakkan di kursi belakang. Ia menatap sekilas wajah istrinya itu.
"Lucu juga kalau tidur gini" gumam lian yin mengusap pipi istrinya itu.
"Maafin aku tadi sempat marah denganmu tadi, aku tadi terlalu terbawa emosi. Tapi kalau aku melihat kamu seperti ini terus, mana mungkin aku bisa ninggalin kamu gitu saja"Gumam lian yin menyilakan rambut istrinya .
Pandangan mata Lian yin tertuju di balik spion, ada sekilas orang yang lewat di belakang mobilnya, dia terlihat mencurigakan terus melihat dan menatap aneh ke mobilnya. dengan sekujur tubuhnya tak terlihat hanya pandangan matanya seperti seorang wanita.
"Siapa dia?" batin Lian yin bertanya pada dirinya.
Orang mencurigakan itu melihat Lian yin mulai curiga, ia langsung pergi dari tempat itu sebelum Lian yin turun dan menangkapnya nanti.
__ADS_1
Lian yin beranjak turun mencoba mengejarnya, namun dia berhasil kabur dari pandangan Lian yin.
"Shitt.. kenapa dia begitu mencurigakan"gumam Lian yin.
"Yiwen!!" Lian yin tiba-tiba terpikir Yiwen yang masih berada dalam mobilnya sendiri. Ia berlari kembali melihat Yiwen di mobilnya.
Melihat dia masih berada di mibil membuatnya bisa bernapas lega kali ini, Yiwen masih tertidur mobil. Tak mau berlama-lama di situ Lian yin segera pergi meninggalkan dari halaman minimarket itu.
"Ya aku masih beruntung dari tadi Yiwen aku tinggal masih dalam keadaan utuh dan tidak terjadi sesuatu padanya."Gumam Lian yin tersenyum lega masih di kaish kesempatan melihat istrinya lagi. Ia menusap pipi Yiwen lembut, hingga Yiwen tersadar dari tidurnya.
"Yin"panggil Yiwen yang perlahan mulai membuka matanya.
"Iya syang, kamu gak apa-apa kan?" tanya Lian yin panik melihat Yiwen memegang kepalanya.
"Gak apa-apa, aku hanya agak pusing dikit bangun tidur, Kenapa kamu terlihat sangat khawatir gitu padaku?" tanya Yiwen bingung, ia melihat Lian yin tiba-tiba panik dan khawatir padanya.
"Emangnya ada sesuatu yabg terjadi tadi?" tanya Yiwen melanjutkan ucapanya.
"Syukurlah kalau memang mamu gak apa-apa"ucap Lian yin mengusap rambut Yiwen lembut. "Aku tadi melihat seorang yang terus mengintai mobil kita. Saat aku mengikuti kemana dia pergi tapi aku kehilangan jejak dia. Aku pikir tadi kamu di bawa olehnya. Jadi aku berlari menuju ke mobil lagi, khawatir dengan kamu yang lagi tertidur pulang."Ucap lian yin menyandarkan kepala Yiwen ke pundaknya. Menghilangkan rasa khawatir yang sempat menganggunya tadi.
Yiwen merasa ada sosok yang selalu menjaganya, seperti orang tuanya. Meski ia tidak tahu kenyataan tentang orang tuanya, ia belum bisa mengingat semuanya. Yang ia tahu sekarang hanyalah Lian yin sosok yang selalu ada untuknya.
Lian yin mengecup ubun kepala Yiwen. Ia mendekap erat tubuh Yiwen seolah ia benar-benar tak bisa kehilangan Yiwen lagi.
"Aku khawatir denganmu, aku gak bisa bayangkan jika orang itu menyakitimu. Apalagi tadi kamu tidur."ucap Lian yin.
"Yin, sudah jangan khawatir lagi, lagian aku gak apa-apa. Sekarang ayo kita teruskan perjalanan kita"ucap Yiwen menlepaskan pelukan Lian Yin.
"Baiklah, kalau kamu haus aku beli meinuman di kentong plastik kursi belakang, snack juga ada buat temani kamu nenti"ucap Lian yin. yang mulai memegang setir mobilnya. Ia sudah bersiap melanjutakan perjalanan lagi.
"Udah sekarang kalau jamu mau tidur lagi, tidur aja"ucap Lian yin mengusap lembut rambut Yiwen.
"Dari tadi aku udah tidur sekarang aku mau nemenin kamu dulu"ucap Yiwen,menoleh ke belakang. Menatap sekilas makanan di belakang, lalu ia segera mengambil beberapa snack dan 2 botol minukan soda.
"Kamu mau?" tanya Yiwen membuka salah stau snack.
"Boleh." Gumam Lian yin yang fokus dengan jalan di depannya.
__ADS_1
"Aku suapin ya?" ucap Yiwen menawarkan diri. Tanpa menolak Lian yin mulai nenerima suapan demi suapan dari jemari tangan Lian yin.
"Huaammmm"Yiwen menguap lebar setelah menghabiskan 2 snack dan 1 botol minuman.
perut yang semula tetus berbunyi dan merasa lapar lagi, kini perutku terasa penuh kenyang, kenapa jadi ngantuk"ucap Yiwen.
"Udah tidur aja sayang, jangan di paksa"ucap Lian yin.
"Baiklah, gak apa-apa ya aku tinggal tidur"ucap Yiwen.
"Gak apa-apa syang, lagian kamu cepek jadi tidur saja"ucap Lian yin. "Lagian juga sudah dekat kok, gak perlu di temani lagi"Lanjut Lian Yin.
Mereka sampai di sebuah kota yang tak begitu padat penduduk. Buat di bilang daerah perbatasan. Namun suasana di sana masih belum serame di kota besar. Kota itu nampak sangat sepi, hanya satu dua orang lewat melintasi dengan naik sepedah. Sekelilinya masih di penuhi dengan pohon rindang tertata rapi di pinggir jalan.
"Dorr...."
Shiiitttt... ckiiittttt. Suara rem mobil mendadak membuat Yiwen terbentur di dasboard mobil. "Ada apa, yin? kenapa kamu rem mendadak sih" tanya Yiwen memegang keningnya, yang terasa sakit.
"Shiittt" Lian yin memukul setir mobilnya. "Ada seseorang yang sengaja menembak ban mobil kita."lanjut lian yin
"Siapa?" tanya Yiwen, kembali duduk semula.
"Aku gak tahu, kamu di sini saja, aku mau keluar sebentar."ucap Lian yin mengusap keapa Yiwen.
Yiwen memegang pergelangan tangan Lian yin mencegahnya pergi.
"Gak mau, aku ikut denganmu"ucap Yiwen.
"Aku takutnya itu Lee, dia mengikuti kita. Aku gak mau nantinya dia membawaku pergi lagi"ucap Yiwen yang masih memegang tangan Lian yin tak mau lepas darinya.
"Baiklah, tapi kamu jangan menjauh dari sisiku. Kamu harus tepat di sampingku"ucap Lian yin menegaskan.
"Iya syang, apa kamu mau ganti ban mobilnya?" tanya Yiwen.
"Iya syang, mau cari dongkrak dulu."ucap Lian yin.
"Baiklah, selagi kamu dongkrak ban mobil, aku yang jaga"ucap Yiwen.
__ADS_1