Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Kedatangan Mei dan Yiwen


__ADS_3

Lian yin yang dari tadi berpencar dengan dua temannya Lay dan Changmin. Ia memiih untuk kembali sendiri ke gedung tua, tanpa sepengetahuan mereka semua. Dia tahu jika di dalam ada orang yang melihat setiap kejadian di luar. Termasuk dirinya yang diam-diam pergi ke sana dan masuk ke lorong. dan orang itu pasti sudah menyadari kehadirannya lebih awal. Namun, mereka tidak berani menampakkan wajahnya di depan Lian yin maupun yang lainnya. Benar-benar tersembunyi, dan tidak pernah menunjukan pada semua orang yang lewat di sana.


Lian yin masih terdiam di dalam mobil, menatap ke rumah tua.


"Maaf aku telah membohongi kalian, aku kembali sendiri. Aku tidak mau merepotkan kalian lagi, dan terus melibatkan kalian dalam bahaya. Aku bisa mengatasinya sendiri kali ini" gumam Lian yin dalam hatinya, ia fokus dengan jalan di depannya. Meski ia sendirian, namun pikirannya tak sendiri. Ia bahkan terus teringat tentang Yiwen, berbagai pertanyaan muncul di otaknya tentang Yiwen. Apakah Yiwen tahu dia ada di sini atau dia sedang tidur pulang di ranjangnya.


"Apa Yiwen sekarang masih tidur, tau dia bingung mencariku" gumam Liam yin dalam hatinya. Ia tidak menyangka jika harus oergi tanoa sepengetahuan Yiwen kali ini.


Laju mobilnya berhenti tepat di belakang gedung tua itu dan ia hampir satu menit berdiam diri di sana. Bukannya parkir mobil di depan gedung, ia lebih memilih di belakang. Karena ia yakin jika dia masuk dari belakang gedung, dan markas mereka bersembunyi di sana.


Lian yin menatap ke depan, ia tidak melihat siapun di sana. hanya rerumputan yang menjulang tinggi menutupi sebagian gedung yang sudah rapuh itu. Dan pepohonan rindang yeng menutupi bagian samping kanan gedung yang sudah sebagian tetlihat roboh.


"Sepertinya di balik pohon itu sangat mencurigakan" gumam Lian yin, yang mulai melepaskan sabuk pengaman mobilnya dengan segera, ia melangkahkan kakinya turun dari mobil.


Dengan langkah ringan, ia berjalan menuju ke sebuah pohon besar yang tidak mungkin bisa di dekap hanya satu orang. Pohon itu sangat besar, dan mungkin cukup dalam dekapan sepuluh orang melingkar mengelilingi pohon itu. Pohong yang menjulang tinggi dan sangat besar.


Lian yin menatap setiap sudut pohon itu, ia yakin jika ada jalan masuk dari pohon itu. Atau mungkin pintu masuk yang memang terletak di pohon itu. Dan hang di dalam rumah tadi hanyalah ilusi yang memang sengaja. ia buat untuk mrmancingnya. Jika tadi ia masuk ke dalam ilusi tersebut yang akan membawanya ke dalam amsa depan dan masa lalu yang penuh dengan ilusi dirinya.


Untung saja tadi Changmin mengingatkannya agar tidak mau ke dalam. Yang memang pada dasarnya tadi ia ingin selalu melangkah masuk ke dalam ilusi tadi. "Sebuah ilusi yang di buat tidak sembarang orang, pasti orang ini ilmu kepintarannya setara dengan Wo Jian orang yang di bilang Lay tadi. Meski belum tahu siapa Wo Jian tapi aku merasa yakin jika dia sangat ahli dalam bidang apapun" gumam Lian yin.


Krataakk..


Lian yin tak sengaja menginjak rantaing pohong di tanah yang sudah terlihat rapuh kecoklatan.


"Sialan kenapa aku gak waspada dan hati-hati sih" ucap Lian yin.


Lian yin terus melangkahkan kakinya, kali ini ia lebih hati-hati dan tak segaja Lian yin memegang pohon itum tanpa menyentuh apapun.


Kreekkk..

__ADS_1


Sebuah pintu terbuka di balik pohon, seakan sudah menyambutnya untuk masuk ke dalam sebuah pohoh besar. Meski ia nampak sangat ragu untuk masuk, lian yin menarik napasnya. Mencoba menarik napasnya perlahan. Dan mulai melangkahkan kainya masuk ke dalam pohon itu dan.


Braakkk..


Pintu itu tertutup dengan keras, membuat Lian yin terjingkat terkejut. "Sialan apa gak bisa nutup pintunya pelan saja" humam Lian yin, yang langsung berjalan masuk ke dalam pohonh uang terlihat sangat gelap. Namun di depan terlihat anak tangga menuju ke atas, namun anak tangga yabg bisa di lewati hanya satu orang di sampingnya.


"Ini sebuah markas yang memang sepertinya sudah di rancang sudah sejak lama oleh mereka. Pasti mereka juga sudah lama masuk ke dalam markas ini. Bolak, balik tanpa harus pergi ke tempat asal mereka untuk bersembunyi. Bahkan sepertinya sudah menjadi rumah mereka.


"Tapi siapa di balik semua ini" tanya Lian yin dalah hatinya. Ia ingin mengetahui sebenaanya siapa di balik dalang semunya.


Lian yin berjalan sangat hati-hati, ia menghentakkan langkah kakinya sangat pekan. Ia sengaja memelankan langkahnya, agar musuh tidak dengan mudah mengetahui dirinya.


~


Di sisi lain Changmin dan Lay masih berurusan dengan mobil yang membuatnya kesal.


Brakkk.. Brakkk..


Benar seperti dugaan Changmin, orang yang ada di dalam semua menodongkan senjata tepat di depannya. Namun, bagi Changmin itu bukanlah hal yang menakutkan. Ia memang sekarang tidak memegang senjata, tapi ia membawanya, tanpa sepengetahuan mereka.


"Kalian tidak membawa senjata, jadi menyerahlah. Ikut dengan kita sekarang atau aku akan membunuh kamu" ucap seorang yang sangat mencurigakan.


"Ikut dengan kalian? aku gak takut dengan senjata kalian yang hanya senjata biasa" ucap Changmin penuh percaya diri. Dan Lay hanya menanggapi mereka dengan wajah yang terlihat tidak panik sama sekali.


"Kalian jangan bodoh, senjata ini memang biasa. Tapi gimana kalau kita coba" ucap orang di depan Lay yang perlahan melangkah mendekati mereka dengan tangan kasih menodongkan senjata.


"Baiklah, Coba saja" ucap Changmin menarik tubub Lay ke belakang, dengan sigap ia menodongkan senjatanya di perut Lelaki kekar itu.


"Kita impas, jika aku mati maka kamu juga harus sama merasakan senasip dengan aku" ucap Changmin.

__ADS_1


Semua orang di dalam keluar dari mobil, dan segera membantu 3 teman mereka yang di depan. Mereka mendongkan senjata pada Lay dan Changmin. "Apa kalian sudah ingin membunuh diri kalian sendiri, ini tempat kita wilayah kita, kalau kalian berani macam-macam di sini. Maka tamatlah kalian semua." ucap Changmin.


Semua orang di depannya tertawa. "Ini tempat sepi, jangan seperti anak kecil yang pandai menakut-nakuti"


DOR.. DOR... DOR...


Tembakan bertubi-tubi mengarah pada orang di depan Lay dan Changmin. Dengan sangat lihainya Mei dan Yiwen, berjalan dengan langkah ringan, ia mengganti pelurunya yang sudah habis dengan peluru yang mematikan.


DORR.. DORR..


Tembakan bertubi membuat salah satu dari mereka terkena senjata, dan yang lainnya hanya bisa berlari dengan luka tembak yang mengenai tangan dan ada yang mengenai kakinya. Mereka masuk ke dalam mobil, dan langsung melaju dengan kecepatam tinggi pergi dari jalanan itu.


"Huuff.. Kita berhasil" ucap Mei pada Yiwen, dengan ke dua tangan standing aplause.


"Gimana mereka bisa tahu kalau kita di sini" tanya Lay pada Changmin, di depannya.


"Aku gak tahu, aku tidak bialng dengan mereka. Bukannya mereka tidur pulang tadi pagi" ucap Changmin dengan wajah yang masih bingung. Dua perempuan itu melakukan tembakan dengan sangat sempurna, meski mereka tidak berniat untuk mrmbunuh, hanya ingin melukai mereka saja.


"Kalian gak apa-apa?" tanya Mei, berjalan mendekati Lay dan Changmin.


"Gak apa-apa, kalian kenapa bisa di sini?" tanya Changmin.


"Di mana Lian yin, dia gak pulang. Dan dia juga gak ada di samping kalian?" sambung Yiwen.


"Kita mau kembali ke rumah tua, dan aku yakin jika Lian yin ada di sana sendirian" ucap Lay.


"Ya udah kita sekarang cepat susul dia" ucap yiwen, berlari masuk ke dalam mobil. Ia sangat khawatir dengan keadaan Lian yin, yang diam-diam pergi meninggalkan dia saat tidur.


Namun Yiwen dan Mei sudah punya rencana sendiri, untuk mengikuti mereka diam-diam. Karena kecerdikan Mei membuat Yiwen tidak mudah di bodohi oleh Lian yin.

__ADS_1


"Baiklah" ucap Lay dan Changmin kompak yang lansung masuk ke mobil dan dengan segera Lay mengemudi mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke gedung tua. Changmin dan Para wanita hanya diam, merasakan sensasi naik mobil yang membuat jantung mereka terasa ingin copot.


__ADS_2