
"Ada apa? Kenapa kalian saling memandang, dan wajah kalian terlihat sangat serius? Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku" tanya Yiwen curiga. "Emm. Apa kalian memang sengaja tidak menyembunyikan dariku?" lanjutnya.
"Gak ada apa-apa syang, aku hanya dapat sesuatu dari Luhan. Nanti aku akan memberi tahu kamu" gumam Lian yin, mengusap kepala Yiwen. Ia terdiam sejenak, sepertinya dirinya mulai mengingat sesuatu tentang apa yang di kasih Luhan padanya. "Bentar aku masuk dulu ke kamar. Kalian lanjut saja ngobrol" gumam Lian yin bangkit dari duduknya dans segera berlari masuk ke salam kamarnya.
Yiwen menatap ke arah Lay dan Changmin penuh curiga. Merasa terpojok dengan pertanyaan Yiwen. Changmin langsung buka suara, "Aku gak tahu apa-apa?" ucap Changmin, mengibaskan ke dua tangannya ke depan.
"Beneran gak tahu apa-apa?" tanya Yiwen memastikan.
"Iya, tadi dia dapat telepon dari Luhan, katanya dia memberi sebuah surat untuknya. Terus dia lari keluar ambil surat itu yang ternyata sudah di bawa pembantunya, udah dapat surat itu, sekarang lari lagi ke dalam kamar" gumam Changmin.
"Baiklah, kalau gitu." ucap Yiwen. "Mei aku masuk dulu ya, nanti kita sambung lagi pembicaraan kita" ucap Yiwen pada Mei di sampingnya.
"Iya, mendingan kamu cari tahu kenapa itu Lian yin, sepertinya dia ada masalah dengan Luhan. Atau ada masalah baru yang memang tidak ingin di ketahui semua orang" ucap Mei.
"Aku juga kepikiran begitu, tapi semoga saja tidak ada masalah dengan Luhan" ucap Yiwen yang langsung berlari menaiki anak tangga menuju ke kamar Lian yin dengan sangat buru-buru.
"Yin, kamu di mana?" ucap Yiwen melangkahkan kakinya ke dalam, ia tidak melihat Lian yin di kamarnya. Wajah yiwen penuh curiga dan khawatir dengan keadaan Lian yin.
"Yin" panggil Yiwen mencoba mencari di dalam kamar mandi, namun tetap saja tidak mendapatkan Lian yin di sana.
"Di mana dia, kenapa dia tidak ada di kamarnya. Tadi terakhir dia bilang jika pergi ke kamar, tapi kenapa sekarang dia mengilang. Dan tidak ada di kamarnya" gerutu Yiwen, ia memutar matanya menatap ke arah balkon kamarnya. Tidak ada siapapun juga di sana, hati Yiwrn terus bekecamuk, pikiran negatif tentang Lian yin, mulai terlintas dalam benaknya. Ia mengira jika Lian yin kabur dari rumah, dan mencari Luhan. Tapi apa untungnya jika dia mencari Luhan. Atau malah dia di culik, pikiran itu terus teringat di kepalanya, membuatnya semakin pusing.
Yiwen segera berlari turun menuju ke ruang tamu. Lay dan yang lainnya masih duduk di sana sambil berbincang tentang sebuah rencana. "Kalian tahu Lian yin gak?" tanya Yiwen, dengan badan menunduk, napasnya terasa sangat sesak, dan susah sekali bernapas.
"Gak tahu, bukannya tadi dia di kamarnya" ucap Changmin.
"Dia gak ada di kamarnya" ucap Yiwen, menunjuk ke kamar Lian yin di atas.
Semua memandang Yiwen terkejut dan bangkit dari duduknya. "Apa kamu bilang, dia gak ada di kamarnya" ucap Changmin, yang mulai menunjukan wajah seriusnya lagi.
Lay hanya diam, ia memutar otaknya sebentar untuk berpikir. Jika Lian yin tidak ada di kamarnya, aku yakin jika dia pasti bersembunyi di ruangan rahasia, gumam Lay dalam hatinya.
"Aku akan cari, lebih baik kalian di sini saja" ucap Lay, yang memang tahu ruang rahasia Lian yin, ia tidak ingin membuat Yiwen dan Mei tahu tentang ruangan rahasia yang memang sudah sejak dulu untuk menyimpan semuanya.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama. kamu harus bawa balik lagi Lian yin"Ucap Yiwen yang semakin khawatir.
"Iya" Lay bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar Lian yin, ia memang tidak mrlihat siapapun di dalam, namun ia menuju sebuah lukisan di sana, lukisan yang sangat kecil, ia memutar lukisan itu, terbukanya tembok itu, dan langsung tertutup kembali.
"Yin" ucap Lay, yang melihat Lian yin duduk ia mencocokan beberapa kertas yang sudah ia kumpulkan dari rumah kosong.
"Lihatlah tanda ini" gumam Lian yin.
"Tanda apa? ucap Lay berjalan mendekati Lian yin.
"Sebuah tanda berbentuk lingkaran, dan lingkaran ini masih kurang dua kertas lagi. tapi lingkaran ini sangat aneh" gumam Lian yin.
Lay mencoba mengamati sejenak, ada benarnya jika kertas itu sangat beda, Lay segera menuju ke sebuah lemari kecil, dan mengambil sebuah kaca pembesar. "Lihat ini ada sebuah peta kecil" ucap Lay.
"Peta?" Lian yin menatap Lay bingung, ia tidak tahu jika di situ ada sebuah peta.
"Peta apa? Apa sebenarnya yang di sembunyikan oleh kakek aku dan kakek wanita itu" ucap Lian yin, ia semakin bingung.
"Wanita? Siapa?" tanya Lay .
"Seorang wbaita yang di jodohkan dengan aku, aku tidak mau bilang dengan Yiwen, aku takut jika dia marah. Saat aku menemukan peta ini, maka aku harus menikahi wanita itu, tapi aku gak tahu di mana wanita itu, dan dia masih hidup atau tidak aku juga tidak tahu" gumam Lian yin.
"Jadi itu masalahnya kamu menghindari Yiwen dan memilih sembunyi di sini?" tanya Lian yin.
__ADS_1
"Iya, tapi ini peta masih belum penuh, kamu ciba cek ini peta di kota mana" ucap Lian yin.
"Baik, tapi kenapa kamu gak bilang pada Yiwen, jika dia tahu mungkin dia punya solusinya. Aku menyarankan kamu lebih baik bilang padanya. Jangan menyembunyikan rahasia ini darinya." ucap Lay.
Lian yin terdiam sejenak, mencoba memikirkan apa yang di katakan Lay. Jika dia menyembunyikan ini terlalu lama, maka Yiwen akan dengan sendirinya tahu dan marah padanya. Mungkin akan benar-benar pergi darinya.
"Mungkin benar yang kamu katakan, aku juga harus minta pendapat dari Yiwen juga. Pasti dia tahu caranya." gumam Lian yin.
"Ya, sudah sekarang kita keluar. Dia menunggumu di luar" ucap Lay.
Ia mencoba melihat situasi di luar ruangan itu, lebih tepatnya di dalam kamar. Di sana ada Yiwen, Mei dan Changnin duduk santai di sofa.
"Ada mereka di depan, apa kamu mau keluar sekarang?" tanya Lay.
"Jangan, lebih baik kamu hubungi Changmin suruh bawa Mei keluar dari kamarku. Aku ingin bicara berdua dengan Yiwen" ucap Lian yin.
"Baiklah" Lay, segera mengirimkan sebuah pesan untuk Changmin.
"Sudah" lanjutnya.
"Ya, udah sekarang kita langsung keluar" gumam Lian yin. "Tapi Changmin sudah keluar kan?" tanya Lian yin.
~
Di sisi Lain, Yiwen duduk sendiri di ranjang. Ia bingung apa yang harus di lakukan, dan kemana Lian yin, kenapa dia pergi saat dia tadi benar-benar berada di kamar. Sebenarnya di mana dia, kenapa dia menghilang begitu cepat. Ucapan itu yang terus terlontar di pikiran Yiwen, ia tidak bisa tenang jika belum melihat wajah Lian yin di depannya.
Saat Yiwen terdiam, termenung sendiri, sebuah tebok di depannya terbuka. Membuat Yiwen terkejut seketika. Sontak, wanita itu langsung berdiri.
"Apa-apaan ini?" tanya Yiwen pada Lian yin di depannya.
Lian yin melangkahkan kakinya menuju ke arah Yiwen. "Maaf aku baru memberi tahu semua ini padamu" ucap Lian yin.
"Iya, maafkan aku" ucap Lian yin, menundukkan kepalanya. Ia menyesal telah menyembunyikan semuanya dari Yiwen.
"Aku tidak marah, aku sekarang teringat sesuatu. Gimana kalau besok kamu temani aku ke rumahku dulu. Kamu pasti ingat-kan di mana rumah aku dulu" ucap Yiwen.
"Iya, ingat. Memangnya kenapa?" tanya Lian yin.
"Aku ingin tinggal di sana lagi, gimana kalau kita tinggal di sana untuk sementara waktu. Dan semua berkas penting kamu yang mereka cari bawa juga bersama kamu" gumam Yiwen.
"Tapi di sana tidak aman syang, di sana gak ada pengaman sama sekali." gumam Lian yin.
"Kata siapa tidak aman? Di sana jauh lebih aman. Rumah itu di desain khusus ayah aku dengan keahliannya. Bahkan dia bisa mengubah semua rumah itu dalam waktu satu hari. Di sana tingkat keamanan IT-nya jauh lebih tinggi. Dan bukannya aku menghina atau meragukan kecanggihan IT yang di buat Changmin dan Lay. Tapi di sana ayah aku yang punya pengalaman jauh lebih banyak. bahkan dia yang di cari dunia, untuk mengembangkan semua bidang IT, menuju ke masa depan" gumam Yiwen.
"Apa katamu? Ayah kamu bisa melakukan itu semua. Apa ayah kamu bernama Wo Jian?" tanya Lay, yang kenal dengan nama itu. Nama yang sangat populer di seluruh dunia, bahkan tidak ada orang yang tahu di aman keberadaannya sekarang. karena dia suka verpindah tempat dalam waktu beberapa detik saja.
Yiwen menoleh ke arah Lay. "Gimana kamu bisa tahu?" tanya Yiwen.
"Dia sangat terkenal, bisakah aku bertemu dengannya?" tanya Lay.
"Aku saja gak tahu di mana ayah aku sekarang, dia datang dan pergi kapan saja. Jadi aku gak begitu khawatir dengan dia. Saat dalam bahaya-pun dia bisa menghilang kurun waktu beberapa detik" gumam Yiwen.
"Baiklah besok sore kuta ke sana" gumam Lian yim berjalan mendekati Yiwen.
"Iya, aku akan beres-beres brang aku sekarang. Dan nanti aku berharap bisa bertemu dengan ayah aku di sana. Dia pasti tahu solusi yang terbaik buat kita nantinya" gumam Yiwen dengan wajah nampak sangat senang.
Lay menatap ke arah Lian yin, seakan ingin sekali bertanya tentang rencananya besok.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Lian yin, yang sadar Lay menatapnya.
"Besok?" gumam Lay, hanya memberi kode.
"Tenang saja, aku bisa atur" gumam Lian yin.
"Besok aku bisa sendiri, kamu jangan khawatir" ucap Lay.
"Apa yang kalian bicarakan? Besok kenapa?" tanya Yiwen bingung dengan pembicaraan mereka.
"Besok kita mau pergi syang, tapi gak jadi. Aku temani kamu ke rumah. Aku juga ingin bertemu dengan mertua aku yang terkenal itu." gumam Lian yin mengalihkan pembicaraan.
"Tapi bentar, jika ayah kamu terkenal. Kenapa harus memilih di tempat kecil itu. Harusnya dia punya berbagai usaha perkembangan IT modern."ucap Lian yin bingung dengan cara berpikir ayah Yiwen.
"Entahlah aku juga tidak tahu tentang itu." gumam Yiwen.
Tok.. Tok..
Seuara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka. "Siapa?" tanya Yiwen.
"Non, makananya sudah siap. Dan tuan Changmin dan non Mei sudah menunggu, Non dan Tuan Lian yin untuk segera turun makan bersama" ucap pembantu Lian yin.
"Baik, kita akan segera turun" ucap Yiwen.
"Sekarang kita harus turun dulu, nanti kita lanjut lagi pembicaraan kita. Lagian banyak yang perlu aku tanyakan pada kamu" ucap Lian yin.
"Baiklah" gumam Yiwen, yang mulai melangkahkan kakinya keluar dari akamr Lian yin lebih dulu. Di susul dengan Lian yin dan Lay yang berjalan di belakangnya.
"Apa kamu yakin ingin ikut dengan yiwen ke rumahnya. Aku berharap kamu bisa jaga diri anntinya" ucap Lay pada Lian yin di sampingnya.
"Entahlah, tapi aku gak tahu ayah Yiwen, aku juga ingin tahu. Apa dia benar seperti yang kamu bilang atau tidak" ucap Lian yin.
"Kamu gak percaya dengan aku, namanya sudah terkenal ke penjuru dunia. Dan banyak misteri dalam kehidupannya. Bahkan tidak ada satu orangpu. tahu siapa dia sebenarnya dan di mana tempat tinggalnya. Dia hanya menggunakan topeng saat bertemu di dubia publik. Bahkan keluarganya saja tidak ada yang tahu. Aku baru tahu jika Yiwen anaknya. Saat dia bilang ayahnya di kenal dunia, dan saat itu aku tahu jika itu pasti dia, Wo Jian" gumam Lay. "Mungkin kamu akan dapat banyak petunjuk nantinya di sana." lanjutnya.
"Mungkin, sepertinya aku harus ikut dengan Yiwen.Dan bawa beberapa kertas teka-teki itu" ucap Lian yin.
"Iya, aku yakin ayahnya pasti bisa memecahkan teka-teki itu dengan mudah" sambung Lay.
Mereka yang terus berbicara tanpa sadar sudah di depan meja makan.
"Kalian membicarakan apa? Sepertinya serius banget" tanya Changmin.
"Penasaran ya?" ucap Lay.
"Iya, kasih tahu ya" jawab Changmin.
"Gak mau, cari tahu saja sendiri" ucap Lay yang langsung duduk di meja makan.
"Udah, ngobrolnya nanti saja. Sekarang kita makan sama-sama" ucap Lian yin.
"Iya, keburu dingin nanti masakannya" sambung Yiwen.
Tak mau lama-lama lagi, Changmin dengan sangat lahapnya mengambil makanan di depannya.
Plaakkk.
Mei memukul tangan Changmin. "Jangan rakus" ucap Mei, demgan mata melotot ke arah Changmin, membuatnya bergidik takut.
__ADS_1
"Iya" ucap Changmin seketika langsung menudnukkan kepalanya.
Changmin yang terkenal sangat galak dan sadis dulunya, kini dia lebih takut dengan wanita. Saat di bentak atau di pelototi Mei, nyalinya langsung menciut seakan nyawanya sudah di ujung tanduk jika Mei marah-marah.