
Kita hanya berdiri di sini, menatap mereka semua atau
jalan?” tanya Changmin yang sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam desa
kecil, yang berada di depannya.
“Sebenarnya kita mau ngapain di sini?” tanya Changmin yang
tidakj berheti bicara dari tadi.
“Kita mau cuci baju di sini..” ucap Lay, kesal memukul
punggung Changmin.
“kenapa kamu memukulku?” tanya Changmin kesal, menoleh ke
arah Lay, yang berdiri di sampingnya.
“Udah tahu kita diam, buak berarti kita hanya berdiri menatap
mereka. Tapi kita mengamati situasi yang ada di depan. Kita juga tidak bisa gegabah
masuk. Dan Yiwen saja yang tinggal lama di sini, pasti rindu kampung halaman.
Tapi dia saja merasa asing, dengan situasi di depannya” ucap Lay, menjelaskan.
“Iya, aku tahu. Tapi setidaknya jangan lama-lama, kita juga
gak ada waktu lama-lama di sini. Apalagi di sini gak ada jaringan sama sekali.
Dan enak Lian yin dan Yiwen, mereka pasangan jadi gak butuh ponsel. Kalau yang
jomblo seperti kita ini, gimana jadinya? Kita gak bisa menghubungi siapaun di
sini” ucap Changmin resah, melirik ke arah Lay.
“Kalau aku santai saja, dia sudah aku hubungi, dari pada
kamu gak ada yang di hubungi” sindir Lay, membuat Changmin menutup mulutnya
rapat. Perkataan Lay seakan hatinya tertusuk pisau belatu yang sangat tajam,
semakin lama kata-kata dia semakin tajam.
Changmin menelan ludahnya, dan memilih diam, berdiri
menggeser kakinya dua langkah ke kanan dari Lay, Agar dia tidak tiba-tiba
memukulnya.
“Changmin, kenapa kamu gak jalan lebih dulu?” tanya Lian
yin, yang dari tadi diam, kini ia mulai membuka suaranya.
“Jalan kemana?” tanya Changmin bingung.
“Ke depan, kamu ikuti aku, aku curiga di desa ini buka
seperti desa pada umumnya,” Sambung Yiwen, melangkahkan kakinya tanpa mentap ke
belakang. Ia berjalan lebih dulu, di susul oleh Lian yin dan yang lainya
berjalan di belakang mereka.
“Yin,” panggil Yiwen.
“Iya, ada apa?”
“kamu dulu pernah ke suini, sekarang kamu pasti tahu di mana
letak rumah itu?” tanya Yiwenm.
“Ehh.. Yiwen, kamu kan harusnya lebih tahu. Dan nukannya
kamu pernah tinggal di sini, kenapa kamu lupa dengan rumah kamu sendiri. Terus
kita di sini ngapain, kalau kalian lupa tempatnya.” Saut Changmin. Seketika di
balas dengan tatapan tajam dari tiga pasangan mata, membuatnay menelan ludahnya
untuk yang ke sekian kalia. Ia menutup mulutnya rapat-rapat.
“Kamu diamlah!!” ucap Lay.
__ADS_1
“Iya, iya.. aku diam” ucap Lay.
“Aku bukanya lupa dengan tempat ini, tapi ini sangat beda.
Ini beda dengan rumah aku. Tapi tempatnya sama.Yang aku bingung dari rumah aku
yang menghadap langsung ke panyai dan sekarang rmah itu kemana?” pikir Yiwen ,
dengan langkah yang mulai masuk ke dalam desa.
Semua mata menatap ke arah mereka, dengan tatapan tajam
seolah terlihat ada orang asing yang akan mereka jadikan mangsa.
Yiwen menggerakkna kepalany ke belakang dan berbisik.
“Kalian semua hati-hati, di sini snagat bahaya”
“Aku juga mengira begiytu, jadi kalainn jangan anggap mereka
penduduk biasa, kita gak tahu asal usul mereka dari mana. Jadi kalain juga
harus hati-hati, jangan sampai tertipu dengan mereka”
“Siap” ucap tegas Vchangmimn.
“Yin, siapa yang memegang pundakku?” tanya Changmin, dengan
tangan menarik ujung baju belakang Lian yin, dan bibir gemetar ketakutan.
“Yin.. siapa ini .. tanagn siapa ini..” ucap Changmin yang
tak berhenti bertanya. Dam hanya di balas dengan senyuman dari temannya.
“Changmin... ada hantu di belakangmu..” ucap Yiwen, membuat
Changmin, yang memang takut dengan hatui itu sekeyika meloncat dan memeluk
tubuh Lian yin di depannya.
Lian yin memegang kepala Changmin, memutarnya ke belakang.
“Lihat siapa di belakang/” tanya Lian yin.
Melihat seorang laki-laki paruh baya, dengan badan sedikit
“Maaf,,, apa kalain cari seseoranga?” tanya kakaek tua itu.
“Iya kek.. Kita..”
Mulut Changmin seketika di tutup oleh Lay, agar tidak
berbicara seenaknya pada orang yang tidak di kenalnya.
“Maaf, kakek siapa ya?” tanya Yiwen, dengan nada lembut
pebuh keramahan pada orang yang lebih tua.
“Sya, penduduk di sini.” Ucap kakek tua itu.
“Kakek sudah lama tinggal di sini?” saut Lian yin, yang juga
penasaran.
Apa kalian mau ke rumah tua yang ada di belakang pilau ini”
“Rumah tua, bukanya barru lima belas tahun di tinggalkan”
ucap Yiwen, yanhg memang tahu sejarah di pulau itu.
“Iya, dan pemiliknya juga sudah lama pergi, entah sekarang
mereka pergi kemana. Dari informasi yang ada pemilik rumah tua itu sekrang
sudah ada di kota” ucap kakek itu.
“Iya, sudah apa kakek tahu jalan ke rumah itu, karena sudah
lama tidak pernah ke sana. Semua tempat menuju ke rumah itu di tutupi dengan
rumah penduduk desa di sekitarnya.”
“Kalian semua jalan lurus saja, dan belok ke kiri. Rumah
__ADS_1
menghadap ke laut langsung dan di tutupi hutan tembakau jadi tidak terlihat
dari luar desa ini.” Ucap kakek tua itu.
“Baiklah, makasih kek” ucvap Yiwen, yang mulai menarik
tangan Lian yin untuk segera pergi, ia membalikkan badanya dan melangkahkan
kakinya berjalan ke depan ke arah yang suda di tunjukan kakek itu.
“Kek, maaf ya soal tadi.. saya kira akkaek hantu” ucap
Chanhmin yang masih beridir di depan kakek yang ia temui tadi.
Lay yang merasa kesal dengan Chanhmin, ia menarik kerah
belakang Changmin, agar segera pergi mengikuti Lian yin dan Yiwen, yang sudah
jauh di depannya.
“Lay, kenapa kamu menarikku” ucap kesal Changmin, memutar
bandanya menghadap ke depan, dan berjalan beriringan dengan Lay. Dengan
hentakan kaki selaras.
“Kalau bicara dengan orang di lihat dulu, jangan terlalu
mudah dengan penampilannya” ucap Lay, tanpa menta[p ke arah Changmin di
sampingnya.
“Iya, benat kata Lay. Changmin, kamu hatrus hati-hati.
Jangan karena kamu sedang patah hati. Kamu berubah jadi bodoh gini. Dan
bertingkah konyol” ucap Yiwen, membuat hatinya benar-benar ketusuk belati
tajam.
“Kenapa semua di sini, upannya sekan langsung menusuk ke
hatiku. Ucapan kalian semakin hari semakin tajam. Kalian memang sengaja membuat
aku merasa terpojok ya.” Ucap Changmin, dengan anda bercandanya.
Lian yin tidak perdulikan ucapan Changmin, ia berjalan
measuk ke dalam teras rumah yang di maksud kakek tuan tadi.
“Yiwen, apa benar ini rumah yang kamu kan?” tanya Lay.
“Kalau dari tampilannya sam dengan dua baukan yang lalu,
sewaktu aku masuk ke dalam” jawab Lian yin. Melihat detai setiap sudut rumah
itu.
“Iya, ayo masuk kita buktikan saja di dalam, karena di rumah
kecil ini banyak menyimpan sejuta rahasia yang tidak ada yang tahu. Meskipun
musuh, kecuali pemilik rumah ini” ucap Yiwen, yang mulai melangkahkan kakinya
masuk ke dalam teras rumah itu, berjalan ringan, membuka pitu yang terlihat
sudah lapuk dengan sarang laba-laba yang menjalar kemana-mana.
Changmin hanya diam, ia memutar tubuhnya, melihat sekeliling
rumah itu, yang baginya merasa ada hal yang janggal dan aneh pada rumah itu.
Changmin yang bertingkah konyol dan terkadang selalu bercanda dalam melakukan
tugas , tapi dia orang yang sangat teliti dalam setaip situasi yang ada.
“Changminnn!!!” ucap kesal Lay, menoleh ke belakang, ia
melihaty Changmin yang masih berdiri di depan rumah tua itu.
“Ehh... iya, ada apa?” tanya Changmin, berlari menghampiri
Lay.
__ADS_1
“Ada Mei itu di dalam, apa kamu gak mau melihatnya?” ucap
Lay menggoda, dengan senyum tertahan di bibirnya.