
Apa besok akan menjadi
hari baru yang akan menegangkan bagiku, aku harus masuk ke dalam sebuah kandang
singa, entah kau bisa keluar dengan selamat atau tidak. Tapi selagi aku masih
bisa bersama dengan Lian yin, aku ingin melewati hariku, dengan kebahagiaan bursamanya
“Ahh.. udahlah, lebih baik aku siapkan semua bajuku, untuk
besok pagi.” Ucap Yiwen yang sudah mengeluarkan kopernya.
“Syang, kamu lagi ngapain?” tanya Lian yin, yang baru saja
keluar dar kamar mandi, berjalan rngan menghamoiri istrinya itu.
“Lagi menyiapkan semua baju yang akan aku bawa besok, aku
gak mau bawa banyak baju.” Ucap Yiwen, yang mash fokus dengan kopernya.
“Banyak gak?”
“Masih tanya lagi!!” jawab Yiwen kesal.
Lian yin duduk di ranjang, menatap baju Yiwen yang ada di
kopernya.
“Ini punya kamu, “Lian yin mengambil satu dalaman Yiwen, dan
mengangkatnya ke atas.
“Lian yin!! Kembalikan?” umpat kesal Yiwen, menoleh ke belakang,
melotot tajam ke arahnya.
“Kembalikan? Lebih baik aku lihat dulu.” Goda Lian yin.
Yiwen beranjak berdiri, menatap semakin tajam ke arah Lian
yin. “Kembalikan gak?” ancam Gadis itu mencoba untuk meraih dalaman miliknya di
tangan Lian yin. Raut wajahnya sudah mulai kesal, dengan gidaan Lian yin.
“Yin, kembalikan, atau aku akan menendangmu nanti.” Ancam
Yiwen, seketika membuat Lian yin menghantikan candaanya. Terpikir dalam benak
Lian yin, uantuk berbuat lebi dengan Yiwen, mulai menggodanya lagi.
Ia beranjak berdiri, dengan badan sedikit menunduk, dan berbisik.
“Kamu menendangku, makan kamu akan tendangan yang berbeda dariku syang. Bahkan
aku tidak akan melepaskanmu nantinya. Akan aku puasakn kamu semalaman”
Yiwen mendorong tubuh Lian yin, yang hanya berbalut handuk
putih menutupi miliknya, dari pinggang sampai ke lutut kaki. Otor dada dan
perutnya terlihat membuat Yiwen semakain betah saat bersandar di dadanya.
Yiwen merangkak naik, dengan pandangan mata semakin menajam,
ia berbaring di samping Lian yin, mengusap dadanya, menggerakan jari-jarinya
dari perut Lian yin sampia ke dadanya, membuat laki-laki itu meggeliat geli.
“Yiwen, hentikan.”
“Lagian kamu yang mulai menggodaku, maka aku sekarang yang
akan menggodamu, syang” ucap Yiwen, memegang dadanya. Merabanya lembut,
seketika reputasi Lian yin ternodai, ia yang semula berniat untuk menggoda, ia
harus mendapatkan godaan dari Lian yin.
Lian yin beranjak duduk, dan lansung mengecup bibir Yiwen.
“Emmm... Empppt.. “ Yiwen, mencoba melepaskan kecupan Lian yin, mendorong tubuh
bugar Lian yin, namun seakan tubuhnya tak berdaya di hadapan suaminya itu.
“Kenapa kamu menolaknya syang, bukanya itu yang kamu mau?”
goda Lian yin. Melepaskan kecupannya, memandang ke dua mata indah Yiwen, yang
terlihat memancarkan sebuah kenimtanan tersendiri saat bersamanya.
Sebuah benda keras terlihat menonjol di balik, balutan
handuk putih yang menutupi.
Pandangan itu seketika membuat Yiwen, menelan ludahnya
kasar. “Lihatlah, gata-gara kamu, sekarang adik aku keras, kamu hartus tanggung
__ADS_1
jawab.” Lian yin menarik tangan Yiwen.
“Gak mau, salah sendirir, kamu yang menggodaku,” jawab
Yiwen, dengan bibir mengejek.
“Kamu ke sini atau aku paksa,”
“Aku gak mau, Lian yin. Jadi jangan maksa aku, oke.”
Yiwen menarik alis kanannya ke atas, meraih dalamannya yang
masih berada di gengaman tangan Lian yin, dan beranjak dari ranjang. Ia tidak
mau lama-lama menggoda Lian yin, yang malah nantinya laki-laki itu akan nafsu
dengannya. Yiwen beranjak berdiri, melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya,
menatap pemandangan indah dari kamarnya.
“kamu gak mau meneruskannya lagi?” tanya Lian yin, memeluk
tubuh Yiwen dari belakang, membuat tubuh bugar tanpa baju itu menempel di tubuh
Yiwen.
“Aku lagi gak mood syang, lebih baik kita mulai melakukan
pekerjaan saja.” Ucap Yiwen.
“Oya.. Kau sudah siapkan kopi untuk kamu, dan juga roti
panggang sudah aku buatkan.” Ucap Yiwen, tanpa menatap ke arah Lian yin.
Drrttt... drrtt
Ponsel Yiwen berbunyi, membuat Lian yin yang berada di
ranjang, menatap sekilas ponselnya.
“Siapa yang menghubungimu , syang?” tanya Lian yin, meraih
ponsel Yiwen, mentap layar ponsel itu yang masih menyala.
“Aku gak yahu, memangnya siapa namanya, di situ?”
“Gak ada hanya nomor tak di kenal. gak usah di angkat ya!!”
“Coba angkat, siapa tahu, itu Amerta”
“Sudah, gak usah di angkat.” Lain yin memastikan
mendekati Yiwen, membawa dua cangkir kpi dan roti panggang, ia meletakkan di
atas meja, lalu duduk memandangai Yiwen yang dari tadi masih saja berdiri,
memandang ke halaman rumahnya.
“Syang, kanap kamu masih di situ?” tanya Lian yin.
“Memangnya kenapa? Aku mau menikmati pemandangan di sini
syang, lagian pemandangan di sini sangat bagus. Udaranya juga dingin, aku suka,”
ucap Yiwen , memejamkan matanya sembari merentangkan ke dua tanganya ke samping.
Mneikamti angin sore yang mulai masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
Lian yin beranjak berdiri, mememeluk mesra pinggan Yiwen,
dengan dagu menyandar di pundak Yiwen. “Tidak ada yang sejuk selain denganmu.
Karena semua yang membuat sejuk tak sesejuk hatiku saat bersamamu.” Ucap Lian
yin, di balas dengan kecupa lembut di pipi kiri Lian yin.
“kamu memang selalu saja merayu ku. Tapi apa kamu gak tahu,
kalau ada yang lebih indah di dunia ini.”
“Memangnya apa yang lebih indah di dunia, ini?” tanya Lian
yin, panasaran memandang Yiwen dari samping, terlihat lekuk bibir dan
hidungnya, membuat Lian yin bergairah menatapnya, wajah yang terlihat polos dan
cantik, tapi dia terkenal sangat tomboy, namun itu yang membuat dia semakin
suka dengannya.
“Kamu yang paling indah di dunia ini syang, kamu yang selalu
ada buat aku, mengerti semua ke ingin aku, dan selalu ada di saat benar-benar
butuh kamu. Sekarang kamu sudah bagian hidup aku, sekarang dan selaamnya.”
Lian yin hanya diam, tak hentinya memandangi wajah caktik Yiwen
__ADS_1
dari samping, dengan mimik bibirnya saat berbicara terlihat sangat jelas, lekuk
seksi bibirnya, seakan ingin sekali kali ini mengecup lembut bibirnya.
“Lian yin, apa kamu tahu apa yang aku katakan?” tanya Yiwen,
memandang wajah Lian yin yang sangat dekat dengannya, ke dua mata mereka saling
tertuju, entah siapa yang mulai duluan, bi ir Lian yin, ******* sangat lembut
bibir Yiwen, memancing pusaran gairah tersendiri.
“Sekarang kamu cepat minum kopinya, aku mau keluar dulu
syang. Mau lihat, tadi siapa yang menghubungiku,” yiwen, melepaskan kevupan
Lian yin, di saat dalam pucuk gairah, ia beranjak pergi meninggalkan Lian yin,
dan beranjak menuju ranjangnya. “Apa yang kamu amu lakukan, Yiwen?” tanya Lian
yin.
“Aku mau menghubungi nomor tadi!!”
“Aku sudah bilamg, jangan menghubungi siapapun. Apalagi itu
laki-laki. Aku tidak suka,”
“Ini Amerta, syang. Bukan laki-laki, jadi kenapa kamu
cemburu, apa kamu cemburu dengan perempuan. Lagian aku masih norma, buka
lesbian ya.” Ucap Yiwen kesal.
Lian yin terdiam, meneguk minumannya habis, dan meraih roti
panggang yang ia buatkan tadi, mengigitnya, dan mendekati Yiwen, duduk di
sebalahnya, dnegan kepalan mendekat seakan ingin mengecupnya.
“maksud kamu apa syang?” tanya Yiwen bingung.
“Kita makan bersama”
“Riti ini?” tanya Yiwen memastikan.”
“Iya, mau makan apa kalau bukan ini,”
Yiwen mulai menurut apa yang di katakan Lian yin, ia
menggigit roti itu bersamaan dneganya, sampai habis, membuat bibir mereka
saling menyatu, Yiwen menelan cepat roti di mulutnya, dengan segeraLian yin
yang masih bekum merasa puas, ia mengecup bibir yiwen enuh gairah, dengan
tangan memegang pipinya, perlahan mulai turun menuju ke perutnya, dan semakin
ke bawah.
Yiwen yang semula terkejut, ia membalas dalam kecupan Lian
yin, hingga mereka larut dalam pusaran gairah, Lian yin sentuhan jemari Lian
yin, membuat tubuh Yiwen menggeliat geli.
Kecupan mereka semakin dalam, Lian yin membaringkan tubuh Yiwen, pandangan mereka saling
tertuju, dan saling membuang semua yang di rasa menutupi pandnagan matanya,
hingga tubuh mereka terekspos tanpa terkecuali. Lian yin menarik selimut
menutupi ke dua tubuh mereka, dan mulai bermain olahraga tubuh, dengan desahan
dari ke dua mulut mereka saling berpacu dalam hentakan demi hentakan, iarama
tubuh Lian yin, Yiwen, menerima setiap irama, menciumi leher, pipi, punggunh
dandadanya, menahan, permainan Lian yin yang semakin cepat.
Mereka saling memeluk, mencengkram, dengan balutan keringat
yang sudah mulai bercucuran.
Lian yin semakin memempercepat permainanya, hingga 1jam
berlalu adik Lian yin sudha tak bisa tertahan mengeluarkan semburan cairan ke
dalam milik Yiwen.
Laki-laki itu memeluk tubuh Yiwen, di balik selimut,
mengusap kening Yiwen yang sudah basah dengan keringatnya. ‘makasih syang!!”
ucap Lian yin.
“Makasih buat apa?” tanya Yiwen, dengan napas yang
__ADS_1
masih ngos-ngosan