
“Grace sebenarnya kita mau kemana?” tanya Lyli yang dari tadi hanya diam, dan mengikuti Grace pergi.
“Kita lanjutkan soal tadi, kita harus rubah segera sistem keamanan rumah ini. Aku yakin mereka akan datang lagi. Tapi dengan cara yang lebih ekstrim nantinya.” Jawab Grace.
“Jadi kalian tadi sudah mulai mengubah sistem keamanan rumah ini. Dan apa kalian hanya berdua saja.” Tanya Lei Wei heran.
“Iya, sama siapa lagi, dan kamu juga belum selesai. Dan baru saja mengubah sedikit tapi musuh sudah datang mengepung kita.” ucap Grace mendesah kesal.
“Tapi yang penting kamu sekarang baik-baik saja aku sudah senang” ucap Lie Wei mengusap pipi Grace manja. “Dan kamu jangan melakukan itu lagi, aku khawatir dengan kamu.” Lanjutnya, mentap ke dua mata Grace yan sangat dekat dengannya hanya berjarak empat jari tangan dengannya.
Grace menggelangkan kapalanya, ia tidak mau terus terbius dengan tatapan Lie Wei yang semakin dalam. “Sudah sekarang kamu ambil semua laptop di ruang rahasia Lian yin. Aku dan Lyli akan tunggu kamu di kamarku.” Ucap Grace, menarik tangannya dari pundak Lie Wei.
Changmin hanya tersenyum, mencubit dagu Grace.
“Baiklah, aku akan bantu kalian nantinya,” ucap Lie Wei, yang segera masuk ke dalam kamar Lian yin, dan menuju ke ruang tersembunyi miliknya.
`````
Kenapa Lie Wei bergitu perduli dengan aku. Entah kenapa aku merasa dia sangat perhatian dengan aku, lebih dari seorang teman. Tapi apa salah jika aku mengira dia suka dengan kau. Ahh.. sudahlah, itu gak mungkin, dia itu hanya suka dengan Mei, sewaktu Mei pergi saja dia sangat terpukul kehilangan dia. Pikir Grace dalam hatinya.
“Kenapa kamu diam, Grace?” tanya Lyli, menepuk bahunya, menatap aneh pada Grace yang tiba-tiba melamun menatap punggung Lie Wei yang sudah pergi menjauh dan masuk ke kamar Lian yin.
Grace segera menyadarkan dirinya dari sesuatu yang ia pikirkan. “Gak ada apa-apa, lebih baik kita pergi sekarang.” Ucap Grace, yang hanya di balas dengan sebuah senyuman tipis. Dan anggukan kecil dari Lyli.
Lyli segera membantu Grace berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari kamar Lian yin dan Yiwen itu. Mereka berjalan masuk dan segera duduk bersandar di sofa.
“Lebih baik kita segera melakukannya, sekarang lawan kita bukan hal yang mudah lagi.” Ucap Grace mengingatkan pada Lyli yang hanya diam, menatap ke arahnya.
“Grace, apa aku boleh tanya?”
“Tanya apa?”
“Tapi kamu harus jawab jujur, ya.” Ucap Lyli.
“Baiklah,”
“Grace, aku tahu kamu, kamu pasti menyembunyikan sesuatu kan?” tanya Lyli yang terlihat mulai curiga dengan Grace. Apalagi dari tadi wajah Grace terlihat sangat berbeda dari biasanya, raut wajahnya lebih suka diam, dan terlihat sedikit muram.
“Menyembunyikan sesuatu apa maksud kamu?” tanya Grace, seakan ia tidak tahu apa yang di maksud oleh Lyli.
“Aku kenal kamu sudah lama, dari kita kecil kita selalu bersama, ya meskipun kita pernah bertengkar. Tapi aku yakin sifat kamu masih sama” ucap Lyli. “Dan aku tahu kamu seperti apa, Grace. Aku mau sekarang cerita padaku” lanjut Lyli memegang ke dua lengan Grace.
Grace hanya diam, dengan kepala sedikit menunduk. Seakan ia berat untuk mengungkapkan semuanya.
“Aku tahu kamu pasti mengenal mereka semua, dan aku gak mau kamu dalam bahaya sendiri. Jadi biarkan aku yang mengetahuinya, aku janji tidak akan pernah cerita pada siapapun.” Ucap Lyli, mencoba meyakinkan Grace agar dia mau terbuka dengannya, sama seperti Grace yang dulu saat ia pertama berteman.
Grace menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkan secara perlahan. “Apa yang kamu ingin ketahui?” tanya Grace dengan wajah sedikit menunduk, hatinya terasa sangat berat untuk cerita semuanya pada Lyli. Karena ini sangat bahaya, ia juga tidak mau melibatkan mereka semua nantinya.
“Terserah apa yang kamu iangin keluarkan semua masalah dalam hatimu, jangan terlalu di pikirkan sendiri. Ingat keadaan kamu juga masih belum sepenuhnya pulih, aku gak mau jika kamu kenapa-napa nantinya.”
“Aku ingin meretas semua komputer milik ayah aku dan Jack. Aku yakin mereka akan menyembunyikan sesuatu di sana.” Ucap Grace, menatap ke arah Lyli, memegang ke dua tangan Lyli.
__ADS_1
“Apa kamu bisa bantu aku,” tanya Grace dengan mata seakan mengharapkan bantuan dari Lyli.
Baik aku kan bantu kamu, kita teman. Kalau kamu dalam bahaya maka aku tidak akan tinggal diam. Dan sekarang kamu cerita apa hubungan ayah kamu dengan Jack?”
“Baiklah, aku akan cerita semuanya.” Grace menyandarkan punggungnya di sofa, mencoba merenggangkan ototnya sejenak.
“Mereke bekerja sama sudah lama. Dan kamu tahu Yhing yhi dan Yhing yin, mereka semua satu kelompotan dengannya. Aku yakin akan ada masalah besar nantinya,” ucap Grace.
“Aku gak kenal mereka, meungkin yang lebih kenal Yiwen.” ucap Lyli.
“Baiklah, jika kamu gak kenal, itu lebih baik. Sekarang bantu aku untuk meretas semuanya. Waktu kita hanya satu jam,” ucap Grace, melirik jam tangan yang melingkar di tanganya, menunjukkan pukul enam sore.
“Ini kesempatan kita, ayah aku gak ada di sana saat jam segini. Dan untuk meretas di komputer Jack, mungkin akan sedikit berbahaya, dia pasti bisa dengan mudah melacaknya, tapi jika kita punya bantuan dari ayah Yiwen, itu lebih bagus.” Jelas Grace.
“Kenapa hanya ayah Yiwen yang bisa, memangnya dia siapa? Apa ayah Yiwen orang yang ahli dalam dunia IT yang misterius itu?” tanya Lyli, dengan tatapan tak percaya.
“Iya, tapi bagaimana cara kita bertemu dengannya, kita saja tidak bisa pergi ke rumah Yiwen. Jika kita cerita pada Yiwen.. apa dia mau membantu kita?” gumam Grace.
Lyli terdiam, ia memutar matanya mencoba berpikir sejenak. Dan seakan sebuah ide muncul di kepala Lyli. “Bentar, bukanya kamu pernah mencoba menjebol sintem pertahanan ayah Yiwen kan, untuk membuktikan jika ayah Yiwen yang membantu Lian yin secara diam-diam.”
“Iya, memangnya kenapa?” tanya Grace, menyipitkan matanya.
Lyli memegang ke dua bahu Grace, “kamu bisa memanfaatkan itu, dia sana pasti ada alamat email atau apa aku gak tahu, kamu coba kirim pesan padanya. Siapa tahu dia mau bantu kita secatra diam-diam. Lagian dia bisa datang di mana saja dengan waktu beberapa detik kan.”
“kamu tahu semuanya tentang ayah Yiwen,” tanya Grace.
“Iya, dia sangat terkenal. Pasti banyak orang yang kenal dengannya
“Sudah jangan bahas itu lagi, kita harus segera maluka tugsa masing-masing.” Ucap Grace, dengan wajah mulai serius.
“Baiklah,” ucap Lie Wei tegas.
“Aku akan membuat sambungan wifi sendiri.” Ucap Lyli.
“Baiklah, itu jauh lebih baik. Agar mereka tidak bisa melacak kita.” Ucap Grace.
“Apa yang harus aku bantu sekarang?” tanya Lie Wei yang masih duduk di lanti menatap Lyli dan Grace bergantian.
“kamu tunggu tugas dari kita saja,” ucap Lyli.
“Bagaimana kalau aku hanya diam, menatap wajah Grace saja.” goda Lie Wei.
`````
Lian yin dan yang lainya masih membicarakan tentang Jack dan yang lainya. Dan Boby bercerita secara detail tentang mereka semuanya. Tentang siapa sebenarnya Jack dan kenapa dia juga bergabung dengan agen Intelijen, dan untuk apa dia menyuruh Mei untuk mendekati Lie Wei. Semua di ceritakan secara merinci oleh Boby dan Amerta secara bergantian.
“Apa memangnya alasan dia mendekati Lie Wei?” tanya Yiwen, menatap tajam ke arah Boby
“Karena bagi mereka Lie Wei, orang yang mudah untuk di kelabuhi. Dia memang pintar jago dalam segala hal, tapi tidak dengan hatinya.” Ucap Boby, menatap ke arah Yiwen.
“Dan dia tahu jika Lie Wei juga pernah suka dengan kamu, dan saat itu ia mulai menyuruh Mei untuk menghubungi kamu, agar dia bisa tinggal di rumah ini bersama kamu.” Jelas Boby.
__ADS_1
Yiwen semakin mengenduskan napasnya kesal, ia mengegrtakkan giginya, dengan tangan kenan mengepal memukulkan ke telapak tangan kirnya. “jadi semua di rencanakn begitu sempurna.” Ucap Yiwen kesal, dengan bibir sudah mulai menguntup menahan amarah yang sudah bergejolak dalam dirinya.
“Sebanarnya apa yang mereka rencanakan,” sambung Lian yin, yang juga penasaran dengan apa sebenarnya rencana dari Jack dan yang lainya.
“Rencana mereka hanya ingin menguasai dunia, dan setalah tahu tentang semua yang kamu sembunyikan. Dia beralih untuk mendapatkan sebuah harta karun yang terpendam. Dan peta itu sekarang ada di tangan kamu, dan itu alasan dia untuk menyerang kamu terus terang. Dan memaksa kamu menyerahkan peta harta karun itu.”
“Bagaimana dia bisa tahu jika Lian yin punya peta harta karun?” tanya Ley, semakin penasaran.
“Dari kakak aku, dia tahu semuanya. Aku sudah bilang padamu kan tadi. Kakak aku diam-diam menyadap apa yang kalian bicarakan dan mengirimkan pada Jack.” Saut Amerta.
“Bukanya dia gak suka dengan Jack, aku heran kenapa dia mau di suruh olehnya.” sambung Yiwen.
Amerta tersenyum sinis. “Gak suka, dia suka dengan Jack sejak lama. Bahkan dia adalah cinta pertama baginya. Tak bisa ia lupakan, tapi saat ia tahu jika Jack tidur dengan wanita lain kakak aku marah besar dengannya, dan memutuskan untuk pergi ke agen intelijen, untuk bekerja agar bisa melupakan cintanya. Dan Jack demi minta maaf pada kakak aku dia mengikuti kemana Mei pergi,” jelas Amerta.
“Dan Mei begitu bodohnya bisa menerima kembali Jacak dan mau di perbudak olehnya.” Ucap Ley.
“Maka dari itu, aku gak setuju dengan keputusan kakak Mei, aku ingin dia lepas dengan Jack. Aku tahu Jack bukan laki-laki baik untuk kak Mei.” Ucap Amerta penuh dengan kekesalan dalam hatinya yang seakan lama terpendam.
“ya, sudah aku mau pergi dulu. Kepalaku sanbat pusing. Jika kalian ingin berbincang. Kalian bisa bicara sendiri.” Ucap Yiwen, beranjak berdiri dari duduknya.
“kamu mau kemana?” tanya Lian yin, memegang tangan Yiwen.
“Aku mau pergi ke kamar, syang. Aku capek. Mau istirahat.” Ucap Yiwen beralasan.
“Bailah, nanti aku menyusul.” Gumam Lian yin, melepaskan tangan Yiwen, dan membiarkan Yiwen pergi ke kamarnya.
````
“Sekarang bagaimana dengan kalian, mau tinggal di sini. Atau kalian pergi pulang?” tanya Ley.
“Aku akan tetap d sini. Kalau soal Amerta lebih baik kamu antarkan dia pulang. Aku yakin keluarganya akan marah besar jika Amerta ada di sini.” ucap Boby.
“Tapi apa kamu bisa jaga rahasia di sini,” ucap Lian yin menatap tajam ke arah Amerta.
“Baiklah, aku gak akan cerita pada siapapun. Aku bisa bantu kalian nantinya jika kalian butuh informasi tentang Jack dan keluarga aku.”
Lian yin mengerutkan keningnya. “Kenapa kamu mau menbantu aku?” tanya Lian yin heran, tiba-tiba Amerta mau membantunya.
“Aku hanya ingin mengakhiri semuanya, aku memang sejak awal gak setuju dengan keluarga aku. Dan kita beda pendapat. Aku memang feminim dan selakl cuek dalam hal seperti ini, tapi setelah melihat banyak korban. Aku tidak tega, dan tidak bisa hanya tinggal diam.” Jelas Amerta.
“Baik, asal kamu bisa jaga rahasia. Aku akan membantu kamu.”ucap Lian yin, bernajak berdiri, berjalan mendekati Ley, menepuk-nepuk pundaknya.
“Kamu urus mereka, dan antarkan Amerta pulang. Soal Boby kamus iapkan tempat kamar tidur untuknya.” Ucap Lian yin, sedikit membungkukkan badanya dan berbisik lagi padanya. “Kamu juga awasi Boby, aku curiga jika dia juga mata-mata nantinya.” Di balas dengan anggukan kecil, seakan Lay paham dengan apa yang di katakan Lian yin.
Lian yin bergegas pergi menuju ken kamarnya, dan Lay masih berbincang dengan mereka. Ia berniat untuk menyuruh Lie Wei saja mengantarkan Amerta, lagian dia yang membawa Amerta ikut dan membuat masalah baru lagi nantinya.
"Boby, kamu ikut aku ke kamar kamu. Soal baju, kita bisa siapkan semuanya. Dan aku ingin bicara berdua denganmu." ucap Ley, menatap ke arah Boby.
"Dan kamu Amerta, kamu tunggu di sini. Aku akan panggil Changmin untuk mengantarkan kamu." lanjutnya.
"Baiklah!!" jawab Amerta santai.
__ADS_1
Lay dan Boby segera pergi meninggalkan Amerta sendiri di ruang tamu.