Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Sebuah kenyataan baru


__ADS_3

"sudah-sudah jangan pada ribut, lebih baik kita makan dulu, nanti ayah mau bilang sesuatu pada Lian yin" ucap ayah Yiwen yang merasa tidak nyaman,  jika terus melihat anaknya selalu berantem dengan Lian yin. Tapi meski begitu mereka utu lucu, berantem tapi cinta dan saling menjaga satu sama lain. Mereka selalu melengkapai apa yang tidak ada pada diri pasangan masing-masing. Wo Jian tersenyum melihat anaknya, yang tidak bisa melepas kebiadaannya selalu ngambek seperti anak kecil.


Tapi meskipun begitu dia adalah anak wanita satu-satunya, Dan Tao anak angaktanya sekarang sudah jarang sekalu bertemu. Dia sibuk dengan kerjaaannya, Dan ayah Yiwen akhir-akhir ini hanya menghabiskan waktunya di rumah menjaga kakek. ia sengaja di rumah, karena ingin menunggu putrinya itu agar segera pulang menemuinya. Banyak unek-unek dalam pikirannya yang ingin di sampaikan pada Yiwen dan Suaminya. Ia sangat berharap sekali Yiwen pulang, bahkan ia yidak pernah berhenti terus memohon pada Tuhan.


Meskipun dia bisa memanggilnya langsung, tapi itu tidak mungkin, karena ia tidak mau keluar dari rumah itu, jika menggunakan mesin waktu maka semuanya akan ketahuan dan akan banyak orang yang mengincarnya. Wo Jian menggunakan semua teknologi yang ia punya sangat hati-hati, ia tidak mau gegabah dalam bertindak.


~


Yiwen menyipitkan matanya, menatap ayahnya, dan bergantian menatap ke arah Lian yin. Seperti ada sesuatu yang tersembunyi antara mereka, seakan itu yang ada dalam pikirannya sekarang.


"Mau bicara apa yah, kenapa ayah tidak mengajakku juga kalau bicara? Kenapa hanya berdua dengan Lian yin, lagian aku istrinya juga berhak tahu apa yang kalian bicarakan berdua, masak suami istri harus ada rahasia tersembunyi." gerutu Yiwen, yang mulai mengerutkan bibinya. Ia merasa dari dulu tidak pernah di ajak berbicara sama-sama tentang suatu hql yang sekiranya penting di bicarakan pada orang lain. Saat bersama Tao, ayahnya juga sering berbincang dengan Tao tentang pintu rahasia ini, dan banyak hal lainnya yang di putuskan sepihak tanpa persetujuannya. Ia tidak mau itu terulang lagi, dulu ia mengalah pada Tao, karena Tao kekasihnya sekaligus juga kakanya. Tidak ada hak untuk tanya lebih jauh, karena memang itu rahasianya. Tapi sekarang ia dengan Lian yin adalah suami istri, jadi berhak tahu apa yang mereka bicarakan.


Dan sekarang dengan suaminya juga begitu, entah apa itu hanya obrolan para lelaki saja atau gimana, tapi Yiwen merasa tidak pernah di hargai.


"Syang kenapa kamu cemberut gitu? Anaka ayah yang cantik ini kalau cemberug kelihatan jelek" ucap Ayah Yiwen menggoda. "Lagian kamu memang istri Lian yin tapi kamu juga berhak tahu, tapi bukan dari ayah, dari suami kamu sendiri" lanjutnya.


"Ayah kenapa selalu ajak bicara laki-laki, apa aku sebagai wanita tidak boleh tahu apa yang ayah bicarakan nantinya. aku juga ingin tahu sebenarnya apa yang kalian bahas. Jangan bicara sendiri tanpa aku" gumam Yiwen kesal, ia merasa lega meluapkan semua unek-unek dalam hatinya selama ini.


"Yiwen, bukannya ayah gak mau kamu tahu, tapi ayah hanya ingin kamu bisa di lindungi laki-laki saja. Ini hal yang sangat berbahaya, seorang wanita tidka boleh ikut campur dalam hal ini. Lagian ini adalah kisah Lian yin, aku hanya ingin cerita padanya, jika kamu ingin tanya nanti. Tanya saja pada suami kamu," ucap Ayah Yiwen, yang mulai beranjak berdiri.


Yiwen menguntupkan bibirnya, "Baiklah, kalian bicaralah berdua, aku di sini saja menunggu rumah kecil ini" ucap Yiwen lirih dengan nada kesalnya, ia menundukkan badanya. Ya, gimanapun juga sepertinya itu rahasia antara ayah dan Lian yin. Ia tidak boleh ikut campur dulu, mungkin karena aku yang selalu memotong pembicaraan saat bicara, membuat ayah tak mengijinkan aku untuk mendengarkan apa yang di bicarakan.


"Lian yin ikut aku sekarang, dan kamu Yiwen tetap di sini. Kamu akan aman jika di sini sendirian" ucap ayah Yiwen.


"Iya, baiklah. Tapi kalian jangan lama-lama." gumam Yiwen yang masih kesal, ia tidak mau menatap ayahnya sama sekali, dan Lian yin hanya tersenyum tipis melihat istrinya itu selalu ngambek gak jelas.

__ADS_1


"Udah gak usah perdulikan dia, Yiwen kalau lagi ngambek suka gitu" ucap ayah yiwen menuntun tangan Lian yin menuju suatu ruangan kecil di ponjok rumahnya, dan lansung menghilang.


"Ngilang deh, gak ngajak aku" ucap Yiwen kesal. Yiwen memutar matanya, melihat  sisa makanan yang masih ada berantakan di atas meja. " Ayah ini aku yang bersihin semuanya" ucap Yiwen, menarik napasnya kesal. "Hahhh.. ayah tega kenapa gak beresin dulu tadi baru pergi" gerutu Yiwen.


~


"Jalanlah" ucap Wo Jian.


"Aku pernah ke sini, apa ini di tempat kakek Yiwen?" tanya Lian yin yang merasa sudah samgat familiar dengan rumah kayu kecil itu, rumah di dalam sebuah pohon besar"


ucap Lian yin yang terus melangkahkan kakinya manaiki anak tangga, dengan langkah pelan dan sangat hati-hati.


"Iya, kita akan bicara di sini, agar Yiwen tidak mendengarnya. Dan sekaligus aku akan bilang pada kamu semua rahasia yang di miliki kakek kamu, tapi hanya kakek Yiwen yang tahu. Semua akan di serahkan pada kamu" ucap Wo Jian, berjalan masuk ke sebuah ruangan yang seperti ruang tamu namun terlihat hanya satu sofa panjang da meja di depannya.


"Duduklah dulu" ucap Wo Jian.


"Baik ayah" ucap Lian yin, yang mulai memberanikan dirinya untuk memanggil ayah, ia yang semula sangat ragu untuk memanggil ayah, harus menguatkan tekatnya untuk bernai memanggil mertuanya itu dengan sebutan ayah. sebuah kata yang sudah lama tidak pernah ia sebut saat ke dua orang tuanya meninggal.


"Kalian sudah datang" ucap kakek Yiwen, yang berjalan pelan menggunakanntongkat kayu yang biasa ia pakai, dan duduk di samping Ayah Yiwen.


"Ayah, kamu makan dulu ya" ucap Wo Jian, yang memberikan bubur buatanya untuk kekek Yiwen.


"Baiklah aku makan dulu, aku sudah lapar" ucap kakek.


Lian yin hanya tersenyum, dan mengijinkan Kakek untuk makan lebih dulu.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memberikan kamu sesuatu dulu" ucap Wo Jian mengeluarkan sebuah kertas, sama seperti yang ia miliki. Dan meletakkan kertas itu di meja depannya.


"Kamu pasti sudah tahu ini kan?" tanya Wo Jian.


"Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Lian yin bingung.


"Bukannya kamu anak muda, yang mengambil di rumah kecil pinggir pantai" sambung kakek Yiwen, yang masih memakan lahap buburnya.


"Kakek tahu kalau aku ke sana?" tanya Lian yinn yang sudah terlihat bingung. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa semuanya sangat rumit. Sepertinya semua sudah di ataur sedemikian rupa olehnya. Ia hanya mengikuti permainan mereka perlahan, tapi sepertinya ini hal baik, jadi ia hanya bisa mengikuti semua arahanya


"Kakek tahu semuanya, sekarang keluarkan kertas itu dan satukan" ucap kakek Yiwen, meletakkan makananya di atas meja. Dan mulai menatap ke arah Lian yin.


Lian Yin yang kebetulan membawa kertas itu di sakunya, karena memang sengaja ingin menanyakan pada ayah Yiwen, sebuah teka-teki yang belum bisa ia pecahkan. Ternyata kini ada titik terang tentang teka-teki itu.


"Sebenarnya dulu, Yiwen dulu jodohkan dengan kamu. Dan perjanjian itu di setujui oleh kakek kamu. Karena kakek Yiwen yakin jika kamu pasti bisa menjaganya. Dan itu masih sangat kecil, kamu belum tahu apa-apa jadi aku enggak berani bilang padamu." sambung ayah Yiwen. "Aku juga sempat menolaknya, dan ingin menjodohkan dia dengan yang lainnya. Karena jika bersama kamu dia akan menempuh bahaya. Tapi kakek Yiwen yang membuat rencana itu, jadi semua harus di turuti" lanjutnya.


Lian yin melebarkan matanya, ia terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bagaimana mungkin teman masa kecilnya itu adalah Yiwen, dan lelaki yang bersama Yiwen itu pasti adalah Tao. Kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu. Tapi sekarang Yiwen sudah jadi istiku.


"Jadi jodoh yang di tulis kakek di kertas yang terselip sebuah buku itu, adalah Yiwen. Yiwenlah yang selama ini aku cari. Dan kakek berarti adalah teman kakek aku" ucap Lian yin yang masih tak percaya mendengar semua pernyataan itu, ia tidak menyangka bisa mendapatkan informasi langsung dari ayah dan kakek Yiwen.


"Pantas saja kakek menyimpan foto keluarga aku kemarin." lanjutnya.


"Iya, ku menyimpan fotonya hanya untuk menghargai mereka." ucap kakek Yiwen memejamkan matanya sejenak, menahan air mata yang ingin keluar, dari mata yang sudah kusut, dan berkerut. Bahkan kantung matanya terlihat kendor "Dulu aku dan kakek kamu bersahabat dari kecil, kita selalu bersama. Saat suatu hari, aku dan dia terpisah dan melakukan perkejaan masing-masing. Hingga menikah dan punya Cucunya baru aku bertemu dengannya saat kamu masih kecil. Dan saat itu aku dan kakek kamu berniat menjodohkanmu dengan Yiwen" ucap Kakek Yiwen, dengan senyum terpaksa keluar dari bibirnya yang terlihat bergetar menahan kesedihan.


Lian yin hanya diam, ia jadi teringat lagi tentang keluarganya. Yang meninggal tanpa ia ketahui sebab dan akibatnya, apa dia di bunuh atau memang murni karena umurnya sudah tidak lama. Kehidupannya dulu masih jadi misteri sampai sekarang, Dan Lian yin juga masih berusaha untuk mencari tahu informasi masa lalunya lebih jauh lagi. Dan dia sekarang beruntung bertemu dengan sahabat kakeknya.

__ADS_1


__ADS_2