
"Kenapa kamu diam, syang"tanya Lian yin mengusap lembut rambut istrinya itu.
"Gak apa-apa" jawab yiwen melempar senyum manisnya pada Lian yin.
"Udah jangan bohong, apa kamu sudha bosan ya, jalan-jalan kesini, ayau kamu gak suka dengan tempat ini"tanya Lian yin.
"Suka kok, kalau gak suka kenapa kamu dan aku tadi foto-foto tadi, berbagai pose mesra lagi"ucap Yiwen.
"Oo. iya juga sih, terus kenapa kamu diam?" tanya Lian yin lagi. Ia masih penasaran kanapa Yiwen terus diam dari tadi bahkan Tidak menggubris panggilannya.
"Emh.. mungkin aku lapar jadi butuh asupan makanan agar bisa bicara lagi" ucap Yiwen dengan tawa kecil di mulutnya. Mengelak dari pikirannya yang diam-diam ia sembunyikan dari Lian yin.
"Baiklah, ayo cepat pergi ke restaurant di depan sana, dan segera cepat pesan makanan"ucap Lian yin menarik tangan Yiwen.
"Bentar gimana dengan Ley di sana?" tanya Yiwen menatap ke belakang.
"Udah tinggal saja tu lelaki di belakang, biarkan dia lihatin wanita yang lewat, siapa tahu dia beruntung dan dapat hadiah wanita cantik" ucap Lian yin segera menarik tangan yiwen pergi meninggalkan Ley sendiri di luar restaurant. Ia sibuk dengan matanya yang lagi asyik berkeliling menatap wajah cantik wanita Itali yang lewat di depannya.
"Benar-benar wajah yang sempurna, ku betah lama-lama tinggal di sini, setiap hari bisa cuci mata seperti ini, Ya kalau jalan berdua dengan lian yin pasti dia cepat banget dapat kanalan. Tetapi sekarang ada istrinyabpasti dia takut entar di marahin dengan istrinya itu" batin Ley di smabut tawa kecil di mulutnya.
"Yin, coba deh kamu lihat di depan, wanita di sini cantik-cantik ya, kalau aku tinggal di sini lebih lama gimana? boleh ya? 3 hari lagi deh di sini gak lama-lama kok" tanya Ley tanpa melihat ke belakang. Ia tak sadar jika Lian yin dan Yiwen sudah pergi meninggalkannya dari tadi.
Merasa tak ada jawaban dari Lian yin , Ley mencoba bertanya lagi, "Yin, kamu mendengarku atau enggak sih, kenapa kamu diam saja dari tadi" ucap Ley semakin kesal.
"Kok, sepi ya gak ada jawaban"
"Yiwen kamu di belakangku gak?"
Ley menoleh seketika, ia tak melihat siapapun di belakang, hanya pengunjung restauran yang mau masuk ke dalam restauran tersebut.
"Shit... dari tadi aku ngomong sendiri, di sangka orang gila dong sama wanita-wanita yang aku lihat tadi, ah.. kenaoa mereka tega sih denganku" gumam Ley.
"Dimana mereka? Kenapa ninggalin aku sih. Terus aku harus cari mereka dimana? ke restaurant atau pergi jalan-jalan lagi" "ucap Ley dengan wajah bingung menatap ke kanan dan ke kiri.
---000--
Lian yin dan yiwen sudah duduk dan memesan beberapa makanan, sambil nunggu Ley datang.
"Yin, tidak apa-apa kita ninggalin Ley di luar sendiri, kasihan dia tahu, pasti dia juga lapar." tanya Yiwen.
"Sudahlah nanti dia juga nyusul juga masuk ke dalam restaurant ini kalau lapar. Lagian katanya gak berhenti terus memandang wanita sih" gumam Lian yin kesal.
"Emangnya kenapa, Lagian dia gak ada pasangan. Biarkan dia cari pasangan,biar ada gandengan setiap jalan kemana-mana bisa di pamerin. Apalagi jika ada pesta kasihan dia gak ada yang di pamerin nantinya. Kasihan dia selalu jadi orang ketingga terus. Saat bersama Lie Wei dan Mia juga jadi orang ketiga melulu." ucap Yiwen.
Lian yin tertawa kecil. "Sudah nasib dia seperti itu, selalu sendiri gak ada gandengan."gumam Lian yin yang masih menahan tawanya.
"Yin, jangan gitu, kasihan dia, kenapa kamu gak carikan dia wanita sih"ucap Yiwen, memegang tangan Lian yin.
"Kenapa kamu perduli dengan dia, apa kamu suka dengan dia?" goda Lian yin.
__ADS_1
"Sapa yang suka dengan dia, aku hanya tanya, dan merasa kasihan saja dengannya. Kamu sebagai teman lamanya kenapa gak merasa kasihan sedikitpun"ucap Yiwen kesal.
Lian yin mengusap lembut rambut istrinya itu yang lagi manyun. "Udah jangan ngambek gitu, tadi aku hanya bercanda syang. Ley itu sebenarnya pernah suka dengan seseorang namun apalah, cintanya bertepuk sebelah tangan." ucap Lian yin.
"Dia pernah suka sama siapa?" tanya Yiwen mendekatkan wajahnya.
"Dia suka dengan Yhing yhi, wanita pilihan Ley. Dan pernah jadi tunanganku. Aku sudah kenal lama dengannya, namun bodohnya aku tertipu dengannya. Aku gak sadar jika Yhing yhi pacaran dengan Lee sudah lama. Padalah aku teman masa kecilnya, namun aku tidak tahu detail masa kecilnya bagaimana."ucap Lian Yin.
"Eh.. udah dulu ceritanya nanti saja, Itu orangnya sudah datang mencari kita." lanjut Lian yin.
Yiwen menoleh ke belakang, ia melihat Ley sedang bingung mencarinya dan lian yin.
"Ley sini." panggil Yiwen.
"Kenapa kamu panggil dia, biarkan saja dia cari kita," ucap Lian yin menarik tangan yiwen.
"Udahlah, kasihan dia" ucap Yiwen membela Ley.
"Baiklah, terserah kamu" ucap Lian Yin.
Ley yang mendengar panggilan dari Yiwen, ia segera berlari menuju ke meja Lian yin.
"Kenapa kalian meninggalkanku?" tanya Ley dengan napas masih ngos-ngosan.
"Udah tarik napas dulu, baru bicara lagi" gumam Yiwen.
"Iya, mau. Kamu sudah pesankan aku makanan belum" tanya Ley sangat antusias mengambil buku menu yang masih ada di meja.
"Kamu sudah aku pesankan, tinggalkan makan dan minum saja. Tapi bayar sendiri ya"gumam lian yin mencoba menggoda Ley.
"Ya, Yin kenapa aku suruh bayar sendiri, aku gak bawa uang. Kamu dulunya yang bayarin" ucap Ley memohon.
"Udah-udah aku hanya bercanda, aku yang pesan jadi aku yang bayar semuanya nanti. Kamu makan yang kenyang saja" Lian yin merengkuh pundak Ley sangat erat.
"Kamu selalu suka jahil ya," gumam Ley.
"Lagian kamu itu, lucu banget sih"gumam Lian yin.
"Eh, makanan sudah datang tu, yo siap-siap kita makan, makanan lezat hari ini" gumam Yiwen mengusap ke dua tangannya tak sabar menantikan makanan lezat yang sudah berjalan mendekatinya.
"Wah... enak nih"ucap Ley.
Plakk...Lian yin memukul kepala Ley,
"Udah diam jangan bikin aku malu"gumam Lian yin.
"Iya, iya aku diam?" ucap Ley.
Yiwen tertawa kecil melihat hiburan di depannya itu. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap Ley dan Lian yin selalu saja bertengkar gak ada habisnya.
__ADS_1
"Kenapa ketawa?" tanya Lian yin.
"Kalian itu lucu sih, seperti anak kecil"Yiwen menutup mulutnya dengan tawa kecilnya.
"Permisi tuan, nyonya. Ini makannya" gumam waiters itu.
"iya," ucap Yiwen dengan mata berkunang kunang menatapnya
"Ayo makan?" guam Lian yin, mengingatkan Yiwen.
"Iya ini mau makan," Mereka segera menikmati makanan itu dengan lahapnya. "Habis ini lanjutkan lagi ya jalan-jalannya. aku mau foto digendung tua itu"ucap Yiwen.
"Iya sebentar tapi jangan lama-lama. Keburu malam nanti"ucap Lian yin.
"Kenapa kamu maksa sih, lagian di sini gak apa tulisan harus pulng jam berapa." ucap Yiwen dengan mulut masih penuh dengan makananya, ia merasa kesla harus di batasi oleh Lian yin jika ingin keluar.
"Ya udah terserah" gumam Lian yin.
Lian yin segera mengambil uang dan menaruhnya di meja di samping kertas bill total semua pesannya.
"Kalau sudah selesai cepat pergi," gumam Lian yin.
"Kenapa buru-buru, ini masih jam 10 yin," ucap Ley yang masih menyantap makananya.
"Ya sudah kamu makan sendiri, sama Yiwen keluar dulu," gumam Lian yin
"Eh.. bentar tunggu aku, iya aku sudah selesai kok" Ley segera beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana sekarang?" tanya Lian yin.
"Ke gedung kuno," gumam Yiwen.
"Baiklah, apa kamu mau foto-foto lagi di sana?" tanya Lian Yin
"Iya, apa kamu gak mau?" tanya Yiwen .
"Mau saja, biar lelaki di belakang itu yang fotoin kita" sambung Lian yin melirik ke belakang.
"Apa yang kalian katakan?" Ley yang mendengar samar-samar ucapan Lian Yin memotong pembicaraan mereka berdua.
"Apa sih, siapa yang bicarain kamu" gumam Yiwen, dengan menahan senyum tipisnya.
"Dasar pasangan baru saja sudah seperti ini" gerutu Ley Lirih.
"Apa yang kamu katakan Ley?" tanya Lian yin.
"Apa aku gak bicara apa-apa, mungkin kamu salah dengar kali"ucap Ley mengelak.
"Nyebelin banget" gumam Ley dalam hatinya.
__ADS_1