Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
pertanyaan


__ADS_3

Yiwen melirik ke arah Lian yin yang sudah mulai memejamkan matanya. Ia menepuk bahu Lian yin berkali-kali mencoba membangunkannya.


"Ada apa?" tanya Lian yin yang mulai membuka matanya melirik ke arah Yiwen.


"Itu.. boleh pinjam,"tanya Yiwen nenunjuk airphone miliknya, yang terpasang ditelinganya.


"Katanya kamu serius baca majalah itu tadi" ucap Lian yin mengingatkan Yiwen.


"Gak jadi, aku mau dengerin musik" ucap Yiwen mengelak. "Kamu baca majalah ini saja, biarak aku pinjam punya kamu itu" lanjut Yiwen menunjuk airphone milik Lian yin. "Dan bukannya kamu yang bawa kan tadi. "Lanjut Yiwen berbicara tak hentinya.


"Dari mana kamu tahu aku yang bawa majalah itu??" tanya Lian yin.


"Tahu lah, kan tadi kamu yang meletkan di temlat dudukku, saat kamu baru datang kan, pa kamu lupa aku yang smapi di sini lebih dulu tadi. Pasti kamu sengaja ya? Biar aku lihat majalah itu" ucap Yiwen.


"He.he. udah sekarang kamu istirahat saja" ucap Lian yin mengelak, mengalihkan pembicaraan.


Ia memang sebanarnya sengaja membuat Yiwen menatap majalah itu, pasti tahu lah niatnya hanya untuk kasih tahu yiwen agar ia pengalaman nantinya jika jadi istrinya nanti. Padahal sih, yang sebenarnya mau lihat itu Lian yin.


"Huhh.. dasar otak mesum" ejek Yiwen, segera memasang airphone di telinganya. Dan melempar majalah itu ke pangkuan Lian yin. "Itu baca sendiri"ucap Yiwen.


"Gak mau baca berdua" tanya Lian yin.


"Enggak" ucap Yiwen singkat.


Lama perjalanan hingga memakan waktu hampir 10 jam mereka sampai di Italia. Di perjalanan mereka bahkan terus tertidur pulas dan kadang bangun saling berbincang terus tidur lagi. Habis gak ada kegiatan lagi selain tidur. Bahkan Yiwen juga tertidur sangat pulas.


Lian yin menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam menunjukan pukul 19.00. Pesawat sudah mendarat dengan selamat di tujuannya.


"Yiwen bangun" panggil Lian yin mencoba membangunkan Yiwen. Yang masih tertidur pulas di sampingnya.


"Emm.. udah sampai?" tanya Yiwen. Ia mulai membuka matanya perlahan menatap Lian yin tepat di depan pandangannya. Ia yang terkejut sontak duduk tegap, mendorong tubuh Lian yin menjauh darinya. "Apa yang akan kamu lakukan padaku??" tanya Yiwen. Ia menutupi dadanya mulai berhati-hati dengan Lian yin sekarang.

__ADS_1


"Aku tadi hanya mau membangunkanmu. Lagian kamu tidur pulas banget"ucap Lian yin beranjak berdiri. Ia mengulurkan tangannya ke arah yiwen. "Ayo cepat keluar" ucap Lian yin.


Yiwen menatap Lian yin bingung ia mengira Lelaki itu akan berbuwat mesum padanya. Namun ternyata pikirannya salah. Ia melihat tangannya, seakan ragu menerima uluran tangannya. Perlahan penuh keraguan ia menerima ukuran tangan Lian yin. "Tetaplah dalam genggamanku, bersamaku menuju pernikahan yang sudah di depan mata" ucap Lian yin. Tersenyum tipis.


Yiwen yang semula ragu, ia menghela napas panjangnya, melemparkan senyum manis menatap Lian yin. Kini hatinya terasa tak ada rasa ragu lagi untuk melangkah berdua dengan Lian yin menuju pernikahan. Meskipun ia belum ingat siapa sebenarnya dia, namun hatinya seakan selalu dekat dengannya dulu.


Mereka berjalan saling menggenggam tangan menuruni pesawat. Tanpa perdulikan semua orang yang menatap mereka. "Setelah ini kita mau kemana?," tanya Yiwen.


"Kita ke mobil dulu, emangnya mau kemana?" Jawab Lian yin mencoba bercanda dengan Yiwen.


"Iya tahu aku kalau ke mobil dulu, tapi setelah ini kita mau kemana??" tanya Yiwen penuh rasa kesal kali ini.


"Iya, iya" Lian yin mengusap lembut rambut Yiwen. "Kita akan ke hotel dulu, bereskan barang-barang kita di sana. Dan setelah itu aku mau bertemu dengan Client di sebuah restaurant. Jadi kamu entar tampil lebih cantik ya, aku akan suruh orang untuk make up kamu, tapi kamu lebih baik istirahat dulu saja nanti" ucap Lian yin menjelaskan.


"Emm.. baiklah. Tapi apa gak makan dulu kita sekarang. Aku lapar" ucap Yiwen mengusap perutnya yang terasa sangat lapar.


"Baiklah kalau kamu lapar, aku akan belikan kamu makanan dulu" ucap Lian yin.


Yiwen tersenyum, ia merasa ada yang selalu perhatian dengannya kali ini. Lian yin entah kenapa aku merasa sangat dekat denganmu, sangat, sangat dekat. Tapi aku belum mengingat semuanya. Aku harap lama kelamaan aku kengingat semuanya nantinya, gumam Yiwen.


"Gak napa-napa, aku merasakan perutku sangat lapar." gumam Yiwen.


"Baiklah sabar, aku akan mencari sebuah restaurant terdekat dari sini" ucap Lian yin mengusap rambutnya.


"Baik" ucap Yiwen singkat, ia mengikuti setiap langkah Lian yin pergi.


"Silahkan naik" ucap Lian yin, mempersilahkan Yiwen masuk ke mobilnya lebih dulum.


Yiwen hanya tersenyum dan beranjak naik, ia sekilas menatap ada seorang lelaki yang terus menatapnya dari tadi. Namun wajahnya tak ia kanal. Tapi dia merasa ada yang aneh dengan lelaki itu. Entah kenapa dia terus menatapnyan. "Apa dia suruhan Lee. Tapi gak mungkin Lee gak tahu kalau aku dan Lian Yin di Itali. Tapi aku juga gak tahu kalau itu adalah mata-matanya." gumam Yiwen dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam?" tanya Lian yin yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Gak napa-napa, mungkin kecapekan"ucap Yiwen mencoba mengelak.


"Ya, sudah kamu nanti cepat istirahat saja kalau sudah sampai di hotel." ucap Lian yin.


"Pak jalan" ucap Lian yin pada sopir didepannya.


"Ia tak mau mengemudi sendiri, ya Manajernya belum memberikan Mobil untuknya, jadi ia hanya pesan mobil Online sekarang" gumam Lian Yin.


Yiwen menyandarkan kepalanya di pundak Lian yin, ia merasa ingin selalu di sampingnya, bersamanya. Dan berharap ia akan selalu menemaninya.


Sekilas yiwen melirik ke arah Lian yin. Yang saat ini jadi malaikat penolongnya. Telah membebaskan dari Lee. Lelaki yang sempat membohonginya. Bahkan dia tidak mengenalku lebih. Dan sepertinya Lian yin tahu semua tentang aku.


"Yin, aku boleh tanya gak??" tanya Yiwen.


"Boleh, tanya apa?" Jawab Lian yin.


"Aku mau tanya tentang semuanya"ucap Yiwen.


"Baiklah tanya saja" ucap Lian yin.


"Apa kamu tahu semua tentang aku, kehidupan ku yang dulu? Dan bagaimana awal kita bertemu dulunya?" Tanya Yiwen.


"Iya kenal, karena wanita anggota intelijen, yang mau mencuri di perusahaanku. Dan di situ juga awal kita bertemu. Kamu pertama sangat malu-malu denganku. Dan semakin lama semakin malu-maluin. Sebsnarnya kamu dulu punya keluarga tapi aku tidak begitu mengenalnya. Kalau tidak salah kamu punya ayah dan seorang pacar yang sangat mencintaimu. Tetapi kamu lebih memilihku dan pergi bersamaku." ucap Lian yin menjelaskan pada Yiwen.


Yiwen terdiam, ia tak menyangka jika Lian yin begitu mengenalnya. Dan awal pertemuanya juga tak terduga seperti itu. Namun ia ragu dengan semuanya. Tapi setidaknya ia bisa tahu sebagian cerita itu dari Lian yin.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu gak percaya denganku?" tanya Lian yin.


"Emm.. antara percaya gak percaya sih." ucap Yiwen.


"Ya, sudah kalau gak percaya, nanti kamu juga akan tahu semuanya kok" ucap Lian yin. Ia merasa kecewa sebenarnya Yiwen gak percaya dengan kata-katanya. Tapi setidaknya dia sudah cerita berharap Yiwen mengingatnya meski hanya sedikit ingatan yang tersisa.

__ADS_1


"Apa ada yang perlu di tanyakan lagi?" Tanya Lian yin. Mengusap pipi lembut Yiwen.


Yiwen terdiam, ia bingung dengan apa yang ia lakukan nantinya. Meski tahu sebagian cerita dari Lian yin namun ia masih gugup bersamanya.


__ADS_2