Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Malam pertama Lay


__ADS_3

Hari ini adalah malam pertama untuk Lay, dia memang sengaja untuk tidak pergi. Karena memang permintaan istrinya untuk bula madu di rumah saja. Lagian dia juga sudah bosan jika harus pergi keliling luar negeri hanya untuk bulan madu. Karena memang sejak dulu dia sudah lama tinggal di berbagai negara hanya untuk pergi dari kejaran ayah Grace. Dan sekarang entah bagaimana kabarnya mereka semua, apa Grace sudah berhasil membaw ayahnya masuk penjara, atau mereka menyembunyikan ayahnya, agar Lian yin dan yang lainya tidak ada yang tahu, dan tidak membahas lagi soal pembunuhan itu, yang sepenuhnya bukan salah ayah Grace.


------


Di malam pertama Lyli duduk di sofa, menatap layar televisi sembari menunggu Lay yang entah tadi pergi kemana, dia bahkan tidak menberi tahunya jika akan keluar. Membuatnya harus menunggu di ruang keluarga lama sekali, bahkan sudah hampir 2 jam menunggu dan menonton acara tv tidak ada yang bagus sama sekali.


“Membosankan!!” ucap Lyli melemparkan remot tv-nya ke atas meja, dia duduk menyandarkan punggungnya, dengan kepala menyadar di atas sofa.


“Kemana perginya Lay, kenapa dia tidak memberi tahuku? Apa jangan-jangan dia diam-diam bertemu dnegan wanita lain? Atau dia lagi keluar dengan orang lain?” ucap Lyli penuh curiga.


Ah.. gak mungkin, aku yakin jika dia pasti kembali. Lagia mana mungkin dia berani selingkuh. Lyli mengibaskan ke dua tanganya, menghilangkan pikiran negatif dari otaknya.


Awas saja nanti kalau dia pulanh, aku akan ngambek padanya. Dan hari ini aku gak mau tidur denganya. Gerutunya lagi.


Lay yang mendengar hak itu dari kejauhan, dia berjalan dengan langkah ringan, sengaja memelankan langkahnya berjalan mendekati Lyli untuk memberikan sebuah kejutan padanya.


“Dasar wanita, curigaan saja,” gumam Lay, memelankan langkahnya.


Sampai di belakang Lyli dia menahan senyumnya yang seakan ingin tertawa mendengar setiap ocehan Lyli yang selalu keluar dari mulutnya. Bahkan tak berhenti dia terus mengumpat kesal pada suaminya.


Lay menutup ke dua mata Lyli dengan telapak tanganya, “Coba tebak aku siapa?”


“Gak usah bercanda,” ucap Lyli menarik tangan Lay mendekat ke arahnya.


“Kamu sudha tahu dari awal, ya?”


“Aku sudah kenal kamu dari lama, suara kamu sudah hapal” ucapnya melipat ke duantanganya meletakkan di atas sofa, sembari menarik ke dua alisnya ke atas dengan kedipan menggoda.


“Ya, karena sudha letahuan. Sekarang aku ingin kamu tutup mata.”


“Aku gak mau,” ucap Lyli tegas, memalingkan wajahnya berlawanan arah.


Lay mencolek pipi kiri Lyli, “jangan sentuh aku,”ujar Lyli kesal, menepis tangan Lay dari pipinya.


“Yakin kamu gak mau aku sentuh?” tanya Lay memastikan, dia sebanrnya tahu jika istrinyaitu sudah lama menginginkan, tapi prinsipnya memang tidak mau menyentuh wanita yang dia saynag sebelum sah menikah. Dan sekarang melihat Lyli cemberut membuatnya semakin gemas dengan istrinya, ya padahal dia memang sengaja ingin menjahili istrinya. Agar terkesan berbeda dengan hannymoon orang biasanya.


 “Yakin, gak mau?” tanya Lay lagi, berlari kecil duduk di samping Lyli. Dia mencoba melihat setiap arah Lyli memandang, namun Lyli terus saja menghindar menjauh dari pandangan Lay.


Bibir Lyli manyun beberapa senti, melemparan wajahnya lagi menjauh dari Lay. “Jangan ngambek begitu, nanti menyesal, lo.” Goda Lay, memegang ke dua bahu Lyli, memalingkan tubuhnya menatap ke arahnya, seakan ada dorongan entah dari mana, tubuh Lay mendekat ke arah Lyli, ke dua mata mereka saling tertuju dalam diam.


Lay menelan ludahnya susah payah melihat wajah cantik Lyli sangat dekat dengannya, hatinya merasa gemetar berada di dekatnya. “Maafkan aku!!” ucap Lay. Jemari tanganya seakan kaku seketika saat ingin membelai embut tubuh Lyli, rasangugup perkahan semakin menguasai dirinya


“Maaf untuk apa?” tanya Lyli tak hentinya metap mata hitam Lay.


“Aku tadi tidak bilang padamu,” kata Lay gugup, “Tapi, sekarang aku mau kamu tutup mata dulu,”


Lay mengeluarkan sapu tangan untuk menutup mata Lyli, “Memangnya kamu kasih aku kejutan apa?” tanya Lyli jutek.


“Aku tak buisa poungkiri mata indah kamu kenusuk ke hatiku, andnaganmu membaut duniaku terahih tak berhenti menatap wanita secantik kamu,” rayu Lay, dia mengangkat tangannya susah payah untuk menyentuh wajah Lyli, meski jemari tangannya masih terasa gugup di buatnya.


“Kamu cantik,” rayu Lay, membuat Lyli tersipu malu. Lyli yang semula kesal marah, kecewa, kini perlahan hatinya mulai luluh lagi berhadapan dengan Lay, pandangan matanya seakan membiusnya untuk merendah padanya. Rayuan laki-laki itu menyentuh hatinya.


“Kita mau kemana?” tanya Lyli.


“Sudah nanti kamu juga akan tahu,” ucap Lay yang mulai mengeluarkan sapu tanganya, dia perlahan menutup ke dua mata Lyli dengan sapu tangan hitam miliknya. Selesai menutup mata Lyli, lay membantunya untuk beranjak berdiri dari duduknya.


“Sekarang kamu berdiri dulu, nanti aku akan antar kamu ke tempat di mana aku aka memberikan sebuah kejutan, yang pastinya kamu sangat suka,” ucap Lay, melingkarkan tangan kirinya di belakang punggung Lyli, memapahnya berjalan dengan langkah sangat hati-hati.


“Kita kemana?” tanya Lyli.


“Diamlah, biar aku yang bantu kamu jalan,” Lay tersenyum tipis, sebenarnya dia sudah tidar sabar lagi untuk menjadi orang yang sangat romantis malam ini, memeberikan sebuah kejutan untuk orang yang paling dia syangi.


"Jalan pelan-pelan, syang!!" ucap Lay, berjalan pelan menuntun istrinya masuk ke dalam kamar yang memang sengaja sudah di buka olehnya.


"Kamu tunggu di sini sebnmentar," ucap Lay, segera berlari mengambil satu tangkai bunga mawar yang ada di atas ranjangnya.


"Kamu mau kemana?"


"Bentar!!" Lay segera kembali dan duduk berlutut di depan Lyli. "Sekarang bukalah penutup matamu,"

__ADS_1


Perlahan Lyli mulai membuka tutup matanya, pandangan matanya yang samar, ia menyernyitkan matanya, membuka perlahan ke dua matanya. "Seketika langsung terkejut saat melihat wajah apa yang ada di depannya, ke dua matanya seakan mau copot dari kerangkanya. Sebuah kamar yang di hiasi berbagai balon yang menggantung di atas, dan lilin menghiasi jalan masuk ke kamarnya, gak lupa dengan taburan kelopak mawar merah, memenuhi ranjang dan langainya, sebuah tulisan 'I Love You' terpapang jelas di tembok. Tak hentinya Lyli tersenyum menutup ke dua mulutnya, ia melangkahkan kakinya mundur, menggelengkan kapalanya tak percaya dengan apa yang terjadi.


Lay meraih tangan Lyli, mengecup lembut punggung tangannya. "Makasih!!" ucap Lay.


Lyli menautkan ke dua alisnya heran, "Makasih buat apa?" tanya Lyli bingung.


"Kamu takut menjadi bagian dari hidupku," ucap Lay mengulurkan setangkai bunga mawar untuknya.


"Maukah kamu menjadi pendamping hidup aku selamanya. Jangan pernah saling menyakiti," Lay tersenyum saat melihat sebuah anggukan malu-malu dari Lyli, dia beranjak berduri, memegang ke dua tangan Lyli.


"Sekarang kamu tidak marah denganku, kan?" tanya Lay memastikan.


"Enggak!!" ucap Lyli tersipu malu.


Itu bunganya buat siapa?"


"Buat kamu,"


"Terus kenapa masih di pegang,"


"Ohh.. Iya aku lupa," ucap Lay tersenyum simpul, memberikan kembali bunganya.


"Terus sekarang kita mau nagapain?" tanya Lyli.


"Masih ada hal yang ingin aku tunjukan," ucap Lay.


"Apa?"


Lay memegang tangan Lyli berjalan masuk ke dalam akamr, menampakkan telapak kakinya di atas kelopak mawar merah.


Berjalan menuju ke ranjang yang cukup lebar, di depannya terlihat menjadi panjang dengan berbagai buah -buahan dan makanan, serta di hiasi kelopak bunga dan lilin, nuansa samar-samar gemerlap cahaya lilin menjadi suasana yang semakin romantis.


Tapi Lay tak berhenti di ranjangnya, dia menuntun Lyli untuk duduk di sebuah tempat duduk di depan kaca yang menjulang tinggi di kamarnya, terlihat jelas pemabdangan di luar tak kalah dnegan apartement mewah, yang bis melihat pemandangan kota.


Sebuah tempat duduk dengan bentuk hati, di haisi lilin di dalam gelas kecil, mereka berdua duduk.


Lyli menarik alisnya, mencoba melihat ke luar, tak menyangka di kaur juga sama, ada sebuah tulisan kata cinta dari be4bagai macam bunga, dan di hiasi lampu lampion memenuhi tamanya.


Hati Lyli seakan berhenti berdetak melihat berbagai kejutan yang di berikan suaminya itu.


"Kapan kamu menyiapkan ini semuanya?" tanya Lyli.


"Tadi, maaf aku gak bilang padamu. Karena aku ingin kasih kejutan padamu," ucap Lay mencolek hidung Lyli.


"Makasih!! Aku gak menyangka jika aku bisa melihat semua ini," ucapnya tak berhenti mengagumi apa yang sudah di siapkan Lay susah payah.


"Lihatlah lagi!!" ucap Lay, melingkarkan tangannya di punggung belakang Lyli.


Dor... Dor... Dor..


Sebuah petasan berbunyi semakin membuat Lyli terkejut, dia menatap ke atas langit.


"Lyli, I Love you."


Lyli seketika langsung memeluk tubuh Lay sangat erat. "Aku gak menyangka kamu menyiapkan semuanya,"


"Ini semua untuk kamu, syang!! Karena aku syang dengan kamu. Dan sangat cinta denganmu. Sekarang aku ingin menajdi bagian hidup kamu selamanya. Menjaga kamu."


Lay mengecup bibir manja Lyli, menggulum bibirnya penuh gairah, dan langsung di balas dengan Lyli. Dia yang selama ini memendam hasratnya kini mulai menggulum bibirnya semakin penuh gairah. Ke dua tangan Lay menjelajahi tubuh Lyli, mengusapnya lembut, "Aku boleh menyentuhnya?"


"Iya, boleh!!" jawab Lyli, sembari mendesah pelan, tangan Lay menerobos masuk dan mulai membuang semua yang menghalangi pandangan matanya melihat tubuh mungil Lyli.


"Apa kita akan melakukannya di sini?" tanya Lyli, menatap ke luar kaca di depannya menembus langsung di luar, bahkan jika ada orang yang melihat ke atas pasti akan terlibat jelas mereka berdua saat melakukan hal indah.


"Memangnya kita mau melakukan apa," tabya Lay


"Enggak tahu," umpat kesal Lyly, Dna langsung di balas dengan pelukan hangat dari belakang, dengan jari tangan bertindak nakal masuk.


"Kamu sudah basah?" tanya Lay.

__ADS_1


"Kamu jahat!!" ucap Lyli


"Kenapa?" tanya Lay yang meneruskan gerakan tanganya.


"Kamu yang buat aku seperti ini," ucap Lyli. Lay menyandarkan punggung Lyli di kaca belakangnya. "Dan mulai mengecup sekujur tubuh Lyli, meninggalkan bekas di dadanya dan kehernya, desahan keras membuat suasana semakin membuat lay tertarik dia semakin bergairah.


"Emm.. Lay!!" ucap Lyli, mencengkeram erat rambutnya, sembari mengacak-acak rambut kurus pendek milik Lay.


"Sekarang aku ingin melakukannya sekarwng," gumam aly yang mulai bersiap untuk melakukan yang lebuah,"


"Di ranjang!!" jawab manja Lyli.


Lay menarik tangannya, dia yang sudah puas membuat desahan keluar dari bibir Lyli, Lay menggendong tubuh Lyli berjalan ringan, dan meletakkan di atas ranjangnya. "Kamu gak makan dulu, dari tadi belum makan?"


"Tapi sambil seperti ini?" tanya Lyli.


"Aku cuci tangan dulu, mau suapin kamu," Lay mengusap ujung kepala Lyli dan beranjak menuju ke wastafel mencuci tangannya lalu kembali lagi duduk di samping Lyli. Dia menyuapi bibie seksi Lyli dengan satu strowbery, merah buah itu sama dengan merah bibirnya.


Selesai menikmati makan, sambil bermanja bersama. Saling menggoda, dan tersenyum bersama. Lyli dan Lay yang sudah kenyang, dia masih melakukan aksinya lagi untuk memancing nafsu Lyli. Hingga 15 menit Lay yang sudah selesai menyentuh tubuh Lyli, dia mulai melakukannya olah raga tubyhnya, "Sakit ya?" tanya Lay, memegang ke dua pinggang Lyli di bawahnya.


Lyli hanya diam, ke dua tangannya mencengkeram sprei ranjangnya sangat kuat, "Tahan syang!! Mungkin pertama akan terasa sangat sakit.. Tapi nikmatilah, nanti juga akan terbiasa" ucap Lay.


"Iya, lakukan saja, syang!!" gumam Lyli.


"Kamu yakin?"


"Iya,"


Lyli semakin memasukan dalam, membuat teriakan Lyli sangat keras terdengar nyaring di kamarnya. Lay hanya diam, mengecup kemungkinan Lyli. "Gimana, sudah gak sakit?" tanya Lay, melakukannya sangat hati-hati.


"Iya, masih butuh waktu agar bisa terbiasa," Lyli memeluk tubuh Lay, mencengkeram punggunggunya, Lay yang semula pelan, perlahan muali mempercepat ritmenya, Lalu berganti posisi dengan berbagai posisi sekaligus, Dan Lyli hanya diam menikmati setiap gerakan yang Lay lakukan, bahkan sampai berdiri tanpa melepaskan berjalan menuju ke kaca, dia melakukannya dengan sangat cepat, merasa Lyli sudah terbiasa tak terlibat sakit. Dia semakin mengganas, melakukan sesuai nafsunya.


Hampir 2 jam berbagai gaya dia lakukan, Hingga tubuh Lay dan Lyli tersungkur lelah di atas ranjangnya. Lay memeluk tubuh Lyli, mengecup bibirnya, keningnya, laku pipinya. "Makasih!!" ucap Lay sembari mengatur napasnya yang masih terenga-engah. Lay yang tadinya sudah ejukasi, dia langsung mengeluarkan di dalam milik Lyli.


"Aku capek, nafsu kamu benar-benar gila, yang!!" ucap Lyli, membalikkan badannya tersenyum dengan ke dua tangan memegang wajah Lay.


"Aku sangat puas," ucap Lyli, mengecup bibir Lay.


Lay menyeka keringat yang menetes di kening Lyli, memberikan sebuah kecupan hangat lagi di keningnya. "Maaf, syang! Aku buat kamu sakit?"


"Gak kok, tadi pertama memang sakit. Tapi lama-lama terbiasa,"


"Lihatlah di kamar kita banyak darah kamu," ucap Lay, melihatkan darah tepat di samping Lyli berbaring.


"Kamu benar-benar belum tersentuh laki-laki lain, aku sangat senang. Dan aku gak menyesal sama sekali bersama kamu," ucap Lay semakin memeluk erat tubuh Lyli. "Sekarang aku buang dulu sprei ini, setelah itu juga tidur bersama," Lyli beranjak berdiri, laki menarik sprei tebal yang sudah di basahi dengan darah virginnya, dia membuangnya ke lantai. Lay mendorong tubuh istrinya untuk segera berbaring di sampingnya. Tangannya masih menggoda nakal, memegang milik Lyli.


"Lay geli!!" ucap manja Lyli.


"Dikit," ucap Lay.


"Udah ayo kita tidur,"


"Makasih hari ini, besok lagi ya?" ucap Lay.


"Besok?" tanya Lyli mengerutkan keningnya.


"Iya, besok!!" ucap Lay.


"Hak salah?"


"Memangnya kenapa? Apa kamu gak mau?" tanya Lay memastikan.


"Terserah deh," Lyli meski kesal dan merasa capek, tapi dia menurut saja apa kata suaminya. Lagian Lyli dan Lay juga sudah menginginkan anak, biar tidak ketinggalan oleh Lian yin dan Yiwen.


"Kita tidur," ucap Lay memeluk erat tubuh Lyli.


"Good Night, syang!!" ucap Lyli.


"Iya, sayangku yang bawel!!" Lay mengecup kepala belakang Lyli, memeluknya semakin erat. Hingga mereka tertidur pulas bersama.

__ADS_1


__ADS_2