
Sudah beberapa bulan bahkan tahun dia tidak pernah bertemu dnegan Lian yin. Dan Lie wei memutuskan untuk tinggal di sebuah tempat yang tidak pernah di temukan orang lain, bersama dengan istrinya Amerta. Lie Wei terpaksa harus menikahi Amerta, meski sebenarnya sama sekali dia tidak suka dengannya. Tetapi tidak punya pilihan lagi, dan lebih memilih kenikahinya. Hanya ingin menunjukan pada kakaknya jika dia sudah tidak punya rasa sama sekali dengan Grace.
Banyak orang bilang bila Amerta bahagia menikah dengan Lie Wei. Namun, kenyataan yang sebenarnya adalah berbalik arah. Amerta bahkan tidak pernah tersenyum di depan Lie Wei. Hanya karena sifatnya yang sangat kasar.
Meski di depan orang Lie Wei dan Amerta selalu tersenyum. Namun hanya di rumah mereka selalu berjauhan dan tidak mau saling sapa.
\=\=\=\=\=\=\=
"Lie, apa kamu di dalam?" suara lembut sedikit cempreng itu membauf Lie Wei terjingkat dari lamunannya.
"Ada apa?" tanya Lie Wei, yang lebih memilih untuk tetap diam di dalam kamarnya.
"Ada seseornag yabg mencari kamu,"
"Siapa?"
"Kakak kamu,"
"Kalau kakaku, gak usah tanya lagi. Kamu suruh dia masuk sekarang." ucap Lie Wei tegas, dia beranjak berdiri dari kursi kerjanya, melangkahkan kakinya untuk segera membereskan semua yang ada. Lie Wei yang kini lebih aktif dalam dunia bisnis dan mafia. Dia tidak punya waktu lagi untuk keluar hanya sekedar liburan. Dulu Lian yin sudah memberikan semuanya padanya. Tiket liburan beberapa negara dia sudah pernah. Sekarang dia sudah tidak membutuhkan itu lagi.
Amerta tertunduk, mendengar ucapan nada kasar Lie Wei, dia membalikkan bandannya dengan wajah muram. Melangkahkan kakinya dengan berbagai pikiran yang mengganggunya.
"Amerta, aku mau kamu cepat kemasi barangmu." tetiak Lie Wei. Tanpa sadar Amerta sudha perhi dari depan pintu ruanganya.
"Amerta..." teriaknya menggema penuh emosi.
"Apa kamu sudha tidak punya pendenfaran lagi? Atau kemang kamu benar-benar sudah tulis sekarang." Lie Wei, segera membereskan semua berkas penting di atas meja, dan berjalan dengan langkah cepat penuh dengan kekesalam, Lie Wei membuka pintu.
"Ka..." ucapannya terhenti di saat dia tidak melihat Amerta di depan pintu ruangan kerjanya.
"Kemana dia?" tanyanya menggeram dalam hatinya.
"Ada apa, tuan?" tanya seorang pelayan tang kebetulan lewat di depannya.
"Di mana Amerta?" tanya dia kasar.
__ADS_1
"Non, Amerya di bawah, tuan." pelayan itu sedikit tertunduk hormat.
Lie Wei menggertakkan giginya, berjalan dengan penuh amarah yang mengobar.
"Amerta...." teriaknya, menggema membuat Amerta yang kini sedang berjalan ingin menemui kakaknya terhenti. Dia memegang jemari tangannya yang sudah basah. Wajahnya terlihat pucat takut, sudah hampir 2 tahun menikah, bahkan sama sekali dia tidak pernah bersikap baik dengannya. Dan selalu bertindak kasar dengan Amerta.
"Amerta, kamu kenapa turun dulu sebelum aku beri tahu kamu." Lie Wei menajamkan ke dua matanya,
Amerta menarik napasnya dalma-dalam, mencengkeram erat tanganya sendiri yang terlihat geketar ketakutan.
"Hiks.. Maafkan aku," desar Amerta lirih.
"Gak usah nangis di sini. Aku tidak suka melihat wanita cengeng seperti kamu." tegas Lie Wei, mendorong bahu Amerta. Melangkahkan kakinya du alangkah berdiri tepat di sampingnya.
"Bereskan semua baju kamu, aku akan kirim kamu ke rumah kakak kamu. Dan sekarang mungkin dia akan segera di bebaskan dari penjara." Lie Wei beranjak pergi meninggalkan Amerta, untuk menemui kakaknya.
Deg! Seketika jantung Amerta berhenti berdetak, mendengar ucapan Lie Wei yang dengan sengaja dia mengusirnya dari rumahnya. Hatinya benar-benar sakit, sangat sakit bagaikan di tumbuk dengan bebatuan besar.
Entah sampai kapan Lie Wei akan mulai mencintainya Bahkan berbagai cara Amerta melakukan pengorbanan. Namun tak sedikitpun pengorbanan itu berarti di matanya. Lie Wei seakan menutup rapat-rapat hatinya untuknya. Dan kini Mei yang sudah menikah dengan kakaknya juga begitu, meski kakak masih berada di dalam.penjara. Tetapi Mei diam-diam menemui Lie Wei, hanya sekedar berbicara, bahkan sampai makan malam berdua.
Hal itu semakin membuat hati Amerta sakit. Seakan dia sudah tidak di hargai lagi sebagai istri kecilnya.
Entah sejak kapan air mata itu sudah membasahi pipi Amerta. "Ba..Baik!"
Amerta menyeka air katanya dengan punggung tangannya. Dan berjalan menuju ke dapur.
Sampai kapan kamu akan tetap seperti ini. Sudah 2 tahun aku bersabar menghadapi sifat kasar kamu. Dan aku sudah terbiasa di duakan di sakiti. Namun aku tetap tegar, kalau bukan karena anakku. Aku mungkin tak akan sanggup lagi berada di dunia ini. Gerutu Amerta, menahan rasa sakit yang amat dalam perlahan mulai mencabik-cabik hatinya tanpa ampun.
Anak Amerta sekarang ikut dengan Mei, dan Lie Wei yang mengijinkan dia tinggal dengan Mei berdua. Meski rasanya sakit harus di jauhkan dari anak, dan jauh dari hati Lie Wei. Dia tidak pernah menyesal sama sekali menikah dengan Lie Wei. Dalam pikirannya hanya mengira jika Lie Wei belum siap menerima hatinya. Hanya karena rasa sakit di tinggal cinta pertamanya menikah dengan kakaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kak, kapan kamu pulang?" tanya Lie Wei, beranjak duduk di depan Chengyi.
"Baru saja, dan aku langsung ke sini." jawab Chengyi, menunjukan wajah seriusnya.
__ADS_1
Lie Wei menyipitkan matanya.
"Sepertinya ada hal yang sangat penting, ingin kamu bicarakan?" tanya Lie Wei mencoba menebak pikiran Chengyi.
"Memang benar, aku ingin kamu selidiki. Di mana Lee sekarang,"
Mendengar nama itu, Lie Wei mengerutkan keningnya semakin dalam, sedikit menunduk. Mengingat lagi tentang Lian yin dan Ley. Di mana di saat mereka bersama menyerang Lee. Bertempur bersama. dan sekarang dia pergi meninggalkan persahabatan mereka.
"Kenapa kamu tanya tentang dia? Dan mencoba mencari tahu semuanya." Lie Wei menunjukan wajah seriusnya.
"Dia sekarang mulai menggerakkan lagi dunia mafia. Dan tujuan dia kali ini adalah ingin menguasai semuanya. Karena aku sudah menyerahkan semua padamu. Aku tidak bisa membantu kamu lagi, Lian yin dan semuanya." jelas Chengyi.
Lie Wei mengangkat kepalanya menatap Chengyi. "Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus membunuh dia atau hanya mencari tahu tentang dia,"
"Tidak semudah itu kamu bisa membunuhnya. Kamu tahu, jika dia sekarang satu kelompok dengan mafia terkenal di dunia. Yang dulu sangat bermusuhan dan selalu mencoba membunuh kakak Lian Yin.
"Jadi dia?" wajah Lie wei seketika terkejut saat dia ingat siapa laki-laki yang di maksud. Sebuah nama yang tidak pernah asing dalam.dunia mafia, selain mr x. Dia adalah musuh bebuyutan mr X, nama samaran kakak Lian yin dulu saat dia masih menggeluti dunia mafia.
Lie Wei menggeram kesal, bagaimana bisa laki-aki itu masih hidup. Seharusnya aku dulu menghabisi dia." gertak Kesal Lie Wei.
"Semua penyesalan tidak ada gunanya. Dua wanita licik itu juga sekarang masih berkeliaran. Dia pura-pura baik. tapi sebenarnya wanita itu punya rencana busuk. Dan ingat, jangan bilang siapapun jika aku ada di sini."
"Oya, di mana Grace?" tanya Lie Wei, yang tak melihat Grace sama sekali di sampingnya.
"Dia di Inggris, katanya lebih baik urus anak. Dari pada ikut ke sini. Takut anak ku kenapa-napa,"
"Besok aku akan urusan semuanya." ucap Lie wei. "Dan sekalian kapan kakak pulang, jangan tinggalkan Grace di sana sendiri."
""Sudah tenang, ia pasti baik-baik saja." ucap Chengyi, beranjak berdiri menupu bahu Lie Wei.
"Di mana kamar untukku?" tanya Chengyi. "Aku capek, habis perjalanan jauh. Sekarang mau istirahat."
"Memangnya kakak mau tidur di sini?"
"Iyalah, memangnya aku mau tidur di mana?"
__ADS_1
"Aku kira di hotal," Lie Wei beranjak berdiri. "Kalau begitu, aku sendiri yang akan siapkan kamar untuk kakak,"
Seakan melupakan masalah tadi. Lie Wei berjalan mengantar chengyi pergi ke lantai atas menuju kamar khusus untuk Chengyi yang tepat di sampingnya. Dulu bekas kamar Amerta, tetapi laki-laki itu mengusirnya dan menyuruh dia tidur di kamar yang jauh dengan kamarnya.