
Happy Reading.
Rasya yang sedang di Bengkel memperhatikan para Pekerjanya yang sedang berkutat dengan masing-masing tugas. Damar sedang mencuci sebuah mobil pelanggan, Ivan sedang menambal Ban motor yang bocor, Beni sedang mengotak-atik serta memperbaiki mesin mobil Pelanggan yang mengeluh karena sering mogok, sedangkan Aldi sedang membuat design untuk memodif Motor Sport milik Pelanggan.
Rasya tersenyum melihat Para Pekerja nya yang sibuk dengan wajah mereka yang beraut semangat. Rasya bahkan terkekeh melihat Damar yang sedang mencuci mobil dengan bergoyang-goyang karena mendengar Suara Music yang sengaja mereka Nyalakan di Sebuah Speaker besar yang berada di Bengkel itu.
Sementara itu Adelia juga terlihat anteng melayani pelanggan yang berdatangan membeli kue-kue nya. Adelia mencoba selalu tersenyum ramah kala melayani para Ibu-ibu yang datang membeli kue nya dengan celotehan mereka.
"Neng, pintar ya bikin kue?" kata salah satu Ibu yang berdaster ungu.
"Iya. Neng ini pintar bu. Saya mencicipi kue nya sungguh enak," sahut salah satu ibu yang memakai gamis biru.
Adelia hanya bisa terus tersenyum. "Terima kasih bu sudah mau membeli kue di toko saya," ucap Adelia dengan ramah.
"Iya Neng tentu saja. Saya akan berlangganan beli kue di sini. Lagian di kampung kita belum ada Toko Kue lagi selain di Toko ini."
Ibu berdaster ungu itu mengatakan belum ada Toko Kue di Kampung nya itu selain Toko Kue milik Adelia ini. Sungguh Adelia bernafas lega karena tidak mempunyai saingan, dan tentu sangat menguntungkan buat Adelia tersendiri.
Ibu-ibu itu pun sudah pergi, Adelia bisa bernafas lega serta bisa duduk santai dari sejak merapihkan kue-kue nya tadi Adelia langsung di serbu para pembeli yang bernotaben ibu-ibu.
"Sepertinya aku butuh seseorang untuk membantu aku melayani para pembeli," kata Adelia di dalam hati.
Tiba-tiba Adelia menjadi teringat teman nya yaitu Rara, bahkan merasakan rindu yang Adelia rasakan saat ini. Adelia memutar matanya menatap ke arah Bengkel yang tepatnya berada di samping Toko Kue nya, Adelia berjalan sedikit ke arah depan Toko, Adelia tersenyum kala melihat Rasya yang sedang menggerak-gerakan kepalanya mengikuti irama Musik yang terdengar, Adelia bahkan tertawa melihat Damar yang sedang meliuk-liukan badan nya dengan tangan nya sedang mencuci mobil.
Rasya menatap ke arah istrinya yang sedang memperhatikan ke arahnya, Rasya tersenyum lalu melangkah berjalan mendekati sang istri.
"Tadi kelihatan nya banyak ibu-ibu yang beli?," tanya Rasya setelah berdiri dekat sang istri.
"Iya Mas, aku sampai sedikit kerepotan tadi," sahut Adelia.
"Apa kamu membutuhkan teman untuk melayani pembeli?," tanya Rasya kemudian.
"Sepertinya butuh Mas, tapi siapa disini?."
Adelia sedikit berpikir.
"Nanti Rara akan aku ajak ke sini," tutur Rasya yang membuat Adelia berbinar, sungguh penuturan Rasya seakan tahu apa yang sempat Adelia tadi pikirkan.
Adelia langsung berhambur memeluk sang suami yang di anggap sangat tahu akan apa yang ada di pikiran nya. Rasya tersenyum senang kala memperhatikan istrinya yang begitu senang akan apa yang baru saja Rasya ucapkan.
"Terima kasih Mas, aku senang sekali Mas dapat mengerti akan apa yang ada di pikiran ku sejak tadi," ucap Adelia.
"Benarkah kamu berpikir tentang Rara sejak tadi?." Adelia langsung mengangguk dan melepaskan pelukan nya dari tubuh sang suami.
"Syukurlah aku bisa menebak pikiran mu, nanti aku akan pulang dulu ke kota J menjemput Rara."
"Iya Mas," kata Adelia dengan tersenyum.
Rasya menarik tangan Adelia untuk mengikuti langkah kakinya menuju ruang tamu rumahnya, dan Adelia menurut mengikuti dengan perasaan bingung akan apa yang akan suaminya lakukan.
"Duduk sini Sayang." Rasya menepuk sofa sebelahnya mempersilahkan Adelia untuk duduk di dekatnya. Adelia pun menurut duduk.
__ADS_1
Rasya menarik nafas pelan terlebih dahulu untuk memulai akan apa yang akan Rasya katakan kepada Istrinya.
"Begini sayang, ada hal yang akan aku sampaikan kepada mu. Ini mengenai Mama dan Papa," ucap Rasya dengan serius menatap wajah sang istri.
Apa Mas Rasya akan mengatakan hal tadi yang aku dengar pembicaraan nya di telepon?. Batin Adelia berbicara dan teringat akan apa yang tadi ia dengar.
"Apa itu Mas?." Adelia pura-pura belum tahu, ia sengaja ingin tahu kejujuran suaminya.
Tangan Rasya terangkat membelai pipi sang istri dan mengecup keningnya dengan lama.
"Kamu tahu Sayang, Mama dan Papa meminta aku menikahi Ariyanti kembali."
Sontak Adelia terkejut langsung menatap serius ke arah wajah sang suami. Rasya yang di tatap hanya menampilkan senyum nya.
"Apa kamu bersedia Mas?," tanya Adelia kemudian.
Rasya menggeleng tanda ia tidak bersedia untuk menikahi Ariyanti kembali.
"Tidak Sayang, aku tidak mau. Dan tidak akan pernah mau," jawab Rasya.
Adelia merasa lega akan jawaban Sang Suami. Tapi Adelia harus bertanya alasan apa Orang tua Rasya yang menginginkan Rasya menikah kembali dengan Ariyanti yang sudah menjadi mantan istri itu.
"Mas tahu alasan apa Mama dan Papa menginginkan Mas menikah kembali dengan Ariyanti?. Bukankah kata Mas, Papa sudah merestui kita?," tanya Adelia beruntun.
Rasya merengkuh tubuh Adelia dan mengusap-usap punggung sang istri.
"Aku tahu. Mama mengatakan itu permintaan Papa yang beralasan sakit karena Jantungnya, dan Papa menginginkan pernikahan aku kembali dengan Ariyanti dengan alasan agar perusahaan nya lebih kuat ketika Papa tiada." Rasya menjeda ucapan nya.
Adelia terdiam mencerna setiap apa yang baru saja ia dengar dari suaminya.
"Hei kenapa kamu malah diam begitu?," tanya Rasya yang merasa Adelia terdiam dalam pelukan nya.
"Aku serahkan kepada Mas. Apa itu keputusan Mas akan aku setujui."
Adelia yakin Rasya tidak akan melakukan itu.
"Tentu aku tidak akan menuruti permintaan aneh itu Sayang, aku tak perduli akan apa yang terjadi. Aku lelah Sayang selalu di minta ini itu oleh Mama dan Papa tentang kehidupan ku. Aku akan buktikan bahwa aku akan bahagia tanpa penekanan dari mereka. Dan aku akan buktikan aku bisa berdiri sendiri dengan kaki ku sendiri." Rasya meyakinkan Sang istri tidak akan pernah melakukan apa yang Orang tuanya inginkan.
Adelia tersenyum dan menatap sang suami dengan mendongak ke arah wajahnya, karena Adelia masih berada dalam pelukan Rasya. Adelia mengecup bibir Rasya sekilas, tapi tangan Rasya dengan cepat menekan tengkuk Adelia sehingga Rasya menyerang bibir Adelia dengan dalam. Adelia pun pasrah bahkan mulai mengalungkan tangan nya ke leher Rasya, sedangkan Rasya tangan nya kini berpindah di pinggang ramping sang istri.
Rasya mel**at bibir sang istri dengan lembut, lidahnya sudah berbelit mengabsen setiap penghuni mulut sang Istri. Adelia terpejam menikmati percumbuan nya. Kini bibir Rasya sudah berpindah ke telinga, bahkan turun ke leher jenjang sang istri yang mulus dan putih.
Rasya menatap terlebih dahulu ke arah wajah Adelia yang sedang terpejam lalu Rasya berbisik.
"Sayang aku mau."
Sontak Adelia membuka matanya dengan sayu, menatap Sang Suami dengan sudah berwajah penuh gairah dan hasrat.
Adelia pun mengangguk memberi jawaban.
Rasya tersenyum lalu tangan nya mengangkat tubuh Sang istri ala pengantin, Adelia pun cepat mengalungkan tangan nya ke leher tegap milik suaminya. Saat Rasya baru saja melangkah.
__ADS_1
"Astagfirullah mata ku."
Rasya kaget begitupun Adelia mendengar ada suara seseorang di ambang pintu depan yang terbuka lebar. Dan Rasya memutar tubuhnya untuk melihat siapa orang tersebut.
"Al?" Rasya dengan menatap tajam dan tangan nya masih tetap memangku sang istri. Jangan di tanya bagaimana dengan Adelia, Adelia sedari tadi sudah menyembunyikan wajahnya di dada sang suami semenjak mendengar suara orang tersebut.
"Maaf Pak. Em... saya baru saja datang. i-itu di depan Toko Kue sudah banyak Ibu-ibu yang menunggu," kata Aldi menjelaskan kedatangan nya.
"Kenapa mereka tak memanggil?"
"Mereka sudah teriak-teriak Pak. Mungkin Pak Bos tidak mendengarnya. Jadi saya ke sini."
Ya mau mendengar bagaimana orang Pak Bos sedang asyik dengan istrinya. Gerutu Aldi di dalam hati.
"Ya sudah. Kamu suruh tunggu Ibu-ibu itu." Rasya dengan tangan nya mengisyaratkan Aldi pergi.
Aldi mengangguk. "Pak Nanti pintunya di tutup ya, Saya takut yang lain melihat adegan-adegan Pak Bos."
"Aldi!!!"
Teriak Rasya, dan membuat Aldi tersenyum berlari meninggalkan wajah sang Bos yang kini memerah menahan malu.
Adelia sedari sudah malu kini makin tambah rasa malunya.
Apa Aldi melihat kami tadi sedang bercumbu?. Mau di taruh dimana ini muka aku?. Batin Adelia.
Sedangkan Rasya nampak biasa saja. Kini Rasya menurunkan tubuh Adelia.
"Sayang kamu layani pembeli dulu ya...."
Rasya dengan merapihkan rambut Adelia yang sedikit berantakan karena ulahnya.
"Mas gak apa-apa?," selidik Adelia.
"Aku gak apa-apa. Sudah sana nanti mereka mengomel." Rasya mencoba tersenyum meyakinkan sang istri.
Adelia pun keluar menuju Toko Kue. Sedangkan Rasya merasa frustasi akan hasratnya yang harus tertunda kembali.
Sial gagal lagi, gagal lagi.
Dan tadi aku lupa tidak menutup pintu.
Tenang ya Rasya kecil. Kamu nanti pasti akan bertemu dengan sarang mu itu.
Gerutu Rasya di dalam hatinya seraya menenangkan Rasya kecil yang sudah tidak sabar untuk menghuni sarangnya.
...Bersambung....
Jangan lupa like dan comment nya ya readers.
Maaf jika cerita saya masih garing.
__ADS_1