You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 14.


__ADS_3

"Apa?" pekik Serly dengan wajah terkejut. Sungguh Serly tidak menyangka jika Dido akan datang ke rumah Kikan secepat itu.


"Ayo temui dia," kata Kikan menyuruh agar Serly cepat menemui Dido.


Serly menggeleng-gelengkan kepala.


"Ish, kamu aneh! dia ke sini sengaja untuk nemuin kamu. Ayo temuin," kata Kikan lagi menyuruh Serly.


"Aku gak mau," sahut Serly dengan lirih. Entah mengapa saat sekarang ia seakan takut ketemu Dido.


Kikan tanpa suara menarik lengan Serly untuk keluar kamar.


"Ayo, kamu aneh sekali sih. Ada apa, seperti orang ketakutan gitu?" gerutu Kikan yang tidak mengerti dengan sikap Serly saat ini.


Akhirnya Serly menurut. Ia melepaskan tarikan Kikan dari lengannya.


"Gak usah nyeret gitu. Iya. Aku akan temui, Kak Dido" ucapnya dengan melangkah mendahului Kikan. Dan Kikan hanya menggeleng-gelengkan kepala seakan merasa heran terhadap temannya itu.


Dido menatap kedatangan Serly. Ia langsung bangkit dari duduknya, dan tersenyum kepada Serly.


"Hai, kakak ganggu ya?" ucapnya seraya menyapa.


Serly sedikit terpana dengan senyuman Dido. Bahkan Serly akui, Dido mempunyai sejuta pesona dari dirinya. Wajahnya, bentuk tubuhnya, serta senyumannya. Namun, Serly tidak merasa sedikit bergetar pada hatinya. Entahlah, mungkin Serly sudah tidak bisa merasakan getaran cinta pada orang lain, selain pada Aldi.


Serly tersenyum tipis membalas senyuman Dido.


"Enggak kok, kak" sahut Serly seraya mendekat dan duduk di sofa seberang Dido.


Dido menyerahkan Paper bag kepada Serly, "Untuk cemilan. Maaf, kakak belum tahu apa yang kamu suka. Tapi, mudah-mudahan itu bisa kamu makan," ujarnya.


Serly menerima paper bag tersebut dengan ragu. "Kenapa harus repot-repot sih, kak?" Serly memang merasa tidak nyaman bila harus menerima pemberian dari orang lain apalagi orang tersebut baru di kenalinya.


"Enggak kok, kakak gak merasa di repotkan," sahut Dido dengan tersenyum senang karena Serly menerima pemberiannya.


Kikan datang dengan nampan yang berisi cemilan dan minuman. Ternyata, Kikan sigap ke arah dapur saat tadi Serly melangkah mendekati Dido.


"Silahkan, di minum kak! maaf, seadanya" ucapnya setelah menaruh nampan tersebut di atas meja sofa.


"Terima kasih. Gak usah repot-repot," sahut Dido dengan tersenyum.


"Ih kak Dido ternyata orangnya ramah. Pantas saja banyak yang mengidolakannya," batin Kikan seraya tersenyum.


Serly duduk dengan perasaan resah. Entah mengapa, saat ini ia merasakan bersalah kepada Aldi, setelah ungkapan Aldi tentang perasaannya semalam. Serly saat ini seakan sedang berselingkuh.

__ADS_1


"Kikan, tante Diah kapan pulang dari kota B?" tanya Serly untuk memecah kecanggungan di hadapan Dido. Karena Dido sedari tadi terus menatap ke arahnya.


"Mama katanya pulangnya besok. Dan giliran Bang Aldi lusanya yang pergi ke kota B," ucap Kikan. Kebetulan di Kota B banyak sanak saudaranya Kikan yang sedang mengadakan acara keluarga, termasuk keluarga Aldi.


Dido mengernyit saat mendengar nama Aldi di sebut oleh Kikan. Yang menurut Dido, nama Aldi adalah nama Kakaknya Serly. Tapi ternyata bukan. Dido harus cari tahu secepatnya, pikirnya begitu.


"Oh," Serly hanya menanggapi dengan ber-oh saja.


Dan yang di bicarakan panjang umurnya.


Suara deru mesin mobil milik Aldi terdengar berhenti di depan pintu pagar rumah Kikan. Ketiganya kompak menatap ke arah luar. Yang pintunya sengaja di buka lebar. Kikan dengan cepat keluar untuk membukakan pintu pagar tersebut agar mobil Aldi bisa masuk.


Setelah Aldi memasukkan mobilnya, dan keluar dari mobil. Ia menatap heran pada motor Sport berwarna merah yang terpampang di depannya.


"Motor siapa?" tanya Aldi kepada Kikan.


"Oh itu, motor kak Dido." jawab Kikan dengan tersenyum.


Tatapan Aldi langsung mengarah ke arah pintu utama yang terbuka. Mendengar nama Dido di sebut, Aldi seakan tahu bahwa gadis pujaannya juga berada di dalam.


Aldi langsung melangkah lebar masuk ke dalam rumah. Dan tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Serly yang tengah duduk di sofa single. Kemudian tatapan Aldi mengarah kepada Dido. Dido tersenyum kepadanya, namun Aldi memasang wajah datar.


"Ayo, Bang duduk!" titah Kikan saat menatap Aldi hanya berdiri saja.


Aldi duduk di sebelah Dido. Sehingga Aldi pun menghadap ke arah Serly.


"Hai Bang, ketemu lagi" Dido dengan ramah menyapa Aldi.


Aldi hanya mengangguk dengan tersenyum tipis.


"Maaf, apa kedatangan saya mengganggu?" tanya Aldi sengaja menyindir.


"Tidak. Saya juga baru sepuluh menitan mungkin duduk di sini," sahut Dido dengan ramah.


"Ser, mending jalan-jalan yuk! kebetulan ada Bang Aldi juga," ajak Kikan kini kepada Serly.


Serly menatap Kikan dengan melongo, "Gak, ah aku di rumah saja." balasnya.


"Ih, gak asyik kamu. Kasihan tahu, kak Dido di diemin terus." Kikan dengan menatap ke arah Dido. Dido yang di tatap hanya tersenyum.


Aldi menatap tajam ke arah Kikan yang seakan setuju dengan kedekatan antara Serly bersama Dido.


"Bang Al, aku mau jalan-jalan. Jangan jauh-jauh, yang dekat saja!" Kikan malah merengek tanpa menyadari tatapan Aldi yang menghunus tajam.

__ADS_1


Dido kini bersuara, "Ser, apa kamu mau di rumah saja?" tanyanya dengan nada lembut.


Serly hanya tersenyum dengan mengangguk. "Tadinya aku dan Kikan sedang nonton drakor. Jadi gak kepikiran mau jalan-jalan," alasannya.


"Ya, tapi sekarang kita jalan-jalan yuk! lagian tadi aku bingung, kamu gak bawa mobil. Mau ajak kemana-mana juga," timpal Kikan dengan cepat.


"Aku gimana kak Aldi saja," akhirnya Serly menyahuti dengan menunduk.


"Tuh, Bang Al. Serly udah serahin ke abang." Kikan menatap Aldi dengan wajah memelas.


Aldi merasa di hargai oleh gadis pujaannya itu. Mendengar Serly yang mengatakan terserah dirinya, Aldi menyunggingkan senyuman tipis tanpa di ketahui mereka.


"Jalan-jalan kemana?" tanya Aldi dengan datar.


"Taman alun-alun saja. Dan traktir aku jajan," celetuk Kikan yang sudah biasa kepada Aldi.


"Ayo!" Aldi dengan langsung berdiri dan melangkah keluar.


"Hah?" Kikan senang tidak kepalang. "Ayo, Ser. Kak Dido!" ajaknya kemudian kepada Serly dan Dido.


"Bareng kakak ya?" kata Dido kepada Serly.


"Iya, dong Serly harus bareng Kak Dido" sahut Kikan dengan cepat sebelum Serly bersuara.


Dido perlahan meraih tangan Serly. Namun, Serly dengan cepat melepaskan.


"Maaf, kak. Aku bawa tas dulu di kamar Kikan," ucapnya dan berlalu meninggalkan Dido yang berdiri menatapnya.


"Kakak duluan saja tunggu di luar. Aku mau kunci-kunci pintu rumah," kata Kikan kepada Dido.


Dido mengangguk dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Ia melangkah keluar untuk menuju ke arah motornya.


Terlihat Serly dan Kikan keluar. Kikan lalu mengunci pintu utama.


"Ser, ayo kak Dido udah nunggu tuh!" Kikan berucap kepada Serly yang terus berdiri menunggu dirinya. Padahal Serly sengaja menunggu apakah Aldi akan menegurnya atau mengajaknya. Namun ternyata tidak.


Dido langsung memakaikan helm kepada Serly. Setelah Serly mendekati ke arahnya. Serly menerimanya. Dengan melirik ke arah Aldi yang tidak sama sekali menoleh kepada dirinya.


"Jangan lupa pegangan!" Dido memberikan perhatiannya kepada Serly yang kini sudah duduk di belakang jok motornya.


Serly hanya mengangguk saja. Dengan pikiran dan hatinya terus tertuju kepada Aldi.


"Kak Aldi, kenapa hanya kemarin saja kamu hangat kepada ku. Dan sekarang kamu kembali beku seperti es balok." Serly berbicara di dalam hati memikirkan sikap Aldi yang tidak sama sekali menyapanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2