
Rasya setelah mematikan panggilan nya ia langsung keluar ruangan, dan melihat pesan shareloc dari adiknya, kemudian menghampiri Ivan. "Van, boleh Saya pinjam motornya?," katanya.
"Boleh, Pak." Ivan seraya mengeluarkan kunci motor dari saku celananya.
"Terima kasih Van," ucap Rasya dan langsung berlari menuju motor Ivan.
Rasya sengaja meminjam motor Ivan karena motor milik Ivan adalah motor sport, sebab kecepatan-nya tidak usah di ragukan lagi.
Rasya langsung menancapkan gas nya cepat, hingga melesat meninggalkan tempat itu. Seperginya Rasya, Ivan merasa heran dengan gerak-gerik dan wajah Rasya yang seperti dalam keadaan cemas.
"Ben, Lu lihat gak tadi raut muka si bos pas pinjam motor ke gue?," tanya Ivan ke Beni.
"Iya gue lihat, seperti sedang merasa khawatir gitu," sahut Beni. "Lu juga lihat kan, Dam?," tambah Beni bertanya kepada Damar.
"Iya, sebenarnya ada apa ya?," kata Damar.
"Mudah-mudahan gak ada apa-apa. Ya sudah ayo kita lanjut kerja lagi," ucap Ivan. Dan mereka pun kembali mengerjakan tugasnya masing-masing.
Sementara itu Rasya sudah sampai di ujung jalan menuju perkebunan. Rasya memarkirkan motornya tepat di dekat mobil miliknya yang Serly parkirkan tadi. Rasya langsung turun dan berlari ke tengah hamparan kebun Teh. Rasya mengedarkan pandangan nya ke kiri dan kanan mencari keberadaan Adelia sang istri.
"Adelia .... kamu dimana?" Rasya berteriak memanggil nama sang istri yang sangat di cintainya.
Rasya berteriak dengan terus menyusuri kebun Teh. Hingga pandangan nya melihat Serly dan Rara yang sama sedang mencari keberadaan istrinya.
"Serly, Rara ...." Sapa Rasya, setelah sudah dekat dengan mereka berdua.
"Kak Rasya?,"
"Syaa ...."
Mereka menyahuti secara bersamaan.
"Kenapa bisa Istriku hilang?" teriak Rasya kepada mereka berdua dengan matanya menatap tajam.
Serly hanya bisa menunduk karena merasa takut, "Maaf Kak, ini semua sa-salah Serly ... Serly terlalu asyik berphoto, hi-hingga tidak tahu kak Adel entah kemana," ucap Serly gagap mengakui kesalahan nya dengan menunduk tidak berani menatap wajah sang kakak.
"Maaf Syaa, aku juga sama. Aku sampai tidak tahu Adelia pergi kemana," ucap Rara sama mengakui kesalahannya.
Rasya masih menatap tajam ke arah mereka dengan menahan marah atas ucapan mereka berdua yang mengakui kesalahannya.
"Jika sampai istriku kenapa-napa aku tidak akan pernah memaafkan kalian berdua!!" ancam Rasya.
Membuat Serly dan Rara merasa begidik ngeri ketakutan, terlihat dari ekor mata Rara, bahwa ancaman Rasya sangat serius. Sedangkan Serly tidak berani menatap kakaknya sedari tadi.
__ADS_1
"Ayo, kalian cari istriku sampai dapat! kalau belum ketemu, kalian jangan dulu pulang," bentak Rasya.
Serly dan Rara hanya bisa mengangguk dengan bersamaan. Dan mereka bertiga pun mulai berjalan menyusuri kembali Perkebunan Teh tersebut, menengok setiap sudut semak yang berada di tempat itu. Sesekali mereka berteriak memanggil nama Adelia.
"Adelia Sayang kamu dimana?" teriak Rasya.
"Kak Adel, kakak Ada dimana?" teriak Serly.
"Del, Adelia. Kamu dimana Del?" teriak Rara.
Hingga mereka masuk kedalam hutan, terlihat hutan itu begitu sepi. Dan anehnya lagi dari perkebunan sampai masuk hutan mereka tak menemui orang walau seorang pun. Hanya di Pabrik Pengolah Teh saja yang terlihat banyak orang.
"Kak Adel tidak mungkin sampai sini, kan?" kata Serly, yang menatap sekeliling hutan merasa sepi dan ketakutan.
"Iya benar Ser," ucap Rara.
Rasya sekelebat melihat orang yang hendak mau mancing, Rasya pun berlari mengejarnya.
"Maaf Mas, apa Mas lihat ada seorang wanita gitu dimana? dia memakai baju putih, celana jeans hitam, dan rambut panjang?" tanya Rasya.
"Oh maaf Mas, dari sepanjang jalan tadi saya tidak melihatnya," jawab pria tersebut.
"Ya sudah terima kasih Mas," ucap Rasya.
Dan pria tersebut langsung berjalan meninggalkan Rasya.
Apa iya Adelia di bawa penunggu hutan sini? Apalagi istriku sedang hamil? batin Rasya.
Seketika hujan turun dengan lebatnya. Hingga petirpun menyambar menggelegar.
Mereka mencari tempat untuk berteduh. Dan bertambah pula rasa khawatir akan keselamatan Adelia.
"Ya Tuhan, dimana pun Istriku berada tolong lindungi dia, Jaga dirinya dari marabahaya, aku pasrahkan pada-Mu ya Tuhan," gumam Rasya berdo'a dengan menatap langit yang sedang hujan.
***
Adelia yang sedang berada di pinggir sungai merasa ketakutan saat hujan turun dengan lebatnya, bahkan dengan petir yang menggelegar. Adelia seketika menangis.
"Tolong .... Tolong ...." ucapnya. Dan itu percuma tidak akan ada yang mendengarkan, di tambah hujan lebat beserta petir yang menutup suara Adelia walaupun berteriak dengan keras.
Adelia mencoba berjalan menyusuri pinggir sungai tersebut, namun karena licin nya tanah yang Adelia injak hingga membuat Adelia terpeleset, dan kakinya tergelincir masuk ke dalam sungai. Adelia terbawa arus, walaupun mencoba berenang untuk ketepian, Adelia kewalahan karena derasnya arus air sungai yang memang saat itu sedang hujan.
Kepala Adelia terbentur keras pada sebuah batu yang terdapat di sungai itu, hingga membuat Adelia kehilangan kesadaran nya. Dan tubuh Adelia pun mengambang mengikuti alur arus sungai.
__ADS_1
***
Di hutan yang lebat, Rasya, Serly, dan Rara masih berteduh di bawah pohon besar. Rasya merasakan sesak pada dadanya, dan teringat akan ucapan pria tadi yang mengatakan bahwa hutan tersebut banyak dedemitnya.
"Mending kita ke Pabrik Pengolah Teh itu, mencoba meminta bantuan warga di sana," kata Rasya dan langsung berlari dan di susul oleh Serly juga Rara.
Mereka bertiga berlarian di bawah guyuran hujan yang lebat. Melangkah menuju Pabrik Pengolah Teh yang berada di perkebunan di sana. Mereka bertiga melangkah hingga sampai di depan pos Security. Dan tadi saat Serly dan Rara bertanya kepada warga sekitaran Pabrik, Security tersebut tidak ada di tempatnya.
"Mohon Maaf Pak, boleh kami bertiga ikut berteduh?," ucap Rasya kepada bapak Security.
"Boleh Mas," jawabnya.
Dan mereka bertiga pun ikut berteduh dengan berdiri di depan Pos Security milik Pabrik Pengolah Teh tersebut.
Rasya mencoba ingin bertanya tentang istrinya kepada Security.
"Pak, Em ... Mohon Maaf. Saya mau bertanya, apa Bapak tadi melihat ada wanita yang berbaju putih, bercelana jeans hitam, dan berambut panjang lewat sini?,"
Security tersebut menautkan alisnya dan seperti mengingat-ingat tentang yang Rasya tanyakan perihal ciri-ciri wanita yang Rasya tadi sebutkan.
"Iya Saya tadi lihat. Seperti sedang mengikuti sekumpulan kupu-kupu terbang, dan arah jalan nya ke sebelah sana. Memang ada Apa Mas?," jawabnya dengan menunjuk hutan yang tadi dimasuki Rasya, Serly, dan Rara.
"Istri saya hilang Pak," jawab Rasya.
"Tapi kami tadi dari sebelah sana Pak, kami tidak menemukan nya" kata Rara kini.
"Apa kalian mencarinya sampai dalam?," tanya Security tersebut.
"Tidak Pak, Karena tadi keburu hujan turun," sahut Rasya.
"Oh Tuhan, Maaf Mas saya bukan mau menakut-nakuti ya, tapi ini sudah banyak kejadian jika bukan asli penduduk sini suka tiba-tiba ke sasar, dan hilang. Apalagi kepada wanita yang sedang datang bulan atau yang sedang hamil. Di tempat ini masih mistis Mas," kata Security itu dengan serius.
Hingga Serly dan Rara saling pandang mengingat Adelia yang sedang hamil. Sedangkan Rasya teringat akan ucapan Pria yang tadi di temuinya di hutan yang mengucapkan hal mistis sama seperti Security yang di depan nya, namun Security itu mengatakan nya secara jelas. Bertambahlah rasa khawatir dan bercampur cemas.
"Pak Apa saya boleh minta bantuan warga Pabrik sini, untuk mencari istri saya dari sekarang setelah hujan reda, Saya akan membayar siapa yang mau ikut mencari Istri saya. Lebih banyak lebih bagus," ujar Rasya.
"Boleh Mas, nanti saya akan kumpulkan warga sini untuk membantu mencari istri Mas." sahut Security dan Rasya merasa semangat akan apa yang di sampaikan Security tersebut. Untuk mencari keberadaan istri tercintanya.
...Bersambung....
Readers bagaimana apa Adelia akan di temukan?.
Terus pantengin di episode selanjutnya!!!
__ADS_1