
"OMG ... Serly" pekik Kikan saat melihat Serly keluar dari mobil miliknya sendiri, namun di setiri Pria Populer di Kampus itu. Kikan yang baru sampai di pelataran Kampus, yang baru saja di antar oleh Aldi yang kebetulan mampir dahulu ke rumah Anton.
Kikan semakin melebarkan langkahnya kala melihat Serly berjalan di belakang Dido. Bahkan bukan hanya Kikan yang terpekik kaget, tapi hampir semua Mahasiswi yang melihatnya.
Tepukan di bahu Serly, membuat Serly menjengit kaget. "Astagfirullah ...," Serly sambil mengelus dada, lalu menoleh ke samping dimana Kikan sedang menyengir kepadanya.
"Kikan," sapa Serly. "Kenapa, kamu ngagetin sih?" lanjutnya bertanya.
"Sorry. Justru kamu yang bikin aku kaget," ujar Kikan membuat Serly mengerutkan keningnya tidak mengerti.
Dido yang berjalan di depannya. Kini membalikkan badan. Berniat berpamitan kepada Serly. Karena mulai akan berbelok ke arah kelasnya.
Dido menatap bingung. Saat jarak Serly dengan dirinya begitu jauh. Padahal ia tahu tadi. Serly berjalan tepat ada di belakangnya.
"Maksud mu, aku membuatmu kaget?" tepat pertanyaan itu Serly layangkan saat kini langkahnya mendekati Dido. Kikan bungkam karena ia tidak mungkin mengatakannya, di saat orang yang ingin ia bahas kini sudah ada di hadapannya dan menatapnya.
"Serly, ini kunci mobil kamu. Oh, iya. Kamu belum memberikan tanggung jawab. Jadi kamu masih berurusan denganku!" Dido menyerahkan kunci mobil Serly, dan Serly menerimanya dengan rasa bersalah.
"Iya Kak. Nanti setelah jam kuliah selesai aku akan ke bengkel dimana tempat motor Kakak di servis."
Dido malah tergelak. Lalu menjulurkan tangannya, membuat Serly menatap tangan itu tidak mengerti.
"Sini ponsel kamu!" titahnya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Kikan. Kikan menatap penuh pesona kepada Pria yang merupakan populer di tempat itu dengan jarak berdekatan.
"Ponsel?" Serly masih belum mengerti. Namun, tidak urung ia mengeluarkan ponsel dari balik saku celananya.
Dido langsung mengambil saat Serly baru saja ponsel itu ia keluarkan dari saku celananya.
Dido mendengus saat membuka layar ponsel mahal milik Serly terkunci. Kemudian Dido mengarahkan ponsel itu ke wajah Serly, dan langsung otomatis ponsel itu terbuka.
"Ini. Aku sudah menaruh nomorku di sini" ucapnya setelah memiscallkan nomor Serly pada nomornya sendiri. Lalu menyerahkan ponsel Serly.
Serly terdiam ia belum paham apa maksud dari Dido.
"Aku akan menghubungimu untuk meminta tanggung jawab!" Dido langsung melenggang ke arah lorong kelasnya. Ya. Dido satu jurusan dengan Serly hanya beda empat semester.
Serly menghela nafas lega saat ia mulai menyadari kesalahannya. Ia yang hampir terpana atas pesona Dido hanya bisa di buat melongo, dan di saat Dido tiada kesadarannya seakan berkumpul kembali.
__ADS_1
"Serly, ada hubungan apa kamu sama kak Dido?" tanya Kikan yang sedari tadi ia ingin tanyakan.
Serly dan Kikan Kini sudah duduk di kursi kelas. Serly dan Kikan duduk bersisian.
"Aku, tadi menyenggol motornya. Dan motornya ringsek," ucap Serly dengan lirih penuh rasa bersalah.
"Hah? jadi yang di maksud kak Dido minta pertanggung jawaban itu. Karena kamu telah merusak motornya? bukannya, motor Kak Dido Motor Sport?" Kikan dengan mengingat-ingat kebiasaan Dido saat ke Kampus. Dimana Kikan pernah melihat Dido sering membawa Motor Sport ke Kampus itu.
Serly menggeleng merasa tidak tahu. Karena Serly jarang melihat Kakak Seniornya itu, walau sering di bicarakan banyak siswi penggemarnya.
Tak lama Dosen datang. Hingga Semua Siswa dan Siswi di kelas itu berubah hening. Mata pelajaran tersebut menghabiskan waktu sembilan puluh menit lamanya. Dan tak lama kemudian jam pelajaran tersebut telah usai.
Serly dan Kikan keduanya kini menuju Kantin. Dengan sudah berhadapan dengan menu bakso dan jus jeruk. Serly menyantap makanan itu dengan lahap. Menjernihkan pikiran yang seharian ini membuat ia tak konsen belajar.
"Aku lupa aku tidak membawa kartu Atm. Aku hanya membawa uang cash," gumam Serly saat ia mengingat tidak membawa kartu Atm yang sudah Hadi sediakan untuk macam keperluannya. Dan Serly mengingat ia harus mempertanggung jawabkan atas kesalahannya tadi pagi.
Lalu Serly merogoh sakunya yang hanya membawa tiga lembar uang kertas berwarna merah.
"Kikan, kamu bawa uang lebih gak?" tanya Serly setelah mereka berdua kini sudah meninggalkan Kantin.
"Aku lupa gak bawa kartu Atm. Dan aku ingat harus mempertanggung jawabkan atas kerusakan motor Kak Dido tadi," ujar Serly.
Kikan manggut-manggut, "Tapi Ser, setahu aku ya. Kalau Kak Dido itu anak orkay. Masa minta di bayarin sama kamu?!" Kikan mengingat betul kalau Dido anak orang kaya yang setara dengan Serly.
Serly menggeleng, "Kikan. Namanya Kesalahan tetap kesalahan. Mau kaya atau miskin. Sebagai korban pasti akan menuntut," lirih Serly yang tidak mau pembicaraannya di dengar orang lain.
"Benar juga sih? kami butuh berapa. Aku cuma punya lima ratus ribu," Kikan dengan menentengkan uang miliknya.
Serly menyengir merasa tidak enak. Baru kali ini ia meminta pinjaman kepada temannya itu.
"Boleh aku pinjam semuanya?"
"Ya. Ambillah. Aku pulang minta di jemput Bang Aldi saja," cicit Kikan dengan menyerahkan uang pada tangan Serly.
Mendengar nama Aldi. Serly suka terdiam. Walau sudah ia tepiskan untuk menerima perjodohan dengan Albi. Tapi, entah kenapa mendengar nama Aldi ia selalu merasa deg-degan.
"Hei, Ser kamu kenapa?" Kikan yang merasa aneh saat mendapati Serly terdiam.
__ADS_1
Serly menggeleng, "Ayo ke kelas. Satu pelajaran lagi, kan?" ajak Serly untuk mengalihkan.
Dan keduanya pun masuk ke dalam kelas. Begitu baru saja duduk. Dosen mata pelajaran selanjutnya telah datang. Dan mulia membahas materi.
***
"Huh, akhirnya pulang juga" cicit Kikan yang kini berjalan bersampingan dengan Serly.
"Iya. Hari ini aku lesu banget deh," keluh Serly yang biasanya ceria. Kini mengeluh Lesu.
"Ah. Kamu gak usah lesu-lesu. Kalau jadi aku. Aku akan senang. Karena bisa berduaan di dalam mobil bareng Kak Dido. Dan kesempatan itu tidak akan aku lewatkan," kata Kikan dengan senyum-senyum lalu langsung dapat toyoran di kepalanya dari Serly.
"Itu sih kamu. Yang ngefans. Tapi aku enggak,"
"Apa kamu gak terpesona sama dia?" tanya Kikan dan dengan cepat dapat gelengan kepala dari Serly.
"OMG ... masa iya? kamu normalkan, Ser?" Kikan kemudian meraba kening Serly takut suhu tubuh Serly sedang panas.
"Apaan sih, Ikan?!" protes Serly dengan menepis tangan Kikan.
Kikan hanya menyengir. Kemudian ia penasaran untuk tahu lebih lanjut soal pria. Karena memang Serly jarang sekali membahas soal tentang kriteria pria yang ia sukai.
"Terus aku ingin tahu. Kriteria cowok yang kamu suka itu bagaimana? karena, kamu tidak terpesona kepada seorang Dido Arlino!"
Serly tersenyum, tapi tetap menjawab apa yang Kikan tanyakan.
"Gak neko-neko sih. Pria itu baik. Penyayang. Ramah. Ganteng pastinya. Dan tidak petakilan," jawab Serly dengan membayangkan sosok Aldi. "Seperti Kak Aldi yang cool. Tapi terlalu beku," lanjut Serly di dalam hati.
Dan tepat saat itu Aldi datang dengan mobil milik kantor untuk menjemput Kikan. Mata keduanya bersitatap, karena Aldi membuka jendela sampingnya.
"Bang Al sudah datang!" seru Kikan.
"Iya sudah datang. Tepat di saat aku sedang membayangkannya," ucap Serly di dalam hatinya.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1